Thursday, May 13, 2010
Saat membenci kita kehilangan kesempatan mencintai
Bukalah mata dan hati, banyak hal indah pada setiap hal yang mungkin awalnya kita benci!
love,
Kadek purnami
Tak ada keberhasilan yang hanya disebabkanoleh diri sendiri.
Kerapkali kita hidup dilingkupi rasa ego akan kebanggaan diri, sehingga lupa perjalanan panjang yg kita tempuh hingga pada akhirnya sampai berdiri pada posisi puncak.
Misalkan semua kebanggaan anda pada diri anda capai pasa usia 35 tahun, saat merasa mapan akan semua hal dalam hidup anda, baik itu pola fikir, prinsip hidup, materi dan keluarga.
Namun, pernahkah anda membayangkan bahwa 35 tahun yang anda lalui itu menghabiskan nyaris 12775 hari, dan 306600 jam! Bayangkan berapa orang yang pernah kita temui sepanjang perjalanan itu?
Saya ingin berbagi bersama anda tentang sekelumit hal yang ada dalam kepala saya. Pernah satu hari saya habiskan untuk berfikir dan membayangkan berapa orang yang sudah berperan dalam hidup saya sehingga saya menjadi seperti sekarang ini.
Orang-orang yang memahatkan sejarah dalam hidup saya dan hal ini pasti terjadi pada anda juga.
Dalam lingkup terkecil adalah keluarga dekat yang sudah pasti sangat berperan, sejak lahir hingga tumbuh kembang menjadi balita, saat kita berada pada titik nol pelajaran pertama untuk hidup. Bagaimana mereka membesarkan kita.
Saya kadang ingin tahu kata apa yang mampu saya ucapkan pertama kali, atau siapa yang menuntun saya saat pertama kali berdiri dan melangkah, bahkan saya ingin tahu apa yang mereka bisikkan pertama kali pada saya.
Bahkan saya ingin tahu siapa guru yang mengajari saya mengenal huruf, membaca dan menulis, siapa orang pertama yang saya anggap teman atau musuh, orang yang pertama saya cintai dan benci.
Terlalu banyak dan memang terlalu banyak orang yang berpapasan dalam perjalanan hidup kita, entah itu hanya sekedar lewat, berhenti dan bercakap hingga menorehkan makna yang dalam pada hidup kita.
Tak dapat dihitung!
Saya kembali berfikir, apa yang menyebabkan kita bertemu dengan orang-orang, ada yang membuat kita tertarik melanjutkan hubungan yang lebih jauh, ada juga yang tidak.
Sehingga, saya sangat menyadari bahwa tak pernah ada sebuah keberhasilan yan disebabkan oleh diri sendiri.
Walau saat anda berhasil anda memang berusaha keras dengan kemampuan diri untuk menjadi berhasil. Tapi jika orang-orang tidak memberikan kesempatan untuk anda, apakah anda bisa ada pada jalan itu?
Semua memberi andil pada sejarah hidup anda. Jadi pantaskah kita menjadi ego dan membanggakan diri sendiri?
Kadek Purnami
Ubud, 13 Mei 2010.
Friday, April 23, 2010
Sebuah perayaan musim 29 tahun hidupku...
22 Apr 2010
I Wayan Juniartha
THE JAKARTA POST/KINTAMANI
It was arguably the most touching birthday party Kadek Purnami had ever had. She struggled to fight her tears back as she looked at a group of around 50 children sitting before her. The children were dressed in worn-out clothes and most of them apparently hadnt taken a bath for quite some time. Water is a precious commodity in that village and taking a bath regularly is a luxury most of the villagers cannot afford.
Standing next to Purnami was Pande Putu Setiawan, the founder of Anak Alam Community (www. anakalam.org). The children obviously adored this tall, dark-skinned young man. When Pande asked them about their day at school, the children answered spiritedly.
Pande turned to a little girl in the corner and asked her whether she would continue going to. school. The girl, who was carrying her kid brother on her waist, had just finished her elementary education. In an almosfc inaudible voice, the girls answered. "I want to enroll in the juniorhigh school, but I dont think it will be possible. My father will not allow me to [continue going to school]," she said as she tried to comfort her kid-brother.
At that point, Purnami couldnt hold her tears. She turned her face away in a vain attempt to hide the tears. Celebrating ones birthday is supposed to be joyful affair. Yet, this year the native of Padangtegal, Ubud, wanted to celebrate her 29th birthday in a different, more meaningful way. She asked her friends to donate books, foods and used clothes for Anak Alam Community. Purnami admires the works that Pande has done for the children through his Anak Alam Community.
"He is so passionate about helping the kids and I want to do my share," Purnami said. On a cloudy Saturday afternoon, "Purnami and his friends embarked on a trip from Ubud, that would eventually bring them face with face with the less celebrated reality of Bali, a reality comprises of poverty and suffering.
Upon reaching Kintamani, a tourist destination popular for its scenic view, they descended to Lake Batur, the giant caldera of a mighty volcano in ancient times. The villages surrounding the lake are populated by the descendants of proud warriors, whose rebellious nature was thesource of constant headaches for the occupying troops of the might Majapahit empire in the 14lh century.
The decent road ends in Songan, but their trip didnt end in that village, where Pande was born and his father is a well-known and well-respected public medical officer. The small group passed Songan, criss-crossed patches of cultivated land where the locals grow shallots and other seasonal plants, their primary source of income.
The road became narrower and steeper but Pande, standing on the open back of mini-truck, insisted that they must see the children. "I have told the children we will be here. It is very difficult to bring them together because most of the time they will be scattered outside the village, helping their parents Rnd the farm or collecting firewood," Pande said.
The group finally arrived at Blandingan, a small village perched on the northern rim of Lake Batur. Pande called Blandingan "one of the most underdeveloped villages in Batur", Brick houses are a rare sight, most of the houses have woven bamboo walls, dirt floors and thatched roofs.
"There are around 300 households in this village, most of them shallot farmers," an old man with untrimmed moustache and dirty clothes said, also the secretary to thevillage chief. The awaiting children gathered at the village hall and took turns performing before their guests. Some recited poems, a little girl sung a popular love song, others performed a play.
"They are talented, hard-working children. The main problem is they dont have access to education, the only thing that would enable them to break free from the bounds of poverty," Pande said. "There are around 3,000 children in villages spread along the rim of Lake Batur. So far, we have only managed to reach 200 children in Blandingan," he sighed.
Pande, who holds a master degree, has traveled abroad and pub-lished a literary trilogy, believes that bringing education to these children is the only way to give them a better future. One year ago he founded the Anak Alam Community, an organization of concerned individuals, who have put together various educational programs for the Blandingan children, from an English course to a photography workshop. Anak Alam now runs a small children library in Songan and is preparing to launch a computer course.
"All those programs were made possible by donations from generous individuals and institutions across the island. Several people have came here, spent two weeks with the children, teaching them the skills theyuse in their profession and in turn learning from the children about the various aspects of this beautiful place," Pande said.
Now, concerned young men in Sumbawa, Riau and Semarang have established their own Anak Alam Community. A thin curtain of mist descended upon Blandingan when the group prepared to leave. The children shouted and yelled when the car roared. In unison they screamed "I love you". Purnami silently waved at them. "This is the most meaningful birthday I have ever had. I will be back," she said. Photos by I Wayan Juniartha
Tuesday, April 13, 2010
Pada Sebungkus Nasi
Kepada padi yang telah menjadi beras dan nasi, pada musim manakah dia telah tumbuh, dipetik hingga di panen. Berapa peluh petani telah jatuh berbulir-bulir pada pertiwi yang basah.Mungkin suaranya nyaris hilang serak saat mengusir burung yang ingin memakan bulir padinya.
Kepada sapi yang telah menjelma menjadi daging begitu gurih pada mulutku, berapakah usiamu saat disembelihnya? Seberapa besar ketakutanmu saat pisau penjagal menyayat urat nadimu? Rintihanmu tak sebanding dengan gurih dimulutku. Adakah kau hidup bahagia semasa hidupmu menjadi sapi?
Pada cabai, bumbu rempah, sayur dan semua yang melengkapi. Seberapa jauh perjalananmu yang telah kau tempuh hingga kau bersatu disini, adakah kau tumbuh dalam kekeringan dan dikelilingi hama wereng? Namun kau melewati, berjuang menjadi unggulan.
Adakah dia yang menjual nasi ini dalam keadaan bahagia membungkus untukku?
Pada semua mahluk yang telah berkorban pada sebungkus nasi ini. Padamu aku ucapkan terima kasih dan telah menjadikannya ada untuk aku bersantap siang.
Ubud, 12 April 2010
Kadek Purnami
Sunday, February 14, 2010
Valentine !
Yup! selama 24 jam, bertabur rona merah muda, bahasa kasih sayang dan perlakuan romantis serta kado manis.
Kaum hawa begitu menikmati penghargaan ini, menjadi begitu berbunga.
Kaum adam pun tak kalah menikmati, kerapkali meminta yang paling berharga sebagai wujud pernyataan cinta.
Begitu meluap bagai air mendidih, mereka menanti dan menikmati.
Semua atas nama kasih sayang.
_______
Seorang ibu tua memungut kayu bakar di pegunungan, tak tau apa itu hari valentine. Yang dia tau adalah hari dimulai saat mentari terbit, bergegas memungut kayu bakar sebanyak mungkin untuk dijual, mendapat uang utk menghidupi anak.
Semua dia lakukan penuh cinta, yang dipersembahkan untuk orang terkasihnya.
Begitulah arti mencintai dengan penuh kasih baginya.
_______
Apapun yang anda lakukan saat hari valentine penuh kasih ini, lakukanlah dengan cinta.
Berikan cinta dan kasih sayang anda selagi sempat, selagi masih ada waktu.
Jangan pernah lupa, untuk menghargai diri anda terlebih dahulu. Karena jika anda tak tau bagaimana menghargai diri anda, anda tak akan mengerti bagaimana membahagiakan orang lain.
Selamat hari kasih sayang!
14 february 2010
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Friday, February 12, 2010
Perjalanan tanpa peta
Hanya satu hal yang membuat kami bersama pada waktu yang sama.
Kami bersama-sama di bawah komando dan pemimpin yang sama.
Kami berdiri mematung
Terdiam seksama mendengar perintah-perintah yang tak jelas.
Dibagikannya sebuah ransel dengan perlengkapannya
Tiap orang dari kami diberikan satu teman yang tak pernah kami temui sebelumnya.
Kami berempat terdiam, tak kenal tak menyapa mencoba mencerna perintah.
Air suci penuh sugesti diperciki, tanda sebuah pemberkatan.
Dilepaslah kami tanpa petunjuk jelas, tanpa peta.
Hanya satu pesan
“Berjalanlah, kita akan bertemu dan berkumpul lagi pada suatu hari”
Tak ada petunjuk kami harus berjalan kemana, dan akan bertemu kapan.
Aku pergi didampingi seorang teman yang begitu pasif.
Tak pernah bicara jika tak ditanya,
tak pernah member pertimbangan walau begitu diperlukan.
Selalu berkata
“Maaf, Tugas saya hanya menemani”
Berjalanlah aku kearah yang tak aku tahu pasti, tanpa petunjuk, tanpa peta.
Sebuah perjalanan dimulai, dengan keyakinan kita akan bertemu pada suatu hari nanti.
11 Februari 2010.
Terima kasih untuk pertandanya.
Thursday, February 11, 2010
Penutur yg tertinggal
Kerut kedukaan tegaris jelas pada dahinya.
Mungkin hatinya telah sesak oleh kisah hidupnya.
Hanya ingatan kuat yang dibanggakannya,
Hal yang mampu mengenangkan perjalanannya.
Dia seorang yang tersisa dari sebuah garis keturunan.
Ayah, ibu, kakak dan adiknya semua telah dipujanya sebagai leluhur.
Dia merasa tak cukup adil kenapa dia menjadi yang terakhir. Bersama sisa keluarga yang diturunkan.
Dia merasa dihianati dan ditinggal.
Dengan mata yang basah dia bertutur tentang waktu yang dikenangkannya selalu.
Memang ada yang harus ditinggal untuk mengenang.
Begitulah penutur tua yang tertinggal, tak menikmati hari ini, namun menghabiskan waktu mengenangkan masa lampaunya.
Ambi-ambilah aku,
Agar dapat berkumpul dengan mereka.
Begitulah doanya setiap saat.
Ubud 11 februari 2010
Untuk pamanku.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Mengenangmu
Seperti luka menganga
Yang tak ingat untuk merekat lagi.
Kini akupun terbiasa dengan kekosongan ini,
Tak lagi aku mengejar tuk mengisinya.
Biarlah aku mengingatnya selalu.
Hanya sedikit rintihan pilu
Bertalu talu dalam sepi.
semakin aku sadar
Terlalu besar aku mencintaimu
Tak berkurang sedikitpun
Walau waktu semakin menyamarkan ingatan lampau.
Kubiarkan kaki melangkah menyusuri sudut-sudut kenangan dirumah ini.
Tempatku bertumbuh,
Mengenal arti cinta dan kasih sayang.
Aku selalu mengenangmu penuh cinta.
11 Februari 2010
D.purnami
Untuk ayahanda.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Wednesday, February 10, 2010
Senja
Petunjuk baginya untuk kembali menyapa pohon yang memberinya teduh.
D.purnami
10 february 2010
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Friday, January 29, 2010
Waktu
Cinta yang bertumbuh makin besar.
Pula cinta yang sirna.
Dulu, sekarang dan kini begitu waktu disebutnya.
Gigil merasakan ketakutan akan waktu yg semakin berkurang.
Berhitung dikurangi detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun.
Hingga hitungan tiba pada kulit keriput, ingatan pudar, kaki gemetar yang tak mampu melangkah.
Hanya tersisa nafas satu satu yg makin berat.
Maka pada waktu pun kujanjikan akhir nafas yang akan menunjukkan waktu kita senyatanya habis.
Tubuh kembali pada tanah.
Jiwa kembali pada sejatinya cinta.
Pada waktu itulah, kita dijanjikan kekelan cinta yang satu.
Kita akan bahagia.
D.purnami
29 januari 2010
Purnama
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Saturday, January 16, 2010
Ruang kita
Ruangan yg tak lebih dari 1, 5 X 2 meter.
Tempat kau bersembunyi kala luka, sedih, kecewa, maupun haru.
Ruang yang kedap suara, yang tak kan memperdengarkan jeritanmu, isakmu ataupun amarahmu.
Ruangan yang kau ciptakan sendiri, kau isi dengan semua keluh kesah hatimu, yang kemudian kau tinggal kosong.
Ruang yang kini hampa tanpa sisa, hanya lelehan lilin yang tak juga mampu terangi hatimu yg sering luka.
Ruang yang kau tinggal, yang kini aku kunjungi.
Aku merasa senang diruang sempit ini.
Aku pun melakukan hal yang sama.
Aku berlari kesana dan tertawa saat aku tak mampu mengangkat tangan kiriku dengan baik, menampar pipi sendiri yang tak hentinya kebas. Tak akan keluar satu patah kata kesakitan diruang itu.
Ruang kita,
Tempat merintih sendiri, terpuruk di sudut mati diterangi sebatang lilin yg semakin meleleh dan mati oleh tetes air mata.
Tempat kau memohon kematian yang dipercepat.
Kini aku paham kenapa kau tak mau berjuang dan memilih pergi.
Maafkan aku yang sempat mencacimu sebagai pecundang kalah yang tak berani berjuang, karena akupun tak berbeda nemilih jalan sepertimu.
jika kau melihatku sekarang,
Tunggu aku, kita akan bersulang untuk sebatang lilin yang meleleh.
Ubud,16 Januari 2010.
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sunday, January 10, 2010
Melepas senja
Burung pulang pada pohon yang memberinya rumah.
Langit menggelamkan diri dari jingga.
Semilir angin, sapukan daun kering, berpindah ringan.
Lelah disambut hangat oleh mereka yang punya naungan jiwa
Bagi yang tidak, gigil sunyi akan menjadi sahabat setia.
Malam datang menggantikan waktu yang begitu haru.
Aku duduk memandang langit.
D.purnami
10 januari 2010
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Wednesday, December 30, 2009
Semoga selamat di tahun 2010
Bagaimana tidak, hanya waktu yg menjadi saksi atas bertumbuhnya hidup fisik, fikiran dan firasat.
Kenapa ada terompet, pesta, harapan baru, tekad dan semangat baru tiap menyambut tgl 1 januari? Karena waktunya telah tiba.
Jadi mungkin seperti mengikuti jadwal saja utk selalu beresolusi, berharap tiap awal tahun.
Sedikit perlu penyadaran diri, bahwa tanpa disambut, dirayakan dan dipestakan, tanpa dilepas matahari sore 2009 dan disangsong matahari 2010,
waktu tetap berjalan.
Tanggal 31 desember akan tetap lewat, karena tak ada lagi yang bersepakat ada nama bulan lain lagi setelah desember. Kita semua menerima dan sepakat kembali berhitung bulan januari bertanggal 1 bukan tgl 32. Begitulah kita semua hapal dan meresapkan siklus waktu yg dasyat ini ke dalam diri manusia.
Apa makna selamat tahun baru ?
Apakah selamat membuat harapan baru? Hidup yg lebih baik dr sebelumnya?
Atau semoga selamat melewati th 2010?
Apapun maknanya tetap sah dan boleh-boleh saja.
Memandang subuh;
melihat bulan tergantikan oleh matahari, menyaksikan bintang yg bersinar menjadi lenyap dan digantikan oleh berkas cahaya matahari, mendengar ayam berkokok, burung berkicau tanpa paham yang namanya detik waktu.
Merasakan udara basah yg menjadikannya embun di pagi hari.
Semua itu terjadi saat manusia terlelap. Apakah kita terus harus merasa hebat?
Semoga semua selamat di tahun 2010, dan tersadar oleh waktu kita yang semakin hari semakin sedikit. Bahwa tubuh manusia dibuat terbatas oleh waktu.
Tak berlebihanlah jika kita eling saudaraku.
Semoga selamat melewati th 2010.
Salam kasih embun pagi.
D.purnami.
30 desember 2009
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Saturday, December 19, 2009
Selamat pagi dokter !
Bukankah itu pertanda pagi akan datang sebentar lagi?
Mentari kabarnya telah terang di merauke.
Maaf saya membangunkan dokter terlalu pagi,
Ada hal besar dikepala saya.
Tak sabar saya ingin mengkonsultasikan pada dokter.
Hmmm mungkin sebesar telur naga eragon? Ah tapi pink meranum seperti buah naga.
Sebaiknya saya goreng ceplok saja hal besar itu, atau di jus biar manis dan sehat?
Sebentar dok, saya menyeduh kopi dulu, kata dokter, secangkir sehari masih boleh kan ?
Ah ini sudah benar-benar pagi dokter.
Saya senang, pil dari dokter membuat saya terjaga hingga pagi.
Janji dok saya tidak akan bandel lagi.
Dan hal besar dikepala saya akan semakin besar dok.
Ubud, 19 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Rumah baruMU
Tunggu aku di depan pintumu.
Biarkan aku selalu disampingmu.
Tertidur hening...
Dalam rumah BaruMu.
Ubud, 18 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Friday, December 18, 2009
Aku dimana?
Bukan bra berenda tapi bra katun polos warna senada kulit, kancingnya put atas putingnya yang menghitam.
Didalamnya sumber hidup bagi bayi dipangkuannya.
Perempuan-perempuan hebat. Tiada lelah seperti sapi perah.
---
Mereka lelaki-lelaki yang berkantung mata hitam.
Terkantuk tiap pagi.
Disela kopi bercerita tentang popok basah yang harus di cuci,
Bukan lagi bualan bra hitam berenda.
---
Mereka para lelaki yang harum, berbaju bagus, berwajah porselen, bermobil mewah.
terlalu sensitif walau tak datang bulan,
Terlalu perhatian walau bukan perempuan.
Berceloteh tentang anak-anak mereka yang diadopsi dan dibesarkan bersama-sama.
" ibuku itu, lelaki yang botak, begitulah dia memperkenalkan keluarganya kelak "
----
Begitupula para perempuan yang membesarkan anak bersama.
" Ibu ini, seperti ayah ku, dia selalu membelaku jika ada yg nakal terhadapku"
----
Aku dimana?
Aku hanya perempuan yang meneteki tanpa air susu.
Ubud, 18 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Selamat malam dokter
Larut semakin larut begitulah malam yg mulai dingin.
Seperti fikiranku yg larut membekukan otakku.
Aku tidak menghitung domba agar kantukku datang.
Tapi aku menghitung jumlah dokter yang telah dan akan kutemui sebulan ini.
Ah, genap sembilan. Sudah kutemui 6 orang tinggal 3 orang lagi.
Akhir tahun dipenghujung desember, waktu cuti berliburku harus kugunakan untuk berkencan dengan mereka.
----
Aku teringat tentang permintaan seorang dokter yang telah kutemui agar aku beraktivitas yang menenangkan dan tidak boleh ada unsur yang mengejutkan.
Akupun mengiyakan; meluncurlah aku dari ketinggian 10 meter dan merasakan seperti mati terlempar. - menyenangkan! Dan kuulangi sekian kali. Aku terkejut dok!
-------
Dokterpun menyarankanku untuk berdiet dan mengatur pola makan agar organ tubuh vitalku kembali sehat dan normal.
Bukankah aku memang tidak normal dok? Aku masih ingat sederet panjang list alergiku dari makanan, cuaca, obat,serta bahan pakaian. Terlalu panjang listnya!
Menderita sekali rasanya dok!
-----
"Kamu pasien bandel!"
"Tidak dok, saya cuman ingin menikmati hidup.
Yang membuat saya hidup bukan pil yang harus saya minum tiap hari.
Tapi semangat hidup saya dok!
Itu yang membuat saya bertahan sampai malam ini."
Ngggg.....
Dan akupun salah..
Semangat hidup hanya satu sisi dari keping mata uang.
Sisi lainnya dibutuhkan menjadi seorang pecundang kalah dan mengakui diri memang sakit dan harus menelam pil pil itu tiap beberapa jam!
" Dokter benar, saya pasien bandel"
------
Kemudian, metabolisme tubuh ini semakin menurun. Terlalu lesu untuk tersenyum, terlalu lelah untuk beraktivitas.
Di daftar A obat flu biasa yang kuminum seharusnya tak berdampak alergi bagi tubuhku, tapi nyatanya kini dia telah membuatku bengkak sekujur tubuh, kembali aku berlari menemui dokter untuk diberi anti alergi.
------
Akupun masih harus menemui satu dokter lagi, yang akan mengutak atik tubuhku, membiusku, memperbaiki saluran-saluran yang macet, memperlebarnya, membersihkannya.
Wait a minute!
Hey, itu sebenarnya dokter atau mario bross dan luigi?
"Dia benar lagi, itu dokter! mario bross tidak pakai baju putih!"
Ya baiklah, Aku akan masuk bengkel manusia, tubuh ini perlu diservis!
-----
Malam tadi,
Dokter beri saya obat tidur yang menenangkan fikiran saya,
Dan kutelan tiap 6 jam, aku hanya merasakan tubuhku melayang, tapi tidak tidur dan tidak tenang.
Malam sudah larut..
Aku belum terpejam...
Dokter sudah menelan obat tidurnya dia terlelap.
Selamat malam dokter..
Sweet dream.
Ubud, 18 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Thursday, December 17, 2009
Mimpi dan fikiran liar
Dia bermimpi aku meninggal,
Akupun antusias mendengarkannya.
Ah ini yang menyenangkan ( fikirku)
diceritakan bahwa aku mati dan mayatku tidak ditemukan.
---
Apakah jika aku meneruskan rencanaku ke thailand seorang diri itu sebuah jalan menuju kesana? Untuk lenyap selamanya?
Bukankah menyenangkan mati dengan sempurna tanpa meninggalkan jasad sekalipun?
Akupun mulai berfikir liar, mereka-reka kematianku yg sempurna.
Pesawat yang kutumpangi jatuh di gunung atau laut hingga jasadku tak ditemukan.
Atau mungkin saat aku mengunjungi salah satu kebun binatang aku dimakan macan atau buaya?
Atau bisa jadi aku diculik di negara orang, kemudian dikuliti dan lemaku diambil dan dijual untuk bahan kosmetik?
Atau terjadi kecelakaan pada kendaraan yg kutumpangi, paspor dan semua identitasku hilang?
Hmmmm sempurna.
Tapi ibuku tiba-tiba berkata,
Ah kalau dimimpikan mati pasti umur panjang. - itupun jika iparku ingat membalikkan bantalnya.
( Kurasa tidak, bapakku kumimpikan mati, seminggunya lagi mati, karewna aku lupa membalikkan bantal hehehe)
Tapi semua lamunanku menjadi buyar saat mendengar lelaki kecilku berkata
"Bunda, tolong bacakan cerita "
Ah, kau malaikat penyelamatku, bahkan dari lamunan liarku.
Tak usah membalikkan bantal.
Ubud, 17 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Jenuh
Jenuh pula melihatnya terbenam tiap senja.
Jenuh aku mengikuti aturan waktu yg penuh angka-angka yg disepakati.
Jenuh bertegur sapa
Jenuh berekspresi untuk reaksi sosial,
Jenuh kenapa harus makan berulang-ulang.
Aku ingin lupa ..
Jenuh aku menjadi ingat
Jenuh pula menuliskan nama diakhir tulisan..
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT