Friday, February 8, 2008
hening ... riuh...
riuh…
sebentar hening, sebentar riuh..
layaknya suara hati
tenang sesaat, bergejolak kemudian.
Malam memang tak berbintang
juga tak ada bulan
hanya pekat yang tersisa.
dan angin yang hampa
Langkah kuseret disepanjang lorong-lorong
di iringi dengkuran halus yang terdengar sesekali
tubuh hanya digeletakkan diatas lantai yang dingin
beralaskan tikar dalam gulungan kecemasan
Langkahku terhenti pada sebuah ruang
lampu temaram dan hening
hatiku bergejolak
kutahan bulir air mata
agar tak meriuhkan keheningan.
Kutatap,
lelaki tua itu terbaring
muka pucat
mata yang suram
jangut memutih membuatnya tampak layu
dalam keheningan
Disisinya,
wanita tua itu
terpekur terlungkup
nafas penuh keresahan
tetap menggenggam tangan sang lelaki tua
dalam keriuhan bathinnya
Mereka,
adalah obor jiwaku
sukmaku bertaut dengan keresahannya
nadiku dipicu detaknya
padanya
aku bersimpuh
menggumulkan asa
agar kurasa hening serta riuh hatinya.
d.purnami
Sanjiwani, 7 Februari 2008.
Friday, January 25, 2008
Tak usah ... Jika..
temani hingga ujung waktu
atau akhir nafas
apalagi berkisah tentang esok
Jika,
tak pahamai hari ini.
gapai sejuta mimpi
atau menari dibawah bintang
apalagi menitip cinta pada sang bulan bulan
Jika,
tak paham tentang malam.
bersujud di kaki pertiwi
atau menyembah sang dewi
apalagi menantang matahari
Jika,
tak mampu selami jiwa yang murni.
Jika,
kau percaya
ujung waktu itu ada
malam itu indah
jiwa akan menjadi murni
tetaplah disini,
bergandeng tangan
bersama menantang matahari.
25 Januari 2008
d.purnami
Monday, January 21, 2008
Bukit Diseberang Jendela
Sejauh mata memandang,
hanya hamparan hijau yang membentang luas
sesekali rerumputan itu bergoyang diterpa angin
menyejukan mata
juga hati
Terkadang,
ingin aku mempunyai sayap
terbang dan menyeberang
menari diatas rumput yang basah
didendangkan semilir angin
Namun tiba-tiba
aku terjerembab
tertegun dalam dudukku
anganku telah terbang untuk kesekian kalinya
angan yang bersayap
telah terbang bebas
melampau batas
Kumelirik,
dia masih duduk pada daun jendela
matanya syahdu dan dalam
memandang jauh ke bukit seberang
adakah dia memikirkan hal yang sama
Pada sebatang pohon
sepasang kelinci masyuk memadu cinta
berpeluh dan basah.
di bukit seberang.
Dia,
sesekali meliriku dalam
seolah ingin berkata
“andai aku seperti burung
akan kubawa terbang
menari mengitari bukit ini”
Bukit itu telah basah oleh embun
langit memerah
senja kian menghilang
aku bangkit dan menutup jendelaku
esok aku akan kembali duduk di daun jendela ini
dengan secangkir kopi yang mengepul.
d.purnami
21 Januari 2008
Tuesday, January 1, 2008
Selamat Tahun 2008
Derai hujan mengiringi pergantian tahun 2007, tak ada perayaan khusus tuk menyambut datangnya tahun 2008. Sembari memandang hujan dari balik jendela, saya merenungkan apa yang terjadi di tahun kemarin yang kini menjadi kenangan.
Banyak hal terjadi dalam setahun, kesuksesan, kebahagiaan, kegagalan dan duka datang silih berganti menyemarakkan hidup.
Kegelisahan adalah satu hal yang selalu menyertai kehidupan. Daftar kegelisahan akan lebih panjang jika waktu yang kita punya untuk merenung lebih banyak, merefleksi diri tentang apa yang telah diperbuat dan tentunya berharap di tahun mendatang semua menjadi lebih baik.
Tahun 2008 adalah tahun yang mengandung unsur angka 8, menurut fengsui 8 merupakan simbolis dari arah mata angin. Sebuah keseimbangan, seimbang dalam fikiran dan jiwa agar tercapai kedamaian dan keharmonisan di jiwa.
Kembali lagi saya mengenang tahun kemarin, hal yang paling meninggalkan makna adalah saya belajar menerima kenyataan hidup serta mengartikan arti kata cukup. Menerima kenyataan dengan lapang dada adalah hal terbaik agar bijaksana terhadap kehidupan yang kita jalani.
Kenyataan memang teman hidup kita yang pasti, bukanlah janji dan angan.
Begitu halnya mengartikan kata cukup. Sifat dasar manusia memang tak pernah bisa merasa cukup atau puas. Memang hal yang berat untuk mengatakan cukup kepada diri sendiri, membutuhkan proses penyadaran diri dan kerendahan hati serta ego untuk melakoninya.
Dan tahun ini saya merasakan kecukupan yang sangat di hati. Sebuah rasa bahagia yang indah.
Tak dipungkiri dalam setiap kemenangan ada kegagalan, begitupula sedih dan senang selalu datang bersama bagai sepasang kupu kupu putih jayaprana. Semua itu saya lalui dengan suka cita berkat dukungan orang-orang yang terkasih.
S
aya sangat bersukur di tahun 2007 dengan kecukupan rasa bahagia yang dalam yang membuat hidup saya sangat berarti.
Sahabat, keluarga dan orang terkasih.
Selamat menyambut tahun 2008.
Mari bergandeng tangan untuk kebahagiaan dan kedamaian di jiwa.
Salam Cinta
Kadek Purnami
Thursday, December 27, 2007
Perjalanan Cinta
Tentang perjalanan cinta
telah dimulai
Mencari pasangan jiwa
---------------------------------------------------------
Akankah sebuah cinta sejati ditemukan?
Bagai cerita dalam dongeng
Sang pangeran menemukan cinta sejatinya pada seorang putri.
Ia melihat cerminan jiwanya ada pada diri sang purti
-----------------------------------------------------------
Kemudian,
Apa yang dapat dikata
Jika dongeng tak sepenuhnya khayalan
Seorang datang,
Dalam siraman sinar rembulan yang bertabur bintang
Kekasih,
Adakah cermin yang lebih bening dari dirimu?
Dimana aku dapat melihat bayang diriku ada pada jiwamu.
Dan diapun berkata
Cinta sejati itu telah kutemukan
Saatnya untuk mengakhiri perjalanan cinta ini
Ijinkan aku untuk bersemayam dijiwamu
Hingga akhir nafasku
Karena kau telah jadikanku sempurna
Dalam bahagianya hati.
***
Untuk sebuah purnama diakhir bulan desember 2007
d.purnami
24 desember 2007.
Hujan di Bulan Desember
Pada sebuah pagi yang menyambut
Mentari hangatkan bumi
Dedaunan berayun menghantarkan angin
Seekor anjing bergeliat malas enggan tuk beranjak
Dan kami para manusia hendak memulai cerita kehidupan.
Ku menatap sawah hijau yang membentang
Merasakan tiupan semilir angin
Dan gemericik air yang mengalir
Nyanyian burung bagai bait nada yang indah
Terbang rendah mencari makan
Sebuah pagi yang indah
Kutelusuri setapak demi setapak tanah sawah ini
Saya terdiam dan bertanya dalam hati
Mampukah saya menjaga alam yang indah ini
Sayapun menunduk malu atau entah apa
Belum banyak hal yang dapat kulakukan
…. Idep Demosite 5-9 november 2007
Sekeping cerita bersama sahabat.
------------------------------------------------
Wisnu telah membasuh pertiwi selama lebih dari 2 minggu, tumbuhan dan tanah menjadi basah memberikan kesegaran jiwa. Pepohonan seolah bersorak girang setelah kemarau yang cukup panjang.
Aktivitas memang sedikit tersendat, dan waktu saya menjadi lebih banyak untuk duduk terpaku dibalik jendela memandangi rinai hujan yang bagai jarum perak menghunus. Air sungai mengalir deras di bawah kamar, memang tak terdengar romantis seperti biasanya. Sayapun menjadi sedikit cemas jika terjadi banjir.
Kopi pun telah dituang untuk cangkir yang kedua, hujan belum juga reda, besok adalah natal, saudara umat kristiani tentunya juga sedang bersuka cita menyambut hari yang damai. Atau seorang sahabat yang sedang bahagia merayakan hari ulang tahunya. Ya semoga semua berbahagia.
Sambil mengetik saya memperhatikan telunjuk saya yang masih terasa sakit, cidera ringan waktu simulasi penyelamatan korban. Saya teringat dengan teman-teman sukarelawan penanggulangan bencana di nusa ceningan, nusa lembongan, tegalalang, dompu, rembang, aceh. Teman nampaknya kita sudah harus bersiap sedia menjadi tim relawan jika bencana datang menghampiri. Hujan semakin deras di bulan Desember.
d.purnami
24 Desember 2007
Wednesday, December 12, 2007
Tuesday, December 11, 2007
Save the Planet.
Apakah anda pencinta daerah Ubud?
Atau anda senang datang ke Ubud?
Apakah anda suka nongkrong di jalan Monkey forest sambil Ngopi?
Apakah alasan anda senang datang ke Ubud karena daerahnya sejuk, udaranya segar, merasa adem dan nyaman,
Atau Ubud sangat berkesan dalam hati anda karena anda bertemu kekasih, jadian, atau menikah di Ubud.
Apapaun alasan anda …
Jika anda benar-benar cinta dengan Ubud.
Mari bergabung dalam program penanaman pohon yang di selenggarakan oleh manajemen Monkey Forest Padangtegal.
Bagi siapapun yang ingin berkontribusi dalam menyelamatkan Bumi ini dan ingin Ubud agar tetap segar, kami tunggu kontribusi anda untuk menanam pohon pada lahan yang telah disediakan.
Caranya sangat gampang sekali.
Cukup dengan membayarkan uang sejumlah RP. 150.000 anda bisa menanam satu pohon. Lahan dan pohon telah disediakan. Dan anda akan mendapatkan sertifikat langsung.
Disamping menanam pohon anda juga bisa bermain sepuasnya dengan kera-kera yang pasti lucu tapi kurang menjanjikan keramahannya. ( yang pasti tidak seramah saya)
Jadi tanamlah satu pohon untuk sebuah kenangan anda atau cinta anda pada Ubud, ataupun cinta anda pada gadis Ubud atau lebih spesifik cinta anda pada galang bulan. Semua alasan anda dapat diterima untuk menyelamatkan bumi ini.
J he..he..he..
Salam hangat,
d.purnami
originally from padangtegal Ubud.
Monday, December 10, 2007
Dulu Banjar Buluk Babi , kini Banjar Padang Kencana
Hal ini terjadi pada Dadong Bega, seperti namanya dadong Bega yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia diam, nenek ini memang diam dan terbujur kaku. Dia tidak tahu kalau kematiannya adalah pemicu hingga meledaknya bom waktu. Kasus desa adat Bulu Babi yang tak diselesaikan sejak dahulu, nyaris hingga pergantian bupati.
Padangtegal dan Pengosekan adalah desa yang bertetangga, warisan leluhur kalau kedua desa ini adalah bersaudara. Ida Bethara pun mesameton. Sekitar 60 Kepala keluarga desa pengeosekan memang mekhayangan tiga di desa pekraman Padangtegal. Namun sejak tahun 2002, sekitar 12 warga tempekan Buluk Babi kembali mendesa pekraman ke pengosekan. Tinggal 48 warga yang masih tetap bersikukuh medesa pekraman ke padangtegal, dengan alasan titah dari para leluhur harus dilaksanakan, kalau tidak nanti pasti kepongor. Alhasil mereka 48 warga ini statusnya terkatung-katung, susah untuk membuat KTP serta pembuatan surat-surat administratif lainnya.
Banjar Buluk Babi mungkin tak mengenal istilah dimana tanah dipijak disanalah langit di junjung. Memijak tanah pengosekan namun menjunjung langit padangtegal. Sudah pasti tak ada titik temu.
Warisan adat dan budaya kita memang agung, namun ada juga warisan dari para leluhur yang jauh dari keagungan. Fanatisme adalah akar permasalahan yang memecah belah hakikat kita sebagai manusia yang dicipatakan dari satu asal yang sama. Kita kembali dibuat untuk lupa kalau berpijak di tanah yang sama, dan menyembah Tuhan yang sama. Buat apa memakai Udeng yang nyotot jika pemikiran kita hanya ingin menusuk pemikiran dan hati orang. Lagi- lagi Ego dan ego tetap menang dan mendominasi pemikiran dan hati manusia .
Akhirnya, dengan negosiasi yang terkesan alot dan hingga petang hari, terilhami juga kedua kubu yang berunding tersebut pencerahan untuk mencari jalan keluar dan mengendorkan urat saraf. Banjar Buluk Babi akhirnya berdiri sebagai banjar sendiri, dengan desa dinas di Pengosekan, dan tetap menyungusng khayangan tiga di Padangtegal. Banjar Padang Kencana adalah jelmaan baru dari banjar Buluk Babi. Akhirnya sebelum bupati berganti diselesaikannya juga masalah ini. Kini Pak bupati pun merasa plong PR sudah diselesaikan.
Pohon yang telah ditanam berpuluh tahun dan tumbuh kembang seiring kasus tersebut kini ditebang dalam hitungan menit.
Apa ada yang salah dengan pohon tersebut?
Kenapa pohon yang merindangi dan menyejukkan sepanjang jalan itu harus ikut terkena dampak?
Saat delegasi PBB dan utusan berbagai negara sedang bersidang membicarakan keselamatan dunia. Disaat semua orang berkumandang untuk Go Green, mereka malah menebang pohon. Sungguh disayangkan dan mempermalukan diri. Memang nampak kualitas manusia kita yang tak menghargai alam. Jangankan mengatasi masalah Alam, mengatasi emosi diri saja sudah tak mampu.
Atau mungkin saja dengan ditebangnya pohon tersebut masalah juga bisa dipotong dengan cepat?
Atau jangan-jangan pohon itu sumber masalah? Apakah ada penunggunya yang mengahntui warga? Ha..ha.. nampak berlebihan imajinasinya. ( tetap saja pohon itu korban dan tidak bersalah)
Aku sebagai salah satu warga padangtegal merasa lega juga kasus ini bisa diselesaikan.
Banjar Padang Kencana akhirnya berpijak diatas tanah pengosekan dan menjungjung langit pengosekan, namun tetap melirik langit tetangga untuk dijunjung juga.
Apa karena rumput tetangga memang lebih ijo.
Sejak kapan langit jadi ijo?
Go green juga?
( nampak mulai ngawur)
Celebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu, ada kene ada keto..
9 Desember 2007
d.purnami
Friday, November 23, 2007
Sasih Kanem
Tahun 2007 ini hari kajeng kliwon sasih kanem (bulan keenam) jatuh pada 19 November, Menurut orang Hindu Bali, bulan ini menjadi hari yang keramat. Biasanya banyak sekali cerita mistis mulai merebak, semerbak wangi kemenyan dan kenanga..hi..hi.hi..
Apakah memang benar sekeramat itu sasih kanem?
Entah mitos atau memang benar seperti itu, namun sejak kecil saya memang sudah dicekoki informasi oleh para tetua tentang betapa keramat dan seramnya jika sasih kanem tiba. Cerita yang muncul beraneka ragam dan selalu berisikan intrik-intrik seram dan keramat, membuat merinding dan nyali menciut. Dulu, diceritakan banyak orang meninggal pada sasih kanem, tak hanya itu, kita juga sering diharuskan untuk tidur di bawah beralaskan tikar agar tak diambil oleh Ratu Bagus Gede Mecaling sebagai tumbal.
Sebenarnya apakah memang seperti itu? Sayapun tak tau pasti. Namun hari ini saya tergerak untuk mengkait-kaitkan beberapa kejadian saja. Sasih kanem sering jatuh antara bulan November dan Desember yang dikenal sebagai musim penghujan, namun tak sepenuhnya hujan turun, cuaca terkadang panas terik dan tiba-tiba berubah hujan, angin kencang, petir ikut menyambar. Tak dielakkan beberapa daerah seperti Ketewel, Sukawati dan Denpasar tersapu angin puting beliung. Cuaca yang sangat tidak bersahabat atau musim pancaroba ini seringkali membuat penurunan kondisi fisik. Penyakit flu dan demam dengan mudah menyerang, keadaan diperparah dengan banyaknya lalat yang bertebangan kesana kemari menebar berbagai penyakit, alhasil kita menjadi diare. Jika memang watak sasih kanem seperti itu setiap tahunnya, kemungkinan dulu saat dikatakan banyak orang meninggal saat sasih kanem sebenarnya karena daya tahan tubuh yang lemah, sakit tanpa diobati dan kemudian meninggal.
Atau mitos lainnya lagi, konon kita sering diminta tidur di lantai beralaskan tikar saja agar kita tidak dijadikan tumbal oleh Ratu Bagus Gede Macaling, mungkin hal ini dikarenakan watak sasih kanem yang dipengaruhi oleh sasih katiga yang bersifat panas, sehingga setiap malam kita sering merasa gerah dan panas yang menyebabakan sulit tidur sehingga orang-orang merasa lebih sejuk tidur di lantai daripada diatas kasur, bukan seperti mitos yang dikatakan karena Ratu Bagus Gede Mecaling akan mengambil orang-orang yang tidur diatas kasur dan dijadikan tumbal, namun karena memang lebih sejuk tidur di lantai.
Tak ketinggalan cerita seram lainnya yang mengatakan tiap malam menjelang sasih kanem banyak ada sinar berkelebat dan itu adalah para leak yang sedang berperang mengadu kesaktian mereka, tapi jika dilihat dalam 2 hari belakangan ini saya memang sering bergadang untuk menyaksikan sinar yang berkelebat di langit kelam namun bukan untuk menyaksikan leak yang sedang berperang tapi menyaksikan serpihan meteorit yang bejatuhan mungkin sebenarnya para tertua kita dulu sebenarnya sedang menyaksikan bintang jatuh yang sering terjadi sekitar bulan November dan bukanlah leak yang sedang berperang.
Entahlah apakah itu benar atau mitos, saya juga tak tau pasti. Hanya satu yang pasti yang saya rasakan ketika memasuki awal sasih kanem, saya sangat disibukkan untuk melakukan ritual upacara.
Sebagai perempuan
Siang hari di panas terik ritual dilanjutkan menuju pura di khayangan tiga yakni pura Desa, Puseh dan Dalem. Saya harus menjunjung 2 wadah banten yang cukup besar diatas kepala, cukup membuat leher terasa kaku. Bagaiaman tidak, banten itu berisikan beras, telur, kelapa, buah-buahan yang lebih dari 5 kilo yang dipersembahkan kembali kepada Ibu pertiwi, bumi tempat kita berpijak. Ritual upacara sebagai ungkapan terima kasih atas karunianya agar umat manusai selalu diberi keselamatan, dijauhkan dari mara bahaya, dan manusia disadarkan untuk menjaga keseimbangan alam agar tak murka. Walau keringat mengucur tak menghalangi ketulusan saya mempersembahkan dan menghaturkan bhakti kehahadapNya dalam bait doa yang tak henti saya panjatkan. Prosesi acara berlangsung hingga matahari tenggelam, setelah itu kembali kerumah untuk menghaturkan pecaruan di depan rumah untuk dipersembahakan kepada sang bhuta kala agar tak masuk kerumah.
Petang berganti malam, para sesuhunan-Ida Bhatara ( manifestasi Tuhan dalam bentuk Barong dan Rangda yang disakralakan ) tedun Ngunya - diusung berkeliling mengitari desa diikuti oleh seluruh warga untuk memberikan pemberkatan. Dentingan genta, semarak bunyi gamelan membuat hati riang, nyaring suara kidung membawa angan terbang menemui sang pencipta, semerbak wangi dupa menusuk sukma. Warga Desa dengan khusuk mengikuti, berjalan beriringan dalam doa mohon keselamatan untuk diri, keluarga, lingkungan dan alam semesta. Mohon kedamaian di jiwa, di dunia dan alam semesta.
Sesuhunan di usung melewati jalan dan gang kecil, menjadi tontonan yang menarik bagi para bule yang sedang duduk makan malam direstoran, bahkan lebih menarik dari makanan yang mereka pesan. Pada setiap persimpangan, sesuhunan berhenti sekitar 20 menit, dihaturkan pecaruan dengan ritual pemotongan ayam. entah berapa ekor Ayam yang mati pada hari itu di
Malam kian larut, posesi belum berakhir, kaki sudah mulai lelah, mata mengantuk dan perut keroncongan. Fikiran mulai tidak fokus dan bercabang, banyak godaan datang yang mengganggu bhakti saya.
Beberapa tahun belakangan ini nampaknya ada trend baru juga di bidang spiritual. Sesuhunan saling mengunjungi antara desa satu dengan desa lainnya. Tujuannya sangat mulia, memberikan pemberkatan untuk warga agar kita semua diberi keselamatan, rukun saling asah, asih dan asuh, mengingatkan bahwa kita semua adalah saudara, menatap matahari yang sama dan berpijak pada bumi yang sama. Tapi terkadang seperti ada kepala di balik udeng. Sesuhunan sepertinya dijadikan alat politik kekuasaan oleh para pengurus desa untuk menunjukkan kuasanya atas territorial wilayah tertentu. Semakin besar wilayah yang dituju semakin banyak memiliki
Kaki saya sudah lelah sekali berkeliling, perut terasa keroncongan, dan tenggorakan terasa kering. Fikiran tidak bisa fokus kembali dalam bait doa-doa. Fikiran lain tersbersit kembali, bagaimana jika ternyata seluruh sesuhanan di Bali berkerabat, berarti setiap sasih kanem seluruh warga Bali akan berjalan berkeliling Bali ngunya ngiring ida betara, dapat dibayangkan betapa panjang deretan pengiringnya, angklung dari berbagai daerah mengiringi seperti festival PKB, butuh beberapa hari untuk berjalan, dan betapa macet seluruh jalan di Bali. Apakah akan ada kebijakan daerah libur 3 hari untuk menyambut sasih kanem? Seperti halnya tajen yang diusulkan untuk dibuyatkan perda?
Entahlah…
Mungkin tadi saya sempat tertidur sehingga saya mimpi buruk seperti diatas.
Saya butuh seteguk air, sesuap nasi dan istirahat
Bait matra telah diselesaikan oleh pemangku.
Sasih Kanem,
Mohon kami diselamatkan dari ego manusia yang semakin menjadi-jadi
Lindungi kami dari mara bahaya yang sejatinya diciptakan manusia
Jauhkan kami dari perang antar saudara
Manusialah bhuta kala itu
Manusialah Ida Ratu Bagus Gede Mecaling yang menjadikan saudara sendiri sebagai tumbal.
Sasih Kanem,
Selamatkan kami.
*** d.purnami
20 November 2007
Friday, October 12, 2007
Pengintai
Subuh itu matahari belum terbit
udara terasa dingin
mobil melaju kencang dalam jalanan yang sepi
berharap waktu melambat.
Subuh itu matahari belum terbit
jaket menghangatkan tubuh
motor dilaju kencang di jalan yang sama
berharap dapat bertemu sebelum burung besi itu terbang
Tak bertemu,
dan bukan berarti tiada harapan lagi
berdiam diri
pada waktu yang sama dan tempat berbeda
Tanpa bicara
Namun aku mendengarnya berbisik
Tak nampak
Namun aku merasakan keberadaannya
Tiada pelukan perpisahan
Namun seolah dia mendekapku
Sebenarnya, kita sedang pada waktu dan tempat yang sama
Dia tetap mengintai dalam setiap langkahku
Wajah murungku terekam olehnya
Kesedihan hatiku terbaca jelas.
Tetap mengintai
dia tak bergerak sedikitpun
tetap disitu hanya memandangku
dengan kesedihan dan kemurungan yang sama
Matahari telah terbit menghangatkan
Burung besi telah terbang
Kita berpisah
Tanpa sepatah kata namun penuh oleh rasa
Sang pengintai hanya memandang keatas.
***d.purnami
Juli 2007
Lasso
Diatas sebuah meja kayu yang berhiasakan setangkai lily putih.
Secangkir kopi ditemani boneka beruang yang bernama Lasso.
Dipandanginya lamat-lamat yang seukuran telapak tangan.
Seolah mengerti apa yang terfikir olehnya.
Tersenyum dia sendiri.
…………………………………………………..
Lagi dan lagi dia bergulir ke masa lampau
Lasso adalah teman kecilnya yang sempat di abaikannya.
Lama sekali waktu itu berlalu, kini kembali lagi di bongkar dari gudang.
Dia hanya mencari Lasso yang setangkup kecil.
Dulu boneka itu tak bernama, baru kali ini diberi nama, itupun diambil dari nama belakang salah satu penyayi lelaki yang dipujanya.
Kini Lasso sangat berarti baginya,
Memberi bau dan rasa nyaman yang berbeda.
Juga sebuah kisah indah bagi perempuan yang kini tak kecil lagi
*** d.purnami
Agustus 2007
Wednesday, October 10, 2007
Pohon Jambu & perempuan kecil
Perempuan kecil berkepang dua yang tak punya banyak teman.
Kegemarannya adalah menantang matahari, mengejar kupu-kupu, menangkap capung dan katak, berlari di pematang sawah ataupun menelusuri sungai yang jernih.
Disanalah perempuan kecil itu menemukan dunianya yang ceria dan tenang.
Sesekali dia harus memanjat pohon jambu untuk bersembunyi dari panggilan sang ibu.
Sahabatnya bukan teman sebaya namun para nenek di desa itu. Alasannya sangat sederhana, mereka tak pernah mengucilkannya atau memusuhinya.
Mereka selalu mengasihi dan memanjakannya dengan dongeng serta ketela rebus dan biji tiwul. Sebuah dongeng yang tak pernah mau diselesaikan, agar ada alasan baginya untuk mengunjungi sang nenek di esok hari.
Sebagai balasan dari kebahagiaanya, perempuan kecil itu cukup melipatkan daun sirih sang nenek yang gemar menginang sirih.
Sudah cukup lama masa itu telah lewat, namun masih teringat jelas di benak perempuan yang tak lagi kecil dan berkepang dua.
Ah… mereka semua kini telah menjadi leluhur yang disembah oleh keturunannya.
Perempuan itu beranjak dari bale dan mengambil satu dupa menancapkannya di bawah pohon jambu sembari mengusap lengan.
“Untuk mereka yang telah pernah menyayangiku serta dongeng kalian yang tak pernah usai, aku terkenang kasih kalian”
Esok semua kenanganku dirumah ini akan hilang, pohon jambu itupun akan ditebang.
Tuesday, October 9, 2007
Jeda
Pada sebuah waktu, kosong dan luang.
Sebuah jeda yang kurindukan.
Cukup lama tak menuliskan apapun pada Galang bulan, seolah purnama tersaput awan. Memang cukup tidak adil menelantarkan wadah yang selama ini menampung seluruh inspirasiku.
Butuh Jeda sesaat.
Kini aku kembali lagi untuk sekedar bercerita tentang hal yang kulalui. Sekian lama bergaul dengan para sastrwan membuatku lupa akan bagaiaman menuliskan sebuah kisah.
Pada sebuah pagi awal oktober
Kuterbangun oleh pesan singkat yang masuk, ucapan terima kasih dari para penulis yang telah kembali kedaerah serta negaranya masing-masing. Aku tersenyum lega hajatan para sastrawan “Ubud Writers & Readers Festival” telah berakhir dengan lancar, seolah flu dan pegal disekujur tubuh cukup terbayarkan. Fyuh.. enam hari yang cukup berat telah kulalui dengan semangat, gairah, senyuman, tekanan serta air mata yang membuat hatiku mengharu biru. Semua telah ditutup dengan seikat bunga dan tatapan mata dalam yang bersetia menemani.
Teruntuk mereka yang telah bersetia padaku melewati masa sulit, ku ucapkan terima kasih untuk waktu dan perhatiannya. Sudah kurindukan kembali satu minggu itu..
Pakaian aku masukkan ke dalam tas dengan lambat.
Thanks! Jeda itu akhirnya datang
Waktu luang yang kurindu.
Tuesday, September 4, 2007
Dadong Nyadet
Anjingpun tak hentinya melolong panjang
Sebuah cerita hidup telah berakhir
Tak ada yang menangisi kematiannya
Hanya anjing yang terus melolong
Hingga buatku terjaga
Seklumit kisah kulewati besamanya
Harusnya tak cukup buatku bersedih hati
Tapi aku masih memikirkannya
Belum tuntas aku menuliskan
Satu kisah sederhana tentang dia
Nenek tua renta yang hidup sendiri
Di sebut gila oleh kebanyakan
Atau malah mereka yang kebanyakan gila
Hingga akhir nafasnya
Aku belum membelanya
Dadong Nyadet,
Dengan cincin jinar
Dan kembang jepun
Aku belum selesai menuliskanmu.
Ubud, 31 Agutus 2007
Saturday, June 23, 2007
setahun yang lalu dan hari ini
Setahun yang lalu,
pertama kali kuberbagi
tak hanya ruang namun keseluruhan hidupku
Satu tahun sudah terlewati,
saat mata tak bisa memejam
hanya mampu meneteskan air mata
Melebur jadi satu,
kau miliku
aku milikmu
Setahun berlalu,
kita arungi bersama
dengan kasih.
Hari ini,
alam memberikan ruang
waktu menjadi luang
kau mengenalku lebih dalam
menyapa pada tubuh dan jiwa yang sakral
23 Juni 2006-2007
Atas nama cinta
***d.purnami
Friday, June 15, 2007
Jangan Ragukan Aku
jeda sesaat
waktu tak sama
tak terlihat mata
tak tersentuh
tak yakin
kata tak beri arti
laku tak mampu tunjukkan
diam..
sendiri..
hanya berbisik
pada jiwa
Jangan ragukan aku.
15 Juni 2007
Wednesday, June 13, 2007
Waktu
Bagai sebuah perjalanan kisah panjang kehidupan,
pencarian dalam tanya.
hingga sampai pada sebuah titik waktu
ada kamu dan aku
dipertemukan oleh waktu.
berdua,
diberi kesempatan tuk berbagi
mengukir cerita baru tentang cinta.
menoreh kenangan penuh makna
tuk diresapi dalam hati
Bersamamu,
mengarungi kesederhanaan pemaknaan cinta.
mengemban cinta dengan arif
menyayangi tanpa ada yang terluka
kau telah sentuh satu rasa
yang hanya kubagi denganmu
***d.purnami
13 Juni 2007
Thursday, June 7, 2007
Dalam Secangkir Kopimu
Aku wanita,
yang akan dengan senang hati
menyeduhkan secangkir kopi
untuk kekasih hati
Dalam secangkir kopimu
gula adalah senyuman termanisku
kopi adalah semangatku
panasnya air adalah kehangatanku
Kuramu dengan keintiman rasa
reguklah
alirkan ke dalam darah
Agar aku ada dalam tubuhmu
*** d.purnami
Ubud, 3 Juni 2007.
