Monday, December 10, 2007

Dulu Banjar Buluk Babi , kini Banjar Padang Kencana

Ada orang mengatakan setelah kita meninggal selesai sudah masalah hidup kita. Penyataan tersebut memang benar, mereka yang arwahnya meninggalkan dunia ini memang telah menyelesaikan masalah hidupnya, namun terkadang jasad yang ditinggalkan masih tetap meninggalkan masalah bagi keluarganya.

Hal ini terjadi pada Dadong Bega, seperti namanya dadong Bega yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia diam, nenek ini memang diam dan terbujur kaku. Dia tidak tahu kalau kematiannya adalah pemicu hingga meledaknya bom waktu. Kasus desa adat Bulu Babi yang tak diselesaikan sejak dahulu, nyaris hingga pergantian bupati.

Padangtegal dan Pengosekan adalah desa yang bertetangga, warisan leluhur kalau kedua desa ini adalah bersaudara. Ida Bethara pun mesameton. Sekitar 60 Kepala keluarga desa pengeosekan memang mekhayangan tiga di desa pekraman Padangtegal. Namun sejak tahun 2002, sekitar 12 warga tempekan Buluk Babi kembali mendesa pekraman ke pengosekan. Tinggal 48 warga yang masih tetap bersikukuh medesa pekraman ke padangtegal, dengan alasan titah dari para leluhur harus dilaksanakan, kalau tidak nanti pasti kepongor. Alhasil mereka 48 warga ini statusnya terkatung-katung, susah untuk membuat KTP serta pembuatan surat-surat administratif lainnya.

Banjar Buluk Babi mungkin tak mengenal istilah dimana tanah dipijak disanalah langit di junjung. Memijak tanah pengosekan namun menjunjung langit padangtegal. Sudah pasti tak ada titik temu.

Warisan adat dan budaya kita memang agung, namun ada juga warisan dari para leluhur yang jauh dari keagungan. Fanatisme adalah akar permasalahan yang memecah belah hakikat kita sebagai manusia yang dicipatakan dari satu asal yang sama. Kita kembali dibuat untuk lupa kalau berpijak di tanah yang sama, dan menyembah Tuhan yang sama. Buat apa memakai Udeng yang nyotot jika pemikiran kita hanya ingin menusuk pemikiran dan hati orang. Lagi- lagi Ego dan ego tetap menang dan mendominasi pemikiran dan hati manusia .

Akhirnya, dengan negosiasi yang terkesan alot dan hingga petang hari, terilhami juga kedua kubu yang berunding tersebut pencerahan untuk mencari jalan keluar dan mengendorkan urat saraf. Banjar Buluk Babi akhirnya berdiri sebagai banjar sendiri, dengan desa dinas di Pengosekan, dan tetap menyungusng khayangan tiga di Padangtegal. Banjar Padang Kencana adalah jelmaan baru dari banjar Buluk Babi. Akhirnya sebelum bupati berganti diselesaikannya juga masalah ini. Kini Pak bupati pun merasa plong PR sudah diselesaikan.

Ada satu catatan diluar kasus tersebut yang paling memprihatinkan adalah emosi warga Pengosekan yang berlebihan. Pohon sepanjang jalan utama ikut menjadi sasaran emosi warga. Dengan tak terkendali mereka memangkas habis pepohonan sebagai tanda protes.

Pohon yang telah ditanam berpuluh tahun dan tumbuh kembang seiring kasus tersebut kini ditebang dalam hitungan menit.

Apa ada yang salah dengan pohon tersebut?

Kenapa pohon yang merindangi dan menyejukkan sepanjang jalan itu harus ikut terkena dampak?

Saat delegasi PBB dan utusan berbagai negara sedang bersidang membicarakan keselamatan dunia. Disaat semua orang berkumandang untuk Go Green, mereka malah menebang pohon. Sungguh disayangkan dan mempermalukan diri. Memang nampak kualitas manusia kita yang tak menghargai alam. Jangankan mengatasi masalah Alam, mengatasi emosi diri saja sudah tak mampu.

Atau mungkin saja dengan ditebangnya pohon tersebut masalah juga bisa dipotong dengan cepat?

Atau jangan-jangan pohon itu sumber masalah? Apakah ada penunggunya yang mengahntui warga? Ha..ha.. nampak berlebihan imajinasinya. ( tetap saja pohon itu korban dan tidak bersalah)

Aku sebagai salah satu warga padangtegal merasa lega juga kasus ini bisa diselesaikan.

Banjar Padang Kencana akhirnya berpijak diatas tanah pengosekan dan menjungjung langit pengosekan, namun tetap melirik langit tetangga untuk dijunjung juga.

Apa karena rumput tetangga memang lebih ijo.

Sejak kapan langit jadi ijo?

Go green juga?

( nampak mulai ngawur)

Celebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu, ada kene ada keto..

9 Desember 2007

d.purnami

2 comments:

Made Suardana said...

begitulah jika ego sudah menumpuk tebal, seakan agama dan budaya dijadikan excuse untuk melakukan kesombongan sempit

Patrick said...

Strange comment, as far as I can understand ! Aneh bin ajaib...