Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

Friday, February 8, 2008

hening ... riuh...

Hening..
riuh…
sebentar hening, sebentar riuh..
layaknya suara hati
tenang sesaat, bergejolak kemudian.

Malam memang tak berbintang
juga tak ada bulan
hanya pekat yang tersisa.
dan angin yang hampa

Langkah kuseret disepanjang lorong-lorong
di iringi dengkuran halus yang terdengar sesekali
tubuh hanya digeletakkan diatas lantai yang dingin
beralaskan tikar dalam gulungan kecemasan

Langkahku terhenti pada sebuah ruang
lampu temaram dan hening
hatiku bergejolak
kutahan bulir air mata
agar tak meriuhkan keheningan.

Kutatap,
lelaki tua itu terbaring
muka pucat
mata yang suram
jangut memutih membuatnya tampak layu
dalam keheningan

Disisinya,
wanita tua itu
terpekur terlungkup
nafas penuh keresahan
tetap menggenggam tangan sang lelaki tua
dalam keriuhan bathinnya

Mereka,
adalah obor jiwaku
sukmaku bertaut dengan keresahannya
nadiku dipicu detaknya
padanya
aku bersimpuh
menggumulkan asa
agar kurasa hening serta riuh hatinya.

d.purnami
Sanjiwani, 7 Februari 2008.

Friday, October 12, 2007

Pengintai

Subuh itu matahari belum terbit

udara terasa dingin

mobil melaju kencang dalam jalanan yang sepi

berharap waktu melambat.

Subuh itu matahari belum terbit

jaket menghangatkan tubuh

motor dilaju kencang di jalan yang sama

berharap dapat bertemu sebelum burung besi itu terbang

Tak bertemu,

dan bukan berarti tiada harapan lagi

berdiam diri

pada waktu yang sama dan tempat berbeda

Tanpa bicara

Namun aku mendengarnya berbisik

Tak nampak

Namun aku merasakan keberadaannya

Tiada pelukan perpisahan

Namun seolah dia mendekapku

Sebenarnya, kita sedang pada waktu dan tempat yang sama

Dia tetap mengintai dalam setiap langkahku

Wajah murungku terekam olehnya

Kesedihan hatiku terbaca jelas.

Tetap mengintai

dia tak bergerak sedikitpun

tetap disitu hanya memandangku

dengan kesedihan dan kemurungan yang sama

Matahari telah terbit menghangatkan

Burung besi telah terbang

Kita berpisah

Tanpa sepatah kata namun penuh oleh rasa

Sang pengintai hanya memandang keatas.

***d.purnami

Juli 2007

Saturday, June 23, 2007

setahun yang lalu dan hari ini

Setahun yang lalu,

pertama kali kuberbagi

tak hanya ruang namun keseluruhan hidupku


Satu tahun sudah terlewati,

saat mata tak bisa memejam

hanya mampu meneteskan air mata


Melebur jadi satu,

kau miliku

aku milikmu


Setahun berlalu,

kita arungi bersama

dengan kasih.


Hari ini,

alam memberikan ruang

waktu menjadi luang


Ada aku, kamu dan kesempatan

kau mengenalku lebih dalam

menyapa pada tubuh dan jiwa yang sakral


23 Juni 2006-2007

Atas nama cinta

***d.purnami

Thursday, June 7, 2007

Dalam Secangkir Kopimu

Aku wanita,
yang akan dengan senang hati
menyeduhkan secangkir kopi
untuk kekasih hati


Dalam secangkir kopimu
gula adalah senyuman termanisku
kopi adalah semangatku
panasnya air adalah kehangatanku


Kuramu dengan keintiman rasa
reguklah
alirkan ke dalam darah
Agar aku ada dalam tubuhmu


*** d.purnami
Ubud, 3 Juni 2007.

Monday, May 28, 2007

lelah

aku tak cukup kuat

untuk mengejar

satu titik cahaya

yang ingin kugapai


lorong gelap itu

terlalu panjang

berliku

tak ada arah

tak ada petunjuk


aku lelah

ingin istirahat sejenak

merenungi

perjalanan panjang


aku merindukan

tarian jiwa

nyanyian hati


aku merindukan

adanya diriku

seutuhnya

*** d.purnami

28 Mei 2007

Senja

duduk diantara kursi kosong

menjadi saksi jatuhnya senja

menikmati semilir angin

hampir dua jam

berceloteh tentang hal yang terlintas di benak

menertawakan kekonyolan hidup

memberi hangat suasana dalam keakraban


menyeruput kopi yang mengepul

mengisap dalam rokok kretek

dan mereguk anggur merah

kutatap dirimu


dalam setiap tegukan kopi

ku tahu kau menelan kenyataan

dalam setiap isapan rokokmu

kutahu kau katakana betapa kau cinta padaku

dalam setiap hembusan asapmu

ku tahu kau betapa menginginkanku

dan dibawah anggur merah

kau ingin berteriak


senja berganti petang

aku belum beri kau isyarat


***d.purnami
23 Mei 2007

Monday, May 14, 2007

kehangatan

bukan karena syal yang kau balutkan

atau jaket yang kau pinjamkan

ataupun anggur merah yang kuteguk


kehangatan yang begitu dalam

jauh, di dasar lubuk hati

menjalar

mengalir

dalam darah

dalam hembusan nafas


kehangatan jiwa

beri bahagia

beri damai

begitu nikmat dan nyaman kurasa


kehangatan yang teramu dari

kejujuran

tulus hati

cinta

kasih sayang


*** d.purnami