Thursday, September 25, 2008

Ayung

Sungai yg sangat dikenal baik oleh Sobek, Bali Adventure dan Bahama. Seiring keterkenalannya itu menjadikan semakin sedikit masyrakat setempat mandi disungai yang dahulu menjadi tempat mandi bersama itu.

Minggu sore yang cerah (tepatnya panas), membuat gerah dan keinginan bermain air semakin meninggi. Bersama seorang teman aku turun menyusuri setapak demi setapak, (kukira hanya beberapa meter), ternyata kami harus melalui beberapa belokan.

Haus?
tentu saja
Lupa bawa air mineral ?
itulah kebodohan kami.

Ditengah dahaga kami membayangkan sungai Ayung yang jernih beserta riak riak kecilnya. Temanku berkata
” sampai bawah kita langsung menyeruput airnya yang jernih”
”apa iya? tertawaku
Jawabannya
Memang tidak “ Iya”

Kami lunglai sampai ditepian sungai, tak ada riang gembira menyambut main air, kami memilih bengong, duduk dirundung nyamuk, hanya suara tepokan tangan yang bukan sorak sorai menyemangati yg rafting, tapi tepokan kejam membunuh nyamuk.

Sungai itu tidak securam waktu sering kukunjungi 12 tahun silam, saat aku sering membawa tipat cantok bersama teman-teman menanti senja datang.

Airnya tak jernih lagi, keruh, landai dan bau. Kami memperhatikan para bule yang rafting, mereka asik menciprat-cipratkan air sambil meneriakkan yel-yel adventuris. Kami berdua berpandangan tertawa, orang bule yg ga punya sungai kali yah.

Bau amis dari sungai menyerbak, kurasa sudah tercemar oleh limbag hotel yg berderet hingga ketebing-tebing, jadi apa bedanya sama suangai Badung?
Masih beda dikitlah menanti nasib yang sama saja.

Kumemperhatikan beberapa ibu yg bertenaga kuda jantan mengempeskan kano, melipatnya kemudian menjungjungnya diatas kepala, kami berdua berpandangan sejenak, berdecak kagum, sama kagumnya ketika menatap Iphone terbaru seri apple. Betapa hebatnya wanita itu menaiki tangga dengan beban 100 kg. Wanita yg sebelumnya kami saksikan hanya memakan 1 nasi bungkus tanpa lauk yg cukup dengan lahap dan cepat, secepat tanggannya membuang sampah ke suangai.

”wait” !!!
Nyaris ada yang terlewatkan, lupa aku bertutur jika perusahaan sebesar Sobek, Bali Adventure dan Bahama tidak memperhatikan hal seperti.

Membuang sampah sembarangan ke sungai!!!!
Tragis, menyedihkan dan miris menyaksikan sampah plastik berlomba dengan kano para rafter. Cuman bedanya sampah plastik tak dikayuh mampu mengayuh diri sendiri.

Ayung adalah aset mereka, dan mereka tidak memberikan arahan yang tepat pada para pekerjanya untuk menjaga ladang uang mereka. Memang tragis. Kamipun sepakat tidak akan jadi rafting melihat semua fenomena itu.

Nyaris 30 menit kami duduk memikirkan cara kembali keatas yang harus menapaki begitu banyak tangga. Memang benar kalau hanya difikir tak beri solusi melainkan makin banyak mendonorkan darah untuk nyamuk-nyamuk yg merubungiku.

Menapaki tangga satu persatu rasanya seperti perjalanan roh menuju pintu surga, begitu lelah, dan selalu mendongak sambil bergumam ” ah masih jauh”.
Kami memutuskan berenti setiap hitungan yang kurang dari 10 ( silahkan diartikan bahwa kami memang tidak kuat) Rencana awal latihan memperkuat Jantungku nampaknya tak berhasil malah akan membunuhku lebih cepat.

Anak-anak muda yg memakai tulisan atlet badung lari begitu santai dan sudah dua kali melewati kami naik turun. Memang cukup membuat hatiku tersinggung.

Pada pertengahan tangga, kami hanya mampu duduk kembali serasa seperti meditasi, hening mencari suksma yg terengah oleh nafas yg menyekat kerongkongan. Cobaan datang lagi ketika seorang kakek datang melintasi dengan menyeruput air mineral dingin. Kami berpandangan hanya menyengir, ternyata kami tidak sedang meditasi, tapi asli kami kelelahan.

James blunt mengalun dari Hp kami yg baru saja naik tingkat menjadi canggih, cukup lumayan untuk membuat kami bersukur masih ada hiburan untuk kami ditengah lelah dan haus.

Kapan ke Ayung lagi? Memang perlu difikir matang sebelum melangkah.
Walau senja disana begitu indah.

21 September 2008
Dua orang yg sepakat nampak bodoh namun bangga di hari itu.

No comments: