Friday, February 29, 2008

Rindu

Rasa yang tak tertahan

Ingin sekali menatapnya

Menyapanya

Memeluknya

Ucapkan kata sayang padanya

Kucari,

Entah dimana

Tak dapat kutemukan

Kukembali terduduk

Mengingatnya

Dalam mata yang terpejam

Dia ada disini

Di dalam darahku

Di dalam hatiku

Ada dalam setiap detak jantungku.

Dia ada bersamaku

Dia tak dapat kutemukan dalam wujudnya

Kubakar sebuah dupa

Kubaca sebait doa

Yang kan hantarkan salam rinduku

Pada dia

Sang atman

d.purnami

Jumat, 29 Februari 2008

I miss u dad

Monday, February 25, 2008

Pahlawanku berpulang di bulan Februari

Dedicated to my beloved father

Februari – senyatanya merupakan bulan penuh kasih sayang, romantisme, mawar dan warna pink mendominasi dimana-mana sebuah peringatan perayaan cinta dan kehidupan.

Di bulan februari ini blog saya terasa gelap, tak ada satupun petikan cerita romatis atau puisi cinta yang merekah. Hanya kesedihan dan kepedihan hati yang mampu tertulis.

Blog di bulan Februari ini saya dedikasikan untuk Ayah saya – Made Subrata- yang telah berpulang kerumah Tuhan pada 11 Februari 2008 pk. 12.00 wita.

Pahlawanku

Dia telah jadikanku seperti sekarang ini

Hanya memberi

Tak pernah mengharap kembali

Tak memberi kesempaan untuk mengembalikan

Dia hanya ingin memberi

Menjadikan tiada menjadi ada

Dan kemudian pergi untuk selamanya.

Dialah pahlawanku

-----------------------------------------------------------

27 tahun Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi cerita kehidupan dengannya. Berbagai kenangan, kehangatan cinta dan kasih tlah di rasakan. Kalau boleh dikatakan inilah masa kebahagiaan saya yang indah. Dia merupakan sosok ayah, guru dan sahabat bagi kami anak-anaknya. Tak pernah disangka akan berpulang secepat ini, disaat saya belum sempat membalaskan semua kebaikannya.

Inilah misteri Tuhan yang dari dulu saya takuti, ketika orang terkasih harus berpulang dan lenyap dari pandangan kasat mata. Hangus menjadi abu oleh api, lebur bersama air kembali menyatu menjadi tunggal.

Kematian memang bukan hal yang perlu ditakuti, namun rasa kehilangan yang dalam memang menakutkan bagi saya. Walau sudah 2 minggu duka mendalam masih terasa.

Semua menjadi tidak normal, kepala seperti di kaki , kaki dikepala.

Konon, keiklasan adalah obat dari semua kepedihan.

tapi saya ingin merasakan dulu kepedihan ini.

Saya akan kembali jika saya sudah mampu melihat bahwa matahari memang bercahaya.

Salam duka,

Kadek Purnami.

Kadek Purnami dalam Goresan Tangan Made Subrata

In Memoriam

Obituari Perupa Made Subrata

Menggurat Pesona Puitik Perempuan Bali

Oleh Wayan Kun Adnyana

Tidak banyak perupa Bali yang intens menyusuri sisi karismatik wajah ayu perempuan Bali. Andaikan pun ada, barangkali tak sedalam bagaimana perupa kelahiran Padangtegal Kaja, Ubud, (18 Oktober 1950), Drs. I Made Subrata, menyusuri tepian kedalaman puitik dari wajah-wajah berkarisma perempuan berkulit sawo matang ini. Paras perempuan Bali dalam kanvas-kanvas alumnus PSRD Universitas Udayana itu, tidak saja memancarkan kecantikan fisikal yang gampang terkenali secara kasat mata, melainkan pula ‘’cantik’’ dalam laksananya sebagai energi puisi yang senantiasa memancar. Perempuan Bali, sebagaimana diamini banyak pengamat sosial-budaya, memang digambarkan sebagai sosok yang memiliki kecantikan berasa; suatu kondisi menyempurna antara kecantikan wadak dan psikis: entah karena kulitnya yang tidak terlalu putih dan juga tidak gelap, rambut berombak, hidung merekah, dan juga pancaran mata yang menusuk pandang; pula melekat kecerdasan intuitif yang mengundang kagum. Singkatnya—kalau boleh memuji—perempuan Bali adalah senyata puisi indah yang hidup dan selalu menyentuh.

Oleh perupa Made Subrata, cantik perempuan Bali teramu dalam kecakapan mengolah dan mengurat warna; menyusuri nilai psikologis dari warna-warna, berikut memoleskan kembali keindahan wajah perempuan Bali dengan sentuhan personal yang kuat. Perupa yang sekaligus pendidik di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) kini SMKN 1 Sukawati itu memang tidak memakai teknik realistik biasa (fotografis), melainkan menunjuk ke arah eksplorasi kreasi teknik ekspresionistik; menggapai impresi nyata tentang karakter perempuan cantik dengan polesan-polesan pisau palet yang bebas dan ekspresif. Hanya pada beberapa sentuhan akhir—terutama pada garis wajah, dan ornamen-ornamen pakaian Bali: motif Tenganan, Asak-Bungaya—tetap terjaga lewat polesan kuas yang terkontrol. Hingga lahirlah karya-karya bersubjek ‘’Perempuan Bali’’ yang tidak saja cantik secara wadak, melainkan juga memancarkan impresi psikologis yang menyentuh.

Biasanya, Made Subrata menjadikan anak perempuannya Kadek Sri Purnami—perempuan Bali yang menjadi salah satu penggerak Ubud Writers Festival—sebagai model karya-karyanya. Bahkan sedari Kadek baru menginjak remaja. Barangkali oleh dua perempuan yakni, istrinya Ni Ketut Rini, dan anak perempuan satu-satunya itulah Made Subrata berhasrat untuk selalu menghormati perempuan, menempatkannya sebagai sosok yang memesona dan luhur.

Pada era 1980-an adalah masa di mana karya-karya Made Subrata menuai puncak pengakuan. Melenggang dalam berbagai forum pameran bergengsi di berbagai kota di Indonesia. Begitu pula diamini pasar seni rupa yang menggema sebagai boom seni lukis Indonesia pertama pada masa itu. Keberhasilan meraih reputasi dan juga karya-karyanya yang senantiasa diburu, toh tak membuat perupa yang aktif bermasyarakat sebagai Ketua Sabha Desa Pakraman Padangtegal, termasuk pula pernah memangku kepercayaan sebagai wakil bendesa adat itu, tak hadir sebagai sosok perupa yang obsesif, meledak-ledak, apalagi harus eksentrik. Made Subrata adalah sosok perupa berkepribadian tenang, menyikapi tiap persoalan kreatif dengan rasa empati, hingga di ruang kelas, bagi murid-muridnya—penulis adalah salah satu murid bimbingannya sewaktu di SMSR dulu—adalah sosok yang menginspirasi, sekaligus guru yang berwibawa.

Sebagai perupa, Made Subrata memang hanya menjalankan keinginan intuisinya. Dia bekerja, selama cita-cita artistiknya menghendaki. Walau pasar memburu, dia tak sudi berpaling, kalau memang saat itu keinginannya hanya untuk merawat tanaman angrek yang kini marak menghiasi pekarangan rumahnya yang asri di Padangtegal, Ubud, dia akan melakukannya dengan penuh setia. Memang tak ada kata setengah hati bagi perupa yang menata rapi brewoknya itu. Begitu pula ketika berkehendak untuk melukis, sudah pasti tak ada yang mampu menghentikannnya. Begitulah jalan seniman menuaikan fitrah hidupnya; berjalan tanpa ada yang bisa menyangkal.

Kabar duka, Senin, 11 Februari 2008, pukul 12.00 wita, datang lewat sms, mengabarkan perupa yang juga guru dengan pribadi memesona itu telah berpulang. Betapa terkejutnya saya membaca kabar yang tiba-tiba itu, apalagi bagi keluarga yang ditinggalkan. Namun di atas segala-galanya begitulah Ida Sang Hyang Widhi berkehendak atas perupa yang di masa hidupnya telah memberi sumbangsih artistik bagi khasanah perupaan seni rupa Bali itu untuk kembali padaNya. Selamat jalan Pak Made, publik seni rupa Bali pasti akan selalu mengenangmu…

Wayan Kun Adnyana, pengajar di FSRD ISI Denpasar, mahasiswa Paska Sarjana ISI Yogyakarta.

Ubud loses Made Subrata, an artist and a teacher

Features - February 21, 2008

I Wayan Juniartha, The Jakarta Post, Ubud

The darkened sky on that somber Monday afternoon was soon followed by a strong wind that swung the trees back and forth. The wind didn't give way even after a torrential rain hit the earth with a ferocity that drowned out any other noise.

The gloomy weather provided a perfect backdrop for the mourners, who huddled together at various places in the house. In the vacated car garage next to the house, a group of women worked in silence, preparing the intricate ritual offerings for the cremation.

A few meters to the east, in the open pavilion before the rural family's shrine, the body of Made Subrata lay on an elevated wooden divan. It was draped with sheets of batik in subdued colors and faded patterns.

Sitting on the divan was Kadek Purnami, Subrata's second child. She tried to be brave, but her flowing tears and murmuring cry betrayed her broken heart.

Every time a member of the banjar (traditional neighborhood organization) approached the body to offer condolences and take a last look on the deceased's body, Purnami's cry grew stronger. Her husband, Putu Adi, tried to comfort her to no avail.

"The rain, the wind ... it is as if Mother Nature greets my father upon his return journey to his home up there," she said.

At that time she never knew how perfectly accurate her statement would be.

Made Subrata passed away at noon on Monday, Feb. 11, at the Gianyar hospital after being treated for several days for pulmonary infection, diabetes and high blood pressure.

For his family, it was a shockingly unexpected loss. Born in 1950, Subrata was only 58-years-old when he left his earthly existence.

He hadn't displayed any sign of serious health problems prior to his brief hospitalization in Gianyar. Naturally, his family struggled hard to cope with the difficult reality.

His wife Ni Ketut Rini, his oldest child Gede Suryagiri and his daughter-in-law Koming were purposefully drowning their sorrow in the hectic preparations of the cremation ritual while Subrata's only grandchild Gede Galang was still believing "Grandpa flies to heaven and will be back soon".

The death of Subrata was more than just a personal loss for one family. Having served as the vice bendesa (chief) of Desa Pekraman (traditional village) Padangtegal, a village of four banjar and 2,600 residents, Subrata was an influential figure in his community.

"Until his death he was still serving as the head of the village council," Purnami said.

"In fact, before he got sick he held a meeting of village elders here in this house. They discussed the plan to conduct a mass ngaben (cremation) next July. Little did we know that our father would be part of the ngaben, instead of being the organizer," she added.

As one of the village's leaders, Subrata played a pivotal role in shaping the social dynamics of Padangtegal, particularly in its relationship with the tourism industry. The village lies in Ubud, one of the island's most beautiful tourist gems.

"Subrata was the co-founder of Bina Wisata, a foundation that works to ensure that any tourism development in this area is beneficial to the village, local people and local cultural heritage," another co-founder of Bina Wisata, Nyoman Suradnya, said.

The foundation later transformed Padangtegal's Monkey Forest into a profitable ecotourism destination. It is arguably the largest community-managed forest on the island.

"The revenue from the Monkey Forest is being channeled back to the community to maintain our sacred temples and fund social activities.

"In the upcoming ngaben, each participating family will receive Rp 5 million in cash assistance from the village to finance the ritual. The money comes from the Monkey Forest's profit and the decision to provide such cash assistance was made during my father's last meeting as the head of the village council," Purnami added.

The people of Padangtegal obviously didn't forget Subrata and the contributions he made to the village.

As the news of his demise spread, streams of villagers flocked to Subrata's house to offer their condolences.

Representatives from four banjar paid a formal visit to the mourning family. Representatives from the neighboring village of Pengosekan were also present, saying the two villages enjoyed a harmonious relationship during Subrata's tenure as the vice bendesa.

Such a large number of visitors was unique because when Subrata passed away none of the banjar in Padangtegal sounded their kulkul (hollow wooden drum) as a sign of mourning due to an ongoing religious festival at the village's temple.

"Usually, if a banjar member dies, the kulkul will be sounded as a sign to the other fellow members to visit the deceased house and give assistance to the mourning family.

"If there is a major festival in the village temple, the kulkul will not be sounded and the banjar's members will have no obligation to visit the deceased's home," Suradnya said.

"But they came nonetheless, and came in such large numbers. That showed Subrata was not an ordinary man," he added.

Art critic Kun Adnyana shared a similar opinion, albeit for a different reason.

"He was a good teacher, an inspiring one. He never forced us to abide by certain aesthetic parameters or a certain school of thought. Instead he always motivated us to find and establish our own, personal set of aesthetic values and goals," he said.

Kun was one of Subrata's pupils during his teaching years at the then Denpasar College of Fine Arts (SMSR).

"A good teacher who is also an accomplished artist is a rare thing to find, and Pak Subrata was an ideal example of that rarity," he said.

Kun said Subrata was a master impressionist who dedicated his aesthetic life to capturing the physical and metaphysical beauty of Balinese women.

"His works are poems of colors and personal interpretations. The women in his canvases are more than just a representation of an actual, living model, but a representation of his romanticized ideas about the beauty of life," he said.

"His death is a personal loss to me, and, I believe, to the fine arts community in Bali as a whole. He set an example of aesthetic freedom, of creating without bowing to the pressure of the market. That's the kind of thing that is difficult to find nowadays," he said.

It was almost 9 p.m. when the procession carrying Subrata's body reached the village cemetery. The weather had been quite calm. When they began to torch the body, though, the weather suddenly grew wilder. Rain hammered down as heavy wind swept the area.

A similar thing happened again three hours later when in the darkest of night they cast Subrata's ashes into the ocean at Sunrise Beach in Sanur. The quiet ocean turned violent and a tall wall of white wave hissed loudly as it seized the ash container from Suryagiri's hand. In an instant, Subrata's last remains merged with the elements of nature.

Senin Ketiga

Ini adalah senin ketiga,
kukenakan baju yang sama
kumulai aktivitas pada waktu yang sama
dadaku berdegup
seperti senin waktu itu
ingin kuhalau
namun kubiarkan saja


Sengaja aku betandang kerumahnya
disambut sanggah urip di depan gerbang
memastikan sebuah kenyataan pahit
tiada sapaannya, tiada tawaran secangkir kopi
kamarnya kosong dan dingin
menatap anggrek yang kian layu
rumah ini hampa.


Sudah belasan hari terlewati
nyaris setiap malam
dihadirkan mimpi tentangnya
nyaris dalam belasan hari
bertemu dengan muka yang suram
entah ibu, bibi, kakak atau siapa
semua nampak sendu


11.30
Kegelisahan mencurah
kututup mata dan telinga
namun,
tayangan itu kembali hadir
berulang-ulang
nyaris seperti senin waktu itu
hiruk pikuk pun terngiang ditelinga
sama seperti keriuhan senin lalu.
semua nampak jelas dipelupuk mata
cerita yang menjadi kompleks


Harusnya,
hari ini kami bersuka cita
berkumpul bersama
dalam sebuah perayaan
untuk si sulung
menjejak 31 tahun
yang kehilangan seorang pahlawan.


Senin ketiga
terasa begitu dingin
sebuah hari kematian
orang terkasih kami.


d.purnami
Senin, 25 februari 2008
Untuk Gede- sedarah daging

Tuesday, February 12, 2008

Amor Ring Acintya

Tepat tengah hari
jarum waktu menunjukkan pk 12 siang
suasana riuh
hanya riuh saja
tak ada tenang atau hening sedikitpun
di hati maupun diluaran sana

Tangis berderai
tiada henti
berbulir-bulir air mata
berjatuhan
di pertiwi

Kepala serasa penuh
fikiran berkecamuk
hatipun remuk
dada sesak menyesak
jantung berdegup kencang

Waktu terasa berhenti
tak ada batas mimpi dan nyata
berharap ini mimpi
dan bukan nyata

Seperti tertampar
aku tersadar
ini nyata
bukan mimpi

Obor telah padam
tiada setitikpun nyala
gelap gulita
tak dapat kulihat

Hatiku kosong
windhu..
hampa
tiada jiwa
tiada nyala

Dia telah pergi
nyala jiwaku padam
akupun seperti mati
berdiri kaku
terpeku

dia yang mengalir dalam darahku
dia yang menjadikanku seonggok daging hidup
dia yang menjadikanku ada
dia yang menjadikanku punya rasa
dia adalah jiwaku
dia adalah denyut nadiku
dia adalah orang yang paling kucinta.

Kini,
dia terbujur kaku didepanku
berpulang ke rumah Tuhan
menyatu dengan sang pencipta
menuju kesempurnaan

Dalam senyum yang dalam
iklas meninggalkan duniawi
berjalan tanpa menoleh kebelakang
dia telah pergi untuk selamanya.

Tubuhnya,
telah menjadi abu oleh sang Agni
melebur dengan sang Baruna
dihanyutkan oleh sang Wisnu

Hantarkan,
ruhnya menuju rumahNya
sang Surya sinari jalannya
peganglah tangannya agar tak tersesat
agar dia temukan rumah sejatinya.

Hanya dalam 12 jam
dia telah lenyap
tinggal nama dalam benak
ada sisa kenangan yang hangatkan hati
juga kisah hidupnya yang bangkitkan semangat
dijiwa dia akan tetap bersemayam

ini adalah matahari pertama dalam hidupku
yang tak dapat kulihat cahayanya

ini adalah hidupku yang paling gelap
tak ada setitikpun lentera menerangi

Pada pertiwi aku bersimpuh
kuatkanlah aku untuk tetap berpijak di bumi ini

dia telah terbang
tinggi
dan sempurna bersama cahaya.

Suatu hari aku akan menatapmu kembali
Cahayaku

d.purnami
11 Februari 2008. pk 12 wita
Untuk sang Ayahanda tercinta
selamat jalan.
Amor Ring Acintya

Friday, February 8, 2008

hening ... riuh...

Hening..
riuh…
sebentar hening, sebentar riuh..
layaknya suara hati
tenang sesaat, bergejolak kemudian.

Malam memang tak berbintang
juga tak ada bulan
hanya pekat yang tersisa.
dan angin yang hampa

Langkah kuseret disepanjang lorong-lorong
di iringi dengkuran halus yang terdengar sesekali
tubuh hanya digeletakkan diatas lantai yang dingin
beralaskan tikar dalam gulungan kecemasan

Langkahku terhenti pada sebuah ruang
lampu temaram dan hening
hatiku bergejolak
kutahan bulir air mata
agar tak meriuhkan keheningan.

Kutatap,
lelaki tua itu terbaring
muka pucat
mata yang suram
jangut memutih membuatnya tampak layu
dalam keheningan

Disisinya,
wanita tua itu
terpekur terlungkup
nafas penuh keresahan
tetap menggenggam tangan sang lelaki tua
dalam keriuhan bathinnya

Mereka,
adalah obor jiwaku
sukmaku bertaut dengan keresahannya
nadiku dipicu detaknya
padanya
aku bersimpuh
menggumulkan asa
agar kurasa hening serta riuh hatinya.

d.purnami
Sanjiwani, 7 Februari 2008.

Friday, January 25, 2008

Tak usah ... Jika..

Tak usah,
temani hingga ujung waktu
atau akhir nafas
apalagi berkisah tentang esok
Jika,
tak pahamai hari ini.

Tak usah,
gapai sejuta mimpi
atau menari dibawah bintang
apalagi menitip cinta pada sang bulan bulan
Jika,
tak paham tentang malam.


Tak usah,
bersujud di kaki pertiwi
atau menyembah sang dewi
apalagi menantang matahari
Jika,
tak mampu selami jiwa yang murni.


Jika,
kau percaya
ujung waktu itu ada
malam itu indah
jiwa akan menjadi murni


tetaplah disini,
bergandeng tangan
bersama menantang matahari.

25 Januari 2008
d.purnami

Monday, January 21, 2008

Bukit Diseberang Jendela

Sejauh mata memandang,

hanya hamparan hijau yang membentang luas

sesekali rerumputan itu bergoyang diterpa angin

menyejukan mata

juga hati

Terkadang,

ingin aku mempunyai sayap

terbang dan menyeberang

menari diatas rumput yang basah

didendangkan semilir angin

Namun tiba-tiba

aku terjerembab

tertegun dalam dudukku

anganku telah terbang untuk kesekian kalinya

angan yang bersayap

telah terbang bebas

melampau batas

Kumelirik,

dia masih duduk pada daun jendela

matanya syahdu dan dalam

memandang jauh ke bukit seberang

adakah dia memikirkan hal yang sama

Pada sebatang pohon

sepasang kelinci masyuk memadu cinta

berpeluh dan basah.

di bukit seberang.

Dia,

sesekali meliriku dalam

seolah ingin berkata

“andai aku seperti burung

akan kubawa terbang

menari mengitari bukit ini”

Bukit itu telah basah oleh embun

langit memerah

senja kian menghilang

aku bangkit dan menutup jendelaku

esok aku akan kembali duduk di daun jendela ini

dengan secangkir kopi yang mengepul.


d.purnami

21 Januari 2008

Tuesday, January 1, 2008

Selamat Tahun 2008

Selamat tahun baru 2008.

Derai hujan mengiringi pergantian tahun 2007, tak ada perayaan khusus tuk menyambut datangnya tahun 2008. Sembari memandang hujan dari balik jendela, saya merenungkan apa yang terjadi di tahun kemarin yang kini menjadi kenangan.

Banyak hal terjadi dalam setahun, kesuksesan, kebahagiaan, kegagalan dan duka datang silih berganti menyemarakkan hidup.

Kegelisahan adalah satu hal yang selalu menyertai kehidupan. Daftar kegelisahan akan lebih panjang jika waktu yang kita punya untuk merenung lebih banyak, merefleksi diri tentang apa yang telah diperbuat dan tentunya berharap di tahun mendatang semua menjadi lebih baik.

Tahun 2008 adalah tahun yang mengandung unsur angka 8, menurut fengsui 8 merupakan simbolis dari arah mata angin. Sebuah keseimbangan, seimbang dalam fikiran dan jiwa agar tercapai kedamaian dan keharmonisan di jiwa.

Kembali lagi saya mengenang tahun kemarin, hal yang paling meninggalkan makna adalah saya belajar menerima kenyataan hidup serta mengartikan arti kata cukup. Menerima kenyataan dengan lapang dada adalah hal terbaik agar bijaksana terhadap kehidupan yang kita jalani.

Kenyataan memang teman hidup kita yang pasti, bukanlah janji dan angan.
Begitu halnya mengartikan kata cukup. Sifat dasar manusia memang tak pernah bisa merasa cukup atau puas. Memang hal yang berat untuk mengatakan cukup kepada diri sendiri, membutuhkan proses penyadaran diri dan kerendahan hati serta ego untuk melakoninya.

Dan tahun ini saya merasakan kecukupan yang sangat di hati. Sebuah rasa bahagia yang indah.

Tak dipungkiri dalam setiap kemenangan ada kegagalan, begitupula sedih dan senang selalu datang bersama bagai sepasang kupu kupu putih jayaprana. Semua itu saya lalui dengan suka cita berkat dukungan orang-orang yang terkasih.
S
aya sangat bersukur di tahun 2007 dengan kecukupan rasa bahagia yang dalam yang membuat hidup saya sangat berarti.

Sahabat, keluarga dan orang terkasih.
Selamat menyambut tahun 2008.
Mari bergandeng tangan untuk kebahagiaan dan kedamaian di jiwa.

Salam Cinta
Kadek Purnami

Thursday, December 27, 2007

Perjalanan Cinta

Sebuah kisah

Tentang perjalanan cinta

telah dimulai

Mencari pasangan jiwa

---------------------------------------------------------

Akankah sebuah cinta sejati ditemukan?

Bagai cerita dalam dongeng

Sang pangeran menemukan cinta sejatinya pada seorang putri.

Ia melihat cerminan jiwanya ada pada diri sang purti

-----------------------------------------------------------

Kemudian,

Apa yang dapat dikata

Jika dongeng tak sepenuhnya khayalan

Seorang datang,

Dalam siraman sinar rembulan yang bertabur bintang

Kekasih,

Adakah cermin yang lebih bening dari dirimu?

Dimana aku dapat melihat bayang diriku ada pada jiwamu.

Dan diapun berkata

Cinta sejati itu telah kutemukan

Saatnya untuk mengakhiri perjalanan cinta ini

Ijinkan aku untuk bersemayam dijiwamu

Hingga akhir nafasku

Karena kau telah jadikanku sempurna

Dalam bahagianya hati.

***

Untuk sebuah purnama diakhir bulan desember 2007

d.purnami

24 desember 2007.

Hujan di Bulan Desember

Pada sebuah pagi yang menyambut

Mentari hangatkan bumi

Dedaunan berayun menghantarkan angin

Seekor anjing bergeliat malas enggan tuk beranjak

Dan kami para manusia hendak memulai cerita kehidupan.

Ku menatap sawah hijau yang membentang

Merasakan tiupan semilir angin

Dan gemericik air yang mengalir

Nyanyian burung bagai bait nada yang indah

Terbang rendah mencari makan

Sebuah pagi yang indah

Kutelusuri setapak demi setapak tanah sawah ini

Saya terdiam dan bertanya dalam hati

Mampukah saya menjaga alam yang indah ini

Sayapun menunduk malu atau entah apa

Belum banyak hal yang dapat kulakukan

…. Idep Demosite 5-9 november 2007

Sekeping cerita bersama sahabat.

------------------------------------------------

Wisnu telah membasuh pertiwi selama lebih dari 2 minggu, tumbuhan dan tanah menjadi basah memberikan kesegaran jiwa. Pepohonan seolah bersorak girang setelah kemarau yang cukup panjang.

Aktivitas memang sedikit tersendat, dan waktu saya menjadi lebih banyak untuk duduk terpaku dibalik jendela memandangi rinai hujan yang bagai jarum perak menghunus. Air sungai mengalir deras di bawah kamar, memang tak terdengar romantis seperti biasanya. Sayapun menjadi sedikit cemas jika terjadi banjir.

Kopi pun telah dituang untuk cangkir yang kedua, hujan belum juga reda, besok adalah natal, saudara umat kristiani tentunya juga sedang bersuka cita menyambut hari yang damai. Atau seorang sahabat yang sedang bahagia merayakan hari ulang tahunya. Ya semoga semua berbahagia.

Sambil mengetik saya memperhatikan telunjuk saya yang masih terasa sakit, cidera ringan waktu simulasi penyelamatan korban. Saya teringat dengan teman-teman sukarelawan penanggulangan bencana di nusa ceningan, nusa lembongan, tegalalang, dompu, rembang, aceh. Teman nampaknya kita sudah harus bersiap sedia menjadi tim relawan jika bencana datang menghampiri. Hujan semakin deras di bulan Desember.

d.purnami

24 Desember 2007

Wednesday, December 12, 2007

Tuesday, December 11, 2007

Save the Planet.

Apakah anda pencinta daerah Ubud?

Atau anda senang datang ke Ubud?

Apakah anda suka nongkrong di jalan Monkey forest sambil Ngopi?

Apakah alasan anda senang datang ke Ubud karena daerahnya sejuk, udaranya segar, merasa adem dan nyaman,

Atau Ubud sangat berkesan dalam hati anda karena anda bertemu kekasih, jadian, atau menikah di Ubud.

Apapaun alasan anda …

Jika anda benar-benar cinta dengan Ubud.

Mari bergabung dalam program penanaman pohon yang di selenggarakan oleh manajemen Monkey Forest Padangtegal.

Bagi siapapun yang ingin berkontribusi dalam menyelamatkan Bumi ini dan ingin Ubud agar tetap segar, kami tunggu kontribusi anda untuk menanam pohon pada lahan yang telah disediakan.

Caranya sangat gampang sekali.

Cukup dengan membayarkan uang sejumlah RP. 150.000 anda bisa menanam satu pohon. Lahan dan pohon telah disediakan. Dan anda akan mendapatkan sertifikat langsung.

Disamping menanam pohon anda juga bisa bermain sepuasnya dengan kera-kera yang pasti lucu tapi kurang menjanjikan keramahannya. ( yang pasti tidak seramah saya)

Jadi tanamlah satu pohon untuk sebuah kenangan anda atau cinta anda pada Ubud, ataupun cinta anda pada gadis Ubud atau lebih spesifik cinta anda pada galang bulan. Semua alasan anda dapat diterima untuk menyelamatkan bumi ini.

J he..he..he..

Salam hangat,

d.purnami

originally from padangtegal Ubud.

Monday, December 10, 2007

Dulu Banjar Buluk Babi , kini Banjar Padang Kencana

Ada orang mengatakan setelah kita meninggal selesai sudah masalah hidup kita. Penyataan tersebut memang benar, mereka yang arwahnya meninggalkan dunia ini memang telah menyelesaikan masalah hidupnya, namun terkadang jasad yang ditinggalkan masih tetap meninggalkan masalah bagi keluarganya.

Hal ini terjadi pada Dadong Bega, seperti namanya dadong Bega yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia diam, nenek ini memang diam dan terbujur kaku. Dia tidak tahu kalau kematiannya adalah pemicu hingga meledaknya bom waktu. Kasus desa adat Bulu Babi yang tak diselesaikan sejak dahulu, nyaris hingga pergantian bupati.

Padangtegal dan Pengosekan adalah desa yang bertetangga, warisan leluhur kalau kedua desa ini adalah bersaudara. Ida Bethara pun mesameton. Sekitar 60 Kepala keluarga desa pengeosekan memang mekhayangan tiga di desa pekraman Padangtegal. Namun sejak tahun 2002, sekitar 12 warga tempekan Buluk Babi kembali mendesa pekraman ke pengosekan. Tinggal 48 warga yang masih tetap bersikukuh medesa pekraman ke padangtegal, dengan alasan titah dari para leluhur harus dilaksanakan, kalau tidak nanti pasti kepongor. Alhasil mereka 48 warga ini statusnya terkatung-katung, susah untuk membuat KTP serta pembuatan surat-surat administratif lainnya.

Banjar Buluk Babi mungkin tak mengenal istilah dimana tanah dipijak disanalah langit di junjung. Memijak tanah pengosekan namun menjunjung langit padangtegal. Sudah pasti tak ada titik temu.

Warisan adat dan budaya kita memang agung, namun ada juga warisan dari para leluhur yang jauh dari keagungan. Fanatisme adalah akar permasalahan yang memecah belah hakikat kita sebagai manusia yang dicipatakan dari satu asal yang sama. Kita kembali dibuat untuk lupa kalau berpijak di tanah yang sama, dan menyembah Tuhan yang sama. Buat apa memakai Udeng yang nyotot jika pemikiran kita hanya ingin menusuk pemikiran dan hati orang. Lagi- lagi Ego dan ego tetap menang dan mendominasi pemikiran dan hati manusia .

Akhirnya, dengan negosiasi yang terkesan alot dan hingga petang hari, terilhami juga kedua kubu yang berunding tersebut pencerahan untuk mencari jalan keluar dan mengendorkan urat saraf. Banjar Buluk Babi akhirnya berdiri sebagai banjar sendiri, dengan desa dinas di Pengosekan, dan tetap menyungusng khayangan tiga di Padangtegal. Banjar Padang Kencana adalah jelmaan baru dari banjar Buluk Babi. Akhirnya sebelum bupati berganti diselesaikannya juga masalah ini. Kini Pak bupati pun merasa plong PR sudah diselesaikan.

Ada satu catatan diluar kasus tersebut yang paling memprihatinkan adalah emosi warga Pengosekan yang berlebihan. Pohon sepanjang jalan utama ikut menjadi sasaran emosi warga. Dengan tak terkendali mereka memangkas habis pepohonan sebagai tanda protes.

Pohon yang telah ditanam berpuluh tahun dan tumbuh kembang seiring kasus tersebut kini ditebang dalam hitungan menit.

Apa ada yang salah dengan pohon tersebut?

Kenapa pohon yang merindangi dan menyejukkan sepanjang jalan itu harus ikut terkena dampak?

Saat delegasi PBB dan utusan berbagai negara sedang bersidang membicarakan keselamatan dunia. Disaat semua orang berkumandang untuk Go Green, mereka malah menebang pohon. Sungguh disayangkan dan mempermalukan diri. Memang nampak kualitas manusia kita yang tak menghargai alam. Jangankan mengatasi masalah Alam, mengatasi emosi diri saja sudah tak mampu.

Atau mungkin saja dengan ditebangnya pohon tersebut masalah juga bisa dipotong dengan cepat?

Atau jangan-jangan pohon itu sumber masalah? Apakah ada penunggunya yang mengahntui warga? Ha..ha.. nampak berlebihan imajinasinya. ( tetap saja pohon itu korban dan tidak bersalah)

Aku sebagai salah satu warga padangtegal merasa lega juga kasus ini bisa diselesaikan.

Banjar Padang Kencana akhirnya berpijak diatas tanah pengosekan dan menjungjung langit pengosekan, namun tetap melirik langit tetangga untuk dijunjung juga.

Apa karena rumput tetangga memang lebih ijo.

Sejak kapan langit jadi ijo?

Go green juga?

( nampak mulai ngawur)

Celebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu, ada kene ada keto..

9 Desember 2007

d.purnami

Friday, November 23, 2007

Sasih Kanem

Tahun 2007 ini hari kajeng kliwon sasih kanem (bulan keenam) jatuh pada 19 November, Menurut orang Hindu Bali, bulan ini menjadi hari yang keramat. Biasanya banyak sekali cerita mistis mulai merebak, semerbak wangi kemenyan dan kenanga..hi..hi.hi..

Apakah memang benar sekeramat itu sasih kanem?

Entah mitos atau memang benar seperti itu, namun sejak kecil saya memang sudah dicekoki informasi oleh para tetua tentang betapa keramat dan seramnya jika sasih kanem tiba. Cerita yang muncul beraneka ragam dan selalu berisikan intrik-intrik seram dan keramat, membuat merinding dan nyali menciut. Dulu, diceritakan banyak orang meninggal pada sasih kanem, tak hanya itu, kita juga sering diharuskan untuk tidur di bawah beralaskan tikar agar tak diambil oleh Ratu Bagus Gede Mecaling sebagai tumbal. Para tetua juga sering bilang kalau setiap sasih kanem dilangit kelam sering muncul sinar-sinar yang berkelebat yang merupakan peperangan antara para leak unjuk kesaktian.

Sebenarnya apakah memang seperti itu? Sayapun tak tau pasti. Namun hari ini saya tergerak untuk mengkait-kaitkan beberapa kejadian saja. Sasih kanem sering jatuh antara bulan November dan Desember yang dikenal sebagai musim penghujan, namun tak sepenuhnya hujan turun, cuaca terkadang panas terik dan tiba-tiba berubah hujan, angin kencang, petir ikut menyambar. Tak dielakkan beberapa daerah seperti Ketewel, Sukawati dan Denpasar tersapu angin puting beliung. Cuaca yang sangat tidak bersahabat atau musim pancaroba ini seringkali membuat penurunan kondisi fisik. Penyakit flu dan demam dengan mudah menyerang, keadaan diperparah dengan banyaknya lalat yang bertebangan kesana kemari menebar berbagai penyakit, alhasil kita menjadi diare. Jika memang watak sasih kanem seperti itu setiap tahunnya, kemungkinan dulu saat dikatakan banyak orang meninggal saat sasih kanem sebenarnya karena daya tahan tubuh yang lemah, sakit tanpa diobati dan kemudian meninggal.

Atau mitos lainnya lagi, konon kita sering diminta tidur di lantai beralaskan tikar saja agar kita tidak dijadikan tumbal oleh Ratu Bagus Gede Macaling, mungkin hal ini dikarenakan watak sasih kanem yang dipengaruhi oleh sasih katiga yang bersifat panas, sehingga setiap malam kita sering merasa gerah dan panas yang menyebabakan sulit tidur sehingga orang-orang merasa lebih sejuk tidur di lantai daripada diatas kasur, bukan seperti mitos yang dikatakan karena Ratu Bagus Gede Mecaling akan mengambil orang-orang yang tidur diatas kasur dan dijadikan tumbal, namun karena memang lebih sejuk tidur di lantai.

Tak ketinggalan cerita seram lainnya yang mengatakan tiap malam menjelang sasih kanem banyak ada sinar berkelebat dan itu adalah para leak yang sedang berperang mengadu kesaktian mereka, tapi jika dilihat dalam 2 hari belakangan ini saya memang sering bergadang untuk menyaksikan sinar yang berkelebat di langit kelam namun bukan untuk menyaksikan leak yang sedang berperang tapi menyaksikan serpihan meteorit yang bejatuhan mungkin sebenarnya para tertua kita dulu sebenarnya sedang menyaksikan bintang jatuh yang sering terjadi sekitar bulan November dan bukanlah leak yang sedang berperang.

Entahlah apakah itu benar atau mitos, saya juga tak tau pasti. Hanya satu yang pasti yang saya rasakan ketika memasuki awal sasih kanem, saya sangat disibukkan untuk melakukan ritual upacara.

Sebagai perempuan Bali yang tinggal di desa, masih sangat kental sekali ritual adat dan keagaamannya. Satu hari tersita untuk melakukan ritual. Ketika pagi menyongsong, saya awali untuk melakukan upacara kajeng kliwon dirumah sendiri, berkeliling rumah nyaris lebih dari tiga putaran, jongkok bangun menghaturkan segehan cukup membuat saya bercucuran keringat seperti aerobik. Mata perih karena asap dupa dan bau arak yang menyengat untuk sang bhuta kala. Dengan sarana itu diharapkan dapat menetralisir dan menjauhkan segala energi negatif yang ada dilingkungan rumah dan di dalam diri kita. Memang benar terbukti, energi negatif dari diri sayapun hilang, saya jadi tidak sempat marah atau berfikir yang tidak baik karena harus fokus pada ritual berikutnya dan fisik saya cukup kelelahan sehingga tak sempat menebarkan energi negatif dan memilih untuk minum kopi. (Berhasil kan ritualnya? J)

Siang hari di panas terik ritual dilanjutkan menuju pura di khayangan tiga yakni pura Desa, Puseh dan Dalem. Saya harus menjunjung 2 wadah banten yang cukup besar diatas kepala, cukup membuat leher terasa kaku. Bagaiaman tidak, banten itu berisikan beras, telur, kelapa, buah-buahan yang lebih dari 5 kilo yang dipersembahkan kembali kepada Ibu pertiwi, bumi tempat kita berpijak. Ritual upacara sebagai ungkapan terima kasih atas karunianya agar umat manusai selalu diberi keselamatan, dijauhkan dari mara bahaya, dan manusia disadarkan untuk menjaga keseimbangan alam agar tak murka. Walau keringat mengucur tak menghalangi ketulusan saya mempersembahkan dan menghaturkan bhakti kehahadapNya dalam bait doa yang tak henti saya panjatkan. Prosesi acara berlangsung hingga matahari tenggelam, setelah itu kembali kerumah untuk menghaturkan pecaruan di depan rumah untuk dipersembahakan kepada sang bhuta kala agar tak masuk kerumah.

Petang berganti malam, para sesuhunan-Ida Bhatara ( manifestasi Tuhan dalam bentuk Barong dan Rangda yang disakralakan ) tedun Ngunya - diusung berkeliling mengitari desa diikuti oleh seluruh warga untuk memberikan pemberkatan. Dentingan genta, semarak bunyi gamelan membuat hati riang, nyaring suara kidung membawa angan terbang menemui sang pencipta, semerbak wangi dupa menusuk sukma. Warga Desa dengan khusuk mengikuti, berjalan beriringan dalam doa mohon keselamatan untuk diri, keluarga, lingkungan dan alam semesta. Mohon kedamaian di jiwa, di dunia dan alam semesta.

Sesuhunan di usung melewati jalan dan gang kecil, menjadi tontonan yang menarik bagi para bule yang sedang duduk makan malam direstoran, bahkan lebih menarik dari makanan yang mereka pesan. Pada setiap persimpangan, sesuhunan berhenti sekitar 20 menit, dihaturkan pecaruan dengan ritual pemotongan ayam. entah berapa ekor Ayam yang mati pada hari itu di Bali untuk sebuah pelengkap upacara ritual, perlu kita ingat ayampun berperan untuk keselamatan semesta. Kemacetan yang begitu panjang tak terhindarkan, seluruh warga duduk sepanjang jalan.

Malam kian larut, posesi belum berakhir, kaki sudah mulai lelah, mata mengantuk dan perut keroncongan. Fikiran mulai tidak fokus dan bercabang, banyak godaan datang yang mengganggu bhakti saya. Ada satu hal berkelebat dalam benak saya ketika saya duduk di trotoar jalan menunggu pemangku menyelesaikan bait matranya. Kenapa sesuhunan desa kita bertandang ke desa sebelah (sebut saja desa T ) Tanya saya pada seorang tertua yang duduk disebelah saya, dijawabnya konon, bahan kayu dari sesuhunan di desa T tersebut diambil dari hutan kera di desa saya, sehingga secara otomatis sesuhunan tersebut memiliki kekerabatan persaudaraan. Benarkah seperti itu? Terus bagaimana dengan sesuhunan di desa tetangga lainnya sebut saja desa P yang juga kayunya diambil dari hutan kera? Seingat saya beberapa tahun yang lalu kami juga mengunjungi desa tersebut, namun kali ini tidak. Apakah karena wilayah yang harus dikunjungi terlalu jauh dan memakan waktu lama hingga subuh menjelang untuk ngunya? Tertua disebelah saya tak menyahut, sayapun diam. Kembali saya berfikir sendiri sembari mengusir rasa kantuk, teringat kejadian beberapa bulan sebelum sasih kanem tiba, ketika desa saya bersitegang dengan desa P mengenai urusan tapal batas desa yang hingga hari ini belum terselesaikan. Walau sekian kali terjadi pertemuan rahasia antara bapak bupati dan perwakilan pengurus desa tetap tidak ada titik temu. Hari ini sesuhunan tidak memberi pemberkatan ke wilayah desa P. Kenapa sesuhunan menjadi ikut terlibat dalam permasalahan ini? Sekala dan nisakala menjadi tanpa batas. Sebenarnya siapakah yang menentukan sesusuhan tersebut memberi pemberkatan ke desa tetangga? Apakah para pengurus mendapat pawisik dari sesuhunan atau para pengurus desa sendiri yang memutuskan?

Beberapa tahun belakangan ini nampaknya ada trend baru juga di bidang spiritual. Sesuhunan saling mengunjungi antara desa satu dengan desa lainnya. Tujuannya sangat mulia, memberikan pemberkatan untuk warga agar kita semua diberi keselamatan, rukun saling asah, asih dan asuh, mengingatkan bahwa kita semua adalah saudara, menatap matahari yang sama dan berpijak pada bumi yang sama. Tapi terkadang seperti ada kepala di balik udeng. Sesuhunan sepertinya dijadikan alat politik kekuasaan oleh para pengurus desa untuk menunjukkan kuasanya atas territorial wilayah tertentu. Semakin besar wilayah yang dituju semakin banyak memiliki massa. Kenapa sesuhunan dilibatkan dalam urusan ego manusia dan politik kekuasaan? Kenapa semua menjadi tiada batas dan bercampur aduk? Seperti fenomena persiapan pilkada saja, calon bupati AS ngayah menari kepura-pura yang bukan khayangan tiganya. Tak kalah juga dengan bupati B, walaupun tak bisa menari namun dia sangat rajin mebakti ke pura manapun, yang bukan pura khayangan tiganya juga. Mebakti dan menarikan sesuhunan pura khayangan tiga orang lain berarti pula mengambil hati warga yang menyungsung sesuhunan di pura tersebut. Fenomena sasih kanem yang memang aneh dan gerah.

Kaki saya sudah lelah sekali berkeliling, perut terasa keroncongan, dan tenggorakan terasa kering. Fikiran tidak bisa fokus kembali dalam bait doa-doa. Fikiran lain tersbersit kembali, bagaimana jika ternyata seluruh sesuhanan di Bali berkerabat, berarti setiap sasih kanem seluruh warga Bali akan berjalan berkeliling Bali ngunya ngiring ida betara, dapat dibayangkan betapa panjang deretan pengiringnya, angklung dari berbagai daerah mengiringi seperti festival PKB, butuh beberapa hari untuk berjalan, dan betapa macet seluruh jalan di Bali. Apakah akan ada kebijakan daerah libur 3 hari untuk menyambut sasih kanem? Seperti halnya tajen yang diusulkan untuk dibuyatkan perda?

Entahlah…

Mungkin tadi saya sempat tertidur sehingga saya mimpi buruk seperti diatas.

Saya butuh seteguk air, sesuap nasi dan istirahat

Bait matra telah diselesaikan oleh pemangku.

Sasih Kanem,

Mohon kami diselamatkan dari ego manusia yang semakin menjadi-jadi

Lindungi kami dari mara bahaya yang sejatinya diciptakan manusia

Jauhkan kami dari perang antar saudara

Manusialah bhuta kala itu

Manusialah Ida Ratu Bagus Gede Mecaling yang menjadikan saudara sendiri sebagai tumbal.

Sasih Kanem,

Selamatkan kami.

*** d.purnami

20 November 2007

Friday, October 12, 2007

Pengintai

Subuh itu matahari belum terbit

udara terasa dingin

mobil melaju kencang dalam jalanan yang sepi

berharap waktu melambat.

Subuh itu matahari belum terbit

jaket menghangatkan tubuh

motor dilaju kencang di jalan yang sama

berharap dapat bertemu sebelum burung besi itu terbang

Tak bertemu,

dan bukan berarti tiada harapan lagi

berdiam diri

pada waktu yang sama dan tempat berbeda

Tanpa bicara

Namun aku mendengarnya berbisik

Tak nampak

Namun aku merasakan keberadaannya

Tiada pelukan perpisahan

Namun seolah dia mendekapku

Sebenarnya, kita sedang pada waktu dan tempat yang sama

Dia tetap mengintai dalam setiap langkahku

Wajah murungku terekam olehnya

Kesedihan hatiku terbaca jelas.

Tetap mengintai

dia tak bergerak sedikitpun

tetap disitu hanya memandangku

dengan kesedihan dan kemurungan yang sama

Matahari telah terbit menghangatkan

Burung besi telah terbang

Kita berpisah

Tanpa sepatah kata namun penuh oleh rasa

Sang pengintai hanya memandang keatas.

***d.purnami

Juli 2007