Friday, February 2, 2007

Benarkah ada suami yang tidak takut Istri ?

Obrolan ringan para suami disebuah warung pojok terdengar menarik. Ditemani minuman arak oplosan dicampur cola-cola membuat pembicaraan mereka semakin hangat dengan terbakarnya tenggorokan. Seorang lelaki dari kelompok tersebut dengan bangga mengatakan dihadapan temannya bahwa dia baru saja berhasil mengajak kencan seorang wanita penjaga kafe remang dan tentu saja hal tersebut membuat jengah yang lainnya. Kelompok lelaki itu sering menghabiskan waktunya dengan menegak minuman sambil tertawa lepas dan mereka akan merasa seperti bujang kembali.
“ Hah..ha.. saat seperti ini harus dinikmati tak perlu ingat istri dan anak”

Tak selang berapa lama seorang lelaki yang juga tetangga mereka datang untuk membeli obat nyamuk bakar yang dipesan istrinya. Otomatis mereka langsung mengajak lelaki itu nimbrung bersama untuk menengak minuman dan meluncur ke kafe remang. Tapi dengan halus lelaki tersebut menolak serta merta membayar obat nyamuk dan pergi. Kontan saja kelompok lelaki tersebut mengejek temannya dan mereka mengecap dia sebagai suami takut istri.
“ Nah, kayak dia itu tuh Suami Takut Istri mau saja disuruh-suruh ama istrinya, jangan –jangan disuruh nyuci juga mau” tawa mereka saling bersahutan.

Kelompok Suami tidak takut istri ini kesehariannya dihiasi dengan nongkrong di jalan hingga dini hari dan pulang dalam keadaan mabuk dan mengamuk. Keesokan pagi bangun siang, langsung minta dibuatkan kopi oleh istrinya, kemudian sarapan sekaligus makan siang. Setelah itu ritual dilanjutkan dengan mandi, keluar rumah bermain billiard atau judi dan pulang hingga subuh. Kelompok itu merasa diri mereka jagoan dan jantan. Sedangkan lelaki suami takut istri yang diejek tersebut, kesehariannya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah membantu istrinya, saat pagi menjelang lelaki itu akan mulai sibuk berbagi tugas. Sang istri mendapat tugas pergi ke pasar, memasak, mencucui dan membuat sesajen, sedangkan sang suami menyapu halaman, membersihkan kebun, mengantar anak sekolah serta mengurus ladang. Malam harinya dia tidak pernah nongkrong diwarung seperti kelompok suami tak takut istri tersebut, dia memilih menonton TV dengan istri dan anaknya atau sesekali jalan-jalan ke pasar sengol. Lelaki yang dijuluki STI ini selalu menjadi bulan-bulanan para lelaki lain di kampung itu.

Apakah memang benar suami takut istri itu begitu rendah dimata lelaki lain? Atau sebaliknya Suami Tidak Takut Istri itu bagai pejantan tanguh yang memiliki keberanian dan nyali yang besar untuk bertindak sesukanya?

Salah seorang dari kelompok suami tidak takut istri ini suatu hari bermain judi hingga subuh, tak disangka dia didatangi oleh istrinya. Tanpa banyak bicara sang istri meninggalkan anaknya bersama lelaki itu dan sang istri langsung pergi. Teman-temannya yang dikelompok tersebut menertawakannya, dan lelaki yang mengaku tak takut istri tersebut langsung pucat. Sembari menggendong anaknya dia langsung mengejar istrinya. Teman-teman mereka cukup kaget melihat reaksi lelaki itu yang bertindak bukan membentak dan memaki istrinya melainkan mengejar sang istri. Hal serupa juga dialami lelaki lainnya, sang istri datang mengamuk melabrak suaminya yang dikenal sering menggoda penjaga billiard, tengah malam sang istri datang mengamuk membawa parang mengancam sang suami dan kemudian sang suamipun ikut pulang dan memelas kepada istrinya untuk diampuni. Atau kejadian lain menimpa saat salah seorang lelaki lain dari kelompok itu juga. Dia begitu dikenal di masyarakat sering mencari selingkuhan, ketika diketahui oleh istrinya sang istri malah menantang dia untuk mengawini selingkuhannya dengan catatan dia harus menceraikan sang istri, tapi lelaki itu tetap kembali kepelukan istrinya.

Apakah memang betul suami itu benar-benar tidak takut istri? atau hanya semata-mata keegoisan dan kesombongan seorang lelaki?

Atau apakah memang perlu seorang suami takut dengan istri?

Sepertinya sebuah hubungan yang timbal balik dengan dilandasi rasa percaya, menghargai satu sama lain, saling memahami dan mengerti akan terasa lebih indah. Tak perlu suami takut dengan istri ataupun sebaliknya tak perlu istri terlalu takut dengan suami. Karena ketika sebuah hubungan sudah dilandasi hanya karena alasan rasa takut maka sebuah hubungan itupun sudah diciptakan untuk tidak saling menghargai.
Ehe..he… zena kok dilawan !

1 comment:

arum dinata said...

coba deh... bakat nulis disalurkan terus.. bikin novel, or kumpulan cerpen, or dikirim2 gitu ke majalah2.. jd bs dibaca banyak org & yg terpenting isinya bermanfaat buat yg baca ;)
all d best cah ayu...