Friday, November 23, 2007

Sasih Kanem

Tahun 2007 ini hari kajeng kliwon sasih kanem (bulan keenam) jatuh pada 19 November, Menurut orang Hindu Bali, bulan ini menjadi hari yang keramat. Biasanya banyak sekali cerita mistis mulai merebak, semerbak wangi kemenyan dan kenanga..hi..hi.hi..

Apakah memang benar sekeramat itu sasih kanem?

Entah mitos atau memang benar seperti itu, namun sejak kecil saya memang sudah dicekoki informasi oleh para tetua tentang betapa keramat dan seramnya jika sasih kanem tiba. Cerita yang muncul beraneka ragam dan selalu berisikan intrik-intrik seram dan keramat, membuat merinding dan nyali menciut. Dulu, diceritakan banyak orang meninggal pada sasih kanem, tak hanya itu, kita juga sering diharuskan untuk tidur di bawah beralaskan tikar agar tak diambil oleh Ratu Bagus Gede Mecaling sebagai tumbal. Para tetua juga sering bilang kalau setiap sasih kanem dilangit kelam sering muncul sinar-sinar yang berkelebat yang merupakan peperangan antara para leak unjuk kesaktian.

Sebenarnya apakah memang seperti itu? Sayapun tak tau pasti. Namun hari ini saya tergerak untuk mengkait-kaitkan beberapa kejadian saja. Sasih kanem sering jatuh antara bulan November dan Desember yang dikenal sebagai musim penghujan, namun tak sepenuhnya hujan turun, cuaca terkadang panas terik dan tiba-tiba berubah hujan, angin kencang, petir ikut menyambar. Tak dielakkan beberapa daerah seperti Ketewel, Sukawati dan Denpasar tersapu angin puting beliung. Cuaca yang sangat tidak bersahabat atau musim pancaroba ini seringkali membuat penurunan kondisi fisik. Penyakit flu dan demam dengan mudah menyerang, keadaan diperparah dengan banyaknya lalat yang bertebangan kesana kemari menebar berbagai penyakit, alhasil kita menjadi diare. Jika memang watak sasih kanem seperti itu setiap tahunnya, kemungkinan dulu saat dikatakan banyak orang meninggal saat sasih kanem sebenarnya karena daya tahan tubuh yang lemah, sakit tanpa diobati dan kemudian meninggal.

Atau mitos lainnya lagi, konon kita sering diminta tidur di lantai beralaskan tikar saja agar kita tidak dijadikan tumbal oleh Ratu Bagus Gede Macaling, mungkin hal ini dikarenakan watak sasih kanem yang dipengaruhi oleh sasih katiga yang bersifat panas, sehingga setiap malam kita sering merasa gerah dan panas yang menyebabakan sulit tidur sehingga orang-orang merasa lebih sejuk tidur di lantai daripada diatas kasur, bukan seperti mitos yang dikatakan karena Ratu Bagus Gede Mecaling akan mengambil orang-orang yang tidur diatas kasur dan dijadikan tumbal, namun karena memang lebih sejuk tidur di lantai.

Tak ketinggalan cerita seram lainnya yang mengatakan tiap malam menjelang sasih kanem banyak ada sinar berkelebat dan itu adalah para leak yang sedang berperang mengadu kesaktian mereka, tapi jika dilihat dalam 2 hari belakangan ini saya memang sering bergadang untuk menyaksikan sinar yang berkelebat di langit kelam namun bukan untuk menyaksikan leak yang sedang berperang tapi menyaksikan serpihan meteorit yang bejatuhan mungkin sebenarnya para tertua kita dulu sebenarnya sedang menyaksikan bintang jatuh yang sering terjadi sekitar bulan November dan bukanlah leak yang sedang berperang.

Entahlah apakah itu benar atau mitos, saya juga tak tau pasti. Hanya satu yang pasti yang saya rasakan ketika memasuki awal sasih kanem, saya sangat disibukkan untuk melakukan ritual upacara.

Sebagai perempuan Bali yang tinggal di desa, masih sangat kental sekali ritual adat dan keagaamannya. Satu hari tersita untuk melakukan ritual. Ketika pagi menyongsong, saya awali untuk melakukan upacara kajeng kliwon dirumah sendiri, berkeliling rumah nyaris lebih dari tiga putaran, jongkok bangun menghaturkan segehan cukup membuat saya bercucuran keringat seperti aerobik. Mata perih karena asap dupa dan bau arak yang menyengat untuk sang bhuta kala. Dengan sarana itu diharapkan dapat menetralisir dan menjauhkan segala energi negatif yang ada dilingkungan rumah dan di dalam diri kita. Memang benar terbukti, energi negatif dari diri sayapun hilang, saya jadi tidak sempat marah atau berfikir yang tidak baik karena harus fokus pada ritual berikutnya dan fisik saya cukup kelelahan sehingga tak sempat menebarkan energi negatif dan memilih untuk minum kopi. (Berhasil kan ritualnya? J)

Siang hari di panas terik ritual dilanjutkan menuju pura di khayangan tiga yakni pura Desa, Puseh dan Dalem. Saya harus menjunjung 2 wadah banten yang cukup besar diatas kepala, cukup membuat leher terasa kaku. Bagaiaman tidak, banten itu berisikan beras, telur, kelapa, buah-buahan yang lebih dari 5 kilo yang dipersembahkan kembali kepada Ibu pertiwi, bumi tempat kita berpijak. Ritual upacara sebagai ungkapan terima kasih atas karunianya agar umat manusai selalu diberi keselamatan, dijauhkan dari mara bahaya, dan manusia disadarkan untuk menjaga keseimbangan alam agar tak murka. Walau keringat mengucur tak menghalangi ketulusan saya mempersembahkan dan menghaturkan bhakti kehahadapNya dalam bait doa yang tak henti saya panjatkan. Prosesi acara berlangsung hingga matahari tenggelam, setelah itu kembali kerumah untuk menghaturkan pecaruan di depan rumah untuk dipersembahakan kepada sang bhuta kala agar tak masuk kerumah.

Petang berganti malam, para sesuhunan-Ida Bhatara ( manifestasi Tuhan dalam bentuk Barong dan Rangda yang disakralakan ) tedun Ngunya - diusung berkeliling mengitari desa diikuti oleh seluruh warga untuk memberikan pemberkatan. Dentingan genta, semarak bunyi gamelan membuat hati riang, nyaring suara kidung membawa angan terbang menemui sang pencipta, semerbak wangi dupa menusuk sukma. Warga Desa dengan khusuk mengikuti, berjalan beriringan dalam doa mohon keselamatan untuk diri, keluarga, lingkungan dan alam semesta. Mohon kedamaian di jiwa, di dunia dan alam semesta.

Sesuhunan di usung melewati jalan dan gang kecil, menjadi tontonan yang menarik bagi para bule yang sedang duduk makan malam direstoran, bahkan lebih menarik dari makanan yang mereka pesan. Pada setiap persimpangan, sesuhunan berhenti sekitar 20 menit, dihaturkan pecaruan dengan ritual pemotongan ayam. entah berapa ekor Ayam yang mati pada hari itu di Bali untuk sebuah pelengkap upacara ritual, perlu kita ingat ayampun berperan untuk keselamatan semesta. Kemacetan yang begitu panjang tak terhindarkan, seluruh warga duduk sepanjang jalan.

Malam kian larut, posesi belum berakhir, kaki sudah mulai lelah, mata mengantuk dan perut keroncongan. Fikiran mulai tidak fokus dan bercabang, banyak godaan datang yang mengganggu bhakti saya. Ada satu hal berkelebat dalam benak saya ketika saya duduk di trotoar jalan menunggu pemangku menyelesaikan bait matranya. Kenapa sesuhunan desa kita bertandang ke desa sebelah (sebut saja desa T ) Tanya saya pada seorang tertua yang duduk disebelah saya, dijawabnya konon, bahan kayu dari sesuhunan di desa T tersebut diambil dari hutan kera di desa saya, sehingga secara otomatis sesuhunan tersebut memiliki kekerabatan persaudaraan. Benarkah seperti itu? Terus bagaimana dengan sesuhunan di desa tetangga lainnya sebut saja desa P yang juga kayunya diambil dari hutan kera? Seingat saya beberapa tahun yang lalu kami juga mengunjungi desa tersebut, namun kali ini tidak. Apakah karena wilayah yang harus dikunjungi terlalu jauh dan memakan waktu lama hingga subuh menjelang untuk ngunya? Tertua disebelah saya tak menyahut, sayapun diam. Kembali saya berfikir sendiri sembari mengusir rasa kantuk, teringat kejadian beberapa bulan sebelum sasih kanem tiba, ketika desa saya bersitegang dengan desa P mengenai urusan tapal batas desa yang hingga hari ini belum terselesaikan. Walau sekian kali terjadi pertemuan rahasia antara bapak bupati dan perwakilan pengurus desa tetap tidak ada titik temu. Hari ini sesuhunan tidak memberi pemberkatan ke wilayah desa P. Kenapa sesuhunan menjadi ikut terlibat dalam permasalahan ini? Sekala dan nisakala menjadi tanpa batas. Sebenarnya siapakah yang menentukan sesusuhan tersebut memberi pemberkatan ke desa tetangga? Apakah para pengurus mendapat pawisik dari sesuhunan atau para pengurus desa sendiri yang memutuskan?

Beberapa tahun belakangan ini nampaknya ada trend baru juga di bidang spiritual. Sesuhunan saling mengunjungi antara desa satu dengan desa lainnya. Tujuannya sangat mulia, memberikan pemberkatan untuk warga agar kita semua diberi keselamatan, rukun saling asah, asih dan asuh, mengingatkan bahwa kita semua adalah saudara, menatap matahari yang sama dan berpijak pada bumi yang sama. Tapi terkadang seperti ada kepala di balik udeng. Sesuhunan sepertinya dijadikan alat politik kekuasaan oleh para pengurus desa untuk menunjukkan kuasanya atas territorial wilayah tertentu. Semakin besar wilayah yang dituju semakin banyak memiliki massa. Kenapa sesuhunan dilibatkan dalam urusan ego manusia dan politik kekuasaan? Kenapa semua menjadi tiada batas dan bercampur aduk? Seperti fenomena persiapan pilkada saja, calon bupati AS ngayah menari kepura-pura yang bukan khayangan tiganya. Tak kalah juga dengan bupati B, walaupun tak bisa menari namun dia sangat rajin mebakti ke pura manapun, yang bukan pura khayangan tiganya juga. Mebakti dan menarikan sesuhunan pura khayangan tiga orang lain berarti pula mengambil hati warga yang menyungsung sesuhunan di pura tersebut. Fenomena sasih kanem yang memang aneh dan gerah.

Kaki saya sudah lelah sekali berkeliling, perut terasa keroncongan, dan tenggorakan terasa kering. Fikiran tidak bisa fokus kembali dalam bait doa-doa. Fikiran lain tersbersit kembali, bagaimana jika ternyata seluruh sesuhanan di Bali berkerabat, berarti setiap sasih kanem seluruh warga Bali akan berjalan berkeliling Bali ngunya ngiring ida betara, dapat dibayangkan betapa panjang deretan pengiringnya, angklung dari berbagai daerah mengiringi seperti festival PKB, butuh beberapa hari untuk berjalan, dan betapa macet seluruh jalan di Bali. Apakah akan ada kebijakan daerah libur 3 hari untuk menyambut sasih kanem? Seperti halnya tajen yang diusulkan untuk dibuyatkan perda?

Entahlah…

Mungkin tadi saya sempat tertidur sehingga saya mimpi buruk seperti diatas.

Saya butuh seteguk air, sesuap nasi dan istirahat

Bait matra telah diselesaikan oleh pemangku.

Sasih Kanem,

Mohon kami diselamatkan dari ego manusia yang semakin menjadi-jadi

Lindungi kami dari mara bahaya yang sejatinya diciptakan manusia

Jauhkan kami dari perang antar saudara

Manusialah bhuta kala itu

Manusialah Ida Ratu Bagus Gede Mecaling yang menjadikan saudara sendiri sebagai tumbal.

Sasih Kanem,

Selamatkan kami.

*** d.purnami

20 November 2007

Friday, October 12, 2007

Pengintai

Subuh itu matahari belum terbit

udara terasa dingin

mobil melaju kencang dalam jalanan yang sepi

berharap waktu melambat.

Subuh itu matahari belum terbit

jaket menghangatkan tubuh

motor dilaju kencang di jalan yang sama

berharap dapat bertemu sebelum burung besi itu terbang

Tak bertemu,

dan bukan berarti tiada harapan lagi

berdiam diri

pada waktu yang sama dan tempat berbeda

Tanpa bicara

Namun aku mendengarnya berbisik

Tak nampak

Namun aku merasakan keberadaannya

Tiada pelukan perpisahan

Namun seolah dia mendekapku

Sebenarnya, kita sedang pada waktu dan tempat yang sama

Dia tetap mengintai dalam setiap langkahku

Wajah murungku terekam olehnya

Kesedihan hatiku terbaca jelas.

Tetap mengintai

dia tak bergerak sedikitpun

tetap disitu hanya memandangku

dengan kesedihan dan kemurungan yang sama

Matahari telah terbit menghangatkan

Burung besi telah terbang

Kita berpisah

Tanpa sepatah kata namun penuh oleh rasa

Sang pengintai hanya memandang keatas.

***d.purnami

Juli 2007

Lasso

Diatas sebuah meja kayu yang berhiasakan setangkai lily putih.

Secangkir kopi ditemani boneka beruang yang bernama Lasso.

Dipandanginya lamat-lamat yang seukuran telapak tangan.

Seolah mengerti apa yang terfikir olehnya.

Tersenyum dia sendiri.

…………………………………………………..

Lagi dan lagi dia bergulir ke masa lampau

Lasso adalah teman kecilnya yang sempat di abaikannya.

Lama sekali waktu itu berlalu, kini kembali lagi di bongkar dari gudang.

Dia hanya mencari Lasso yang setangkup kecil.

Dulu boneka itu tak bernama, baru kali ini diberi nama, itupun diambil dari nama belakang salah satu penyayi lelaki yang dipujanya.

Kini Lasso sangat berarti baginya,

Memberi bau dan rasa nyaman yang berbeda.

Ada titipan hati pada tubuh mungilnya.

Juga sebuah kisah indah bagi perempuan yang kini tak kecil lagi

*** d.purnami

Agustus 2007

Wednesday, October 10, 2007

Pohon Jambu & perempuan kecil

Perempuan itu duduk di pojok bale menatap pohon jambu yang sudah tua dengan kulit pohon mengering dan berkeriput. Semua bangunan dirumah ini telah berubah. Dia teringat 18 tahun silam, dibawah pohon jambu itu dia sering berteduh dan bermain sendiri.

Perempuan kecil berkepang dua yang tak punya banyak teman.

Kegemarannya adalah menantang matahari, mengejar kupu-kupu, menangkap capung dan katak, berlari di pematang sawah ataupun menelusuri sungai yang jernih.

Disanalah perempuan kecil itu menemukan dunianya yang ceria dan tenang.

Sesekali dia harus memanjat pohon jambu untuk bersembunyi dari panggilan sang ibu.

Sahabatnya bukan teman sebaya namun para nenek di desa itu. Alasannya sangat sederhana, mereka tak pernah mengucilkannya atau memusuhinya.

Mereka selalu mengasihi dan memanjakannya dengan dongeng serta ketela rebus dan biji tiwul. Sebuah dongeng yang tak pernah mau diselesaikan, agar ada alasan baginya untuk mengunjungi sang nenek di esok hari.

Sebagai balasan dari kebahagiaanya, perempuan kecil itu cukup melipatkan daun sirih sang nenek yang gemar menginang sirih.

Sudah cukup lama masa itu telah lewat, namun masih teringat jelas di benak perempuan yang tak lagi kecil dan berkepang dua.

Ah… mereka semua kini telah menjadi leluhur yang disembah oleh keturunannya.

Perempuan itu beranjak dari bale dan mengambil satu dupa menancapkannya di bawah pohon jambu sembari mengusap lengan.

“Untuk mereka yang telah pernah menyayangiku serta dongeng kalian yang tak pernah usai, aku terkenang kasih kalian”

Esok semua kenanganku dirumah ini akan hilang, pohon jambu itupun akan ditebang.

Tuesday, October 9, 2007

Jeda

Pada sebuah waktu, kosong dan luang.

Sebuah jeda yang kurindukan.

Cukup lama tak menuliskan apapun pada Galang bulan, seolah purnama tersaput awan. Memang cukup tidak adil menelantarkan wadah yang selama ini menampung seluruh inspirasiku.

Butuh Jeda sesaat.

Kini aku kembali lagi untuk sekedar bercerita tentang hal yang kulalui. Sekian lama bergaul dengan para sastrwan membuatku lupa akan bagaiaman menuliskan sebuah kisah.

Pada sebuah pagi awal oktober

Kuterbangun oleh pesan singkat yang masuk, ucapan terima kasih dari para penulis yang telah kembali kedaerah serta negaranya masing-masing. Aku tersenyum lega hajatan para sastrawan “Ubud Writers & Readers Festival” telah berakhir dengan lancar, seolah flu dan pegal disekujur tubuh cukup terbayarkan. Fyuh.. enam hari yang cukup berat telah kulalui dengan semangat, gairah, senyuman, tekanan serta air mata yang membuat hatiku mengharu biru. Semua telah ditutup dengan seikat bunga dan tatapan mata dalam yang bersetia menemani.

Teruntuk mereka yang telah bersetia padaku melewati masa sulit, ku ucapkan terima kasih untuk waktu dan perhatiannya. Sudah kurindukan kembali satu minggu itu..

Pakaian aku masukkan ke dalam tas dengan lambat.

Thanks! Jeda itu akhirnya datang

Waktu luang yang kurindu.

Tuesday, September 4, 2007

Dadong Nyadet

Malam terasa dingin

Anjingpun tak hentinya melolong panjang

Sebuah cerita hidup telah berakhir

Tak ada yang menangisi kematiannya

Hanya anjing yang terus melolong

Hingga buatku terjaga

Seklumit kisah kulewati besamanya

Harusnya tak cukup buatku bersedih hati

Tapi aku masih memikirkannya

Belum tuntas aku menuliskan

Satu kisah sederhana tentang dia

Nenek tua renta yang hidup sendiri

Di sebut gila oleh kebanyakan

Atau malah mereka yang kebanyakan gila

Hingga akhir nafasnya

Aku belum membelanya

Dadong Nyadet,

Dengan cincin jinar

Dan kembang jepun

Aku belum selesai menuliskanmu.

Ubud, 31 Agutus 2007

Saturday, June 23, 2007

setahun yang lalu dan hari ini

Setahun yang lalu,

pertama kali kuberbagi

tak hanya ruang namun keseluruhan hidupku


Satu tahun sudah terlewati,

saat mata tak bisa memejam

hanya mampu meneteskan air mata


Melebur jadi satu,

kau miliku

aku milikmu


Setahun berlalu,

kita arungi bersama

dengan kasih.


Hari ini,

alam memberikan ruang

waktu menjadi luang


Ada aku, kamu dan kesempatan

kau mengenalku lebih dalam

menyapa pada tubuh dan jiwa yang sakral


23 Juni 2006-2007

Atas nama cinta

***d.purnami

Friday, June 15, 2007

Jangan Ragukan Aku

ada jarak

jeda sesaat

waktu tak sama


tak terlihat mata

tak tersentuh

tak yakin


kata tak beri arti

laku tak mampu tunjukkan


diam..

sendiri..

hanya berbisik

pada jiwa


Jangan ragukan aku.

***d.purnami
15 Juni 2007

Wednesday, June 13, 2007

Waktu

Bagai sebuah perjalanan kisah panjang kehidupan,

pencarian dalam tanya.

hingga sampai pada sebuah titik waktu

ada kamu dan aku

dipertemukan oleh waktu.

berdua,

diberi kesempatan tuk berbagi

mengukir cerita baru tentang cinta.

menoreh kenangan penuh makna

tuk diresapi dalam hati

Bersamamu,

mengarungi kesederhanaan pemaknaan cinta.

mengemban cinta dengan arif

menyayangi tanpa ada yang terluka

kau telah sentuh satu rasa

yang hanya kubagi denganmu


***d.purnami

13 Juni 2007

Thursday, June 7, 2007

Dalam Secangkir Kopimu

Aku wanita,
yang akan dengan senang hati
menyeduhkan secangkir kopi
untuk kekasih hati


Dalam secangkir kopimu
gula adalah senyuman termanisku
kopi adalah semangatku
panasnya air adalah kehangatanku


Kuramu dengan keintiman rasa
reguklah
alirkan ke dalam darah
Agar aku ada dalam tubuhmu


*** d.purnami
Ubud, 3 Juni 2007.

Pada suatu pagi

-------Aku dan mentari

Mentari menyapa

Pancarkan hangat cahaya

Menelisik lewat celah jendela

Padanya kutitipkan

Senyumku untukmu


---------Aku dan Angin

…dan

Angin berhembus tenang

Menerbangkan sisa daun kering

Memberi sejuk di hati

padanya pula kutitipakan satu pelukan


--------Aku dan burung

Seolah tak ingin melewatkan

Sebuah pagi yang indah

Burungpun berkicau merdu

Terbang rendah menjejak pertiwi

Saling menyapa

Padanya kutitipkan juga nyanyian hati

Pada suatu pagi yang tenang

Yang ingin kunikmati bersamamu.

***d.purnami
Ubud, 3 Juni 2007

Monday, May 28, 2007

lelah

aku tak cukup kuat

untuk mengejar

satu titik cahaya

yang ingin kugapai


lorong gelap itu

terlalu panjang

berliku

tak ada arah

tak ada petunjuk


aku lelah

ingin istirahat sejenak

merenungi

perjalanan panjang


aku merindukan

tarian jiwa

nyanyian hati


aku merindukan

adanya diriku

seutuhnya

*** d.purnami

28 Mei 2007

Senja

duduk diantara kursi kosong

menjadi saksi jatuhnya senja

menikmati semilir angin

hampir dua jam

berceloteh tentang hal yang terlintas di benak

menertawakan kekonyolan hidup

memberi hangat suasana dalam keakraban


menyeruput kopi yang mengepul

mengisap dalam rokok kretek

dan mereguk anggur merah

kutatap dirimu


dalam setiap tegukan kopi

ku tahu kau menelan kenyataan

dalam setiap isapan rokokmu

kutahu kau katakana betapa kau cinta padaku

dalam setiap hembusan asapmu

ku tahu kau betapa menginginkanku

dan dibawah anggur merah

kau ingin berteriak


senja berganti petang

aku belum beri kau isyarat


***d.purnami
23 Mei 2007

Kembali

petang telah datang
tak lagi ramai
kitapun harus berpisah
akhiri cerita hari ini

tubuhmu telah menghilang
tak lagi nampak
akupun membalikkan badan
menyusuri jalan

tapi
aku kembali lagi
ketempat itu
duduk seorang diri

menghayati waktu yang terlewati
menghirup bau yang tertinggal
mengingat setiap kata yang terucap
merasakan hangatnya hati

***d.purnami
Ubud, 26 Mei 2007

Monday, May 14, 2007

kehangatan

bukan karena syal yang kau balutkan

atau jaket yang kau pinjamkan

ataupun anggur merah yang kuteguk


kehangatan yang begitu dalam

jauh, di dasar lubuk hati

menjalar

mengalir

dalam darah

dalam hembusan nafas


kehangatan jiwa

beri bahagia

beri damai

begitu nikmat dan nyaman kurasa


kehangatan yang teramu dari

kejujuran

tulus hati

cinta

kasih sayang


*** d.purnami

Friday, May 11, 2007

sebuah kesempurnaan

Aku tahu

Kau ingin nampak sempurna

Lakukan yang terbaik

Tanpa cela sedikitpun


Tapi satu hal,

Kesempurnaan

Tak akan beri arti

Tanpa

Kejujuran



*** d.purnami, May 2007

mengetuk dan menutup

aku sadar tak akan pernah bisa menggenggammu

kau bagai angin, tak nampak namun terasa


jika suatu saat kau harus pergi

tutuplah pintu itu

jangan tinggalkan bantingan keras

memekakkan telinga dan luka

pamitanlah dengan senyum


sama seperti ketika dulu kau datang

mengetuk dengan sopan dan halus

menunggu

tersenyum


*** d.purnami, May 2007

jangan beri aku lebih

jangan beri aku cinta

atau hanya sekedar ucap & ungkap rasa suka

cukup kasih sayang yang tulus


jangan beri aku ciuman

aku hanya butuh pelukan

atau pinjamkan sesekali pundakmu untuk bersandar

sekedar tuk melepas gelisah


Jangan pandangi dada, pingul dan jenjang betisku

Tapi tataplah mataku

kau juga kan rasakan nikmat terdalam


Jangan sentuh leherku tuk bangkitkan gairah

cukup genggam erat tanganku


jangan beri aku lebih


*** d.purnami, May 2007

Sunday, May 6, 2007

aku dan ketakutanku

cemas,
resah,
gelisah,

waktu terasa lama
membuat hati semakin resah
menghirup nafas dalam
sekedar tenangkan hati
yakinkan diri semua akan berjalan lancar
keringat dingin mengucur
menambah ketakutan

pintu terbuka
ramah sapanya
seolah ingin tenangkan gelisah

genggaman tangan harus kulepas
melangkah seorang diri
tanpa menoleh kebelakang

sepi
hanya aku dan dia
sorot lampu silaukan mata
aku semakin bergetar

telinga mendengung
lidah kelu
tak ingin ucap kata
takut semakin menyergap

tangan halus
dentingan alat bersentuhan

perih...
tersayat...
nyeri..
mengerang..
mengejang...

aku masih sendiri diruangan itu
kubuka mata
semua telah selesai
dia tersenyum
semua segera baik-baik saja.