' Sudahlah mas, aku sudah tak kuat lagi menghadapimu'
( Lelaki itu diam dan tetap membenahi tali pancingnya)
' Anak kita sudah 15 tahun, selama itu kamu tidak pernah memberi nafkah sama keluarga, aku sudah lelah mas'
(Lelaki itu kini menyulut rokoknya)
' Rumah ini mau kujual mas, kamu harus menanda tangani surat-surat ini. Aku berhak atas rumah ini, karena dulu aku yg membelinya, dengan jerih payahku.'
( Lelaki itu membuka dompetnya yg lusuh, sangat gampang menemukan KTP nya krn tak ada lembaran uang yg menghalangi)
' Anak-anak akan aku bawa tinggal dirumah ibu, aku akan pindahkan barang besok. Pembeli rumah ini akan datang lusa untuk pembayarannya'
(Lelaki itu memasukkan pancingnya ke ransel beserta beberapa lembar pakaian)
'Mas, terima kasih telah menanda tangani surat cerainya'
( Lelaki itu sudah menghilang di balik gerbang berjalan kaki menuju gang)
Klandis - ubud
D purnami.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Monday, July 27, 2009
Sunday, July 26, 2009
Koma (---- , ----)
Tomi baru saja lulus smp, saat ini sedang mencari sekolah menengah umum.
Dia tak lulus di sekolah yg di idamkan.
Bapaknya pun sangat marah terhadapnya.
Tomi sedang makan mie sendiri, sejak tak lulus disekolah idamannya dia agak pendiam.
Masih makan mie,Bapaknya datang menghampiri, sembari memarahi Tomi.
Mie Tomi sudah habis dipiring, bapaknya masih tetap marah.
Tomi beranjak dari meja makan dan tak selang berapa menit, dia pingsan.
Tomi tak sadarkan diri, hingga di larikan ke rumah sakit, dokter bilang pembuluh darah otaknya pecah.
Tomi koma sudah 2 minggu lebih.
Bapak menangis terus.
----------- ,
Jika Tomi sadar aku ingin menemuinya dan bertanya
' Dik, bagaimana caranya agar bisa koma?'
Ubud, 26 Juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dia tak lulus di sekolah yg di idamkan.
Bapaknya pun sangat marah terhadapnya.
Tomi sedang makan mie sendiri, sejak tak lulus disekolah idamannya dia agak pendiam.
Masih makan mie,Bapaknya datang menghampiri, sembari memarahi Tomi.
Mie Tomi sudah habis dipiring, bapaknya masih tetap marah.
Tomi beranjak dari meja makan dan tak selang berapa menit, dia pingsan.
Tomi tak sadarkan diri, hingga di larikan ke rumah sakit, dokter bilang pembuluh darah otaknya pecah.
Tomi koma sudah 2 minggu lebih.
Bapak menangis terus.
----------- ,
Jika Tomi sadar aku ingin menemuinya dan bertanya
' Dik, bagaimana caranya agar bisa koma?'
Ubud, 26 Juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dialog suami istri # 1
' Makan buburnya sayang'
'Aku tidak mau! '
' Ayolah paksakan dikit, biar ada isi perutmu'
' Ah malas, nanti palingan muntah lagi'
' Came on, kasihan bayi nya, kalau kamu tak makan, dia dapat gizi dari mana?'
'Kenapa kamu peduli sekali?'
' Karena aku sayang dengan kalian'
' Arghh, bayi ini bukan anakmu! Dia bukan berasal dari darah dan dagingmu, dia anak lelaki lain yg kucinta! '
' Ya, walopun bukan buah karyaku, tapi kamu adalah istriku.
Dan bayi itu akan kubesarkan layaknya anakku, walopun lelaki yg kamu cinta sekarang menghilang entah kemana.
Aku mencintaimu melebihi siapapun di dunia ini, sayang'
' ( Istri: hanya terus menangis sembari muntah)
Ubud, 26 Juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®
'Aku tidak mau! '
' Ayolah paksakan dikit, biar ada isi perutmu'
' Ah malas, nanti palingan muntah lagi'
' Came on, kasihan bayi nya, kalau kamu tak makan, dia dapat gizi dari mana?'
'Kenapa kamu peduli sekali?'
' Karena aku sayang dengan kalian'
' Arghh, bayi ini bukan anakmu! Dia bukan berasal dari darah dan dagingmu, dia anak lelaki lain yg kucinta! '
' Ya, walopun bukan buah karyaku, tapi kamu adalah istriku.
Dan bayi itu akan kubesarkan layaknya anakku, walopun lelaki yg kamu cinta sekarang menghilang entah kemana.
Aku mencintaimu melebihi siapapun di dunia ini, sayang'
' ( Istri: hanya terus menangis sembari muntah)
Ubud, 26 Juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Ruwatan
'Nak, Kata lontar yg dibacakan pendeta,kelahiranmu tepat pada hari yg tak baik.'
' Hah?! Siapa yg menentukan hari itu baik dan tidak?
Bu, bagiku hari kelahirankulah yg terbaik. Kalo tak baik, buat apa aku merayakannya tiap kali hari itu datang?'
' Harimu itu dipengaruhi oleh banyak hal yg bersifat negatif. Dijabarkannya pada lontar itu sifatmu keras kepala, tak bisa diatur, mau menang sendiri.
Hidupmu juga akan sengsara, sial, dan sering kena bencana.
Yg ibu takutkan adalah kamupun akan sering sakit-sakitan.'
Aduh bu, kenapa tak ada hal baik satupun yg dikatakan lontar itu tentangku?
Gini bu, jika kepalaku tak keras dan lembek seperti kue moci, mungkin aku tak akan berdiri seperti sekarang ini dan tegar memeluk ibu.
Jika aku penurut akupun sudah pasti tak jadi seniman yg ibu tentang sejak kecil, mungkin aku sudah jadi pegawai.
Atau jika aku tak mau menang sendiri, aku mungkin sudah menjadi pecundang kalah yg tau bagaimana harus menjadi manusia yg minimal berguna bagi ibu'
'Arghhh Tapi nak, hidupmu akan sial dan kena bencana terus'
' Loh?! Ingat bu, bukankah sengsara, bencana dan kesialan sudah menjadi kawan baiku selama ini, aku tak menganggap itu hal buruk yg menimpa diriku, tapi hal yg selalu menguatkanku menghadapi hari ini'
' Ibu semakin takut jika kamu tak diruwat kamu akan sakit-sakitan nak, ibu cuma punya kamu sekarang, ibu ga mau kehilangan kamu'
'Bu, manusia itu ditakdirkan untuk lahir, tumbuh hidup, sakit dan mati'
Sakit bukan urusan lontar bu, tapi sakit karena tak mampu menjaga tubuh agar sehat.
Wajarlah kalau sakit jika pola hidupku kacau seperti ini, aku ngopi banyak, ngerokok, dan minum akohol.
A ku yg membuat diriku sakit bu, bukan hari lahirku'
'Ibu tak mau tau, pokoknya kamu harus diruwat'
'Berapa biayanya ruwatan itu bu?'
' Kata pendetanya 3 juta nak'
' Ah ibu, uang dari mana sebesar itu?,
Kini aku tau kenapa aku akan sial, sakit dan sengsara bu.
Aku mulai pusing mencari uang sebanyak itu hanya untuk ruwatan'
Ubud, 26 juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®
' Hah?! Siapa yg menentukan hari itu baik dan tidak?
Bu, bagiku hari kelahirankulah yg terbaik. Kalo tak baik, buat apa aku merayakannya tiap kali hari itu datang?'
' Harimu itu dipengaruhi oleh banyak hal yg bersifat negatif. Dijabarkannya pada lontar itu sifatmu keras kepala, tak bisa diatur, mau menang sendiri.
Hidupmu juga akan sengsara, sial, dan sering kena bencana.
Yg ibu takutkan adalah kamupun akan sering sakit-sakitan.'
Aduh bu, kenapa tak ada hal baik satupun yg dikatakan lontar itu tentangku?
Gini bu, jika kepalaku tak keras dan lembek seperti kue moci, mungkin aku tak akan berdiri seperti sekarang ini dan tegar memeluk ibu.
Jika aku penurut akupun sudah pasti tak jadi seniman yg ibu tentang sejak kecil, mungkin aku sudah jadi pegawai.
Atau jika aku tak mau menang sendiri, aku mungkin sudah menjadi pecundang kalah yg tau bagaimana harus menjadi manusia yg minimal berguna bagi ibu'
'Arghhh Tapi nak, hidupmu akan sial dan kena bencana terus'
' Loh?! Ingat bu, bukankah sengsara, bencana dan kesialan sudah menjadi kawan baiku selama ini, aku tak menganggap itu hal buruk yg menimpa diriku, tapi hal yg selalu menguatkanku menghadapi hari ini'
' Ibu semakin takut jika kamu tak diruwat kamu akan sakit-sakitan nak, ibu cuma punya kamu sekarang, ibu ga mau kehilangan kamu'
'Bu, manusia itu ditakdirkan untuk lahir, tumbuh hidup, sakit dan mati'
Sakit bukan urusan lontar bu, tapi sakit karena tak mampu menjaga tubuh agar sehat.
Wajarlah kalau sakit jika pola hidupku kacau seperti ini, aku ngopi banyak, ngerokok, dan minum akohol.
A ku yg membuat diriku sakit bu, bukan hari lahirku'
'Ibu tak mau tau, pokoknya kamu harus diruwat'
'Berapa biayanya ruwatan itu bu?'
' Kata pendetanya 3 juta nak'
' Ah ibu, uang dari mana sebesar itu?,
Kini aku tau kenapa aku akan sial, sakit dan sengsara bu.
Aku mulai pusing mencari uang sebanyak itu hanya untuk ruwatan'
Ubud, 26 juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Saturday, July 25, 2009
Biar sama!
'Pak, giwang mana yg sebaiknya aku pakai ke acara resepsi mantanmu? '
'Pakai yg sederhana sajalah buk, yg menikah kan bukan kamu, nanti kalau giwangmu lebih besar dari pengantinnya, malah bawa petaka bagiku.'
'Loh, aku kan ingin menunjukkan diriku lebih dari mantanmu pak.'
------------
'Pak, aku pakai minyak wangi yg mana?'
'Pakai saja kenanga.'
'Heh?! Memang aku mau ke kuburan pakai kenanga.'
'ya kalau pakai melati, dikira kau pengantinnya lagi.'
'Ya, aku kan juga ingin harum seperti pengantinnya.'
-------
'Pak, rambutku disasak dan digelung lebih bagus kan? Perlu kutambahi hiasan bunga?'
'Jangan terlalu tinggi sasaknya bu, nanti mempelai wanitanya tak kelihatan.'
'Biar sajalah pak, biar sama tinggiku dengannya.'
'Buk, aku sudah menikahimu, apa ibu mau aku menikahi mantanku lagi agar sama?'
Ubud, 25 juli
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®
'Pakai yg sederhana sajalah buk, yg menikah kan bukan kamu, nanti kalau giwangmu lebih besar dari pengantinnya, malah bawa petaka bagiku.'
'Loh, aku kan ingin menunjukkan diriku lebih dari mantanmu pak.'
------------
'Pak, aku pakai minyak wangi yg mana?'
'Pakai saja kenanga.'
'Heh?! Memang aku mau ke kuburan pakai kenanga.'
'ya kalau pakai melati, dikira kau pengantinnya lagi.'
'Ya, aku kan juga ingin harum seperti pengantinnya.'
-------
'Pak, rambutku disasak dan digelung lebih bagus kan? Perlu kutambahi hiasan bunga?'
'Jangan terlalu tinggi sasaknya bu, nanti mempelai wanitanya tak kelihatan.'
'Biar sajalah pak, biar sama tinggiku dengannya.'
'Buk, aku sudah menikahimu, apa ibu mau aku menikahi mantanku lagi agar sama?'
Ubud, 25 juli
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Aku tak punya bapak.
Aku tak punya bapak.
Aku juga,
Aku juga tak punya,
Aku sama seperti kalian akupun tak punya.
Bapaku meninggal karena sakit.
Kalau bapakku karena ditabrak orang.
Sedangkan bapakku pergi begitu saja meninggalkan aku dan ibuku- lenyap menghilang tak bertanggung jawab.
Hmmm kalau aku bapakku lenyap tak bersisa, mayatnyapun tak ditemukan. Sempurna hilangnya.
Ubud, 25 juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Aku juga,
Aku juga tak punya,
Aku sama seperti kalian akupun tak punya.
Bapaku meninggal karena sakit.
Kalau bapakku karena ditabrak orang.
Sedangkan bapakku pergi begitu saja meninggalkan aku dan ibuku- lenyap menghilang tak bertanggung jawab.
Hmmm kalau aku bapakku lenyap tak bersisa, mayatnyapun tak ditemukan. Sempurna hilangnya.
Ubud, 25 juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Friday, July 24, 2009
Monyet !
Saat ini kita akan membahas versi monyet.
Setiap kita berkelakuan lucu, memalukan, atau saat apes di olok-olok oleh teman, kerapkali kita diidentikkan dengan monyet.
Tapi bagaiamanapun setiap orang memandang monyet. Tetap kita merasa tak nyaman disebutnya monyet.
Sebegitu tebalkah sekat derajat kita dengan monyet?
Haruskah kita memaksa diri untuk nampak lebih anggun atau tampan dan beradab demi tak disebutnya monyet?
Panggil saja aku monyet. Aku tak malu untuk tampak tak beradab.
d. purnami
25 Juli 2009
Setiap kita berkelakuan lucu, memalukan, atau saat apes di olok-olok oleh teman, kerapkali kita diidentikkan dengan monyet.
Tapi bagaiamanapun setiap orang memandang monyet. Tetap kita merasa tak nyaman disebutnya monyet.
Sebegitu tebalkah sekat derajat kita dengan monyet?
Haruskah kita memaksa diri untuk nampak lebih anggun atau tampan dan beradab demi tak disebutnya monyet?
Panggil saja aku monyet. Aku tak malu untuk tampak tak beradab.
d. purnami
25 Juli 2009
Tuesday, July 21, 2009
Anjing!
Anjing! Sialan ! Bangsat!
Kenapa Anjing selalu diidentikkan dengan umpatan kasar? Ketika orang marah selalu memakai kata Anjing sebagai pelampiasan kekesalan terhadap orang yg diumpat. Padahal Anjing itu tidak pernah kasar terhadap manusia, anjingpun tak pernah mengumpat saat marah, palingan cuman menggeram, tak ada kata yg keluar dari mulut anjing yg selalu dianggap kasar misalnya “ dasar Manusia!, Sialan !. pernahkah kita dengar? ( kalo kalian pernah dengar, saranku larilah sekencang mungkin, ketempat ramai, itu pasti siluman anjing setengah manusia)
Jadi siapa yang sebenarnya kasar? Manusia apa anjing?
Selamat datang di dunia anjing.
Yang tak lagi makan tai
Yang sebenarnya tak suka makan tulang.
Anjing suka makan daging, bukan tulang, tapi manusia juga suka makan daging, jadi?
Lagi-lagi anjing mengalah untuk makan tulang saja.
Jadi siapa yg mau memang sendiri?
Anjing selalu tidur kedinginan diluar menjaga tuannya, menggonggongi manusia yg dicurigai seperti arahan tuannya.
Apakah tuannya pun tak patut dicurigai?
Anjing sebenernya tak patut bermusuhan dengan manusia,
Anjing kamu cukup bermusuhan dengan teman anjingmu saja!
Atau kucing tetangga yg sering menggeliat di depanmu .
d.purnami
Ubud, 19 Juli 2009
Kenapa Anjing selalu diidentikkan dengan umpatan kasar? Ketika orang marah selalu memakai kata Anjing sebagai pelampiasan kekesalan terhadap orang yg diumpat. Padahal Anjing itu tidak pernah kasar terhadap manusia, anjingpun tak pernah mengumpat saat marah, palingan cuman menggeram, tak ada kata yg keluar dari mulut anjing yg selalu dianggap kasar misalnya “ dasar Manusia!, Sialan !. pernahkah kita dengar? ( kalo kalian pernah dengar, saranku larilah sekencang mungkin, ketempat ramai, itu pasti siluman anjing setengah manusia)
Jadi siapa yang sebenarnya kasar? Manusia apa anjing?
Selamat datang di dunia anjing.
Yang tak lagi makan tai
Yang sebenarnya tak suka makan tulang.
Anjing suka makan daging, bukan tulang, tapi manusia juga suka makan daging, jadi?
Lagi-lagi anjing mengalah untuk makan tulang saja.
Jadi siapa yg mau memang sendiri?
Anjing selalu tidur kedinginan diluar menjaga tuannya, menggonggongi manusia yg dicurigai seperti arahan tuannya.
Apakah tuannya pun tak patut dicurigai?
Anjing sebenernya tak patut bermusuhan dengan manusia,
Anjing kamu cukup bermusuhan dengan teman anjingmu saja!
Atau kucing tetangga yg sering menggeliat di depanmu .
d.purnami
Ubud, 19 Juli 2009
Tuesday, April 21, 2009
Status of Symbol
Jika kamu seorang manager di sebuah perusahaan, atau kamu menduduki jabatan yg cukup tinggi dan berpengaruh diperusahaanmu. Bagaimana kira- kira penampilanmu?
Apakah kamu akan mencari segala sesuatu yg mendukung dirimu untuk menunjang statusmu? Atau kamu akan tetap tampil sederhana?
Seorang teman pernah memberiku hadiah Bolpoint Parker.
“ Kamu seorang manager, hargai dirimu. Biar kalo tanda tangan MOU ga pake bolpoint murahan atau parahnya minjem kekolegamu” ( seperti yg sering kulakukan)
Tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya bahwa semakin tinggi jabatan ada sedikit tuntuan yg tidak penting untuk mendukung statusmu.
Mungkin seorang manager memang perlu memperhatikan statusnya; perlu mobil agar tak kepanasan dijalan apalagi sampai berkeringat dan bau terik matahari ketika rapat, pakai telp selular terkini yg terkategori smartphone:Blackberry, Iphone ato PDA untuk diletakkan diatas meja saat rapat. Tak hanya handphonenya saja yg diperhatikan providernya juga perlu, langgangan yag pasca bayar, karena tak lucu saat harus menelfon kolega pulsa habis, ga mau malu kan? Dan saat presentasi laptop Apple yg putih dan tipis yg nampak elegant akan menarik perhatian. Tak hanya itu, di sela kekosongan waktu selain bermain dengan smartphonemu untuk mengatur jadwal dan mengganti status Facebookmu, juga perlu mengeluarkan Ipod untuk sekedar mendengarkan lagu favoritmu.
Terus bagaiaman dengan pakaian, tas dan sepatu? Nampaknya merek memang memegang peranan, setelan blazer dari Gucci, Vercasse, Louis Vuiton, akan cantik sekali, tapi apakah mampu di gapai dengan gaji seorang manager? Hahahah..
yah minimal crocslah untuk dandanan santaimu.
Selain itu, parfum dan kosmetik merupakan pendukung juga, merek The Body shop pilihan yg tepat untuk menunjukkan dirimu bahwa kamu wanita yg mencintai bahan alami dan sepakat dengan perjuangan Dame Anita Roddick.
Tak lupa tentang rambut jgn dibiarkan memutih atau malah menguning bekas cat rambut yg lawas biarkan Loreal Profesional menjadi temanmu.
Untuk menghindari matamu dari sinar matahari sunglases Oakley terbaru akan cantik menjadi temanmu, apalagi khusus seri yg menyumbang untuk kanker atau HIV Aids akan lebih menunjang statusmu sebagai orang yg peka tehadap isu sosial.
Jadi mencantumkan status sebagai seorang manager dalam kartu namamu bukan hal yg sederhana. Tapi tetep bisa disederhanakan dengan berbagai pertimbangan lain.
Begitulah sebuah status memposisian dirimu dan menguras isi kantongmu untuk sebuah simbol.
Ubud,
21 April 2009, 16.30
Apakah kamu akan mencari segala sesuatu yg mendukung dirimu untuk menunjang statusmu? Atau kamu akan tetap tampil sederhana?
Seorang teman pernah memberiku hadiah Bolpoint Parker.
“ Kamu seorang manager, hargai dirimu. Biar kalo tanda tangan MOU ga pake bolpoint murahan atau parahnya minjem kekolegamu” ( seperti yg sering kulakukan)
Tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya bahwa semakin tinggi jabatan ada sedikit tuntuan yg tidak penting untuk mendukung statusmu.
Mungkin seorang manager memang perlu memperhatikan statusnya; perlu mobil agar tak kepanasan dijalan apalagi sampai berkeringat dan bau terik matahari ketika rapat, pakai telp selular terkini yg terkategori smartphone:Blackberry, Iphone ato PDA untuk diletakkan diatas meja saat rapat. Tak hanya handphonenya saja yg diperhatikan providernya juga perlu, langgangan yag pasca bayar, karena tak lucu saat harus menelfon kolega pulsa habis, ga mau malu kan? Dan saat presentasi laptop Apple yg putih dan tipis yg nampak elegant akan menarik perhatian. Tak hanya itu, di sela kekosongan waktu selain bermain dengan smartphonemu untuk mengatur jadwal dan mengganti status Facebookmu, juga perlu mengeluarkan Ipod untuk sekedar mendengarkan lagu favoritmu.
Terus bagaiaman dengan pakaian, tas dan sepatu? Nampaknya merek memang memegang peranan, setelan blazer dari Gucci, Vercasse, Louis Vuiton, akan cantik sekali, tapi apakah mampu di gapai dengan gaji seorang manager? Hahahah..
yah minimal crocslah untuk dandanan santaimu.
Selain itu, parfum dan kosmetik merupakan pendukung juga, merek The Body shop pilihan yg tepat untuk menunjukkan dirimu bahwa kamu wanita yg mencintai bahan alami dan sepakat dengan perjuangan Dame Anita Roddick.
Tak lupa tentang rambut jgn dibiarkan memutih atau malah menguning bekas cat rambut yg lawas biarkan Loreal Profesional menjadi temanmu.
Untuk menghindari matamu dari sinar matahari sunglases Oakley terbaru akan cantik menjadi temanmu, apalagi khusus seri yg menyumbang untuk kanker atau HIV Aids akan lebih menunjang statusmu sebagai orang yg peka tehadap isu sosial.
Jadi mencantumkan status sebagai seorang manager dalam kartu namamu bukan hal yg sederhana. Tapi tetep bisa disederhanakan dengan berbagai pertimbangan lain.
Begitulah sebuah status memposisian dirimu dan menguras isi kantongmu untuk sebuah simbol.
Ubud,
21 April 2009, 16.30
Hari Kartini
Apakah hari kartini sekarang diperingati hanya dengan berkebaya? Sebagai simbol sebuah keperempuanan?
Apakah Kartini hanya identik dengan pejuang wanita yg tangguh dan berani memperjuangkan hak kaumnya?
Kini di kalender sudah pasti tercetak tanggal 21 April sebagai hari Kartini yg terus akan diperingati. Karena tidak mungkin akan meloncati tanggalan tersebut.
Aku tak berkebaya, akupun tak berjuang, tak pula memperingati. Karena kau bukan Kartini
Tapi aku perempuan. ( hanya itu yg kuingat)
Para aktivis perempuan berjuang untuk hak perempuan, kebebasan perempuan serta kesetaraan gender. ( Pejuang Kartini garis depan jika boleh disebut)
Banyak sekali para Kartini yg berada di garis depan untuk memperjuangkan kaumnya. Namun jauh lebih banyak para Kartini yg berada di garis belakang: menikmati menjadi ratu, tinggal dirumah mewah, memiliki pembantu banyak, bangun siang, aktivitasnya ; shoping, ke salon, arisan, ngerumpi sembari memamerkan kekayaan - ( Kartini yg berada di garis belakang,- lagi lagi jika boleh disebut seperti itu)
Adakah yg salah antara kartini tersebut? – Kartini pejuang garis depan dan Kartini pejuang garis belakang?
Tak ada yang salah, semua itu pilihan. Memilih posisi mau berada di depan atau di belakang. Toh keduanya adalah perempuan yang sama-sama memegang posisi, yg secara mendasar juga diikutkan dalam perjuangan kaum perempuan.
Tak ada parameter untuk mengukur, semua sah-sah saja. Semua alasan bisa diterima.
Habis Gelap Terbitlah Terang – Kartini pejuang garis depan selalu mematri itu dalam benaknya untuk selalu membawa terang bagi kaumnya. Tiada mimpi yg jadi kenyataan tanpa kerja keras dapat diartikan seperti itu.
Namun Kartini yg lain tak perlu bersusah payah melewati gelap untuk menyongsong terang, tinggal tidur dan mimpipun jadi nyata.
Kemudian apakah ada yang salah?
Tetap tidak ada yg salah. Semua itu pilihan, mau bekerja keras atau tinggal tidur- tetep sama; mimpi itu akan tetap jadi kenyataan yg sama. Mereka sama-sama perempuan dan sama-sama Kartini.
Selain kaum perempuan sendiri yg menghianati ke Kartinian ini, adakah pihak lain yg mempengaruhi terciptanya Kartini jenis baru ini?
Tetap tidak menyalahkan siapapun,
Cuman tersenyum,
Teringat kenyataan lain bahwa; Kaum lelaki sangat menikmati menciptakan para Kartini baru tersebut.
Semua itu pilihan, tiada yg salah, semua berbahagia pada porsinya masing-masing.
Ubud,
21 April 2009. Pk. 15.00 wita
Apakah Kartini hanya identik dengan pejuang wanita yg tangguh dan berani memperjuangkan hak kaumnya?
Kini di kalender sudah pasti tercetak tanggal 21 April sebagai hari Kartini yg terus akan diperingati. Karena tidak mungkin akan meloncati tanggalan tersebut.
Aku tak berkebaya, akupun tak berjuang, tak pula memperingati. Karena kau bukan Kartini
Tapi aku perempuan. ( hanya itu yg kuingat)
Para aktivis perempuan berjuang untuk hak perempuan, kebebasan perempuan serta kesetaraan gender. ( Pejuang Kartini garis depan jika boleh disebut)
Banyak sekali para Kartini yg berada di garis depan untuk memperjuangkan kaumnya. Namun jauh lebih banyak para Kartini yg berada di garis belakang: menikmati menjadi ratu, tinggal dirumah mewah, memiliki pembantu banyak, bangun siang, aktivitasnya ; shoping, ke salon, arisan, ngerumpi sembari memamerkan kekayaan - ( Kartini yg berada di garis belakang,- lagi lagi jika boleh disebut seperti itu)
Adakah yg salah antara kartini tersebut? – Kartini pejuang garis depan dan Kartini pejuang garis belakang?
Tak ada yang salah, semua itu pilihan. Memilih posisi mau berada di depan atau di belakang. Toh keduanya adalah perempuan yang sama-sama memegang posisi, yg secara mendasar juga diikutkan dalam perjuangan kaum perempuan.
Tak ada parameter untuk mengukur, semua sah-sah saja. Semua alasan bisa diterima.
Habis Gelap Terbitlah Terang – Kartini pejuang garis depan selalu mematri itu dalam benaknya untuk selalu membawa terang bagi kaumnya. Tiada mimpi yg jadi kenyataan tanpa kerja keras dapat diartikan seperti itu.
Namun Kartini yg lain tak perlu bersusah payah melewati gelap untuk menyongsong terang, tinggal tidur dan mimpipun jadi nyata.
Kemudian apakah ada yang salah?
Tetap tidak ada yg salah. Semua itu pilihan, mau bekerja keras atau tinggal tidur- tetep sama; mimpi itu akan tetap jadi kenyataan yg sama. Mereka sama-sama perempuan dan sama-sama Kartini.
Selain kaum perempuan sendiri yg menghianati ke Kartinian ini, adakah pihak lain yg mempengaruhi terciptanya Kartini jenis baru ini?
Tetap tidak menyalahkan siapapun,
Cuman tersenyum,
Teringat kenyataan lain bahwa; Kaum lelaki sangat menikmati menciptakan para Kartini baru tersebut.
Semua itu pilihan, tiada yg salah, semua berbahagia pada porsinya masing-masing.
Ubud,
21 April 2009. Pk. 15.00 wita
Wednesday, February 11, 2009
setahun
Setahun sudah berlalu
Tak sekepingpun ingatan tentang lelaki itu pudar.
Dia masih tetap hidup dalam ingatanku
Lelaki yang selalu menceritakan tentang indahnya dunia
Lelaki yang percaya tentang hidup adalah pengabdian
Lelaki yang sering lupa mengajariku salam perpisahan
Dialah,
Lelaki yg tak punya apa-apa kecuali cinta dan keteguhan hati
Lelaki yang pergi di hantar cinta manusia dan disambut rindu alam.
Pada hujan aku kenang diammu
Pada api aku kenang hangatmu
Pada angin aku kenang baumu
Pada debur ombak aku kenang hidupmu
Cinta dan kenanganmu membuat aku akan tetap bertahan
Melanjutkan seribu kisah tentang kehidupan.
( setahun kepergian ayah tercinta)
11 februari 2009 12.00 wita
Tak sekepingpun ingatan tentang lelaki itu pudar.
Dia masih tetap hidup dalam ingatanku
Lelaki yang selalu menceritakan tentang indahnya dunia
Lelaki yang percaya tentang hidup adalah pengabdian
Lelaki yang sering lupa mengajariku salam perpisahan
Dialah,
Lelaki yg tak punya apa-apa kecuali cinta dan keteguhan hati
Lelaki yang pergi di hantar cinta manusia dan disambut rindu alam.
Pada hujan aku kenang diammu
Pada api aku kenang hangatmu
Pada angin aku kenang baumu
Pada debur ombak aku kenang hidupmu
Cinta dan kenanganmu membuat aku akan tetap bertahan
Melanjutkan seribu kisah tentang kehidupan.
( setahun kepergian ayah tercinta)
11 februari 2009 12.00 wita
Friday, February 6, 2009
Bersamamu
Dengan pasti kujejakkan langkah
meninggalkan satu fase kehidupanku.
untuk merengkuh dirimu, lebur menjadi satu.
Sepakat kita bergandeng tangan untuk berjalan
menantang masa depan
walau tak tahu angin akan berhembus kemana.
---------- Bersamamu aku berani.
Mari,
Rasakan denganku tarian sang daun
kicauan sang burung
dan gerimis hujan yang kan menemani kita merenda sang waktu.
--------- Bersamamu aku bersuka cita.
Wanitaku,
Kau laksana pelangi, warnai dunia kecilku
kaulah alasanku untuk merayakan kehidupan
ijinkan aku menjadi mataharimu
mengucap satu janji untuk selalu menyinari cakrawala hatimu.
-------- Bersamamu kau jadikan aku lelaki seutuhnya
Dewiku,
Pada tanganmu aku berpegang,
pada matamu aku yakin tentang hidup
pada jiwamu aku berserah
kaulah pelabuhan akhir dari semua perjalanan panjang ini
--------- Bersamamu aku akan menempuh perjalanan hidup ini
Kadek Purnami
5 Februari 2009; / 15.00wita
[ dedicated untuk seorang sahabat kecil yang sedang berbahagia ]
meninggalkan satu fase kehidupanku.
untuk merengkuh dirimu, lebur menjadi satu.
Sepakat kita bergandeng tangan untuk berjalan
menantang masa depan
walau tak tahu angin akan berhembus kemana.
---------- Bersamamu aku berani.
Mari,
Rasakan denganku tarian sang daun
kicauan sang burung
dan gerimis hujan yang kan menemani kita merenda sang waktu.
--------- Bersamamu aku bersuka cita.
Wanitaku,
Kau laksana pelangi, warnai dunia kecilku
kaulah alasanku untuk merayakan kehidupan
ijinkan aku menjadi mataharimu
mengucap satu janji untuk selalu menyinari cakrawala hatimu.
-------- Bersamamu kau jadikan aku lelaki seutuhnya
Dewiku,
Pada tanganmu aku berpegang,
pada matamu aku yakin tentang hidup
pada jiwamu aku berserah
kaulah pelabuhan akhir dari semua perjalanan panjang ini
--------- Bersamamu aku akan menempuh perjalanan hidup ini
Kadek Purnami
5 Februari 2009; / 15.00wita
[ dedicated untuk seorang sahabat kecil yang sedang berbahagia ]
Matahariku
Ingin kuceritakan kisah sebuah pagi yang tanpa matahari.
[..dari sisi jendela tempatmu berdiri, kutatap kabut tipis menutupi bukit yang membuatnya tampak samar, tapi jelas aku tahu bukit itu tetap indah.]
Tulus kubiarkan setengah jiwaku pergi bersamamu,
agar mampu buatmu tersenyum,
agar tak gigil oleh dingin,
tak luruh oleh sepi,
tak hampa oleh kosong.
------ Setengah; sejatinya dialah seutuhnya.
Saat kau jelang hari sendiri dalam keterasingan;
Ijinkanlah aku menyandingkan tapak yang sama dalam setiap langkahmu.
menari bersamamu dalam gemulai bayang yg kau cipta
berbisik lembut dalam keheningan hati.
-- Hingga yang ada hanya dirimu yang luruh bersamaku
Tak perlu kau hitung waktu bahkan menantinya,
Karena dialah waktu yang sesungguhnya ada bersamamu.
Jika sang pencinta bertanya, untuk apakah dia terikat ?
Hanya untuk sebuah waktu yang ingin dinikmati bersama
hingga akhir nafas
Ingatlah,
Matahari tak akan pernah sendiri menandai waktu,
Bulan dengan setia akan mengganti siangmu menjadi malam.
Dialah seutuhnya waktu.
d.purnami
4 Februari 2009
[..dari sisi jendela tempatmu berdiri, kutatap kabut tipis menutupi bukit yang membuatnya tampak samar, tapi jelas aku tahu bukit itu tetap indah.]
Tulus kubiarkan setengah jiwaku pergi bersamamu,
agar mampu buatmu tersenyum,
agar tak gigil oleh dingin,
tak luruh oleh sepi,
tak hampa oleh kosong.
------ Setengah; sejatinya dialah seutuhnya.
Saat kau jelang hari sendiri dalam keterasingan;
Ijinkanlah aku menyandingkan tapak yang sama dalam setiap langkahmu.
menari bersamamu dalam gemulai bayang yg kau cipta
berbisik lembut dalam keheningan hati.
-- Hingga yang ada hanya dirimu yang luruh bersamaku
Tak perlu kau hitung waktu bahkan menantinya,
Karena dialah waktu yang sesungguhnya ada bersamamu.
Jika sang pencinta bertanya, untuk apakah dia terikat ?
Hanya untuk sebuah waktu yang ingin dinikmati bersama
hingga akhir nafas
Ingatlah,
Matahari tak akan pernah sendiri menandai waktu,
Bulan dengan setia akan mengganti siangmu menjadi malam.
Dialah seutuhnya waktu.
d.purnami
4 Februari 2009
Friday, January 30, 2009
Kegagalan
Ketika kegagalan datang pada sebuah waktu diantara sekian panjang jalan kehidupan, itu adalah bagian dari jalan itu sendiri yang memang harus dijalani. Jadikanlah ia teman yang akan mengajarimu menerima arti hidup sesungguhnya. Gagal bukan berarti akhir dari segalanya. Tapi dia akan membantumu tumbuh dan berkembang.
[sebuah saat ketika ditemani oleh kegagalan]
Monday, December 29, 2008
Jelang tahun 2009
2008 sebentar lagi berlalu, dan sekarang tiba saatnya untuk bersiap menyambut tahun 2009. Dalam 12 bulan yang lewat sudah pasti banyak hal yang terjadi. Jangankan hitungan bulan, tiap menitpun kadang kita mengalami hal yang berubah. Waktu memang berlalu dan akan selalu datang.
Yah! yang namanya hidup pasti penuh warna, tak hanya suka dukapun datang menyeimbangi. Jika kita memang harus berhitung dalam satu tahun kira-kira apa saja yang terjadi di tahun 2008?
Hmmm...Hal yang paling kuiingat adalah kepergian Ayahanda terkasih. Pokonya tahun ini banyak mengurai air mata. Ga balance!, lebih banyak sedih daripada sukanya. Trus bagaimana dengan kesehatan? Buruk dengan harus bolak balik setiap minggu bertemu dokter jantung. Karier? Cukup membanggakan. Keuangan? bisa menikmati kebebasan finansial.
Kemudian apa yang menjadi harapan di tahun 2009?
Aku ingin bahagia dan fokus dengan keluarga sembari menantikan hari yang indah itu datang. Menantikan tiba saatnya dipanggil Bunda! Semoga saja terkabul.
Selamat tahun baru 2009!
Love,
Kadek Purnami
Yah! yang namanya hidup pasti penuh warna, tak hanya suka dukapun datang menyeimbangi. Jika kita memang harus berhitung dalam satu tahun kira-kira apa saja yang terjadi di tahun 2008?
Hmmm...Hal yang paling kuiingat adalah kepergian Ayahanda terkasih. Pokonya tahun ini banyak mengurai air mata. Ga balance!, lebih banyak sedih daripada sukanya. Trus bagaimana dengan kesehatan? Buruk dengan harus bolak balik setiap minggu bertemu dokter jantung. Karier? Cukup membanggakan. Keuangan? bisa menikmati kebebasan finansial.
Kemudian apa yang menjadi harapan di tahun 2009?
Aku ingin bahagia dan fokus dengan keluarga sembari menantikan hari yang indah itu datang. Menantikan tiba saatnya dipanggil Bunda! Semoga saja terkabul.
Selamat tahun baru 2009!
Love,
Kadek Purnami
Thursday, December 18, 2008
Sajadah
Dia lelaki paruh baya, pekerjaannya hanya tukang kebun. Dialah tulang punggung keluarganya. Hidupnya jauh dari sederhana, bagiku teramat sederhana. Dia jarang berbicara, entah dia memang pendiam atau tak tahu apa yang mesti dibicarakannya.
Aku selalu menyapa duluan ketika melewatinya, aku bukan majikannya, aku hanya tamu yang menumpang nginap di rumah tuannya.
Ketika adzan magrib mengumandang aku beranjak ke dapur untuk membuat secangkir teh. Pintu dapur coba kubuka namun agak tersendat, akupun melongokkan kepala melalui pintu.
Dalam lorong dapur yang sempit, kulihat dia bersimpuh menghadap kiblat, melakukan sholat dengan khusuknya. Aku tertegun lama menatap sajadahnya, bukan permadani dari yordania, melainkan hanya selembar koran bekas.
Ya Tuhan, kembali kau perlihatkan padaku bahwa aku cukup beruntung.
Sholat itu niat dan ketulusan. Tuhan tidak akan melihat sajadah yang kamu pakai, ataupun pakaian yang kamu gunakan. Tapi Tuhan melihat ketulusan hambanya.
18 Desember 2008
Surabya
d.purnami
Aku selalu menyapa duluan ketika melewatinya, aku bukan majikannya, aku hanya tamu yang menumpang nginap di rumah tuannya.
Ketika adzan magrib mengumandang aku beranjak ke dapur untuk membuat secangkir teh. Pintu dapur coba kubuka namun agak tersendat, akupun melongokkan kepala melalui pintu.
Dalam lorong dapur yang sempit, kulihat dia bersimpuh menghadap kiblat, melakukan sholat dengan khusuknya. Aku tertegun lama menatap sajadahnya, bukan permadani dari yordania, melainkan hanya selembar koran bekas.
Ya Tuhan, kembali kau perlihatkan padaku bahwa aku cukup beruntung.
Sholat itu niat dan ketulusan. Tuhan tidak akan melihat sajadah yang kamu pakai, ataupun pakaian yang kamu gunakan. Tapi Tuhan melihat ketulusan hambanya.
18 Desember 2008
Surabya
d.purnami
Angkot
Aku tak ingat kapan terakhir kali aku naik angkot, yang pasti sudah cukup lama.
Angkutan kota, bisa di bayangkan jasa transportasi umum ini. Pasti dimana-mana sama. Jauh dari rasa nyaman, panas tak ber AC, berdesakan dan lama.
Angkot sering diidentikkan dengan masyarakat ekonomi kelas bawah. Ya sudah pasti mana ada orang kaya mau naik angkot. Pasti bawa mobil sendiri, masyarakat menengahpun tak mau, pasti memilih mengendarai sepeda motor sendiri.
Jasa angkot ini hanya memungut bayaran 2000 untuk siswa dan 3000 untuk umum sangat berguna bagi mereka yang tak memiliki kendaraan pribadi.
Sore ini hujan turun menderu dengan derasnya petirpun menyambar-nyambar. Aku beharap hujan segera reda, jika tidak jalan depan yang akan kulewati pasti akan banjir.
30 menit lagi aku harus bertemu dokter. Aku mencoba menelfon taxi. Jaringannya sibuk, aku menunggu hingga 20 menit taxi masih tak bisa kuhubungi. Diluar hujan sudah sedikit mereda, dan akupun berlari keluar menuju jalan raya untuk mencegat taxi.
Aku kurang beruntung, tak satupun taxi kosong lewat hingga aku tak punya waktu lagi. Angkot begitu banyak yang lewat, lama kufikir. Apakah aku akan naik angkot saja. Tak selang berapa lama tanganku pun menyetopnya. Deg, aku tak yakin untuk naik ke angkot itu, namun tiada plihan. Supir meneriakiku untuk segera masuk dan mengambil tempat duduk. Belum rasanya pantatku menyentuh kursi, angkot sudah melaju.
Bau tak sedap campuran parfum murah dan keringat menyambutku menusuk hidung dan membuat kepalaku berdenyut. Aku duduk diantara bapak-bapak buruh jalan. Rasa takut dan tak nyaman menyergapku. Kubaca pada pintu angkot tulisan yang cukup besar. Awas Copet! Yap aku memang harus extra hati-hati. Tas aku pegang dengan erat, tak berani mengeluarkan hp dan berharap hpku tak berbunyi.
Perjalanan terasa sangat lama, aku mulai merasa sesak dengan 15 orang, udara pengap dan aku harus menunduk karena plafonnya yg rendah. Mual dan pusing menyerangku namun aku tetap bertahan hingga sampai di tujuan.
Fyuh... aku memang terlalu lama hidup dalam kenyamanan, dan kali ini aku diingatkan kembali untuk selalu bersukur.
16 Desember 2008
Surabaya
d.purnami
Angkutan kota, bisa di bayangkan jasa transportasi umum ini. Pasti dimana-mana sama. Jauh dari rasa nyaman, panas tak ber AC, berdesakan dan lama.
Angkot sering diidentikkan dengan masyarakat ekonomi kelas bawah. Ya sudah pasti mana ada orang kaya mau naik angkot. Pasti bawa mobil sendiri, masyarakat menengahpun tak mau, pasti memilih mengendarai sepeda motor sendiri.
Jasa angkot ini hanya memungut bayaran 2000 untuk siswa dan 3000 untuk umum sangat berguna bagi mereka yang tak memiliki kendaraan pribadi.
Sore ini hujan turun menderu dengan derasnya petirpun menyambar-nyambar. Aku beharap hujan segera reda, jika tidak jalan depan yang akan kulewati pasti akan banjir.
30 menit lagi aku harus bertemu dokter. Aku mencoba menelfon taxi. Jaringannya sibuk, aku menunggu hingga 20 menit taxi masih tak bisa kuhubungi. Diluar hujan sudah sedikit mereda, dan akupun berlari keluar menuju jalan raya untuk mencegat taxi.
Aku kurang beruntung, tak satupun taxi kosong lewat hingga aku tak punya waktu lagi. Angkot begitu banyak yang lewat, lama kufikir. Apakah aku akan naik angkot saja. Tak selang berapa lama tanganku pun menyetopnya. Deg, aku tak yakin untuk naik ke angkot itu, namun tiada plihan. Supir meneriakiku untuk segera masuk dan mengambil tempat duduk. Belum rasanya pantatku menyentuh kursi, angkot sudah melaju.
Bau tak sedap campuran parfum murah dan keringat menyambutku menusuk hidung dan membuat kepalaku berdenyut. Aku duduk diantara bapak-bapak buruh jalan. Rasa takut dan tak nyaman menyergapku. Kubaca pada pintu angkot tulisan yang cukup besar. Awas Copet! Yap aku memang harus extra hati-hati. Tas aku pegang dengan erat, tak berani mengeluarkan hp dan berharap hpku tak berbunyi.
Perjalanan terasa sangat lama, aku mulai merasa sesak dengan 15 orang, udara pengap dan aku harus menunduk karena plafonnya yg rendah. Mual dan pusing menyerangku namun aku tetap bertahan hingga sampai di tujuan.
Fyuh... aku memang terlalu lama hidup dalam kenyamanan, dan kali ini aku diingatkan kembali untuk selalu bersukur.
16 Desember 2008
Surabaya
d.purnami
Monday, December 15, 2008
Empang
Taxiku berjalan merayap menyusuri jalan kecil, dengan becak di kanan kiri. Mataku tertuju pada empang yang berkelok sepanjang jalan, berwarna hitam dan tentunya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Bangunan kumuh berderet sepanjang empang.
Aku berfikir bagaimana mereka bisa hidup dalam keadaan seperti itu, yang jauh dari rasa kenyamanan.
Namun aku perhatikan mereka tetap hidup seperti biasanya, mereka duduk ngobrol, ngopi dan makan dipinggir empang. Wajah mereka tak menampakkan rasa jijik ataupun sedih, wajah mereka ketika menikmati kopi sama nikmatanya dengan kita saat menghirup kopi di warung kopi berkelas.
Masih sepanjang empang dengan air berwarna hitam, aku melewati pasar yang ramai, para penjual berderet dipinggir empang. Seperti pasar pada umumnya mereka menjual daging ayam, sapi, ikan, sayur, buah dan sebagainya, pembelinya pun ramai. Transaksipun berjalan biasa layaknya di supermarket. Tak satupun mereka mmenutup hidung.
Mataku tertuju pada seorang anak kecil dan bapaknya yang berendam di dalam empang mencari botol bekas dan menjaring ikan.
Tidakkah mereka akan merasakan gatal dan sakit?
------------------------
Keesokan harinya aku melalui empang itu lagi, kali ini hujan begitu deras mengguyur sehingga membuat banjir dan air empang naik, aku bergidik di dalam taxi tak membayangkan jika aku terkena air hitam tersebut.
Mataku kembali terbelalak, menyaksikan anak kecil dan orang tua berhamburan keluar jalan bermain air dengan gembira. Mengambil air di jalan menyiramkannya ke tubuh temannya. Mereka tak peduli air itu sekotor apapun mereka tetap gembira. Sama gembiranya ketika aku melihat keluarga yang bermain air di waterboom.
-----------------------------------
Ah hidup, akan menjadi terbiasa oleh keadaan.
Surabaya
14 Desember 2008
Aku berfikir bagaimana mereka bisa hidup dalam keadaan seperti itu, yang jauh dari rasa kenyamanan.
Namun aku perhatikan mereka tetap hidup seperti biasanya, mereka duduk ngobrol, ngopi dan makan dipinggir empang. Wajah mereka tak menampakkan rasa jijik ataupun sedih, wajah mereka ketika menikmati kopi sama nikmatanya dengan kita saat menghirup kopi di warung kopi berkelas.
Masih sepanjang empang dengan air berwarna hitam, aku melewati pasar yang ramai, para penjual berderet dipinggir empang. Seperti pasar pada umumnya mereka menjual daging ayam, sapi, ikan, sayur, buah dan sebagainya, pembelinya pun ramai. Transaksipun berjalan biasa layaknya di supermarket. Tak satupun mereka mmenutup hidung.
Mataku tertuju pada seorang anak kecil dan bapaknya yang berendam di dalam empang mencari botol bekas dan menjaring ikan.
Tidakkah mereka akan merasakan gatal dan sakit?
------------------------
Keesokan harinya aku melalui empang itu lagi, kali ini hujan begitu deras mengguyur sehingga membuat banjir dan air empang naik, aku bergidik di dalam taxi tak membayangkan jika aku terkena air hitam tersebut.
Mataku kembali terbelalak, menyaksikan anak kecil dan orang tua berhamburan keluar jalan bermain air dengan gembira. Mengambil air di jalan menyiramkannya ke tubuh temannya. Mereka tak peduli air itu sekotor apapun mereka tetap gembira. Sama gembiranya ketika aku melihat keluarga yang bermain air di waterboom.
-----------------------------------
Ah hidup, akan menjadi terbiasa oleh keadaan.
Surabaya
14 Desember 2008
Sunday, October 26, 2008
Baliku Sayang
“Ingin menjadi tetangga saya?”
Bunyi sebuah iklan apartemen dalam billboard ukuran besar di kuta. Ikon yang di gunakan adalah salah satu diva Indonesia – Kris Dayanti.
Kufikir pasti banyak orang ingin menjadi tetangga selebritis kenamaan Indonesia itu.
Selain apartemen yang bagus dengan fasilitas hotel bintang lima, kira-kira apa yang menjadi daya tarik lain apartemen itu?
Hmmm kalo boleh kutebak BALI! Yapp, the island of paradise.
Tanah kelahiranku yang kucinta.
Sebuah kebanggaan bagi para kaum jetzet Jakarta, Singapore, Taiwan dan beberapa Negara lainnya untuk mempunyai investasi rumah di Bali.
Berapa kira-kira orang Bali asli yang ikut membeli apartemen tersebut? Hmmmm pasti sedikit atau malah tak ada?
“Saya tak sudi menjadi tetanggamu Kris Dayanti!, itulah bathin saya.”
Ray White, Kuta Property, Ubud Property - sale Land, Villa and Houses.
Sakit Hati melihat iklan tersebut.
Tanah siapa yang di kavling dan di jual itu? Tak salah jika pertiwi menangis. Sawah habis untuk pembangungan villa dan hotel. Petani tergusur, air untuk pertanian habis untuk pemenuhan kebutuhan hotel.
Sawah yang dinikmati, budaya yang dikagumi, tak ada kontribusinya, petani hanya menjadi tontonan, tak ada kontribusi untuk pemeliharaan dan kelanjutannya.
Bali destinasi wisata. Menghamba pada wisatawan untuk kehidupan masayrakatnya.
Miris !
Kuta, seminyak, Nusa dua sudah tak seperti Bali lagi, akankah Bali akan bernasib sama dengan Jakarta? Dimana masyarakat asli betawi tergusur oleh kedatangan modernisasi?
BALI – BULE. Beberapa tahun lagi mungkin masayrakat Bali akan seperti itu. Selain ada kampung Jawa juga akan muncul kampung Bule atau Banjar expat. Mungkin saja.
Tak hanya orang jawa yang sehabis lebaran datang membawa sanak saudara untuk bekerja di Bali. Orang Bule juga seperti itu.
Tak dipungkiri semua adalah karena globalisasi. Pertukaran lintas negara. Orang bali banyak yang bekerja keluar negeri, orang luar negeri banyak yang menggali untung di Bali.
Berapa banyak hotel, restaurant dan villa dimiliki oleh orang Bali? mungkin tak seberapa.
Menjamurnya hotel, villa dan restoran juga di dukung oleh masyarakat kita. Seperti halnya melindungi para bule tersebut.datang ke bali dengan visa sosial budaya bukan visa kerja, tetapi nyatanya mereka bekerja di Bali. Atau yang kerap terjadi adalah ”atas nama” sebuah usaha. Misalkan mendirikan sebuah restoran para expat biasanya meminjam nama pemilik tanah atau nama orang lokal sebagai penjamin untuk legalisasi ijin mendirikan usaha. Jadi pada sertifikat restoran tersebut dimiliki oleh orang lokal. Namun pengelola dan yang menuai untung adalah para expat itu sendiri, begitu juga dengan jenis usaha lainnya pendirian usaha garmen, handicraft dll.
Yayasan yang berkedok sosial juga banyak, seperti yayasan kemanusiaan, bencana alam hingga yayasan untuk anjing. Didalamnya semua adalah expat.
Artinya masyarakat kita cukup bangga dengan nama diatas kertas saja, atau tanahnya di kontrak.
Bicara tentang posisi, Nah siapa yang memegang posisi menengah ke atas dalam sebuah perusahaan ataupun organisasi tersebut ? Pasti Bule. Biasanya jika sebuah usaha di jalankan oleh para Bule akan jauh lebih berhasil. Begitulah paradigma yang berkembang selama ini.
Kemudian saya ingin bertanya sebenarnya dimana Posisi orang Bali saat ini?
Apakah sebagai penonton saja dan tetap ramah, tersenyum, dan memegang teguh mental melayani melihat semua perkembangan Bali?
Mungkin kita harus cepat tersadar sebelum terlena.
Di balik kegemerlapan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia, masih banyak saudara kami yang kekuangan air, tak punya rumah, tak bisa sekolah. Banyak sekali daerah miskin di Karangasem, Singaraja dll.
Satu sisi pariwisata dan kehadiran para bule memberikan perubahan yang besar terhadap peningkatan taraf hidup masayrakat, namun disatu sisi ini seperti kami merasa di jajah.
Ya, penjajahan yang terselubung, sebentar lagi daerah kami akan dikuasa para bule, banyak tanah yang dijual oleh masayrakat di bali untuk villa dan hotel. Setelah itu kami tak punya apa-apa lagi.
Setelah menjual tanah kita memang kaya dalam jangka beberapa tahun. Namun setelah itu? Jika skill tidak ada tetap kita akan kembali menjadi pekerja rendahan. Atau lebih parah bekerja pada hotel yang didirikan diatas tanah yang dulu kita pernah miliki.
Bali sudah over exploitasi.
Baliku sayang..
Seperti apa kita 20 tahun lagi?
Kasihan anak cucu saya nanti, neneknya tak mampu berjuang untuk mereka.
d.purnami
24 Oktober 2008
Bunyi sebuah iklan apartemen dalam billboard ukuran besar di kuta. Ikon yang di gunakan adalah salah satu diva Indonesia – Kris Dayanti.
Kufikir pasti banyak orang ingin menjadi tetangga selebritis kenamaan Indonesia itu.
Selain apartemen yang bagus dengan fasilitas hotel bintang lima, kira-kira apa yang menjadi daya tarik lain apartemen itu?
Hmmm kalo boleh kutebak BALI! Yapp, the island of paradise.
Tanah kelahiranku yang kucinta.
Sebuah kebanggaan bagi para kaum jetzet Jakarta, Singapore, Taiwan dan beberapa Negara lainnya untuk mempunyai investasi rumah di Bali.
Berapa kira-kira orang Bali asli yang ikut membeli apartemen tersebut? Hmmmm pasti sedikit atau malah tak ada?
“Saya tak sudi menjadi tetanggamu Kris Dayanti!, itulah bathin saya.”
Ray White, Kuta Property, Ubud Property - sale Land, Villa and Houses.
Sakit Hati melihat iklan tersebut.
Tanah siapa yang di kavling dan di jual itu? Tak salah jika pertiwi menangis. Sawah habis untuk pembangungan villa dan hotel. Petani tergusur, air untuk pertanian habis untuk pemenuhan kebutuhan hotel.
Sawah yang dinikmati, budaya yang dikagumi, tak ada kontribusinya, petani hanya menjadi tontonan, tak ada kontribusi untuk pemeliharaan dan kelanjutannya.
Bali destinasi wisata. Menghamba pada wisatawan untuk kehidupan masayrakatnya.
Miris !
Kuta, seminyak, Nusa dua sudah tak seperti Bali lagi, akankah Bali akan bernasib sama dengan Jakarta? Dimana masyarakat asli betawi tergusur oleh kedatangan modernisasi?
BALI – BULE. Beberapa tahun lagi mungkin masayrakat Bali akan seperti itu. Selain ada kampung Jawa juga akan muncul kampung Bule atau Banjar expat. Mungkin saja.
Tak hanya orang jawa yang sehabis lebaran datang membawa sanak saudara untuk bekerja di Bali. Orang Bule juga seperti itu.
Tak dipungkiri semua adalah karena globalisasi. Pertukaran lintas negara. Orang bali banyak yang bekerja keluar negeri, orang luar negeri banyak yang menggali untung di Bali.
Berapa banyak hotel, restaurant dan villa dimiliki oleh orang Bali? mungkin tak seberapa.
Menjamurnya hotel, villa dan restoran juga di dukung oleh masyarakat kita. Seperti halnya melindungi para bule tersebut.datang ke bali dengan visa sosial budaya bukan visa kerja, tetapi nyatanya mereka bekerja di Bali. Atau yang kerap terjadi adalah ”atas nama” sebuah usaha. Misalkan mendirikan sebuah restoran para expat biasanya meminjam nama pemilik tanah atau nama orang lokal sebagai penjamin untuk legalisasi ijin mendirikan usaha. Jadi pada sertifikat restoran tersebut dimiliki oleh orang lokal. Namun pengelola dan yang menuai untung adalah para expat itu sendiri, begitu juga dengan jenis usaha lainnya pendirian usaha garmen, handicraft dll.
Yayasan yang berkedok sosial juga banyak, seperti yayasan kemanusiaan, bencana alam hingga yayasan untuk anjing. Didalamnya semua adalah expat.
Artinya masyarakat kita cukup bangga dengan nama diatas kertas saja, atau tanahnya di kontrak.
Bicara tentang posisi, Nah siapa yang memegang posisi menengah ke atas dalam sebuah perusahaan ataupun organisasi tersebut ? Pasti Bule. Biasanya jika sebuah usaha di jalankan oleh para Bule akan jauh lebih berhasil. Begitulah paradigma yang berkembang selama ini.
Kemudian saya ingin bertanya sebenarnya dimana Posisi orang Bali saat ini?
Apakah sebagai penonton saja dan tetap ramah, tersenyum, dan memegang teguh mental melayani melihat semua perkembangan Bali?
Mungkin kita harus cepat tersadar sebelum terlena.
Di balik kegemerlapan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia, masih banyak saudara kami yang kekuangan air, tak punya rumah, tak bisa sekolah. Banyak sekali daerah miskin di Karangasem, Singaraja dll.
Satu sisi pariwisata dan kehadiran para bule memberikan perubahan yang besar terhadap peningkatan taraf hidup masayrakat, namun disatu sisi ini seperti kami merasa di jajah.
Ya, penjajahan yang terselubung, sebentar lagi daerah kami akan dikuasa para bule, banyak tanah yang dijual oleh masayrakat di bali untuk villa dan hotel. Setelah itu kami tak punya apa-apa lagi.
Setelah menjual tanah kita memang kaya dalam jangka beberapa tahun. Namun setelah itu? Jika skill tidak ada tetap kita akan kembali menjadi pekerja rendahan. Atau lebih parah bekerja pada hotel yang didirikan diatas tanah yang dulu kita pernah miliki.
Bali sudah over exploitasi.
Baliku sayang..
Seperti apa kita 20 tahun lagi?
Kasihan anak cucu saya nanti, neneknya tak mampu berjuang untuk mereka.
d.purnami
24 Oktober 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)