Showing posts with label Seburat kenangan masa kecil. Show all posts
Showing posts with label Seburat kenangan masa kecil. Show all posts

Friday, October 12, 2007

Lasso

Diatas sebuah meja kayu yang berhiasakan setangkai lily putih.

Secangkir kopi ditemani boneka beruang yang bernama Lasso.

Dipandanginya lamat-lamat yang seukuran telapak tangan.

Seolah mengerti apa yang terfikir olehnya.

Tersenyum dia sendiri.

…………………………………………………..

Lagi dan lagi dia bergulir ke masa lampau

Lasso adalah teman kecilnya yang sempat di abaikannya.

Lama sekali waktu itu berlalu, kini kembali lagi di bongkar dari gudang.

Dia hanya mencari Lasso yang setangkup kecil.

Dulu boneka itu tak bernama, baru kali ini diberi nama, itupun diambil dari nama belakang salah satu penyayi lelaki yang dipujanya.

Kini Lasso sangat berarti baginya,

Memberi bau dan rasa nyaman yang berbeda.

Ada titipan hati pada tubuh mungilnya.

Juga sebuah kisah indah bagi perempuan yang kini tak kecil lagi

*** d.purnami

Agustus 2007

Wednesday, October 10, 2007

Pohon Jambu & perempuan kecil

Perempuan itu duduk di pojok bale menatap pohon jambu yang sudah tua dengan kulit pohon mengering dan berkeriput. Semua bangunan dirumah ini telah berubah. Dia teringat 18 tahun silam, dibawah pohon jambu itu dia sering berteduh dan bermain sendiri.

Perempuan kecil berkepang dua yang tak punya banyak teman.

Kegemarannya adalah menantang matahari, mengejar kupu-kupu, menangkap capung dan katak, berlari di pematang sawah ataupun menelusuri sungai yang jernih.

Disanalah perempuan kecil itu menemukan dunianya yang ceria dan tenang.

Sesekali dia harus memanjat pohon jambu untuk bersembunyi dari panggilan sang ibu.

Sahabatnya bukan teman sebaya namun para nenek di desa itu. Alasannya sangat sederhana, mereka tak pernah mengucilkannya atau memusuhinya.

Mereka selalu mengasihi dan memanjakannya dengan dongeng serta ketela rebus dan biji tiwul. Sebuah dongeng yang tak pernah mau diselesaikan, agar ada alasan baginya untuk mengunjungi sang nenek di esok hari.

Sebagai balasan dari kebahagiaanya, perempuan kecil itu cukup melipatkan daun sirih sang nenek yang gemar menginang sirih.

Sudah cukup lama masa itu telah lewat, namun masih teringat jelas di benak perempuan yang tak lagi kecil dan berkepang dua.

Ah… mereka semua kini telah menjadi leluhur yang disembah oleh keturunannya.

Perempuan itu beranjak dari bale dan mengambil satu dupa menancapkannya di bawah pohon jambu sembari mengusap lengan.

“Untuk mereka yang telah pernah menyayangiku serta dongeng kalian yang tak pernah usai, aku terkenang kasih kalian”

Esok semua kenanganku dirumah ini akan hilang, pohon jambu itupun akan ditebang.