Tuesday, May 25, 2010
Kemuning - sebuah cerpen
Senja telah tenggelam, langit tak lagi merah, danau dihadapan kami masih bisu dan tenang, dingin telah menampar kulit mukaku, dan kabut semakin menyamarkan wajah-wajah kami. Burung-burung terbang landai setelah lelah terbang sehari penuh, dan hinggap di pohon-pohon cemara yang berayun lembut.
Aku mengkerut dalam keheningan, kami masih tetap tak menyapa, memilih diam dalam tanda tanya. Danau Tamblingan seperti menenggelamkan kami. Hanya Purnama yang mulai muncul memberi hangat pada hati, memberi terang pada kelam malam.
Tak pernah kumenyangka akan hadir beberapa orang yang tak kukenal dalam pertemuan ini.
“Purnama kapat, kita bertemu malam ini di Danau Tamblingan”
Begitulah pesan yang kuterima pagi ini.
Sebagai murid, aku tak akan pernah mempertanyakan lagi untuk apa pertemuan itu. Kewajibanku hanya datang saat diminta dan mengikuti perintahnya itupun saat aku memang ingin.
Kami berjejer berempat, hanya aku perempuan di deret itu, entah dari mana ketiga lelaki di deretanku berasal. Rambut mereka telah memutih sebagian, aku tidak bisa mengenali asal daerah mereka, karena tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, kami masih bisu dan berdiri menatap mata Paman Guru yang menggelung rambutnya keatas menunggunya membuka suara. Satu perempuan lebih muda dariku berdiri di hadapanku serjajar dengan Paman Guru.
“Anak-anakku, malam ini purnama kapat, aku ingin kalian meningkatkan semedi dan mengurangi nafsu duniawi sesaat. Menyebarlah kalian ke empat penjuru mata angin, berjalanlah menyusuri pantai dan beristirahatlah pada pura yang kalian temui. Lakukan brata makan hanya nasi putih , kacang dan sayur, jangan makan yang bernyawa. Makanlah saat matahari terbit, tengah hari dan sandhi kala, janganlah lebih dari tiga kepel. Purnama Kelima kita akan bertemu di Besakih”
Paman Guru kemudian memerciki kami tirtha. Satu persatu dipanggil dan mereka kemudian pergi. Aku adalah orang yang dipanggil terakhir.
“ Kemuning, apakah kau masih menyangkalNya? Sudah enam bulan kau tak pernah menyembahNya, menyangkal semua kekuatanNya, dan membenci diriku. Hari ini kau datang kembali memenuhi undanganku, apakah kau sudah lelah berlari?”
Aku tertunduk diam, tak menyahut sepatah katapun, mata Paman Guru seperti menguliti setiap fikiranku. Dia memintaku duduk, dan kami duduk berhadapan. Dulu kami selalu duduk seperti segitiga sama sisi, Paman Guru, Ayahku, dan Aku. Ayah sebagai teman seperjalanan Paman Guru kini tak bersama kami lagi, dan hanya Paman Guru yang terus melanjutkan membimbing murid-muridnya.
Langit makin kelam dan bintang nampak bersinar, wajah Paman Guru semakin nyata oleh terang rembulan, begitu pula wajah perempuan disampingnya. Perempuan muda itu kini membakar dupa dan menancapkannya ke pertiwi. Aku tak pernah bertemu dengannya sebelumnya, mungkin dia bergabung saat aku menghilang.
“ Anakku, aku tahu kesedihanmu yang begitu mendalam sejak kepergian Ayahmu. Bukankah aku sudah memberitahumu tiga bulan sebelum kepergiannya? agar kamu menyiapkan diri dan mampu melepas ikatan-ikatan bathinmu, hingga saat dia pergi kamu mampu tegar dan menghanghantarkan kepergiannya dengan doa ?”
“Paman Guru, aku tak mampu, aku tak kuat melepasnya, ikatan kami terlalu kuat dan dalam. Aku masih ingin bersamanya”
“Kamu tak pernah memilikinya, kamu tak punya apa-apa. Sekarang Ayahmu sudah bersih, kewajibanmu telah kamu jalankan, upacara pengabenan dan mendak nuntun sudah kamu laksanakan. Ayahmu sudah menjadi Hyang Guru. Namun, masih ada hal-hal yang belum sempat diselesaikan Ayahmu. Ada hutang janji yang dia tinggalkan. Aku tak akan memintamu menyusuri pesisir laut timur dan berhenti di tiap pura seperti yang aku perintahkan kepada ketiga teman seperjalananmu itu.”
“Jadi untuk apakah Paman Guru memintaku datang kemari?”
“ Aku sering mendatangimu melalui mimpi-mimpi, memberi isyarat-isyarat yang rupanya memang selalu kamu sangkal”
“ Maafkan aku Paman Guru aku memang tak ingin mempercayai lagi dengan apa yang sudah aku jalani selama ini. Kepergian Ayahku adalah sebuah isyarat nyata untukku, dia begitu taqwa, rajin bersemedi, taat melakukan tapa brata, dan berlatih yoga setiap hari. Namun apa yang aku dapatkan? Tuhan juga tetap mengambilnya. Jadi untuk apa aku melakukan semua ini Paman Guru? Jika pada akhirnya semua usaha menjadi sia-sia.”
“ Begitu dalam kekecewaanmu anakku, sehingga kamu lupa tentang apa intisari perjalananmu selama ini, kamu begitu sedih dan merana, apakah kamu pernah berfikir bahwa Ayahmu bahagia meninggalakn jasadnya? Tidakkah kamu sadar bahwa semua tapa brata yang dilakukannya adalah bertujuan untuk mempercepat jalan kepulangannya ke rumah asal? Rasa bahagia abadi yang dia tuju.”
“Aku tak percaya lagi pada semua ini Paman Guru”
“ Kamu memang tak akan bisa menerima dan percaya, aku hanya ingin mengingatkanmu, jika Ayahmu masih hingga saat ini, kamu akan selalu berada di bawah bayang-bayangnya, dan tidak akan pernah berjalan pada jalanmu. Misimu dan misi Ayahmu berbeda, juga denganku. Hanya waktu yang mempertemukan kita, saat ini kita berjalan di jalan yang sama, esok lusa kamu akan berjalan pada jalanmu sendiri, jalan yang akan kamu tempuh seorang diri. Sebelum kita berjalan lagi, ada satu hal yang ingin aku sampaikan. Ayahmu meninggalkan sebuah hutang janji, sudikah kamu membayarkan hal-hal yang masih belum terselesaikan oleh Ayahmu”
“ Demi cintaku padanya, akan aku laksanakan Paman Guru”
“Pergilah kamu sekarang kearah timur, Luh Manik akan menemani perjalananmu. Ngayahlah di Pura Watu klotok selama sebulan, nyapuh dan ngayahin Ida pemangku, Purnama Kelima kamu boleh menemuiku di Besakih, tapi jika tidak ingin menemuiku lagi, kau boleh memilih jalanmu. Apapun jalan yang kamu pilih nanti, yakinilah”
“Baiklah Paman Guru, saya akan menjalankannya”
Malam semakin pekat, dingin telah menusuk tulangku, aku menuntaskan perenunganku hingga subuh. Paman Guru telah pergi, dan hanya Luh Manik yang sedang berjongkok di sisi api unggun. Aku berjalan ke tepian danau, membasuh muka, aku tertegun sesaat melihat bayanganku sendiri yang terpantul, aku masih melihat kedukaan pada wajah itu yang kemudian bayanganku sirna oleh kelebat seekor ikan.
Luh Manik tak banyak bicara, dia sangat betah berdiam diri, sesekali memilin-milin rambutnya dengan mata yang selalu menerawang. Kami memulai perjalanan setelah 3 kepal nasi pertama kami lahap dengan sujud syukur. Hingga tengah hari akhirnya kami sampai di Pura Watu Klotok. Debur ombak yang bergemuruh menyambut kami, matahari begitu terik, dan kemilau air laut menyilaukan mata.
Seorang pemangku menyambut kami, dan memberikan segelas air putih.
“ Kamukah yang akan ngayah di pura ini?”
“Inggih, titiang”
Dia hanya tersenyum dan pergi untuk melayani umat yang sedang bersembahyang.
Jero mangku kembali membawa nasi putih dan kacang saur lungsuran. Kami membasuh muka, sembahyang dan kemudian nunas. Aku termenung lama, disinilah aku akan menghabiskan satu purnama bersama Luh Manik. Aku menatap daun waru yang terlepas dari ranting, satu demi satu berjatuhan, kemudian diterbangkan oleh angin dan saat sore menjelang aku menyapunya dan membakarnya. Begitulah aku menjalankan hariku setiap hari, menghayati waktu dan menyaksikan terlepasnya sehelai daun waru dari rantingnya. Sakitkah atau dia merasakan sukacita terlepas dari ikatan?
Aku mulai menghapal debur ombak yang memecah kesunyian, membenturkan diri pada batu, menyeret pasir kemudian bergumul meleburkan diri menjadi satu dan terhempas kembali. Seperti gemuruh hatiku yang bergumul dengan kedukaan. Di tempat inilah aku akan membayarkan hutang janji sang Ayah, tempat aku membuktikan dalamnya cintaku padanya, satu purnama pengabdianku padanya. Setiap malam aku berjalan menyusuri pantai, sesekali buih ombak menyapa kakiku dan pasir menghisapnya hingga mata kaki.
Kepada Baruna aku memohon ijin menyapa Ayah, pada abunya yang dititipkan kepada Ibu samudra. Adakah kau merindukanku? Atau hanya aku yang selalu sepihak merindukanmu? Apakah karena aku masih mempunyai wujud kepala menjadikanku yang kerapkali memikirkanmu, dan karena kau telah berwujud abu, kau abadi menjadi partikel terkecil? Tak ada lagi sisa rindu untukku.
Pada senja yang menjelang aku berjalan menyusuri pantai ini untuk memepertanyakan tentang dirimu, tentang ketidakadilan, tentang cintaku yang terlalu besar. Pada cintamulah aku bertumbuh bersama semua ingatan, pada derai waktu yang selalu kukenangkan, pada penyesalan bahwa kau tak pernah mengajarkan aku arti perpisahan.
Luh Manik, masih tetap tak banyak bicara, dia telah menjadi tukang sapuh terbaik. Namun pada malam yang pekat ini, dia berjalan mendekatiku.
“Mbok Kemuning, Hari ini malam Tilem, waktu tiang untuk menemani mbok tinggal lima belas hari lagi, Purnama kelima tiang akan kembali ke Besakih menemui Ajung Guru”
Aku tertegun, tak pernah menyangka perempuan muda berparas ayu bersih ini adalah anak dari Paman Guru. Dia memang pantas jika menjadi penerus Paman Guru, dua puluh tahun lagi dia akan menjadi wanita matang yang penuh kebijaksanaan dan kerendahan hati dalam laku. Dia masih sangat muda, namun telah mengabdikan diri untuk menjalankan semua ritual ini. Aku berfikir apakah Luh Manik mempunyai kecintaan yang sama kepada ayahnya seperti besarnya cintaku terhadap ayahku. Apakah jika diusia 27 tahun dia akan jauh lebih dewasa dan tegar menerima kepergian ayahnya. Entahlah, aku masih mempunyai sisa beberapa hari untuk membayarkan semua piutang Ayahku, yang akan aku lakukan dengan sebaik mungkin.
Aku duduk di tepian pantai bersama Luh Manik memandang surya yang tenggelam, ini adalah senja terakhir yang kita tatap di sini, esok adalah Purnama kelima.
“Luh Manik, Kau esok akan menemui Ayahmu pagi-pagi di Besakih?”
“Nggih mbok, Tiang akan berangkat subuh setelah matahari terbit”
“ Bagaimana dengan mbok kemuning sendiri”
“Maaf luh, mbok tidak bisa kembali ke Besakih, mbok akan melanjutkan jalan mbok sendiri. Sampaikan salam hormat mbok dengan Paman Guru”
“Baik, tiang sampaikan”
Matahari telah terbit di ufuk timur, aku menatap kepergian Luh Manik dengan kebaya putih untuk bertemu Paman Guru. Dan akupun menuju pantai, menyapa kembali abu Ayahku pada Ibu Samudra.
“Ibu Samudra, ijinkan aku bertemu ayahku, pertemukan kami, walau aku tak akan menemuinya dalam bentuk abu, tapi dalam wujud badan kasar, aku ingin bertemu dengannya dan menyampaiakan bahwa hutang janjinya telah aku lunasi. Kini biarkanlah aku bersamanya selamanya”
Debur ombak menggulungku, menyeretku dan aku tak merasakan apa-apa lagi, aku melihat Ayah yang tersenyum padaku membuka sebuah pintu besar bertahta emas.
Ubud, 11 Februari 2010
Kadek Purnami
Tuesday, May 18, 2010
Berhenti merasa memiliki sehingga tak kehilangan
Dan apa pula yang dirasakan saat mata nanar berusaha membendung air mata agar tak tumpah, dan bibir menjadi kelu dalam diam?
Dua rasa yang bertolak belakang: senang memiliki sesuatu, dan sedih saat kehilangan.
Memiliki dan kehilangan.
Apa sejatinya yang kita miliki?
Apa pula yang sebenarnya hilang dari kita?
Bukankah tak pernah ada yang kita miliki juga hilang?
Bahkan nafas dan nyawa kita sekalipun tak pernah kita miliki.
Mari berhenti merasa memiliki agar tak pernah merasa kehilangan.
Kadek purnami
Ubud, 18 mei 2010.
Thursday, May 13, 2010
Saat membenci kita kehilangan kesempatan mencintai
Bukalah mata dan hati, banyak hal indah pada setiap hal yang mungkin awalnya kita benci!
love,
Kadek purnami
Tak ada keberhasilan yang hanya disebabkanoleh diri sendiri.
Kerapkali kita hidup dilingkupi rasa ego akan kebanggaan diri, sehingga lupa perjalanan panjang yg kita tempuh hingga pada akhirnya sampai berdiri pada posisi puncak.
Misalkan semua kebanggaan anda pada diri anda capai pasa usia 35 tahun, saat merasa mapan akan semua hal dalam hidup anda, baik itu pola fikir, prinsip hidup, materi dan keluarga.
Namun, pernahkah anda membayangkan bahwa 35 tahun yang anda lalui itu menghabiskan nyaris 12775 hari, dan 306600 jam! Bayangkan berapa orang yang pernah kita temui sepanjang perjalanan itu?
Saya ingin berbagi bersama anda tentang sekelumit hal yang ada dalam kepala saya. Pernah satu hari saya habiskan untuk berfikir dan membayangkan berapa orang yang sudah berperan dalam hidup saya sehingga saya menjadi seperti sekarang ini.
Orang-orang yang memahatkan sejarah dalam hidup saya dan hal ini pasti terjadi pada anda juga.
Dalam lingkup terkecil adalah keluarga dekat yang sudah pasti sangat berperan, sejak lahir hingga tumbuh kembang menjadi balita, saat kita berada pada titik nol pelajaran pertama untuk hidup. Bagaimana mereka membesarkan kita.
Saya kadang ingin tahu kata apa yang mampu saya ucapkan pertama kali, atau siapa yang menuntun saya saat pertama kali berdiri dan melangkah, bahkan saya ingin tahu apa yang mereka bisikkan pertama kali pada saya.
Bahkan saya ingin tahu siapa guru yang mengajari saya mengenal huruf, membaca dan menulis, siapa orang pertama yang saya anggap teman atau musuh, orang yang pertama saya cintai dan benci.
Terlalu banyak dan memang terlalu banyak orang yang berpapasan dalam perjalanan hidup kita, entah itu hanya sekedar lewat, berhenti dan bercakap hingga menorehkan makna yang dalam pada hidup kita.
Tak dapat dihitung!
Saya kembali berfikir, apa yang menyebabkan kita bertemu dengan orang-orang, ada yang membuat kita tertarik melanjutkan hubungan yang lebih jauh, ada juga yang tidak.
Sehingga, saya sangat menyadari bahwa tak pernah ada sebuah keberhasilan yan disebabkan oleh diri sendiri.
Walau saat anda berhasil anda memang berusaha keras dengan kemampuan diri untuk menjadi berhasil. Tapi jika orang-orang tidak memberikan kesempatan untuk anda, apakah anda bisa ada pada jalan itu?
Semua memberi andil pada sejarah hidup anda. Jadi pantaskah kita menjadi ego dan membanggakan diri sendiri?
Kadek Purnami
Ubud, 13 Mei 2010.
Friday, April 23, 2010
Sebuah perayaan musim 29 tahun hidupku...
22 Apr 2010
I Wayan Juniartha
THE JAKARTA POST/KINTAMANI
It was arguably the most touching birthday party Kadek Purnami had ever had. She struggled to fight her tears back as she looked at a group of around 50 children sitting before her. The children were dressed in worn-out clothes and most of them apparently hadnt taken a bath for quite some time. Water is a precious commodity in that village and taking a bath regularly is a luxury most of the villagers cannot afford.
Standing next to Purnami was Pande Putu Setiawan, the founder of Anak Alam Community (www. anakalam.org). The children obviously adored this tall, dark-skinned young man. When Pande asked them about their day at school, the children answered spiritedly.
Pande turned to a little girl in the corner and asked her whether she would continue going to. school. The girl, who was carrying her kid brother on her waist, had just finished her elementary education. In an almosfc inaudible voice, the girls answered. "I want to enroll in the juniorhigh school, but I dont think it will be possible. My father will not allow me to [continue going to school]," she said as she tried to comfort her kid-brother.
At that point, Purnami couldnt hold her tears. She turned her face away in a vain attempt to hide the tears. Celebrating ones birthday is supposed to be joyful affair. Yet, this year the native of Padangtegal, Ubud, wanted to celebrate her 29th birthday in a different, more meaningful way. She asked her friends to donate books, foods and used clothes for Anak Alam Community. Purnami admires the works that Pande has done for the children through his Anak Alam Community.
"He is so passionate about helping the kids and I want to do my share," Purnami said. On a cloudy Saturday afternoon, "Purnami and his friends embarked on a trip from Ubud, that would eventually bring them face with face with the less celebrated reality of Bali, a reality comprises of poverty and suffering.
Upon reaching Kintamani, a tourist destination popular for its scenic view, they descended to Lake Batur, the giant caldera of a mighty volcano in ancient times. The villages surrounding the lake are populated by the descendants of proud warriors, whose rebellious nature was thesource of constant headaches for the occupying troops of the might Majapahit empire in the 14lh century.
The decent road ends in Songan, but their trip didnt end in that village, where Pande was born and his father is a well-known and well-respected public medical officer. The small group passed Songan, criss-crossed patches of cultivated land where the locals grow shallots and other seasonal plants, their primary source of income.
The road became narrower and steeper but Pande, standing on the open back of mini-truck, insisted that they must see the children. "I have told the children we will be here. It is very difficult to bring them together because most of the time they will be scattered outside the village, helping their parents Rnd the farm or collecting firewood," Pande said.
The group finally arrived at Blandingan, a small village perched on the northern rim of Lake Batur. Pande called Blandingan "one of the most underdeveloped villages in Batur", Brick houses are a rare sight, most of the houses have woven bamboo walls, dirt floors and thatched roofs.
"There are around 300 households in this village, most of them shallot farmers," an old man with untrimmed moustache and dirty clothes said, also the secretary to thevillage chief. The awaiting children gathered at the village hall and took turns performing before their guests. Some recited poems, a little girl sung a popular love song, others performed a play.
"They are talented, hard-working children. The main problem is they dont have access to education, the only thing that would enable them to break free from the bounds of poverty," Pande said. "There are around 3,000 children in villages spread along the rim of Lake Batur. So far, we have only managed to reach 200 children in Blandingan," he sighed.
Pande, who holds a master degree, has traveled abroad and pub-lished a literary trilogy, believes that bringing education to these children is the only way to give them a better future. One year ago he founded the Anak Alam Community, an organization of concerned individuals, who have put together various educational programs for the Blandingan children, from an English course to a photography workshop. Anak Alam now runs a small children library in Songan and is preparing to launch a computer course.
"All those programs were made possible by donations from generous individuals and institutions across the island. Several people have came here, spent two weeks with the children, teaching them the skills theyuse in their profession and in turn learning from the children about the various aspects of this beautiful place," Pande said.
Now, concerned young men in Sumbawa, Riau and Semarang have established their own Anak Alam Community. A thin curtain of mist descended upon Blandingan when the group prepared to leave. The children shouted and yelled when the car roared. In unison they screamed "I love you". Purnami silently waved at them. "This is the most meaningful birthday I have ever had. I will be back," she said. Photos by I Wayan Juniartha
Tuesday, April 13, 2010
Pada Sebungkus Nasi
Kepada padi yang telah menjadi beras dan nasi, pada musim manakah dia telah tumbuh, dipetik hingga di panen. Berapa peluh petani telah jatuh berbulir-bulir pada pertiwi yang basah.Mungkin suaranya nyaris hilang serak saat mengusir burung yang ingin memakan bulir padinya.
Kepada sapi yang telah menjelma menjadi daging begitu gurih pada mulutku, berapakah usiamu saat disembelihnya? Seberapa besar ketakutanmu saat pisau penjagal menyayat urat nadimu? Rintihanmu tak sebanding dengan gurih dimulutku. Adakah kau hidup bahagia semasa hidupmu menjadi sapi?
Pada cabai, bumbu rempah, sayur dan semua yang melengkapi. Seberapa jauh perjalananmu yang telah kau tempuh hingga kau bersatu disini, adakah kau tumbuh dalam kekeringan dan dikelilingi hama wereng? Namun kau melewati, berjuang menjadi unggulan.
Adakah dia yang menjual nasi ini dalam keadaan bahagia membungkus untukku?
Pada semua mahluk yang telah berkorban pada sebungkus nasi ini. Padamu aku ucapkan terima kasih dan telah menjadikannya ada untuk aku bersantap siang.
Ubud, 12 April 2010
Kadek Purnami
Sunday, February 14, 2010
Valentine !
Yup! selama 24 jam, bertabur rona merah muda, bahasa kasih sayang dan perlakuan romantis serta kado manis.
Kaum hawa begitu menikmati penghargaan ini, menjadi begitu berbunga.
Kaum adam pun tak kalah menikmati, kerapkali meminta yang paling berharga sebagai wujud pernyataan cinta.
Begitu meluap bagai air mendidih, mereka menanti dan menikmati.
Semua atas nama kasih sayang.
_______
Seorang ibu tua memungut kayu bakar di pegunungan, tak tau apa itu hari valentine. Yang dia tau adalah hari dimulai saat mentari terbit, bergegas memungut kayu bakar sebanyak mungkin untuk dijual, mendapat uang utk menghidupi anak.
Semua dia lakukan penuh cinta, yang dipersembahkan untuk orang terkasihnya.
Begitulah arti mencintai dengan penuh kasih baginya.
_______
Apapun yang anda lakukan saat hari valentine penuh kasih ini, lakukanlah dengan cinta.
Berikan cinta dan kasih sayang anda selagi sempat, selagi masih ada waktu.
Jangan pernah lupa, untuk menghargai diri anda terlebih dahulu. Karena jika anda tak tau bagaimana menghargai diri anda, anda tak akan mengerti bagaimana membahagiakan orang lain.
Selamat hari kasih sayang!
14 february 2010
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Friday, February 12, 2010
Perjalanan tanpa peta
Hanya satu hal yang membuat kami bersama pada waktu yang sama.
Kami bersama-sama di bawah komando dan pemimpin yang sama.
Kami berdiri mematung
Terdiam seksama mendengar perintah-perintah yang tak jelas.
Dibagikannya sebuah ransel dengan perlengkapannya
Tiap orang dari kami diberikan satu teman yang tak pernah kami temui sebelumnya.
Kami berempat terdiam, tak kenal tak menyapa mencoba mencerna perintah.
Air suci penuh sugesti diperciki, tanda sebuah pemberkatan.
Dilepaslah kami tanpa petunjuk jelas, tanpa peta.
Hanya satu pesan
“Berjalanlah, kita akan bertemu dan berkumpul lagi pada suatu hari”
Tak ada petunjuk kami harus berjalan kemana, dan akan bertemu kapan.
Aku pergi didampingi seorang teman yang begitu pasif.
Tak pernah bicara jika tak ditanya,
tak pernah member pertimbangan walau begitu diperlukan.
Selalu berkata
“Maaf, Tugas saya hanya menemani”
Berjalanlah aku kearah yang tak aku tahu pasti, tanpa petunjuk, tanpa peta.
Sebuah perjalanan dimulai, dengan keyakinan kita akan bertemu pada suatu hari nanti.
11 Februari 2010.
Terima kasih untuk pertandanya.
Thursday, February 11, 2010
Penutur yg tertinggal
Kerut kedukaan tegaris jelas pada dahinya.
Mungkin hatinya telah sesak oleh kisah hidupnya.
Hanya ingatan kuat yang dibanggakannya,
Hal yang mampu mengenangkan perjalanannya.
Dia seorang yang tersisa dari sebuah garis keturunan.
Ayah, ibu, kakak dan adiknya semua telah dipujanya sebagai leluhur.
Dia merasa tak cukup adil kenapa dia menjadi yang terakhir. Bersama sisa keluarga yang diturunkan.
Dia merasa dihianati dan ditinggal.
Dengan mata yang basah dia bertutur tentang waktu yang dikenangkannya selalu.
Memang ada yang harus ditinggal untuk mengenang.
Begitulah penutur tua yang tertinggal, tak menikmati hari ini, namun menghabiskan waktu mengenangkan masa lampaunya.
Ambi-ambilah aku,
Agar dapat berkumpul dengan mereka.
Begitulah doanya setiap saat.
Ubud 11 februari 2010
Untuk pamanku.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Mengenangmu
Seperti luka menganga
Yang tak ingat untuk merekat lagi.
Kini akupun terbiasa dengan kekosongan ini,
Tak lagi aku mengejar tuk mengisinya.
Biarlah aku mengingatnya selalu.
Hanya sedikit rintihan pilu
Bertalu talu dalam sepi.
semakin aku sadar
Terlalu besar aku mencintaimu
Tak berkurang sedikitpun
Walau waktu semakin menyamarkan ingatan lampau.
Kubiarkan kaki melangkah menyusuri sudut-sudut kenangan dirumah ini.
Tempatku bertumbuh,
Mengenal arti cinta dan kasih sayang.
Aku selalu mengenangmu penuh cinta.
11 Februari 2010
D.purnami
Untuk ayahanda.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Wednesday, February 10, 2010
Senja
Petunjuk baginya untuk kembali menyapa pohon yang memberinya teduh.
D.purnami
10 february 2010
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Friday, January 29, 2010
Waktu
Cinta yang bertumbuh makin besar.
Pula cinta yang sirna.
Dulu, sekarang dan kini begitu waktu disebutnya.
Gigil merasakan ketakutan akan waktu yg semakin berkurang.
Berhitung dikurangi detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun.
Hingga hitungan tiba pada kulit keriput, ingatan pudar, kaki gemetar yang tak mampu melangkah.
Hanya tersisa nafas satu satu yg makin berat.
Maka pada waktu pun kujanjikan akhir nafas yang akan menunjukkan waktu kita senyatanya habis.
Tubuh kembali pada tanah.
Jiwa kembali pada sejatinya cinta.
Pada waktu itulah, kita dijanjikan kekelan cinta yang satu.
Kita akan bahagia.
D.purnami
29 januari 2010
Purnama
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Saturday, January 16, 2010
Ruang kita
Ruangan yg tak lebih dari 1, 5 X 2 meter.
Tempat kau bersembunyi kala luka, sedih, kecewa, maupun haru.
Ruang yang kedap suara, yang tak kan memperdengarkan jeritanmu, isakmu ataupun amarahmu.
Ruangan yang kau ciptakan sendiri, kau isi dengan semua keluh kesah hatimu, yang kemudian kau tinggal kosong.
Ruang yang kini hampa tanpa sisa, hanya lelehan lilin yang tak juga mampu terangi hatimu yg sering luka.
Ruang yang kau tinggal, yang kini aku kunjungi.
Aku merasa senang diruang sempit ini.
Aku pun melakukan hal yang sama.
Aku berlari kesana dan tertawa saat aku tak mampu mengangkat tangan kiriku dengan baik, menampar pipi sendiri yang tak hentinya kebas. Tak akan keluar satu patah kata kesakitan diruang itu.
Ruang kita,
Tempat merintih sendiri, terpuruk di sudut mati diterangi sebatang lilin yg semakin meleleh dan mati oleh tetes air mata.
Tempat kau memohon kematian yang dipercepat.
Kini aku paham kenapa kau tak mau berjuang dan memilih pergi.
Maafkan aku yang sempat mencacimu sebagai pecundang kalah yang tak berani berjuang, karena akupun tak berbeda nemilih jalan sepertimu.
jika kau melihatku sekarang,
Tunggu aku, kita akan bersulang untuk sebatang lilin yang meleleh.
Ubud,16 Januari 2010.
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sunday, January 10, 2010
Melepas senja
Burung pulang pada pohon yang memberinya rumah.
Langit menggelamkan diri dari jingga.
Semilir angin, sapukan daun kering, berpindah ringan.
Lelah disambut hangat oleh mereka yang punya naungan jiwa
Bagi yang tidak, gigil sunyi akan menjadi sahabat setia.
Malam datang menggantikan waktu yang begitu haru.
Aku duduk memandang langit.
D.purnami
10 januari 2010
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Wednesday, December 30, 2009
Semoga selamat di tahun 2010
Bagaimana tidak, hanya waktu yg menjadi saksi atas bertumbuhnya hidup fisik, fikiran dan firasat.
Kenapa ada terompet, pesta, harapan baru, tekad dan semangat baru tiap menyambut tgl 1 januari? Karena waktunya telah tiba.
Jadi mungkin seperti mengikuti jadwal saja utk selalu beresolusi, berharap tiap awal tahun.
Sedikit perlu penyadaran diri, bahwa tanpa disambut, dirayakan dan dipestakan, tanpa dilepas matahari sore 2009 dan disangsong matahari 2010,
waktu tetap berjalan.
Tanggal 31 desember akan tetap lewat, karena tak ada lagi yang bersepakat ada nama bulan lain lagi setelah desember. Kita semua menerima dan sepakat kembali berhitung bulan januari bertanggal 1 bukan tgl 32. Begitulah kita semua hapal dan meresapkan siklus waktu yg dasyat ini ke dalam diri manusia.
Apa makna selamat tahun baru ?
Apakah selamat membuat harapan baru? Hidup yg lebih baik dr sebelumnya?
Atau semoga selamat melewati th 2010?
Apapun maknanya tetap sah dan boleh-boleh saja.
Memandang subuh;
melihat bulan tergantikan oleh matahari, menyaksikan bintang yg bersinar menjadi lenyap dan digantikan oleh berkas cahaya matahari, mendengar ayam berkokok, burung berkicau tanpa paham yang namanya detik waktu.
Merasakan udara basah yg menjadikannya embun di pagi hari.
Semua itu terjadi saat manusia terlelap. Apakah kita terus harus merasa hebat?
Semoga semua selamat di tahun 2010, dan tersadar oleh waktu kita yang semakin hari semakin sedikit. Bahwa tubuh manusia dibuat terbatas oleh waktu.
Tak berlebihanlah jika kita eling saudaraku.
Semoga selamat melewati th 2010.
Salam kasih embun pagi.
D.purnami.
30 desember 2009
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Saturday, December 19, 2009
Selamat pagi dokter !
Bukankah itu pertanda pagi akan datang sebentar lagi?
Mentari kabarnya telah terang di merauke.
Maaf saya membangunkan dokter terlalu pagi,
Ada hal besar dikepala saya.
Tak sabar saya ingin mengkonsultasikan pada dokter.
Hmmm mungkin sebesar telur naga eragon? Ah tapi pink meranum seperti buah naga.
Sebaiknya saya goreng ceplok saja hal besar itu, atau di jus biar manis dan sehat?
Sebentar dok, saya menyeduh kopi dulu, kata dokter, secangkir sehari masih boleh kan ?
Ah ini sudah benar-benar pagi dokter.
Saya senang, pil dari dokter membuat saya terjaga hingga pagi.
Janji dok saya tidak akan bandel lagi.
Dan hal besar dikepala saya akan semakin besar dok.
Ubud, 19 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Rumah baruMU
Tunggu aku di depan pintumu.
Biarkan aku selalu disampingmu.
Tertidur hening...
Dalam rumah BaruMu.
Ubud, 18 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Friday, December 18, 2009
Aku dimana?
Bukan bra berenda tapi bra katun polos warna senada kulit, kancingnya put atas putingnya yang menghitam.
Didalamnya sumber hidup bagi bayi dipangkuannya.
Perempuan-perempuan hebat. Tiada lelah seperti sapi perah.
---
Mereka lelaki-lelaki yang berkantung mata hitam.
Terkantuk tiap pagi.
Disela kopi bercerita tentang popok basah yang harus di cuci,
Bukan lagi bualan bra hitam berenda.
---
Mereka para lelaki yang harum, berbaju bagus, berwajah porselen, bermobil mewah.
terlalu sensitif walau tak datang bulan,
Terlalu perhatian walau bukan perempuan.
Berceloteh tentang anak-anak mereka yang diadopsi dan dibesarkan bersama-sama.
" ibuku itu, lelaki yang botak, begitulah dia memperkenalkan keluarganya kelak "
----
Begitupula para perempuan yang membesarkan anak bersama.
" Ibu ini, seperti ayah ku, dia selalu membelaku jika ada yg nakal terhadapku"
----
Aku dimana?
Aku hanya perempuan yang meneteki tanpa air susu.
Ubud, 18 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Selamat malam dokter
Larut semakin larut begitulah malam yg mulai dingin.
Seperti fikiranku yg larut membekukan otakku.
Aku tidak menghitung domba agar kantukku datang.
Tapi aku menghitung jumlah dokter yang telah dan akan kutemui sebulan ini.
Ah, genap sembilan. Sudah kutemui 6 orang tinggal 3 orang lagi.
Akhir tahun dipenghujung desember, waktu cuti berliburku harus kugunakan untuk berkencan dengan mereka.
----
Aku teringat tentang permintaan seorang dokter yang telah kutemui agar aku beraktivitas yang menenangkan dan tidak boleh ada unsur yang mengejutkan.
Akupun mengiyakan; meluncurlah aku dari ketinggian 10 meter dan merasakan seperti mati terlempar. - menyenangkan! Dan kuulangi sekian kali. Aku terkejut dok!
-------
Dokterpun menyarankanku untuk berdiet dan mengatur pola makan agar organ tubuh vitalku kembali sehat dan normal.
Bukankah aku memang tidak normal dok? Aku masih ingat sederet panjang list alergiku dari makanan, cuaca, obat,serta bahan pakaian. Terlalu panjang listnya!
Menderita sekali rasanya dok!
-----
"Kamu pasien bandel!"
"Tidak dok, saya cuman ingin menikmati hidup.
Yang membuat saya hidup bukan pil yang harus saya minum tiap hari.
Tapi semangat hidup saya dok!
Itu yang membuat saya bertahan sampai malam ini."
Ngggg.....
Dan akupun salah..
Semangat hidup hanya satu sisi dari keping mata uang.
Sisi lainnya dibutuhkan menjadi seorang pecundang kalah dan mengakui diri memang sakit dan harus menelam pil pil itu tiap beberapa jam!
" Dokter benar, saya pasien bandel"
------
Kemudian, metabolisme tubuh ini semakin menurun. Terlalu lesu untuk tersenyum, terlalu lelah untuk beraktivitas.
Di daftar A obat flu biasa yang kuminum seharusnya tak berdampak alergi bagi tubuhku, tapi nyatanya kini dia telah membuatku bengkak sekujur tubuh, kembali aku berlari menemui dokter untuk diberi anti alergi.
------
Akupun masih harus menemui satu dokter lagi, yang akan mengutak atik tubuhku, membiusku, memperbaiki saluran-saluran yang macet, memperlebarnya, membersihkannya.
Wait a minute!
Hey, itu sebenarnya dokter atau mario bross dan luigi?
"Dia benar lagi, itu dokter! mario bross tidak pakai baju putih!"
Ya baiklah, Aku akan masuk bengkel manusia, tubuh ini perlu diservis!
-----
Malam tadi,
Dokter beri saya obat tidur yang menenangkan fikiran saya,
Dan kutelan tiap 6 jam, aku hanya merasakan tubuhku melayang, tapi tidak tidur dan tidak tenang.
Malam sudah larut..
Aku belum terpejam...
Dokter sudah menelan obat tidurnya dia terlelap.
Selamat malam dokter..
Sweet dream.
Ubud, 18 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT