Friday, February 12, 2010
Perjalanan tanpa peta
Hanya satu hal yang membuat kami bersama pada waktu yang sama.
Kami bersama-sama di bawah komando dan pemimpin yang sama.
Kami berdiri mematung
Terdiam seksama mendengar perintah-perintah yang tak jelas.
Dibagikannya sebuah ransel dengan perlengkapannya
Tiap orang dari kami diberikan satu teman yang tak pernah kami temui sebelumnya.
Kami berempat terdiam, tak kenal tak menyapa mencoba mencerna perintah.
Air suci penuh sugesti diperciki, tanda sebuah pemberkatan.
Dilepaslah kami tanpa petunjuk jelas, tanpa peta.
Hanya satu pesan
“Berjalanlah, kita akan bertemu dan berkumpul lagi pada suatu hari”
Tak ada petunjuk kami harus berjalan kemana, dan akan bertemu kapan.
Aku pergi didampingi seorang teman yang begitu pasif.
Tak pernah bicara jika tak ditanya,
tak pernah member pertimbangan walau begitu diperlukan.
Selalu berkata
“Maaf, Tugas saya hanya menemani”
Berjalanlah aku kearah yang tak aku tahu pasti, tanpa petunjuk, tanpa peta.
Sebuah perjalanan dimulai, dengan keyakinan kita akan bertemu pada suatu hari nanti.
11 Februari 2010.
Terima kasih untuk pertandanya.
Thursday, February 11, 2010
Penutur yg tertinggal
Kerut kedukaan tegaris jelas pada dahinya.
Mungkin hatinya telah sesak oleh kisah hidupnya.
Hanya ingatan kuat yang dibanggakannya,
Hal yang mampu mengenangkan perjalanannya.
Dia seorang yang tersisa dari sebuah garis keturunan.
Ayah, ibu, kakak dan adiknya semua telah dipujanya sebagai leluhur.
Dia merasa tak cukup adil kenapa dia menjadi yang terakhir. Bersama sisa keluarga yang diturunkan.
Dia merasa dihianati dan ditinggal.
Dengan mata yang basah dia bertutur tentang waktu yang dikenangkannya selalu.
Memang ada yang harus ditinggal untuk mengenang.
Begitulah penutur tua yang tertinggal, tak menikmati hari ini, namun menghabiskan waktu mengenangkan masa lampaunya.
Ambi-ambilah aku,
Agar dapat berkumpul dengan mereka.
Begitulah doanya setiap saat.
Ubud 11 februari 2010
Untuk pamanku.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Mengenangmu
Seperti luka menganga
Yang tak ingat untuk merekat lagi.
Kini akupun terbiasa dengan kekosongan ini,
Tak lagi aku mengejar tuk mengisinya.
Biarlah aku mengingatnya selalu.
Hanya sedikit rintihan pilu
Bertalu talu dalam sepi.
semakin aku sadar
Terlalu besar aku mencintaimu
Tak berkurang sedikitpun
Walau waktu semakin menyamarkan ingatan lampau.
Kubiarkan kaki melangkah menyusuri sudut-sudut kenangan dirumah ini.
Tempatku bertumbuh,
Mengenal arti cinta dan kasih sayang.
Aku selalu mengenangmu penuh cinta.
11 Februari 2010
D.purnami
Untuk ayahanda.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Wednesday, February 10, 2010
Senja
Petunjuk baginya untuk kembali menyapa pohon yang memberinya teduh.
D.purnami
10 february 2010
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Friday, January 29, 2010
Waktu
Cinta yang bertumbuh makin besar.
Pula cinta yang sirna.
Dulu, sekarang dan kini begitu waktu disebutnya.
Gigil merasakan ketakutan akan waktu yg semakin berkurang.
Berhitung dikurangi detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun.
Hingga hitungan tiba pada kulit keriput, ingatan pudar, kaki gemetar yang tak mampu melangkah.
Hanya tersisa nafas satu satu yg makin berat.
Maka pada waktu pun kujanjikan akhir nafas yang akan menunjukkan waktu kita senyatanya habis.
Tubuh kembali pada tanah.
Jiwa kembali pada sejatinya cinta.
Pada waktu itulah, kita dijanjikan kekelan cinta yang satu.
Kita akan bahagia.
D.purnami
29 januari 2010
Purnama
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Saturday, January 16, 2010
Ruang kita
Ruangan yg tak lebih dari 1, 5 X 2 meter.
Tempat kau bersembunyi kala luka, sedih, kecewa, maupun haru.
Ruang yang kedap suara, yang tak kan memperdengarkan jeritanmu, isakmu ataupun amarahmu.
Ruangan yang kau ciptakan sendiri, kau isi dengan semua keluh kesah hatimu, yang kemudian kau tinggal kosong.
Ruang yang kini hampa tanpa sisa, hanya lelehan lilin yang tak juga mampu terangi hatimu yg sering luka.
Ruang yang kau tinggal, yang kini aku kunjungi.
Aku merasa senang diruang sempit ini.
Aku pun melakukan hal yang sama.
Aku berlari kesana dan tertawa saat aku tak mampu mengangkat tangan kiriku dengan baik, menampar pipi sendiri yang tak hentinya kebas. Tak akan keluar satu patah kata kesakitan diruang itu.
Ruang kita,
Tempat merintih sendiri, terpuruk di sudut mati diterangi sebatang lilin yg semakin meleleh dan mati oleh tetes air mata.
Tempat kau memohon kematian yang dipercepat.
Kini aku paham kenapa kau tak mau berjuang dan memilih pergi.
Maafkan aku yang sempat mencacimu sebagai pecundang kalah yang tak berani berjuang, karena akupun tak berbeda nemilih jalan sepertimu.
jika kau melihatku sekarang,
Tunggu aku, kita akan bersulang untuk sebatang lilin yang meleleh.
Ubud,16 Januari 2010.
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sunday, January 10, 2010
Melepas senja
Burung pulang pada pohon yang memberinya rumah.
Langit menggelamkan diri dari jingga.
Semilir angin, sapukan daun kering, berpindah ringan.
Lelah disambut hangat oleh mereka yang punya naungan jiwa
Bagi yang tidak, gigil sunyi akan menjadi sahabat setia.
Malam datang menggantikan waktu yang begitu haru.
Aku duduk memandang langit.
D.purnami
10 januari 2010
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Wednesday, December 30, 2009
Semoga selamat di tahun 2010
Bagaimana tidak, hanya waktu yg menjadi saksi atas bertumbuhnya hidup fisik, fikiran dan firasat.
Kenapa ada terompet, pesta, harapan baru, tekad dan semangat baru tiap menyambut tgl 1 januari? Karena waktunya telah tiba.
Jadi mungkin seperti mengikuti jadwal saja utk selalu beresolusi, berharap tiap awal tahun.
Sedikit perlu penyadaran diri, bahwa tanpa disambut, dirayakan dan dipestakan, tanpa dilepas matahari sore 2009 dan disangsong matahari 2010,
waktu tetap berjalan.
Tanggal 31 desember akan tetap lewat, karena tak ada lagi yang bersepakat ada nama bulan lain lagi setelah desember. Kita semua menerima dan sepakat kembali berhitung bulan januari bertanggal 1 bukan tgl 32. Begitulah kita semua hapal dan meresapkan siklus waktu yg dasyat ini ke dalam diri manusia.
Apa makna selamat tahun baru ?
Apakah selamat membuat harapan baru? Hidup yg lebih baik dr sebelumnya?
Atau semoga selamat melewati th 2010?
Apapun maknanya tetap sah dan boleh-boleh saja.
Memandang subuh;
melihat bulan tergantikan oleh matahari, menyaksikan bintang yg bersinar menjadi lenyap dan digantikan oleh berkas cahaya matahari, mendengar ayam berkokok, burung berkicau tanpa paham yang namanya detik waktu.
Merasakan udara basah yg menjadikannya embun di pagi hari.
Semua itu terjadi saat manusia terlelap. Apakah kita terus harus merasa hebat?
Semoga semua selamat di tahun 2010, dan tersadar oleh waktu kita yang semakin hari semakin sedikit. Bahwa tubuh manusia dibuat terbatas oleh waktu.
Tak berlebihanlah jika kita eling saudaraku.
Semoga selamat melewati th 2010.
Salam kasih embun pagi.
D.purnami.
30 desember 2009
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Saturday, December 19, 2009
Selamat pagi dokter !
Bukankah itu pertanda pagi akan datang sebentar lagi?
Mentari kabarnya telah terang di merauke.
Maaf saya membangunkan dokter terlalu pagi,
Ada hal besar dikepala saya.
Tak sabar saya ingin mengkonsultasikan pada dokter.
Hmmm mungkin sebesar telur naga eragon? Ah tapi pink meranum seperti buah naga.
Sebaiknya saya goreng ceplok saja hal besar itu, atau di jus biar manis dan sehat?
Sebentar dok, saya menyeduh kopi dulu, kata dokter, secangkir sehari masih boleh kan ?
Ah ini sudah benar-benar pagi dokter.
Saya senang, pil dari dokter membuat saya terjaga hingga pagi.
Janji dok saya tidak akan bandel lagi.
Dan hal besar dikepala saya akan semakin besar dok.
Ubud, 19 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Rumah baruMU
Tunggu aku di depan pintumu.
Biarkan aku selalu disampingmu.
Tertidur hening...
Dalam rumah BaruMu.
Ubud, 18 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Friday, December 18, 2009
Aku dimana?
Bukan bra berenda tapi bra katun polos warna senada kulit, kancingnya put atas putingnya yang menghitam.
Didalamnya sumber hidup bagi bayi dipangkuannya.
Perempuan-perempuan hebat. Tiada lelah seperti sapi perah.
---
Mereka lelaki-lelaki yang berkantung mata hitam.
Terkantuk tiap pagi.
Disela kopi bercerita tentang popok basah yang harus di cuci,
Bukan lagi bualan bra hitam berenda.
---
Mereka para lelaki yang harum, berbaju bagus, berwajah porselen, bermobil mewah.
terlalu sensitif walau tak datang bulan,
Terlalu perhatian walau bukan perempuan.
Berceloteh tentang anak-anak mereka yang diadopsi dan dibesarkan bersama-sama.
" ibuku itu, lelaki yang botak, begitulah dia memperkenalkan keluarganya kelak "
----
Begitupula para perempuan yang membesarkan anak bersama.
" Ibu ini, seperti ayah ku, dia selalu membelaku jika ada yg nakal terhadapku"
----
Aku dimana?
Aku hanya perempuan yang meneteki tanpa air susu.
Ubud, 18 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Selamat malam dokter
Larut semakin larut begitulah malam yg mulai dingin.
Seperti fikiranku yg larut membekukan otakku.
Aku tidak menghitung domba agar kantukku datang.
Tapi aku menghitung jumlah dokter yang telah dan akan kutemui sebulan ini.
Ah, genap sembilan. Sudah kutemui 6 orang tinggal 3 orang lagi.
Akhir tahun dipenghujung desember, waktu cuti berliburku harus kugunakan untuk berkencan dengan mereka.
----
Aku teringat tentang permintaan seorang dokter yang telah kutemui agar aku beraktivitas yang menenangkan dan tidak boleh ada unsur yang mengejutkan.
Akupun mengiyakan; meluncurlah aku dari ketinggian 10 meter dan merasakan seperti mati terlempar. - menyenangkan! Dan kuulangi sekian kali. Aku terkejut dok!
-------
Dokterpun menyarankanku untuk berdiet dan mengatur pola makan agar organ tubuh vitalku kembali sehat dan normal.
Bukankah aku memang tidak normal dok? Aku masih ingat sederet panjang list alergiku dari makanan, cuaca, obat,serta bahan pakaian. Terlalu panjang listnya!
Menderita sekali rasanya dok!
-----
"Kamu pasien bandel!"
"Tidak dok, saya cuman ingin menikmati hidup.
Yang membuat saya hidup bukan pil yang harus saya minum tiap hari.
Tapi semangat hidup saya dok!
Itu yang membuat saya bertahan sampai malam ini."
Ngggg.....
Dan akupun salah..
Semangat hidup hanya satu sisi dari keping mata uang.
Sisi lainnya dibutuhkan menjadi seorang pecundang kalah dan mengakui diri memang sakit dan harus menelam pil pil itu tiap beberapa jam!
" Dokter benar, saya pasien bandel"
------
Kemudian, metabolisme tubuh ini semakin menurun. Terlalu lesu untuk tersenyum, terlalu lelah untuk beraktivitas.
Di daftar A obat flu biasa yang kuminum seharusnya tak berdampak alergi bagi tubuhku, tapi nyatanya kini dia telah membuatku bengkak sekujur tubuh, kembali aku berlari menemui dokter untuk diberi anti alergi.
------
Akupun masih harus menemui satu dokter lagi, yang akan mengutak atik tubuhku, membiusku, memperbaiki saluran-saluran yang macet, memperlebarnya, membersihkannya.
Wait a minute!
Hey, itu sebenarnya dokter atau mario bross dan luigi?
"Dia benar lagi, itu dokter! mario bross tidak pakai baju putih!"
Ya baiklah, Aku akan masuk bengkel manusia, tubuh ini perlu diservis!
-----
Malam tadi,
Dokter beri saya obat tidur yang menenangkan fikiran saya,
Dan kutelan tiap 6 jam, aku hanya merasakan tubuhku melayang, tapi tidak tidur dan tidak tenang.
Malam sudah larut..
Aku belum terpejam...
Dokter sudah menelan obat tidurnya dia terlelap.
Selamat malam dokter..
Sweet dream.
Ubud, 18 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Thursday, December 17, 2009
Mimpi dan fikiran liar
Dia bermimpi aku meninggal,
Akupun antusias mendengarkannya.
Ah ini yang menyenangkan ( fikirku)
diceritakan bahwa aku mati dan mayatku tidak ditemukan.
---
Apakah jika aku meneruskan rencanaku ke thailand seorang diri itu sebuah jalan menuju kesana? Untuk lenyap selamanya?
Bukankah menyenangkan mati dengan sempurna tanpa meninggalkan jasad sekalipun?
Akupun mulai berfikir liar, mereka-reka kematianku yg sempurna.
Pesawat yang kutumpangi jatuh di gunung atau laut hingga jasadku tak ditemukan.
Atau mungkin saat aku mengunjungi salah satu kebun binatang aku dimakan macan atau buaya?
Atau bisa jadi aku diculik di negara orang, kemudian dikuliti dan lemaku diambil dan dijual untuk bahan kosmetik?
Atau terjadi kecelakaan pada kendaraan yg kutumpangi, paspor dan semua identitasku hilang?
Hmmmm sempurna.
Tapi ibuku tiba-tiba berkata,
Ah kalau dimimpikan mati pasti umur panjang. - itupun jika iparku ingat membalikkan bantalnya.
( Kurasa tidak, bapakku kumimpikan mati, seminggunya lagi mati, karewna aku lupa membalikkan bantal hehehe)
Tapi semua lamunanku menjadi buyar saat mendengar lelaki kecilku berkata
"Bunda, tolong bacakan cerita "
Ah, kau malaikat penyelamatku, bahkan dari lamunan liarku.
Tak usah membalikkan bantal.
Ubud, 17 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Jenuh
Jenuh pula melihatnya terbenam tiap senja.
Jenuh aku mengikuti aturan waktu yg penuh angka-angka yg disepakati.
Jenuh bertegur sapa
Jenuh berekspresi untuk reaksi sosial,
Jenuh kenapa harus makan berulang-ulang.
Aku ingin lupa ..
Jenuh aku menjadi ingat
Jenuh pula menuliskan nama diakhir tulisan..
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Friday, December 11, 2009
Ubud;Desaku yang kucinta
Caruak caruak...
Begitulah kami bernyanyi saat rambut kami dikepang dua.
Atau rambut dia yg dicukur cepak dan disisakan sedikit jambul didepannya berbentuk kotak, mirip daun saiban.
Berlari dan berlari adalah kegemaran kami.
Menelusuri setapak pematang sawah dengan tawa yg girang.
Kaki dihentak-hentakan untuk menakut-nakuti anak katak.
Berteriak nyaring melengking tuk menghalau burung.
Para lelaki kecil mengulur benang layangan menantang matahari.
Sedangkan kami mencari capung dan mengejar kupu-kupu.
Ejekan demi ejekan adalah nyanyian persahabatan kami.
Hingga senja terbenam dan langit memerah jingga.
Kami pulang diiringi suara jangkrik.
Singgah disungai membasuh badan,
bermain air hingga hari menjadi gelap.
Bergegas memakai baju tanpa dikeringkan handuk.
Kami tetap tertawa.
Sungai kecil yg jernih tempat seluruh desa mandi dan mencuci.
Kami menghomatinya dengan tak membuang sampah.
Ceritaku itu tentang masa lampau, tentang waktu yg kulewati 20 th yang lalu. Saat Ubud masih desa yang sama dengan desa-desa lainnya dibali.
-----
Hari ini nyanyian pul sinoge itu jarang kudengar.
Ubud tak lagi sama,
maju seiring modernisasi.
Sawah tempat kami bermain dulu telah hilang,
Bagaimana aku hendak bercerita sebagai penutur tua bahwa dulu ada sawah disana?
Benar-benar ada bukan dongeng seribu mimpi.
Tapi yg dilihat anak kami adalah hotel, restaurant yang berjejer.
Disebutnyalah kami pembual tua.
Anak-anakpun mulai menertawakan kami.
"Bu, itu bukan sungai, tapi selokan"
Sungai sempit, kotor dan berbau. Sudah kecil diambil setengahnya utk didirikan restaurant diatasnya.
Lagi-lagi lahannya diambil.
Saudaraku, itu sungai bukan samudera luas. Dia tak mampu menampung semua sampah yang kau buang kesana.
Ah, rindu aku mendengarkan nyanyian pul sinoge.
Ingin kubernyanyi disisi sungai itu, berbisik saja agar samar-samar
Biar aku dikiranya penunggu sungai yg menangis
Sebagai penunggu sungaipun mungkin aku bingung, diberikannya aku hamburger atau spagethi, bukan lagi laklak tape.
Atau rasa-rasanya nya aku ingin memilih menjadi gamang, agar aku takut-takuti mereka yg merusak sungai.
Biar lari terbirit, merasuki tubuh pekerjanya, dan berbicaralantang seperti orasi
"Kembalikan sungaiku, atau kau kuusik terus sepanjang kau mengontrak tempat ini, kubuat penampakan tubuh besar hitam agar para tamumu lari dantak datang lagi"
Atau bolehlah aku menjadi penyihir yg mengutuk para investor agar menjadi kodok krn kini katakpun tak dapat tempat di sawah.
Ah, begitulah desaku yg kucinta.
Caruak caruak..
Ubud, 10 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Yang tersisa
Mengertilah aku bahwa dia terlalu sering berganti warna
Sore ini semburat cahaya merah dan abu memukau
Begitu diam begitu kelam dalam gairah tertahan
Kau datang mengetuk
Telah kubuka pintuku lebar
Aku meluruhkan segala angkuh
agar mampu mendengar suara diammu
melepaskan semua angkara
Agar mampu cecap rasamu
Apa yang tersisa pada senja merah?
Hanya cinta yang bertumbuh semakin besar
Ubud, 11 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Thursday, December 10, 2009
Kutukan rasa
Ketidakrelaan siang berganti malam.
Tapi siapa yang mampu menghalangi matahari tuk terbenam?
Siapa yang mampu mengatur waktu pagi menjadikannya malam.
Begitulah alam mengutuk kehidupan pagi, siang, sore, senja dan malam.
matahari terbit seindah matahari terbenam.
_____
Akupun paham saat air mata duka mengalir, pernah kulewati suatu masa air mata haru dan bahagia juga menitik dalam suka cita kehidupan.
_______
Pernah kau buat aku bahagia hingga terlena,
Pernah jua kau buat aku sakit hingga terpuruk.
______
Berani aku mencintaimu, berani jua aku tersakiti.
____
Hingga kubertanya apa yang tersisa setelah rasa sakit dicinta dan senangnya dicinta kucecap?
Begitulah kutukan itu terus membelit rasa-rasaku.
Yang membuatku tahu hidup itu sendirilah yang senyatanya kutukan.
Ubud, 10 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Wednesday, December 9, 2009
Hanya tiga hari saja
Tiga puluh lima tahun yang lalu.
Aku dititipkan pada keluarga lain yang kemudian membesarkanku.
Kini setelah aku setengah baya dan kau renta
Waktu kembali mempermainkan kita.
Aku dan kamu betemu.
Kau sebut aku anak, dan aku menyebutmu ibu.
Pertemuan singkat tiga hari.
Bagaimana aku mampu merangkai kata
Untuk nyatakan pada dirimu
“Bu, aku selalu rindu padamu”
Tapi , kemudain aku memilih diam
Karena tiga puluh lima tahun tak bisa kuungkapkan dalam tiga hari
Hal sederhana kami lakukan dalam tiga hari,
Dia memasak untukku, begitupun aku memasak untuknya.
Dia memberiku selembar kain, aku memberinya seuntai kalung.
Kau bilang sayang padaku
Akupun begitu.
Hingga akhirnya waktu 72 jam habis.
Kau kembali ke tanah perantauan
Aku tetap disini bersama keluarga yang kau titipkan.
Sebulan setelah pertemuan singkat itu
Yang kusebut bapak memberi kabar
“Nak, Ibumu telah tiada”
Ah, seperti apa ikatan tali anatara aku dan ibuku
Hanya tiga hari saja Kau beri aku mencecap indahnya bersama dia.
8 Desember 2009
d.purnami
Monday, December 7, 2009
menebus roh sendiri
sudah dua tahun lebih dia sirna dari hidupku.
Aku seperti menonton wayang,
Dia, aku dan orang-orang yg tak begitu aku kenal duduk berjejer bersila.
Menatap layar putih besar.
Silih berganti gambar-gambarku yang muncul.
Wajahku dari sejak kecil hingga dewasa nampak begantian, aku dan dia menonton diriku sendiri.
Kemudian dia mendekat dan berkata
"Tebuslah rohmu"
Agar kau kembali hidup
Ah,
Kenapa aku harus menebus?
Aku tak pernah menggadaikannya, adakah seseorang yang memperjual belikan rohku ini?
Apa bayarannya untuk rohku yang dingin ini?
Dia menatapku tajam,
"Sembuhkan lukamu"
Dan berjalanlah pulang.
Ya , aku akan pulang.
Tapi kerumahmu.
Kenapa saat aku sudah bersamamu kau malah mengusirku?
Kenapa aku harus ditebus lagi?
Biar saja mereka menyitaku, aku ingin pulang kerumahmu.
Karena aku tak ingin menebus rohku sendiri.
7 Desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT