Friday, December 11, 2009

Ubud;Desaku yang kucinta

.... Pul sinoge jukut timbul basang gede
Caruak caruak...

Begitulah kami bernyanyi saat rambut kami dikepang dua.
Atau rambut dia yg dicukur cepak dan disisakan sedikit jambul didepannya berbentuk kotak, mirip daun saiban.

Berlari dan berlari adalah kegemaran kami.
Menelusuri setapak pematang sawah dengan tawa yg girang.
Kaki dihentak-hentakan untuk menakut-nakuti anak katak.
Berteriak nyaring melengking tuk menghalau burung.

Para lelaki kecil mengulur benang layangan menantang matahari.
Sedangkan kami mencari capung dan mengejar kupu-kupu.

Ejekan demi ejekan adalah nyanyian persahabatan kami.

Hingga senja terbenam dan langit memerah jingga.
Kami pulang diiringi suara jangkrik.

Singgah disungai membasuh badan,
bermain air hingga hari menjadi gelap.
Bergegas memakai baju tanpa dikeringkan handuk.
Kami tetap tertawa.

Sungai kecil yg jernih tempat seluruh desa mandi dan mencuci.
Kami menghomatinya dengan tak membuang sampah.

Ceritaku itu tentang masa lampau, tentang waktu yg kulewati 20 th yang lalu. Saat Ubud masih desa yang sama dengan desa-desa lainnya dibali.

-----
Hari ini nyanyian pul sinoge itu jarang kudengar.

Ubud tak lagi sama,
maju seiring modernisasi.
Sawah tempat kami bermain dulu telah hilang,
Bagaimana aku hendak bercerita sebagai penutur tua bahwa dulu ada sawah disana?
Benar-benar ada bukan dongeng seribu mimpi.
Tapi yg dilihat anak kami adalah hotel, restaurant yang berjejer.
Disebutnyalah kami pembual tua.

Anak-anakpun mulai menertawakan kami.

"Bu, itu bukan sungai, tapi selokan"

Sungai sempit, kotor dan berbau. Sudah kecil diambil setengahnya utk didirikan restaurant diatasnya.
Lagi-lagi lahannya diambil.

Saudaraku, itu sungai bukan samudera luas. Dia tak mampu menampung semua sampah yang kau buang kesana.

Ah, rindu aku mendengarkan nyanyian pul sinoge.
Ingin kubernyanyi disisi sungai itu, berbisik saja agar samar-samar
Biar aku dikiranya penunggu sungai yg menangis

Sebagai penunggu sungaipun mungkin aku bingung, diberikannya aku hamburger atau spagethi, bukan lagi laklak tape.

Atau rasa-rasanya nya aku ingin memilih menjadi gamang, agar aku takut-takuti mereka yg merusak sungai.
Biar lari terbirit, merasuki tubuh pekerjanya, dan berbicaralantang seperti orasi

"Kembalikan sungaiku, atau kau kuusik terus sepanjang kau mengontrak tempat ini, kubuat penampakan tubuh besar hitam agar para tamumu lari dantak datang lagi"

Atau bolehlah aku menjadi penyihir yg mengutuk para investor agar menjadi kodok krn kini katakpun tak dapat tempat di sawah.

Ah, begitulah desaku yg kucinta.
Caruak caruak..

Ubud, 10 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Yang tersisa

Kembali aku menatap langit
Mengertilah aku bahwa dia terlalu sering berganti warna

Sore ini semburat cahaya merah dan abu memukau
Begitu diam begitu kelam dalam gairah tertahan

Kau datang mengetuk
Telah kubuka pintuku lebar

Aku meluruhkan segala angkuh
agar mampu mendengar suara diammu
melepaskan semua angkara
Agar mampu cecap rasamu

Apa yang tersisa pada senja merah?

Hanya cinta yang bertumbuh semakin besar


Ubud, 11 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, December 10, 2009

Kutukan rasa

Senja yang selalu indah kerapkali membuatku menangis,
Ketidakrelaan siang berganti malam.
Tapi siapa yang mampu menghalangi matahari tuk terbenam?
Siapa yang mampu mengatur waktu pagi menjadikannya malam.

Begitulah alam mengutuk kehidupan pagi, siang, sore, senja dan malam.

matahari terbit seindah matahari terbenam.

_____

Akupun paham saat air mata duka mengalir, pernah kulewati suatu masa air mata haru dan bahagia juga menitik dalam suka cita kehidupan.

_______

Pernah kau buat aku bahagia hingga terlena,
Pernah jua kau buat aku sakit hingga terpuruk.
______

Berani aku mencintaimu, berani jua aku tersakiti.
____

Hingga kubertanya apa yang tersisa setelah rasa sakit dicinta dan senangnya dicinta kucecap?

Begitulah kutukan itu terus membelit rasa-rasaku.
Yang membuatku tahu hidup itu sendirilah yang senyatanya kutukan.

Ubud, 10 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Wednesday, December 9, 2009

Hanya tiga hari saja

Aku teringat bagaimana waktu itu mereka meninggalkanku
Tiga puluh lima tahun yang lalu.
Aku dititipkan pada keluarga lain yang kemudian membesarkanku.

Kini setelah aku setengah baya dan kau renta
Waktu kembali mempermainkan kita.
Aku dan kamu betemu.

Kau sebut aku anak, dan aku menyebutmu ibu.
Pertemuan singkat tiga hari.
Bagaimana aku mampu merangkai kata
Untuk nyatakan pada dirimu

“Bu, aku selalu rindu padamu”
Tapi , kemudain aku memilih diam
Karena tiga puluh lima tahun tak bisa kuungkapkan dalam tiga hari

Hal sederhana kami lakukan dalam tiga hari,
Dia memasak untukku, begitupun aku memasak untuknya.
Dia memberiku selembar kain, aku memberinya seuntai kalung.
Kau bilang sayang padaku
Akupun begitu.

Hingga akhirnya waktu 72 jam habis.
Kau kembali ke tanah perantauan
Aku tetap disini bersama keluarga yang kau titipkan.

Sebulan setelah pertemuan singkat itu
Yang kusebut bapak memberi kabar

“Nak, Ibumu telah tiada”

Ah, seperti apa ikatan tali anatara aku dan ibuku
Hanya tiga hari saja Kau beri aku mencecap indahnya bersama dia.



8 Desember 2009
d.purnami

Monday, December 7, 2009

menebus roh sendiri

Aku mengenal sekali wajah orang yang duduk disebelahku.
sudah dua tahun lebih dia sirna dari hidupku.

Aku seperti menonton wayang,
Dia, aku dan orang-orang yg tak begitu aku kenal duduk berjejer bersila.
Menatap layar putih besar.

Silih berganti gambar-gambarku yang muncul.
Wajahku dari sejak kecil hingga dewasa nampak begantian, aku dan dia menonton diriku sendiri.

Kemudian dia mendekat dan berkata
"Tebuslah rohmu"
Agar kau kembali hidup

Ah,
Kenapa aku harus menebus?
Aku tak pernah menggadaikannya, adakah seseorang yang memperjual belikan rohku ini?
Apa bayarannya untuk rohku yang dingin ini?

Dia menatapku tajam,
"Sembuhkan lukamu"
Dan berjalanlah pulang.

Ya , aku akan pulang.
Tapi kerumahmu.

Kenapa saat aku sudah bersamamu kau malah mengusirku?
Kenapa aku harus ditebus lagi?
Biar saja mereka menyitaku, aku ingin pulang kerumahmu.

Karena aku tak ingin menebus rohku sendiri.


7 Desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sunday, December 6, 2009

Tanjung sari

Angin berhembus ringan diantara panas yg penat,
Kubiarkan buih ombak membasahi ujung kaki yg telah dibalur pasir.

Aku memandang lurus kedepan
Biru membentang.
Pernah rasanya suatu hari aku berdiri seperti ini, ditemani dan bergenggam tangan.

air telah kurasakan menyentuh lutut, suara anak kecil berteriak girang,
Juga sepasang muda mudi yang bercengkrama sambil berpeluk di dalam air.

Air telah menyentuh pinggang, suara-suara itu hilang, disekitar yang ada hanya pemancing tua.

Kulentangkan tubuhku
Menengadah,
Mata terpejam
Kubiarkan ombak - ombak kecil membawaku kesana kemari.

Sesekali terhempas ketepian, dan mendengar kembali suara anak kecil berseru.
"Lihat, dia mengambang, dia mati"
Aku tersenyum, berkata dalam hati "itu yang kuinginkan anak kecil"

Tubuh masih kubiarkan mengambang
Beberapa orang menyingkir membiarkan tubuhku lewat.

Cukup lama aku mengambang
Aku ingin lupa, aku ingin dibawa ombak lebih ke dalam, menjauhi para pemancing, menjauhi anak kecil tadi dan membuat yg dia kata menjadi benar.

Masih dalam lamunanku,
Seorang telah membuyarkan semua inginku,
Papan kanonya telah menyengol tubuhku.
Aku terbangun, dengan sangat enggan berenang ke tepian.

Sialan
Hanya itu yang kuucapkan.


Tanjung sari, 5 Desember 2009
D.purnami






Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Friday, December 4, 2009

Nikmat menjadi gila

Pada waktu kemarin,
Aku begitu bersemangat sampai lantang menyuarakan
" Serius, aku ingin hidup lebih lama lagi, aku harus sembuh dan sehat, ada yang harus aku lindungi dan perjuangkan, aku tak ingin mati muda dan meninggalkan malaikat kecilku seorang diri"

Itu adalah waktu kemarin,
________

Hari ini telah berbeda,

Matahari masih tetap bersinar, burung pun bernyanyi, tapi aku merasa gelap, nyanyian burung seperti hantu yang merintih sakit.

Ya benar-benar berbeda dengan waktu kemarin.
---------

...... Aku terdiam mencoba hening,mendengarkan rintihan si hantu lamat-lamat.
Kenapa begitu dekat dan nyata?
Nampaknya itu bukan rintihan si hantu, aku mengenal rintihan itu dengan baik. Ya memang benar bukan hantu.

Ah,
Ternyata itu aku yang merintih kenapa begitu pilu, gigil dan dingin.

Akupun kembali terkaget mendengar degup jantung yang keras, terkadang cepat, lambat, terhenti dan kemudian cepat lagi.
Mungkinkah orang disebelahku takut sehingga detaknya begitu kacau?
Aku melihat lagi, tak ada orang lain disini kecuali aku.

Ah,
Lagi-lagi itu aku. Aku tak mengenali detak jantungku sendiri.

Akupun terengah,
Aku jengah
Dan kemudian aku lelah.

Ah,
Bisakah aku tak bangun lagi?
Berhenti berjuang, dan mati muda saja?

Aku tak punya siapa-siapa.
Teman, kawan, saudara, semua terdiam tak bersuara.
Apakah aku yang kelu atau mereka?

Ah,
Tak perlu dirisaukan, bukankah hidup ini memang sendiri?
Ya berjalanlah kembali sendiri.

-----------
Detik ini,
Mereka pun mulai menyebutku gila.
Predikat yang bagus. Sekalian saja berlaku gila, bukankah lebih gampang daripada harus bermuka manis saat hati hancur?

Ya, menyenangkan aku tak usah bangun berhari-hari, tak usah makan, tak usah mandi. Menyenangkan bukan?

Baiklah, aku akan menarik selimutku kembali, menutupi tubuhku, biar masih gelap kurasa, mendengarkan suara hantu, suara perut yg mengeroncong, dan suara jantung yang berdangdut. Biar bau ini semakin masam, rambut semakin gimbal.

Bukankah nikmat disebutnya gila?


Ubud, 4 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, December 3, 2009

Kehilangan

Masih juga aku tertegun dengan hampa yang tertinggal ini.
Akan dia yang telah diberi dan kini diambil lagi.
Waktu yang menjadi sia-sia,
Dan getir yang disisakan.


Bathinku masih mengingat dia ada.
Tak pernah menyangka akan kesirnaan yg begitu cepat.


Kembali merasa kehilangan, karena aku kembali merasa memilikinya.


Kembali tertegun, sadar bahwa yang kumiliki kini adalah kehilangan.


Datang, pergi, datang lagi dan pergi lagi.
Hanya kehilangan demi kehilangan yang tetap ada.

Kehilangan yang bersetia, menemani perjalananku untuk menyambut lagi sebuah kedatangan baru.

Mungkin kelak, jika berani berharap.


3 desember 2009
D.purnami


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tuesday, December 1, 2009

Karibku Luka dan Duka

Sejak kau kenali diriku dengan baik, kau kerapkali datang menjadi tamu dikehidupanku.

Kaulah yang bernama Luka.

Temanmu juga, tak pernah pergi dari rumahku bertahun-tahun mendampingiku, sudah kuusir dengan segala cara tetap saja dia tinggal. dia kupanggil Duka.

Luka dan Duka, kau berdua kini karib denganku.

Ah,
Dikiranya aku kuat,
Disangkanya aku hebat


Kau beri aku kegagalan berkali-kali.
Tangisankupun kau lambangkan sebagai rasa sayangku padamu.


Luka, Duka,
Aku ini hanya orang lemah,
Yang selalu merintih dalam diam.
Yang selalu mengaduh dalam tiap helaan nafas.

Pergilah karib dari hidupku.
Berhentilah menjadi temanku.
Berilah kesempatan tuk Suka datang sesekali.

Biar, biar dibuatnya aku terharu, mensyukuri tiap derai waktu.
Biar terkembang sekuntum senyum pada bibirku yang kian mengering.
Beri aku sesekali melantunkan lagu riang dan menari diatas kaki yang kaku.

Sekali saja,
Berilah waktu untuk Suka datang.
agar mampu aku bercerita pada kawan-kawan lain dan berteriak girang
"Aku bahagia kawan"

Karibku Luka dan Duka, pergilah.


1 desember 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Pernah ada bintang

Pernah ada bintang
Diantara kami
Yang memberi haru dan bahagia
Walau sejenak saja.

Kini,
Bintang kecil itupun pergi
Luruh bersama alam
Sirna diantara kami

Kami diam mematung
Seolah terbangun dari mimpi indah

Setidaknya,
Pernah ada bintang diantara kami.


Ubud, 1 november 2009 pk 04.30
D.purnami

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sunday, November 29, 2009

Sepasang sayap yang nyaris patah

Aku tak mampu mengepakan sayap ini sendiri,
Kita ini sepasang..
Jika kau memilih berhenti.
Aku pasti tiada arti.


Kita tak akan tahu lagi pulau diseberang itu,
Juga tak akan bisa menyeberangi lautan itu.
Karena kau tak ingin terbang.


Kau lelah, ingin berhenti
Aku jengah tiada arti.


Aku tak ada guna lagi
Kecuali untuk mengipas angin kecil, hanya mampu tuk terbangkan debu dan daun kering.
Tak mampu lagi pukau si kupu-kupu.


Kita sepasang sayap yang nyaris patah.


27 November 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Friday, November 27, 2009

Benang merah

Aku hanya tahu pohon kayu manis, dan belimbing yang ada dihalaman rumahku. Katanya di luar sana ada banyak sekali jenis pohon lainnya.

"Ya, banyak sekali jenisnya"

Hewan-hewan juga ada banyak jenisnya ya diluaran sana? Aku hanya tau anjing, burung, ayam dan babi yang aku pelihara dirumah.

"Ya, ada banyak jenis hewan"

Jadi aku tau sedikit ya?

"Ya, sedikit sekali yang kamu tau"

Apakah matahari dan bulan yang kita pandang sama?

"Ya, sama, cuman waktu kita memandangnya saja yang beda"

Apakah Tuhan kita sama?

" Sama, cuman aku memanggilnya Bapa, kau memanggilnya Om"

Banyak yang belum aku ketahui diluaran sana, banyak juga yang hal berbeda yg kamu tau. Apa yg membuat kita menjadi bersama disini?

" Cinta "



Ubud, 27 november 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Monday, November 23, 2009

Kupu kupu

Aku urung membunuh seekor ulat besar yang menggelayut di bunga setaman.

Karena ingin kulihat seekor kupu kupu cantik kelak.

Kupu-kupu yang akan terbang menyapa angin, air dan cahaya.

Yang akan bertegur sapa bersama burung, kumbang dan belalang.

Yang akan menatap ulat di kebun setaman.

Kau akan menyapa sebanyak yang kau ingin.

Walau sebentar hidupmu, namun kau telah memukau oleh cantikmu
Sehingga kau tetap diingat dalam singkatnya usia.


Ubud, 23 november 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aku wanita yang bersimbah air mata

Aku wanita, yang bersimbah air mata.

Pada kehilangan-kehilangan yang hadir setiap saat.
Sirna sempurna tak bewujud.

Pada kegagalan-kegagalan hidup yang terlalu karib untuku.
Menjadikannya begitu akrab

Pada luka-luka yang ditorehkan tajamnya cinta.
Yang membuat hilang daya

Aku wanita, yang bersimbah air mata oleh lelahnya perjalanan hidup.


Ubud 23 november 2009
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sunday, November 22, 2009

Aku yang tak sempurna

Aku yang tak sempurna


Bukan, bukan mataku yang buta,
Bukan jua telingaku yang tuli
Tak ada cacat dalam fisikku
Untuk bisa menjadi bagianmu.


Bukan, bukan hatiku yang terbelah.
Hatiku utuh kupersembahkan untukmu.
Bahkan, jika kau mampu menyebutkan sebuah angka tertinggi penentu keutuhan hati, sejumlah itulah hatiku menyayangimu.


Bukan, bukan Cinta kita yang kunodai.
Tidak setitikpun kunodai janji cinta kita.
Bersih kujaga putih ini.
Hingga akhir nafasku
Cintaku untukmu


Tapi aku tak sempurna untukmu
Aku tak akan mampu menjadikanmu lelaki seutuhnya.

Aku yang tak sempurna


Ubud, 22 november 2009
D.purnami

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, October 29, 2009

Ayat ngayah

Tilem,
Gumine peteng dedet,
Sakadi dedet manahne I meme Sandru.

Suryane sampun engseb, maencolan pejalane I meme Sandru maturan ka pura Dalem.

Ngenyun banten asokasi cenik,
Malarapan antuk banten ajuman, mabuah manggis, masanganan jaja emping.
Sok kasine iying, lebian misi canang. Bantene boya calah ane lenan maulam itik lan ayam, tuah kacang saur.

Negak I meme Sandru ring arep ayun ida Bathara Dalem.
Jero pemangku muput maatur-atur.
Sing suwud-suwud I meme Sandru ngetelang yeh mata. Inget teken panakne I wayan, sentana marep ane ada abesik.
Sane ngalahin majalan malunan mulih ke gumine wayah.
Tonden ada limang bulan I Wayan mejalan. Nu sakit karasayang teken I meme Sandru.

Ngemigmig I meme Sandru pedidine.

" Uduh wayan, panak meme. Jani dini wayan ngayah, ngiring ida bhatara Dalem, nyapuh sawai-wai mengayah ring ida bathara, uli dini meme nunas, dumogi je kapaica wayan pemargi lan polih genah sane becik"

I wayan sandru tonden matuwuh 16 tiban. Suba ngalahin meme lan bapane. Mati salah pati, metabrakan. Kocap, pejalan matine pakayun ida bathara.


Kala punika,
Sang maraga atma I Wayan Sandru nyeleleg ring batan punyan pulene, ring alase, nyiksik bulu menangis, manyingakin memene ring ayun ida bethara Dalem.

Meled sang meraga atma jagi manyapa I meme, kewala nenten kapanggihin, nenten kapirengin, ten polih kurungan jagi kasusupin.

Ring I kekupu, sang meraga atma masusupan. Nginder mekeber, manyapa I meme.
Mecedet ring pamuspan, ring sekar, ring pabinan.

"Meme, sampunang meme maseselan, niki sampun pamargin titiange ngiring ida bethara, wusan meme maseselan, uli niskala titiang jagi manyingakin meme"

Ne mangkin,
Sampun wusan jero pamangku matur-atur, I meme suba suwud mebakti, kalungsur jani bantene. Magegeson mejalan ke setrane, ngaturang punjung teken I wayan.

--------------
Tilem,
Ubud,18 Oktober 2009
d purnami.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Saturday, October 17, 2009

Pamargi

Pamargi sira sane mangkin jagi kairing titiang?

I bapa sampun budal ke gumine wayah.
Sampun meraga angin,
kesyar kesyur ulah ulih.
Tan kapanggihin, nanging kerasa ring kulit, ring tangkahe sane puyung.


Titiang panak bapa,
Sane mesaksi duke bapa ninggal kurungan.
Meraga sa'ang matah, kageseng antuk sang agni.
Mewali ke pertiwi.

Dekdek manah titiang masaksi, kalintang sedih, ten surud ngetelang yeh mata.
sakadi sentir sane kapademang,
Pati grepe titiang memargi,


Rimangkin titiang anak ubuh, belog, tambet tiang jagi nunut pamargin bapa.

Majalan titiang, nuduk carita ring penyama braya sane masatua duke bapa idup.
Becik bapa maninggal karma. Akeh sane merasa kelangan bapa.

Malih tiang mamargi, nunut timpal peguruan bapa, kaicen tiang lontar acakepan sane sampun bubukan, suwe tiang mekeneh, ten keni baan ngwacen, malih kalinggihan tiang ring pelangkiran.
Tiang panak bapa kalintang belog.

Ne mangkin titiang menemu soca mirah, ring gelas sane sampun daki, kaduduk tiang, angge titiang ngubadin manah I meme sane nenten seger seger. Wawu tiang uning nika pelambang tresnan bapa tekening I meme.

Bapa taler maninggal cucu, ten keni baan titiang nuturang ring sang anak alit, antuk pamargi bapa sane gegeson matinggal.

Inguh lan sungsut manah tiang, kalunta lunta nunut pamargi I bapa.

Ne mangkin iriki tiang negak beten punyan buluane ring amben bale daja mailih ilih, nayuhin manah sane nenten taen tis. Ngaukin bapa sane meraga angin.

Pamargin tiang sekadi nuduk tampalan kayu, punduhang titiang kanti dados angge saang mepunpun.

Yening bapa kari medruwe karna maraga angin, tiang jagi matitip wangsit ring I kedis becica, tuah petaken manten,
" Pamargi sira sane mangkin kairing tiang?"

I pekak, I dadong lan I Penik sampun sami sareng bapa irika melinggih ring gedong rong tiga, caket ten memunyi, sunya suwung, pateh meraga angin maparab bethara hyang guru.

Tuah I cecek sane ten surut surut mesuara mecekcekcek.

Yening dados,
tunas tiang piteket, icening tiang ipian, pang keni antuk tiang mepitutur tekening I meme lan putun bapa sang nak alit.

Tiang sane kari idup lan matuwuh sane jagi ngalanturang, pamargi bapa sane durung tatas.

---------
Ubud 18 oktober 2009
Katur ring bapa sane naening lekad ring tanggal punika.

Titiang,
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Friday, October 16, 2009

luh jepun

Titiang penyeruan I ratu,
Nenten tatas indik matur

Geginan tiang wantah ngalap sekar, katur ring I ratu, angge ngias prabu I ratu sane megelung emas.

Luh Jepun wastan tiang.
Tiang boya ya I bungan sandat sane miik ngalub.
Nanging I ratu mapaica genah sekadi tiang I sekar sandat.

Ring merajan I ratu titiang mengayah, mekamen putih me senteng kuning.

Ngukup toya miik ngalub; agni ngeseng I kayu cendana, jebug arum, pandan arum, lan gendis.

Andus nusdus, maukup ukup toya kumkuman angge I ratu manyirat prabu magelung emas.

Rerantas, wajra , ketu sampun sayage.
Ngiring I ratu munggah
Titiang ngiring I ratu nyurya suwana.

I cempaka mebunga ngeryempyok, mereruntuhan ring natar merajan.

Iriki tiang mangayahin I ratu, mekidung warga sari, tedun tirta.

Anggob manah titiang,
I ratu mapaica genah ring merajan sane kasuciang.

Tiang luh jepun,
leteh antuk dosa.
Nyalanang idup ring margine kiwa.

Las I ratu nuntunin tiang pamargi,
Iriki titiang mangayahin sisan tuwuh sane kapaica,
ngiring I ratu,
ngiring pemargi sane kaloktah.

Tiang luh jepun ten tatas antuk matur.
Iriki mangayahin I ratu.


17 oktober 2009
D.purnami


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, October 15, 2009

Sunya

Kembali menyepi, menyapa sunyi.

Bertegur sapa dengan jiwa,
Merasakan nafas diri
Menyentuh tubuh yg layu oleh lelah.
Mendiamkan fikir yg telah diperkosa.

Angga sarira
Memohon jeda
Untuk hening sejenak.

Kembali menyepi pada sunyi dalam diri.

15 oktober 2009
D.purnami

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT