Friday, January 30, 2009

Kegagalan

Ketika kegagalan datang pada sebuah waktu diantara sekian panjang jalan kehidupan, itu adalah bagian dari jalan itu sendiri yang memang harus dijalani. Jadikanlah ia teman yang akan mengajarimu menerima arti hidup sesungguhnya. Gagal bukan berarti akhir dari segalanya. Tapi dia akan membantumu tumbuh dan berkembang.

[sebuah saat ketika ditemani oleh kegagalan]

Monday, December 29, 2008

Jelang tahun 2009

2008 sebentar lagi berlalu, dan sekarang tiba saatnya untuk bersiap menyambut tahun 2009. Dalam 12 bulan yang lewat sudah pasti banyak hal yang terjadi. Jangankan hitungan bulan, tiap menitpun kadang kita mengalami hal yang berubah. Waktu memang berlalu dan akan selalu datang.

Yah! yang namanya hidup pasti penuh warna, tak hanya suka dukapun datang menyeimbangi. Jika kita memang harus berhitung dalam satu tahun kira-kira apa saja yang terjadi di tahun 2008?

Hmmm...Hal yang paling kuiingat adalah kepergian Ayahanda terkasih. Pokonya tahun ini banyak mengurai air mata. Ga balance!, lebih banyak sedih daripada sukanya. Trus bagaimana dengan kesehatan? Buruk dengan harus bolak balik setiap minggu bertemu dokter jantung. Karier? Cukup membanggakan. Keuangan? bisa menikmati kebebasan finansial.

Kemudian apa yang menjadi harapan di tahun 2009?
Aku ingin bahagia dan fokus dengan keluarga sembari menantikan hari yang indah itu datang. Menantikan tiba saatnya dipanggil Bunda! Semoga saja terkabul.

Selamat tahun baru 2009!
Love,
Kadek Purnami

Thursday, December 18, 2008

Sajadah

Dia lelaki paruh baya, pekerjaannya hanya tukang kebun. Dialah tulang punggung keluarganya. Hidupnya jauh dari sederhana, bagiku teramat sederhana. Dia jarang berbicara, entah dia memang pendiam atau tak tahu apa yang mesti dibicarakannya.

Aku selalu menyapa duluan ketika melewatinya, aku bukan majikannya, aku hanya tamu yang menumpang nginap di rumah tuannya.

Ketika adzan magrib mengumandang aku beranjak ke dapur untuk membuat secangkir teh. Pintu dapur coba kubuka namun agak tersendat, akupun melongokkan kepala melalui pintu.

Dalam lorong dapur yang sempit, kulihat dia bersimpuh menghadap kiblat, melakukan sholat dengan khusuknya. Aku tertegun lama menatap sajadahnya, bukan permadani dari yordania, melainkan hanya selembar koran bekas.

Ya Tuhan, kembali kau perlihatkan padaku bahwa aku cukup beruntung.

Sholat itu niat dan ketulusan. Tuhan tidak akan melihat sajadah yang kamu pakai, ataupun pakaian yang kamu gunakan. Tapi Tuhan melihat ketulusan hambanya.

18 Desember 2008
Surabya
d.purnami

Angkot

Aku tak ingat kapan terakhir kali aku naik angkot, yang pasti sudah cukup lama.
Angkutan kota, bisa di bayangkan jasa transportasi umum ini. Pasti dimana-mana sama. Jauh dari rasa nyaman, panas tak ber AC, berdesakan dan lama.

Angkot sering diidentikkan dengan masyarakat ekonomi kelas bawah. Ya sudah pasti mana ada orang kaya mau naik angkot. Pasti bawa mobil sendiri, masyarakat menengahpun tak mau, pasti memilih mengendarai sepeda motor sendiri.

Jasa angkot ini hanya memungut bayaran 2000 untuk siswa dan 3000 untuk umum sangat berguna bagi mereka yang tak memiliki kendaraan pribadi.

Sore ini hujan turun menderu dengan derasnya petirpun menyambar-nyambar. Aku beharap hujan segera reda, jika tidak jalan depan yang akan kulewati pasti akan banjir.

30 menit lagi aku harus bertemu dokter. Aku mencoba menelfon taxi. Jaringannya sibuk, aku menunggu hingga 20 menit taxi masih tak bisa kuhubungi. Diluar hujan sudah sedikit mereda, dan akupun berlari keluar menuju jalan raya untuk mencegat taxi.

Aku kurang beruntung, tak satupun taxi kosong lewat hingga aku tak punya waktu lagi. Angkot begitu banyak yang lewat, lama kufikir. Apakah aku akan naik angkot saja. Tak selang berapa lama tanganku pun menyetopnya. Deg, aku tak yakin untuk naik ke angkot itu, namun tiada plihan. Supir meneriakiku untuk segera masuk dan mengambil tempat duduk. Belum rasanya pantatku menyentuh kursi, angkot sudah melaju.

Bau tak sedap campuran parfum murah dan keringat menyambutku menusuk hidung dan membuat kepalaku berdenyut. Aku duduk diantara bapak-bapak buruh jalan. Rasa takut dan tak nyaman menyergapku. Kubaca pada pintu angkot tulisan yang cukup besar. Awas Copet! Yap aku memang harus extra hati-hati. Tas aku pegang dengan erat, tak berani mengeluarkan hp dan berharap hpku tak berbunyi.

Perjalanan terasa sangat lama, aku mulai merasa sesak dengan 15 orang, udara pengap dan aku harus menunduk karena plafonnya yg rendah. Mual dan pusing menyerangku namun aku tetap bertahan hingga sampai di tujuan.

Fyuh... aku memang terlalu lama hidup dalam kenyamanan, dan kali ini aku diingatkan kembali untuk selalu bersukur.

16 Desember 2008
Surabaya
d.purnami

Monday, December 15, 2008

Empang

Taxiku berjalan merayap menyusuri jalan kecil, dengan becak di kanan kiri. Mataku tertuju pada empang yang berkelok sepanjang jalan, berwarna hitam dan tentunya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Bangunan kumuh berderet sepanjang empang.

Aku berfikir bagaimana mereka bisa hidup dalam keadaan seperti itu, yang jauh dari rasa kenyamanan.
Namun aku perhatikan mereka tetap hidup seperti biasanya, mereka duduk ngobrol, ngopi dan makan dipinggir empang. Wajah mereka tak menampakkan rasa jijik ataupun sedih, wajah mereka ketika menikmati kopi sama nikmatanya dengan kita saat menghirup kopi di warung kopi berkelas.

Masih sepanjang empang dengan air berwarna hitam, aku melewati pasar yang ramai, para penjual berderet dipinggir empang. Seperti pasar pada umumnya mereka menjual daging ayam, sapi, ikan, sayur, buah dan sebagainya, pembelinya pun ramai. Transaksipun berjalan biasa layaknya di supermarket. Tak satupun mereka mmenutup hidung.

Mataku tertuju pada seorang anak kecil dan bapaknya yang berendam di dalam empang mencari botol bekas dan menjaring ikan.

Tidakkah mereka akan merasakan gatal dan sakit?
------------------------

Keesokan harinya aku melalui empang itu lagi, kali ini hujan begitu deras mengguyur sehingga membuat banjir dan air empang naik, aku bergidik di dalam taxi tak membayangkan jika aku terkena air hitam tersebut.

Mataku kembali terbelalak, menyaksikan anak kecil dan orang tua berhamburan keluar jalan bermain air dengan gembira. Mengambil air di jalan menyiramkannya ke tubuh temannya. Mereka tak peduli air itu sekotor apapun mereka tetap gembira. Sama gembiranya ketika aku melihat keluarga yang bermain air di waterboom.
-----------------------------------

Ah hidup, akan menjadi terbiasa oleh keadaan.

Surabaya
14 Desember 2008

Sunday, October 26, 2008

Baliku Sayang

“Ingin menjadi tetangga saya?”

Bunyi sebuah iklan apartemen dalam billboard ukuran besar di kuta. Ikon yang di gunakan adalah salah satu diva Indonesia – Kris Dayanti.

Kufikir pasti banyak orang ingin menjadi tetangga selebritis kenamaan Indonesia itu.
Selain apartemen yang bagus dengan fasilitas hotel bintang lima, kira-kira apa yang menjadi daya tarik lain apartemen itu?

Hmmm kalo boleh kutebak BALI! Yapp, the island of paradise.
Tanah kelahiranku yang kucinta.

Sebuah kebanggaan bagi para kaum jetzet Jakarta, Singapore, Taiwan dan beberapa Negara lainnya untuk mempunyai investasi rumah di Bali.

Berapa kira-kira orang Bali asli yang ikut membeli apartemen tersebut? Hmmmm pasti sedikit atau malah tak ada?

“Saya tak sudi menjadi tetanggamu Kris Dayanti!, itulah bathin saya.”


Ray White, Kuta Property, Ubud Property - sale Land, Villa and Houses.

Sakit Hati melihat iklan tersebut.

Tanah siapa yang di kavling dan di jual itu? Tak salah jika pertiwi menangis. Sawah habis untuk pembangungan villa dan hotel. Petani tergusur, air untuk pertanian habis untuk pemenuhan kebutuhan hotel.
Sawah yang dinikmati, budaya yang dikagumi, tak ada kontribusinya, petani hanya menjadi tontonan, tak ada kontribusi untuk pemeliharaan dan kelanjutannya.

Bali destinasi wisata. Menghamba pada wisatawan untuk kehidupan masayrakatnya.

Miris !

Kuta, seminyak, Nusa dua sudah tak seperti Bali lagi, akankah Bali akan bernasib sama dengan Jakarta? Dimana masyarakat asli betawi tergusur oleh kedatangan modernisasi?

BALI – BULE. Beberapa tahun lagi mungkin masayrakat Bali akan seperti itu. Selain ada kampung Jawa juga akan muncul kampung Bule atau Banjar expat. Mungkin saja.
Tak hanya orang jawa yang sehabis lebaran datang membawa sanak saudara untuk bekerja di Bali. Orang Bule juga seperti itu.

Tak dipungkiri semua adalah karena globalisasi. Pertukaran lintas negara. Orang bali banyak yang bekerja keluar negeri, orang luar negeri banyak yang menggali untung di Bali.
Berapa banyak hotel, restaurant dan villa dimiliki oleh orang Bali? mungkin tak seberapa.
Menjamurnya hotel, villa dan restoran juga di dukung oleh masyarakat kita. Seperti halnya melindungi para bule tersebut.datang ke bali dengan visa sosial budaya bukan visa kerja, tetapi nyatanya mereka bekerja di Bali. Atau yang kerap terjadi adalah ”atas nama” sebuah usaha. Misalkan mendirikan sebuah restoran para expat biasanya meminjam nama pemilik tanah atau nama orang lokal sebagai penjamin untuk legalisasi ijin mendirikan usaha. Jadi pada sertifikat restoran tersebut dimiliki oleh orang lokal. Namun pengelola dan yang menuai untung adalah para expat itu sendiri, begitu juga dengan jenis usaha lainnya pendirian usaha garmen, handicraft dll.

Yayasan yang berkedok sosial juga banyak, seperti yayasan kemanusiaan, bencana alam hingga yayasan untuk anjing. Didalamnya semua adalah expat.

Artinya masyarakat kita cukup bangga dengan nama diatas kertas saja, atau tanahnya di kontrak.

Bicara tentang posisi, Nah siapa yang memegang posisi menengah ke atas dalam sebuah perusahaan ataupun organisasi tersebut ? Pasti Bule. Biasanya jika sebuah usaha di jalankan oleh para Bule akan jauh lebih berhasil. Begitulah paradigma yang berkembang selama ini.

Kemudian saya ingin bertanya sebenarnya dimana Posisi orang Bali saat ini?
Apakah sebagai penonton saja dan tetap ramah, tersenyum, dan memegang teguh mental melayani melihat semua perkembangan Bali?

Mungkin kita harus cepat tersadar sebelum terlena.

Di balik kegemerlapan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia, masih banyak saudara kami yang kekuangan air, tak punya rumah, tak bisa sekolah. Banyak sekali daerah miskin di Karangasem, Singaraja dll.

Satu sisi pariwisata dan kehadiran para bule memberikan perubahan yang besar terhadap peningkatan taraf hidup masayrakat, namun disatu sisi ini seperti kami merasa di jajah.

Ya, penjajahan yang terselubung, sebentar lagi daerah kami akan dikuasa para bule, banyak tanah yang dijual oleh masayrakat di bali untuk villa dan hotel. Setelah itu kami tak punya apa-apa lagi.

Setelah menjual tanah kita memang kaya dalam jangka beberapa tahun. Namun setelah itu? Jika skill tidak ada tetap kita akan kembali menjadi pekerja rendahan. Atau lebih parah bekerja pada hotel yang didirikan diatas tanah yang dulu kita pernah miliki.

Bali sudah over exploitasi.

Baliku sayang..

Seperti apa kita 20 tahun lagi?
Kasihan anak cucu saya nanti, neneknya tak mampu berjuang untuk mereka.

d.purnami
24 Oktober 2008

Saturday, October 25, 2008

Pancake of the day!

Pagi yang tergesa-gesa. Walau aku bangun lebih pagi, tetap saja aku terlambat. Hanya sempat menyomot 2 pancake isi pisang. Kumasukkan kedalam kotak dan bermaksud untuk kusantap dalam perjalanan ke Denpasar.

Dalam jarak tempuh 5 menit aku sampai dikantor dengan terlambat dibonceng dengan temanku yang belum fasih naik motor matic. Selain ajrut-ajrutan, juga sekian kali aku nyaris terjungkal karena remnya yang terlalu paten.

Ahmad Tohari penulis novel ronggeng dukuh paruk sudah menungguku.
”Maaf saya terlambat sedikit”
“Dimana yang lain ? sapanya
“ Kita jemput ke hotel pak”
”Tadi ada yang datang satu”
”Bapak kenal”
”Belum kenalan saya”
”Siapa ya kira-kira?, jujur saya bingung pak dengan wajah para penulis, saya belum pernah bertemu langsung. Selama ini saya komunikasi via email, sms dan telfon. Juga foto yang dikirim untuk di katalog kebanyakan foto mereka waktu masih ganteng dan cantik pas ketemu beda banget pak. Kemarin saja Dino Umahuk bawa buku ke kantor saya kira kurir barang”
”ah kamu itu bisa saja, ayo berangkat biar ga telat”
”Nunggu Bernice dulu pak kalo dia datang kita berangkat, hmmm oh ya kita juga harus nunggu Faisal Tehrani, saya ga tau orangnya. Kalau tak muncul kita tinggal saja ”
”Halo ini saya, Faizal dari malaysia, kawan saya Bernice lagi dalam perjalanan, sudilah tunggu sebentar” ( ternyata yang berdiri disamping saya dari tadi faizal yang kukira relawan)
Upss boro-boro sempat makan pancake awak sudah cukup malu sama abang faizal.

Akhirnya 5 menit kemudian Bernice datang dan lebih cantik aslinya dibandingkan dengan foto di katalog.

Kami pun berangkat menjemput 4 penulis lagi, Azhari, Mashuri, Dino, dan lily. Sesampainya di hotel, mereka belum juga siap, masih sarapan.

Aku berikan mereka kode, mengembangkan lima jari dan menunjuk jam sambil pasang tampang seram, toleran waktunya tinggal 5 menit saja.

Sembari menunggu mereka selesai sarapan, aku mengeluarkan bekal andalanku, baru kubuka, baunya membuat liur. Siap menyantap pancake, telfonku berdering dan pancake kuserahkan kepada temanku. Telfon kututup satu sudah dimakan oleh 2 temanku.

” yummy!!! pancake pisangnya enak, ini kusisakan 1 buat kamu” seru mereka.

Ku ambil sisanya dan langsung masuk mobil. Sebelum kumakan, akupun menawari pada penghuni mobil lainnya.
”Abang Faizal, bernice, dan pak Ahmad, mau pancake?”
”Boleh”
”ddddggggg”

Kuberikan sisa 1 pancake kepada mereka dan dibaginya bertiga sampai habis.

Terima kasih kadek, enak sekali, kami tak sempat sarapan tadi di hotel.

”ah iya sama-sama”


d.purnami
Ubud, 16 oktober 2008

Wanita lebih kuat daripada pria

Ada yang pernah bilang bahwa wanita memang lebih kuat dari pria? Benarkah?
Komentar saya ” memang benar dan sudah terbukti”

Sore ini saya mengantarkan ibu mertua ke sebuah acara pertemuan antar warga. Ah,dimanapun jika ibu-ibu sudah berkumpul pasti ramai jadinya. Acara temu warga mungkin akan berubah menjadi ajang curhat antar tetangga. Hhmmm...apa iya begitu?

Untuk kedua kali saya membenarkan. Ya! betul banget.

Rapat antar warga baru berjalan setengahnya, peserta rapat satu persatu merapatkan diri membentuk rapat-rapat kecil. Yepp tiada lain dan tiada bukan ajang curhat akan segera dimulai. Rapat antar warga bukan hal penting lagi, itu cuman alasan biar bisa ngumpul.

Mereka tak hiraukan keberadaan saya, maklum saya masih dianggap anak kecil yang belum tahu persis bagaimana manis pahitnya kehidupan di dalam rumah tangga. Saya membolak balikkan majalah sembari memasang kuping. Salah satu ibu mengeluhkan suaminya yang jarang pulang, ibu yang lain mengeluhkan mertuanya yang super duper cerewet, atau seorang tetangga yang baru ketahuan selingkuh dan menjadi top gossip this week.

Selang beberapa menit rapat temu warga semakin terpecah menjadi beberapa bagian kelompok. Mereka otomatis berkumpul berdasarkan teman akrab, rasa senasib dan seberapa besar tingkat kepercayaan untuk saling menjaga rahasia.

Aku masih menemani mertuaku, dia cukup disegani karena usianya yang paling tua, dia tak begitu antusias bergosip, paling menjadi pendengar yang baik untuk tempat curahan hati. Tak selang berapa lama seorang ibu mendekati dan nampak sedang kusut sekali.

” duh ibu, saya sedang kesal sekali”
”ada masalah apa?” ( itu adalah pertanyaan wajib untuk menunjukkan simpati)
”suamimu bertingkah lagi?”
”iya bu, suami saya barusan menghancurkan lagi seluruh perabotan dapur, ingin rasanya saya bacok pakai parang, tapi kalau dia mati, kasihan anak-anak saya”

Aku mengenali ibu itu, keadaan keluarganya memang pas-pasan. Suaminya tak bekerja, pemabuk, penjudi dan suka membawa cewek kafe. Rutinitasnya pulang malam, mabuk dan mengamuk, barang-barang dirumahnya nyaris habis dan rusak di hancurkan oleh suaminya. Sedangkan istrinya bekerja keras dan tetap sabar.

”ah sudah nasib saya mungkin seperti ini, dulu saya menikah dengannya juga karena cinta”

Kuakui, Ibu itu merupakan wanita yang hebat, dia tetap sabar menghadapi suaminya, dia bertahan karena dua anaknya masih kecil dan melihat keadaan mertuanya yang makin lanjut. Dialah tulang punggung keluarganya, mata pencaharinnya menjual nasi bungkus di pasar dengan penghasialan yang tak seberapa. Suaminya sudah tak berfungsi sebagai kepala keluarga

Tak hanya suami yang membebaninya, lain lagi dengan kelakuan anaknya” like father like son” Anak sulungnya baru masuk kelas 1 di SMU, dulu anaknya ini rajin membantu ibunya berjualan. Kini beda lagi ceritanya, sekarang dia adalah anak Band, pantang baginya membungkus nasi, apa kata teman-temannya nanti. Si sulung sudah 1 bulan tak sekolah, tiap malam manggung di kafe. Honornya yang tak seberapa habis untuk membeli atribut anak metal dan minuman keras. Alhasil dia dipecat oleh sekolahnya.

Miris aku mendengar cerita ibu itu. Bibirnya bergetar menahan tangis.
” Menangislah, disinilah tempatmu menangis, kamilah teman-temanmu”
Sela ibu mertuaku di sela getar bibir yang jarang di poles gincu.

Disitu aku melihat, kekuatan kaum perempuan, melihat wanita-wanita hebat.
Melalui pertemuan seperti ini mereka bisa berbagi.

Saya teringat kultur jaman dulu ketika para ibu rumah tangga selesai menyapu sore mereka seringkali meluangkan waktu duduk di luar gerbang bercengkrama bersama ibu tetangga sambil mencabuti uban sampai akhirnya mandi ke sungai beramai-ramai. Saya kira disanalah tempat mereka untuk saling berbagi.

Yah saya sepakat sekali wanita memang lebih kuat dibandingkan pria.

Wednesday, October 1, 2008

The world is not SQUARE!

Tri Hita Karana, sebuah filosofi tentang konsep keseimbangan dalam menjalankan hidup, seimbang ataupun harmonis dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia dan alam. Itu juga yang diambil menjadi tema festival kesusastraan ubud writers & readers festival.

Whats? (Aku sedikit kaget, ternyata aku masih bekerja untuk festival) he..he..
Beberapa bulan belakangan ini, aku kehilangan keseimbangan, kurang harmonis dalam pengaturan waktu. Deadline kerja yg ketat, so many things to do, dan semua harus cepat. Coffe latte terasa tak senikmat biasanya, tak ada rekreasi dalam menikmati kopi itu, ( misal dulu terasa sangat nikmat saat dinikmati dgn orang yg di sayang), tapi kini kopi itu hanya untuk menjaga mata tetap melek. Berapa gelas sehari kadang tak ingat, jantungpun di pompa habis.

Pulang setelah petang, tak sempat lagi memandang bukit nan hijau atau berhitung detik sambil berteriak saat surya tenggelam, ah apalagi memandang jingganya langit yg munculkan gairah menyambut petang. Jarang kunikmati!

4.45 pm pump it times! Adalah waktu kami nge dance di kantor sebelum pulang kerja. Ritual itu sudah 3 bulan tak berjalan. Atau duduk di tepi jendela menemani berto bermain gitar. Semua itu terhenti, yang ada hanya alis terpaut dan muka kusut.

Aku menjadi lupa banyak hal indah karena kata yg sangat tak sedap di dengar” sibuk’ sialan kata itu membuat aku tak seimbang dalam menjalankan semua aktivitas ini. Kelinci-kelinci peliharaanku sudah tertidur pulas saat aku pulang.tak bisa lagi kunikmati kelucuannya sata melompat.

Sobat, Dunia ini bulat bukan kotak seperti layar computer 10 inchi yg wide.

Kadang terlalu banyak waktu yg kuhabiskan bersama laptop bulukan ini. Dia memang menawarkan banyak hal menarik dan mengajakku menelusuri berbagai belahan dunia. Tapi dunia tidak kotak melainkan bulat! Kita perlu keluar melihat secara nyata dan bersosialisasi dengan hati.

Sigh…
The world is not square!

Thursday, September 25, 2008

Ayung

Sungai yg sangat dikenal baik oleh Sobek, Bali Adventure dan Bahama. Seiring keterkenalannya itu menjadikan semakin sedikit masyrakat setempat mandi disungai yang dahulu menjadi tempat mandi bersama itu.

Minggu sore yang cerah (tepatnya panas), membuat gerah dan keinginan bermain air semakin meninggi. Bersama seorang teman aku turun menyusuri setapak demi setapak, (kukira hanya beberapa meter), ternyata kami harus melalui beberapa belokan.

Haus?
tentu saja
Lupa bawa air mineral ?
itulah kebodohan kami.

Ditengah dahaga kami membayangkan sungai Ayung yang jernih beserta riak riak kecilnya. Temanku berkata
” sampai bawah kita langsung menyeruput airnya yang jernih”
”apa iya? tertawaku
Jawabannya
Memang tidak “ Iya”

Kami lunglai sampai ditepian sungai, tak ada riang gembira menyambut main air, kami memilih bengong, duduk dirundung nyamuk, hanya suara tepokan tangan yang bukan sorak sorai menyemangati yg rafting, tapi tepokan kejam membunuh nyamuk.

Sungai itu tidak securam waktu sering kukunjungi 12 tahun silam, saat aku sering membawa tipat cantok bersama teman-teman menanti senja datang.

Airnya tak jernih lagi, keruh, landai dan bau. Kami memperhatikan para bule yang rafting, mereka asik menciprat-cipratkan air sambil meneriakkan yel-yel adventuris. Kami berdua berpandangan tertawa, orang bule yg ga punya sungai kali yah.

Bau amis dari sungai menyerbak, kurasa sudah tercemar oleh limbag hotel yg berderet hingga ketebing-tebing, jadi apa bedanya sama suangai Badung?
Masih beda dikitlah menanti nasib yang sama saja.

Kumemperhatikan beberapa ibu yg bertenaga kuda jantan mengempeskan kano, melipatnya kemudian menjungjungnya diatas kepala, kami berdua berpandangan sejenak, berdecak kagum, sama kagumnya ketika menatap Iphone terbaru seri apple. Betapa hebatnya wanita itu menaiki tangga dengan beban 100 kg. Wanita yg sebelumnya kami saksikan hanya memakan 1 nasi bungkus tanpa lauk yg cukup dengan lahap dan cepat, secepat tanggannya membuang sampah ke suangai.

”wait” !!!
Nyaris ada yang terlewatkan, lupa aku bertutur jika perusahaan sebesar Sobek, Bali Adventure dan Bahama tidak memperhatikan hal seperti.

Membuang sampah sembarangan ke sungai!!!!
Tragis, menyedihkan dan miris menyaksikan sampah plastik berlomba dengan kano para rafter. Cuman bedanya sampah plastik tak dikayuh mampu mengayuh diri sendiri.

Ayung adalah aset mereka, dan mereka tidak memberikan arahan yang tepat pada para pekerjanya untuk menjaga ladang uang mereka. Memang tragis. Kamipun sepakat tidak akan jadi rafting melihat semua fenomena itu.

Nyaris 30 menit kami duduk memikirkan cara kembali keatas yang harus menapaki begitu banyak tangga. Memang benar kalau hanya difikir tak beri solusi melainkan makin banyak mendonorkan darah untuk nyamuk-nyamuk yg merubungiku.

Menapaki tangga satu persatu rasanya seperti perjalanan roh menuju pintu surga, begitu lelah, dan selalu mendongak sambil bergumam ” ah masih jauh”.
Kami memutuskan berenti setiap hitungan yang kurang dari 10 ( silahkan diartikan bahwa kami memang tidak kuat) Rencana awal latihan memperkuat Jantungku nampaknya tak berhasil malah akan membunuhku lebih cepat.

Anak-anak muda yg memakai tulisan atlet badung lari begitu santai dan sudah dua kali melewati kami naik turun. Memang cukup membuat hatiku tersinggung.

Pada pertengahan tangga, kami hanya mampu duduk kembali serasa seperti meditasi, hening mencari suksma yg terengah oleh nafas yg menyekat kerongkongan. Cobaan datang lagi ketika seorang kakek datang melintasi dengan menyeruput air mineral dingin. Kami berpandangan hanya menyengir, ternyata kami tidak sedang meditasi, tapi asli kami kelelahan.

James blunt mengalun dari Hp kami yg baru saja naik tingkat menjadi canggih, cukup lumayan untuk membuat kami bersukur masih ada hiburan untuk kami ditengah lelah dan haus.

Kapan ke Ayung lagi? Memang perlu difikir matang sebelum melangkah.
Walau senja disana begitu indah.

21 September 2008
Dua orang yg sepakat nampak bodoh namun bangga di hari itu.

Kebahagiaan-kebahagiaan kecil

Bahagia , apa tolak ukur seseorang bahagia? Kurasa setiap orang mempunyai ukuran tersendiri, sangat relatif, bahagiaku belum tentu sama dengan bahagiamu.

Daun bahagia saat hujan turun, lain lagi dengan bahagia malam saat bulan menjelma, atau Ayam yang sangat bahagia saat matahari terbit karena kesempatannya menunjukkan kepintarannya berkokok.

Kata bahagia memang sangat sakral kudengar, menandingi sebait mantram gayatri. Tapi aku menemukan kesamaan khasiat mantram Gayatri dengan kerupuk atau es king kung yang harganya hanya 500 perak ( maaf bukan maksud hati meremehkan matram sejuta umat ini).

Tapi serius rasanya sama persis ketika aku mengunyah kerupuk dari beras yg di jual meme tangsi atau es roti yg di jual bapa Bitra. Sangat nikmat dan menyenangkan. Caraku memperlakukan juga sama, aku terpejam memakannya sama ketika aku melafalakan mantram sakti itu.

Jadi apa bedanya kerupuk, es roti dan mantram gayatri? Yah menurutku sih pasti beda, jika kita perlakukan beda. Akan sama jika menghayati dengan kesungguhan hati.

Siapa yang mampu ukur bahagia? Diri kita sendiri.
Sahabat carilah kebahagian-kebahagiaan kecil yang di hadirkan dalam hidupmu, nikmati dan hayati, hingga kita bisa merasakan betapa bersukurnya kita atas kehidupan yang maha unik ini!

Selamat menemukan kebahagiaan kecil!

Warung meme tangsi
25 September 2008

Bersua kembali

Rindu untuk menulis akhirnya menyeruak kembali setelah 6 bulan saya menelantarkan kebiasaan menulis diblog. Kesibukan memang tak pernah ada habisnya. Banyak sekali cerita lucu, indah, seru hingga hal lainnya seperti menangis Bombay terlewatkan begitu saja. Ketika saat ini ingin menuliskannya, fyuh… sudah tak sedikitpun dapat diingat. Satu hal lagi yang saya sadari bahwa memori saya tak cukup kuat menampung begitu banyak peristiwa yang terjadi.

Ternyata menulis memang menjadi salah satu aktivitas yang cukup menyenangkan untuk meringankan hati. Bercerita dan berbagi membuat semua nampak menjadi ringan.

Salam buat teman-teman yang bersetia mengingat blog saya yang sesekali masih suka membuka dan membaca cerita-cerita usang.

Ca Yo!!! Saya kembali.

Saya juga ingin memperkenalkan adik dari galang bulan, yaitu http://lintanglakubintang.blogspot.com
Its me!

Salam hangat,
Kadek purnami

Monday, April 14, 2008

Senyap

Tak seperti biasanya
ruang ini menjadi senyap
yang ada hanya aku dan derai daun yang tehempas angin
serta detik detik waktu yang tetap berhitung

Tak seperti biasanya
kursi di depanku itu kosong
tak ada mata yang memandang
atau senyum yang menyapa
yang ada hanya aku dan angin.

Menit demi menit aku lalui,
menanti dan menanti
hingga senja tenggelam
kursi didepanku tak kunjung isi

Senyap
hanya aku dan angin.
menanti dan menanti.
dan tak akan ada yang lain

Dalam senyap
kulantunkan lagu hati yang tak sempurna
menari dalam kaku gerak tubuh
kubiarkan tangan menuntun sebatang arang
menggores diatas putih kertas

Tercipta dalam senyap,
sebatang pohon bambu dengan bulan penuh
kisah sepi si rumpun bambu dalam kelam malam
yang sesekali berderai oleh angin
hantarkan kisahnya ke telinga seorang wanita
yang duduk sediri ditepi jendela memandang bulan.

Aku rindu akan senyap ini,
ketika bibir tak perlu bersuara
mata tak pelu melihat
dan telinga tak perlu mendengar
biarkan senyap antarkan naluri
bertemu titik hati yang lain
tanpa perlu berbisik atau menyentuh
hanya perlu memejamkan mata dan senyap.


D.purnami
11 April 2008

Friday, April 11, 2008

Rindu Lilin pada Obor

Dengan nyalanya yang kecil,
teguh ingin menerangi seluruh ruang
sesekali meredup diterpa tiupan angin
bersabar meleleh dalam hitungan waktu
hingga tak bersisa.


Dengan nyalanya yang kecil,
berjuang dalam pekat malam
membawa amanah tuk menerangi
walau luluh seiring detik

Dalam nyalanya yang kecil
dia begitu merindukan Obor
tempatnya dulu meminta api
yang menjadikannya lilin.

Obor sang panutan lilin
pernah menerangi seisi rumah yang tak hanya ruang saja
beri terang pada rumah yang bergempita
berdiri kokoh dengan nyala besar.

Ingin lilin seperti Obor
namun apa daya ia hanya sebatang lilin kecil
dengan nyala sebatas ruang
yang hanya mampu menampakkan bayang.

Kini lilin sendiri dalam ruang itu
menunggu waktu tuk meleleh.
dengan ditemani bayang.

Dalam pekat,
Lilin kecil begitu merindukan Obor.

d.purnami
11 April 2008
Miss u dad.

Sadar

Hingga hari ini,
aku masih belum tersadar
walau darah anjing telah basuh pertiwi
air suci dari sekian mata pancuran menyiram tubuhku
mantra dari tumpukan lontar telah dibacakan.


Belum juga aku tersadar,
empat puluh dua hari sudah aku berhitung
sekian malam terlewati
wujudmu sejatinya tak akan pernah nampak
hangat candamu tak lagi hiasi haru kehidupan.


Tersadarkah aku,
jika suaramu telah menghilang cukup lama
wajahmu makin memudar dalam benak
namamu semakin dilupakan
jejakmu telah terhapus waktu.


Kapankah aku akan tersadar,
Senyummu adalah dingin kabut
Jiwamu hanya derai angin
Baumu kini harum cendana


Tak ada yang menyadarkanku,
bahwa matahari tetap bersinar
waktu tetap berhitung
ruang semakin sempit
aku semakin terhimpit
dalam ketidak sadaran


Kepada siapa aku harus bertanya,
aku tak punya cermin
airpun keruh
bayanganku tak nampak


Hingga hari ini,
satu hal yang kusadari
kalau aku tak pernah lelah berharap
teguh hati ini bersetia menantinya disatu bintang
dikelam malam yang ditemani kunang-kunang
walau hingga tertidur dibawah embun.


Hingga hari ini,
aku tersadar
aku memang masih belum mau menyadarinya
bahwa kau adalah dingin kabut, derai angin dan harum cendana.


11 April 2008.
2 bulan setelah 11 februari

Wednesday, April 9, 2008

Berpulangnya Penglingsir Puri Ubud.


Ketika melintas di depan puri Ubud ada pemandangan yang tak biasa, karangan bunga tanda ungkapan bela sungkawa nampak menghiasi halaman depan gerbang puri. Penglingsir Puri Ubud - Tjokorda Gede Agung Suyasa orang yang dituakan dan dihormati telah berpulang. Ribuan orang datang hadir mengucapkan bela sungkawa, duduk bersimpuh dan bersila dihadapan jenasah, sebagai wujud bakti dan penghormatan terakhir atas segala jasa dan dharma baktinya selama hidup.

Nyaris seratus karangan bunga berjejer menjejali halaman puri sebagai tanda simpati dari keluarga, kolega, perusahaan, organisasi, pemerintahan, partai, sekolah, hotel hingga restaurant. Semua mengirimkan Karangan bunga. Setiap kali saya melintas fikiran saya selalu berhitung dengan karangan bunga tersebut. Bilang saja satu karangan bunga berukuran 2 x 1 meter seharga 350 ribu bayangkan saja jika da 100 buah akan menjadi 35 juta jumlah yang cukup banyak. Dana sebesar itu mungkin akan jauh lebih berguna jika seandainya itu disumbangkan dalam bentuk uang ataupun makanan. Sudah tentu akan sangat meringankan pihak puri dalam pengeluaran biaya ngaben. Fikiran saya masih berkutat dengan karangan bunga. Kini Ubud mempunyai media promosi baru. Halaman puri menjadi ajang promosi yang gratis, tidak dikenakan pajak. Semua perusahaan berlomba-lomba menaruh karangan bunga paling terdepan mengingat halaman gerbang yang sangat strategis sehingga setiap orang yang melintas tentu akan tertarik membaca nama-nama hotel atau perusahaan lainnya.

Beralih dari karangan bunga, dapat dipastikan akan ada sebuah perhelatan besar di Ubud pada tanggal 15 Juli 2008. Acara ngaben akan menjadi sangat istimewa. Ada 2 jenazah yang akan di kremasi. Dan ratusan keluarga akan menyertai pengabenan masal yang hadir tiap 5 tahun sekali. Momen yang sangat bagus sebagai daya tarik pariwisata. Tentunya hotel tak akan melewatkan masa panennya dengan membuat paket menginap plus dengan melihat budaya adiluhung. Liputan dari sekian stasiun TV dan media massa sangat memungkinkan untuk dijual dan menuai untung bagi berbagai pihak. Mungkin dengan seperti ini juga penglisir puri ubud memberikan jalan bagi yang ditinggalakan.

Kurang lebih 5 bulan jenazah dibaringkan, disuntikkan formalin dari hari ke hari agar awet, jenazahpun akan berangsur menghitam nyaris tak dapat dikenali. Keluarga puri pun mulai kelelahan, menyambut dan menjamu orang setiap malam yang turut menghibur puri. Kesedihan mendalam keluarga yang ditinggal semakin luntur oleh kesibukan dan kelelahan mempersiapkan semua itu. Judi pun menjadi di halalkan karena tradisi. Sekian karung kopi, gula, beras, juga sekian dus rokok dihabiskan. Belum juga tenaga dan fikiran untuk perhelatan besar ini dalam kurun waktu 150 malam mengantarkan jenazah ke tempat terakhir menuju rumah Tuhan. Dengan naga bande, bade yang menjulang tinggi dan lembu yang diusung ratusan orang semoga tidak ada pohon yang ditebang untuk memberi jalan pada bade yang membungbung tinggi menuju langit. Semua menjadi istimewa; orang yang meninggal, hari yang dilalui, tradisi, budaya, ribuan pelayat, ratusan media, serta paket hotel, semua memang menjadi sangat istimewa.

Dibalik itu semua,saya merenung mengingat beliau yang yang meninggal. Bagaimanakah perjalanan ruhnya menuju rumah Tuhan, adakah jiwanya telah terbebas, damai mencapai kesempurnaan dan kemurnian? Adakah beliau kini yang terbujur kaku akan dihapuskan segala dosa dengan semua yang dibuat istimewa sebagai wujud pengabdian dari keturunannya? Adakah dia sejatinya hanya membutuhkan selembar kain putih, 5 buah teratai putih serta doa tulus dari keturunnya dan abdinya untuk membebaskannya dari seluruh perjalanan masa lalu. Entahlah tak seorangpun akan tahu. Hanya ruhnya dan Tuhan yang akan tahu perjalannnya yang begitu istimewa.

Amor Ring Acintya Ratu Tjokorda Lingsir.

Hanya doa yang dapat tiang panjatkan, turut menghantarkan ruh Ida Ratu.

Ubud, 9 April 2008

Kadek Purnami

Monday, March 31, 2008

cheers

Lets go Kids

Bermain dan makan ice cream bersama

Bermain dan bermain !

Mungkin itulah hal yang memenuhi isi kepala kita dimasa kecil.

Lama sekali rasanya aku tak bermain, berlari dan berkejar-kejaran. Walaupun kaki terseok-seok karena jatuh terpeleset tak mengurangi keinganku untuk mengajak anak-anak kecil itu bermain.

Sembari makan ice cream bersama kami bercerita dan tertawa.

Berbaur dengan kenaifan serta keluguan anak usia 10 tahun.

[Andai rejeki ini lancar tentunya mereka akan semakin sering makan ice cream ha..ha..]

Hari-hariku belakangan ini sedikit melelahkan dengan urusan kehidupan dan pekerjaan. Terlalu sering bertemu dengan orang dewasa yang selalu membawa masalah yang kompleks.

Ah.. aku rindu dengan bau basah tanah sawah, rindu mengejar capung, menari di bawah terik dan semilir angin. Dan indahnya hariku sewaktu dulu tanpa jadwal yang padat oleh les ini itu.
[ thanks untuk ayah yang rela berantem dengan ibu untuk memberiku kesempatan lebih banyak bermain di sawah daripada mengikuti les privat yang mejemukan]

Salam ceria,

Kadek Purnami