Thursday, September 25, 2008
Bersua kembali
Ternyata menulis memang menjadi salah satu aktivitas yang cukup menyenangkan untuk meringankan hati. Bercerita dan berbagi membuat semua nampak menjadi ringan.
Salam buat teman-teman yang bersetia mengingat blog saya yang sesekali masih suka membuka dan membaca cerita-cerita usang.
Ca Yo!!! Saya kembali.
Saya juga ingin memperkenalkan adik dari galang bulan, yaitu http://lintanglakubintang.blogspot.com
Its me!
Salam hangat,
Kadek purnami
Monday, April 14, 2008
Senyap
Tak seperti biasanya
ruang ini menjadi senyap
yang ada hanya aku dan derai daun yang tehempas angin
serta detik detik waktu yang tetap berhitung
Tak seperti biasanya
kursi di depanku itu kosong
tak ada mata yang memandang
atau senyum yang menyapa
yang ada hanya aku dan angin.
Menit demi menit aku lalui,
menanti dan menanti
hingga senja tenggelam
kursi didepanku tak kunjung isi
Senyap
hanya aku dan angin.
menanti dan menanti.
dan tak akan ada yang lain
Dalam senyap
kulantunkan lagu hati yang tak sempurna
menari dalam kaku gerak tubuh
kubiarkan tangan menuntun sebatang arang
menggores diatas putih kertas
Tercipta dalam senyap,
sebatang pohon bambu dengan bulan penuh
kisah sepi si rumpun bambu dalam kelam malam
yang sesekali berderai oleh angin
hantarkan kisahnya ke telinga seorang wanita
yang duduk sediri ditepi jendela memandang bulan.
Aku rindu akan senyap ini,
ketika bibir tak perlu bersuara
mata tak pelu melihat
dan telinga tak perlu mendengar
biarkan senyap antarkan naluri
bertemu titik hati yang lain
tanpa perlu berbisik atau menyentuh
hanya perlu memejamkan mata dan senyap.
D.purnami
11 April 2008
Friday, April 11, 2008
Rindu Lilin pada Obor
Dengan nyalanya yang kecil,
teguh ingin menerangi seluruh ruang
sesekali meredup diterpa tiupan angin
bersabar meleleh dalam hitungan waktu
hingga tak bersisa.
Dengan nyalanya yang kecil,
berjuang dalam pekat malam
membawa amanah tuk menerangi
walau luluh seiring detik
Dalam nyalanya yang kecil
dia begitu merindukan Obor
tempatnya dulu meminta api
yang menjadikannya lilin.
Obor sang panutan lilin
pernah menerangi seisi rumah yang tak hanya ruang saja
beri terang pada rumah yang bergempita
berdiri kokoh dengan nyala besar.
Ingin lilin seperti Obor
namun apa daya ia hanya sebatang lilin kecil
dengan nyala sebatas ruang
yang hanya mampu menampakkan bayang.
Kini lilin sendiri dalam ruang itu
menunggu waktu tuk meleleh.
dengan ditemani bayang.
Dalam pekat,
Lilin kecil begitu merindukan Obor.
d.purnami
11 April 2008
Miss u dad.
Sadar
Hingga hari ini,
aku masih belum tersadar
walau darah anjing telah basuh pertiwi
air suci dari sekian mata pancuran menyiram tubuhku
mantra dari tumpukan lontar telah dibacakan.
Belum juga aku tersadar,
empat puluh dua hari sudah aku berhitung
sekian malam terlewati
wujudmu sejatinya tak akan pernah nampak
hangat candamu tak lagi hiasi haru kehidupan.
Tersadarkah aku,
jika suaramu telah menghilang cukup lama
wajahmu makin memudar dalam benak
namamu semakin dilupakan
jejakmu telah terhapus waktu.
Kapankah aku akan tersadar,
Senyummu adalah dingin kabut
Jiwamu hanya derai angin
Baumu kini harum cendana
Tak ada yang menyadarkanku,
bahwa matahari tetap bersinar
waktu tetap berhitung
ruang semakin sempit
aku semakin terhimpit
dalam ketidak sadaran
Kepada siapa aku harus bertanya,
aku tak punya cermin
airpun keruh
bayanganku tak nampak
Hingga hari ini,
satu hal yang kusadari
kalau aku tak pernah lelah berharap
teguh hati ini bersetia menantinya disatu bintang
dikelam malam yang ditemani kunang-kunang
walau hingga tertidur dibawah embun.
Hingga hari ini,
aku tersadar
aku memang masih belum mau menyadarinya
bahwa kau adalah dingin kabut, derai angin dan harum cendana.
11 April 2008.
2 bulan setelah 11 februari
Wednesday, April 9, 2008
Berpulangnya Penglingsir Puri Ubud.

Ketika melintas di depan puri Ubud ada pemandangan yang tak biasa, karangan bunga tanda ungkapan bela sungkawa nampak menghiasi halaman depan gerbang puri. Penglingsir Puri Ubud - Tjokorda Gede Agung Suyasa orang yang dituakan dan dihormati telah berpulang. Ribuan orang datang hadir mengucapkan bela sungkawa, duduk bersimpuh dan bersila dihadapan jenasah, sebagai wujud bakti dan penghormatan terakhir atas segala jasa dan dharma baktinya selama hidup.
Nyaris seratus karangan bunga berjejer menjejali halaman puri sebagai tanda simpati dari keluarga, kolega, perusahaan, organisasi, pemerintahan, partai, sekolah, hotel hingga restaurant. Semua mengirimkan Karangan bunga. Setiap kali saya melintas fikiran saya selalu berhitung dengan karangan bunga tersebut. Bilang saja satu karangan bunga berukuran 2 x 1 meter seharga 350 ribu bayangkan saja jika da 100 buah akan menjadi 35 juta jumlah yang cukup banyak. Dana sebesar itu mungkin akan jauh lebih berguna jika seandainya itu disumbangkan dalam bentuk uang ataupun makanan. Sudah tentu akan sangat meringankan pihak puri dalam pengeluaran biaya ngaben. Fikiran saya masih berkutat dengan karangan bunga. Kini Ubud mempunyai media promosi baru. Halaman puri menjadi ajang promosi yang gratis, tidak dikenakan pajak. Semua perusahaan berlomba-lomba menaruh karangan bunga paling terdepan mengingat halaman gerbang yang sangat strategis sehingga setiap orang yang melintas tentu akan tertarik membaca nama-nama hotel atau perusahaan lainnya.
Beralih dari karangan bunga, dapat dipastikan akan ada sebuah perhelatan besar di Ubud pada tanggal 15 Juli 2008. Acara ngaben akan menjadi sangat istimewa.
Kurang lebih 5 bulan jenazah dibaringkan, disuntikkan formalin dari hari ke hari agar awet, jenazahpun akan berangsur menghitam nyaris tak dapat dikenali. Keluarga puri pun mulai kelelahan, menyambut dan menjamu orang setiap malam yang turut menghibur puri. Kesedihan mendalam keluarga yang ditinggal semakin luntur oleh kesibukan dan kelelahan mempersiapkan semua itu. Judi pun menjadi di halalkan karena tradisi. Sekian karung kopi, gula, beras, juga sekian dus rokok dihabiskan. Belum juga tenaga dan fikiran untuk perhelatan besar ini dalam kurun waktu 150 malam mengantarkan jenazah ke tempat terakhir menuju rumah Tuhan. Dengan naga bande, bade yang menjulang tinggi dan lembu yang diusung ratusan orang semoga tidak ada pohon yang ditebang untuk memberi jalan pada bade yang membungbung tinggi menuju langit. Semua menjadi istimewa; orang yang meninggal, hari yang dilalui, tradisi, budaya, ribuan pelayat, ratusan media, serta paket hotel, semua memang menjadi sangat istimewa.
Dibalik itu semua,saya merenung mengingat beliau yang yang meninggal. Bagaimanakah perjalanan ruhnya menuju rumah Tuhan, adakah jiwanya telah terbebas, damai mencapai kesempurnaan dan kemurnian? Adakah beliau kini yang terbujur kaku akan dihapuskan segala dosa dengan semua yang dibuat istimewa sebagai wujud pengabdian dari keturunannya? Adakah dia sejatinya hanya membutuhkan selembar kain putih, 5 buah teratai putih serta doa tulus dari keturunnya dan abdinya untuk membebaskannya dari seluruh perjalanan masa lalu. Entahlah tak seorangpun akan tahu. Hanya ruhnya dan Tuhan yang akan tahu perjalannnya yang begitu istimewa.
Amor Ring Acintya Ratu Tjokorda Lingsir.
Hanya doa yang dapat tiang panjatkan, turut menghantarkan ruh Ida Ratu.
Ubud, 9 April 2008
Kadek Purnami
Monday, March 31, 2008
Bermain dan makan ice cream bersama
Bermain dan bermain !
Mungkin itulah hal yang memenuhi isi kepala kita dimasa kecil.
Lama sekali rasanya aku tak bermain, berlari dan berkejar-kejaran. Walaupun kaki terseok-seok karena jatuh terpeleset tak mengurangi keinganku untuk mengajak anak-anak kecil itu bermain.
Sembari makan ice cream bersama kami bercerita dan tertawa.
Berbaur dengan kenaifan serta keluguan anak usia 10 tahun.
[Andai rejeki ini lancar tentunya mereka akan semakin sering makan ice cream ha..ha..]
Hari-hariku belakangan ini sedikit melelahkan dengan urusan kehidupan dan pekerjaan. Terlalu sering bertemu dengan orang dewasa yang selalu membawa masalah yang kompleks.
Ah.. aku rindu dengan bau basah tanah sawah, rindu mengejar capung, menari di bawah terik dan semilir angin. Dan indahnya hariku sewaktu dulu tanpa jadwal yang padat oleh les ini itu.
[ thanks untuk ayah yang rela berantem dengan ibu untuk memberiku kesempatan lebih banyak bermain di sawah daripada mengikuti les privat yang mejemukan]
Salam ceria,
Kadek Purnami
Thursday, March 20, 2008
Cita-citaku yang sederhana

Sore yang basah oleh hujan, aku duduk di antara tumpukan buku, kanvas dan warna. Sebentar lagi jam 3 sore, masih gerimis. Aku khawatir malaikat-malaikat kecil itu tidak muncul.
Hari ini adalah pertemuan pertama kami dalam program melukis yang kususun untuk mereka. Seniman dan material telah siap, tinggal menantikan kedatangan mereka.
Dalam hati aku berbisik, “Ah, akhirnya aku bisa juga mewujudkan cita-cita kita
[aku dan bapak]. Aku teringat perbincangan yang sudah cukup lama antara kami.
Ketika dulu setelah kuliah aku ingin membuat klub menggambar dan membaca dirumah. Garasi rumah kami cukup menampung 20 anak, areal bermain dibawah pohon rambutan serta kolam ikan dibelakang rumah cukup untuk wahana mereka berekspresi. Aku membayangkan aktivitas sederhana yang bisa kami lakukan; membaca, mendongeng, melukis, memancing ikan, memelihara burung, jalan ke sawah ataupun ke hutan dekat rumah. Kegiatan tentunya akan lebih menarik dengan makan es krim atau bikin rujak.
Penyesalanpun datang, cita-cita yang sangat sederhana belum dapat kami wujudkan hingga sampai bapak berpulang. Semua karena waktu yang tak kunjung luang. Penyelasan dan penyesalan, waktu yang seharusnya aku lewati bersama dengan bapak dan anak-anak sudah tidak mungkin direngkuh lagi.
Aku bertekad, cita-cita yang sederhana itu harus tetap aku wujudkan.Yang ada kini tinggal aku dan anak-anak. Hingga tiba hari ini, sebulan sepeninggal bapak kuwujudkan cita-cita kami yang aku dedikasikan untuk dia.
Anak-anak pun datang setelah hujan reda, tepat jam 3. Mereka antusias ingin melukis, para orang tua bersetia menemani. Kamipun antusias menyambutnya. Kuawali dengan permainan yang mengakrabkan mereka untuk merasa bersaudara kemudian, sang senimanpun menurunkan ilmunya kepada anak-anak.
Bukit campuhan yang menghampar luas dan hijau, rindu ilalang pada sang hujan.
Thanks untuk Yayasan Saraswati yang menfasilitasiku untuk mewujudkan cita-cita ini.
Program lainnya akan kita wujudkan lagi untuk anak-anaku.
Salam cinta,
Kadek Purnami
Thursday, March 13, 2008
Sendiri
Pernahkah anda merasa takut sendiri? Takut tidak mempunyai teman, sahabat ataupun keluarga yang peduli?
Tentunya karena saya merasa takut sendiri.
[setelah begitu lama memandangi foto ayah saya]
Semua diawali dan diakhiri dengan kesendirian.
Ketika tubuh kita menjadi abu yang tertinggal hanya nama dan kenangan, sisanya tak ada. Atau ketika kita hidup mencapai puncak kejayaan; orang-orang datang dan pergi memberi sanjungan, celaan dan penghianatan. Semua itu adalah elemen penting untuk melengkapi kisah kehidupan kita. Mereka hadir sebagai pemain pendukung, pemeran utama dalam cerita perjalanan hidup tetaplah diri kita sendiri.
menurutnya bahwa kehidupan itu seperti Piramid, mengkerucut ke atas hingga sampai pada puncaknya sebuah titik nol = kosong.
Salam kasih,
Kadek Purnami
Tuesday, March 4, 2008
Kunang-kunang
Walau kau tak sehebat matahari
ataupun tak sebesar nyala obor
namun,
Cayahayamu telah terangi jiwaku disaat gelap.
kau telah jadikan malam tetap terasa indah
Kunang-kunang,
Pada cahaya kecilmu aku ingin berpegang.
Pada sayapmu aku akan terbang.
Bersamamu, kunang-kunang.
kan kulewati sisa malam ini tanpa nyala obor.
Nyepi
waktu menjadi jeda dan tersedia
untuk direnungi detik demi detik
Saat ini, suka cita untuk dinikmati
Dan esok, mari kita menaruh harapan untuk lebih baik
Fikiran menutup telinga
Rasa memejamkan mata
Mencoba memahami
Kekosongan
Menikmati sepi
Kuucap
Selamat merayakan hari raya Nyepi.
Friday, February 29, 2008
Rindu
Rasa yang tak tertahan
Ingin sekali menatapnya
Menyapanya
Memeluknya
Ucapkan kata sayang padanya
Kucari,
Entah dimana
Tak dapat kutemukan
Kukembali terduduk
Mengingatnya
Dalam mata yang terpejam
Dia ada disini
Di dalam darahku
Di dalam hatiku
Dia ada bersamaku
Dia tak dapat kutemukan dalam wujudnya
Kubakar sebuah dupa
Kubaca sebait doa
Yang
Pada dia
Sang atman
d.purnami
Jumat, 29 Februari 2008
I miss u dad
Monday, February 25, 2008
Pahlawanku berpulang di bulan Februari
Dedicated to my beloved father
Februari – senyatanya merupakan bulan penuh kasih sayang, romantisme, mawar dan warna pink mendominasi dimana-mana sebuah peringatan perayaan cinta dan kehidupan.
Di bulan februari ini blog saya terasa gelap, tak ada satupun petikan cerita romatis atau puisi cinta yang merekah. Hanya kesedihan dan kepedihan hati yang mampu tertulis.
Blog di bulan Februari ini saya dedikasikan untuk Ayah saya – Made Subrata- yang telah berpulang kerumah Tuhan pada 11 Februari 2008 pk. 12.00 wita.
Pahlawanku
Dia telah jadikanku seperti sekarang ini
Hanya memberi
Tak pernah mengharap kembali
Tak memberi kesempaan untuk mengembalikan
Dia hanya ingin memberi
Menjadikan tiada menjadi ada
Dan kemudian pergi untuk selamanya.
Dialah pahlawanku
-----------------------------------------------------------
27 tahun Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi cerita kehidupan dengannya. Berbagai kenangan, kehangatan cinta dan kasih tlah di rasakan. Kalau boleh dikatakan inilah masa kebahagiaan saya yang indah. Dia merupakan sosok ayah, guru dan sahabat bagi kami anak-anaknya. Tak pernah disangka akan berpulang secepat ini, disaat saya belum sempat membalaskan semua kebaikannya.
Inilah misteri Tuhan yang dari dulu saya takuti, ketika orang terkasih harus berpulang dan lenyap dari pandangan kasat mata. Hangus menjadi abu oleh api, lebur bersama air kembali menyatu menjadi tunggal.
Kematian memang bukan hal yang perlu ditakuti, namun rasa kehilangan yang dalam memang menakutkan bagi saya. Walau sudah 2 minggu duka mendalam masih terasa.
Semua menjadi tidak normal, kepala seperti di kaki , kaki dikepala.
Konon, keiklasan adalah obat dari semua kepedihan.
tapi saya ingin merasakan dulu kepedihan ini.
Saya akan kembali jika saya sudah mampu melihat bahwa matahari memang bercahaya.
Salam duka,
Kadek Purnami.
Obituari Perupa Made Subrata
Menggurat Pesona Puitik Perempuan
Oleh Wayan Kun Adnyana
Tidak banyak perupa Bali yang intens menyusuri sisi karismatik wajah ayu perempuan
Oleh perupa Made Subrata, cantik perempuan Bali teramu dalam kecakapan mengolah dan mengurat warna; menyusuri nilai psikologis dari warna-warna, berikut memoleskan kembali keindahan wajah perempuan
Biasanya, Made Subrata menjadikan anak perempuannya Kadek Sri Purnami—perempuan
Pada era 1980-an adalah masa di mana karya-karya Made Subrata menuai puncak pengakuan. Melenggang dalam berbagai forum pameran bergengsi di berbagai
Sebagai perupa, Made Subrata memang hanya menjalankan keinginan intuisinya. Dia bekerja, selama cita-cita artistiknya menghendaki. Walau pasar memburu, dia tak sudi berpaling, kalau memang saat itu keinginannya hanya untuk merawat tanaman angrek yang kini marak menghiasi pekarangan rumahnya yang asri di Padangtegal, Ubud, dia akan melakukannya dengan penuh setia. Memang tak ada kata setengah hati bagi perupa yang menata rapi brewoknya itu. Begitu pula ketika berkehendak untuk melukis, sudah pasti tak ada yang mampu menghentikannnya. Begitulah jalan seniman menuaikan fitrah hidupnya; berjalan tanpa ada yang bisa menyangkal.
Kabar duka, Senin, 11 Februari 2008, pukul 12.00 wita, datang lewat sms, mengabarkan perupa yang juga guru dengan pribadi memesona itu telah berpulang. Betapa terkejutnya saya membaca kabar yang tiba-tiba itu, apalagi bagi keluarga yang ditinggalkan. Namun di atas segala-galanya begitulah Ida Sang Hyang Widhi berkehendak atas perupa yang di masa hidupnya telah memberi sumbangsih artistik bagi khasanah perupaan seni rupa
Wayan Kun Adnyana, pengajar di FSRD ISI Denpasar, mahasiswa Paska Sarjana ISI Yogyakarta.
Ubud loses Made Subrata, an artist and a teacher
Features - February 21, 2008
I Wayan Juniartha, The
The darkened sky on that somber Monday afternoon was soon followed by a strong wind that swung the trees back and forth. The wind didn't give way even after a torrential rain hit the earth with a ferocity that drowned out any other noise.
The gloomy weather provided a perfect backdrop for the mourners, who huddled together at various places in the house. In the vacated car garage next to the house, a group of women worked in silence, preparing the intricate ritual offerings for the cremation.
A few meters to the east, in the open pavilion before the rural family's shrine, the body of Made Subrata lay on an elevated wooden divan. It was draped with sheets of batik in subdued colors and faded patterns.
Sitting on the divan was Kadek Purnami, Subrata's second child. She tried to be brave, but her flowing tears and murmuring cry betrayed her broken heart.
Every time a member of the banjar (traditional neighborhood organization) approached the body to offer condolences and take a last look on the deceased's body, Purnami's cry grew stronger. Her husband, Putu Adi, tried to comfort her to no avail.
"The rain, the wind ... it is as if Mother Nature greets my father upon his return journey to his home up there," she said.
At that time she never knew how perfectly accurate her statement would be.
Made Subrata passed away at noon on Monday, Feb. 11, at the Gianyar hospital after being treated for several days for pulmonary infection, diabetes and high blood pressure.
For his family, it was a shockingly unexpected loss. Born in 1950, Subrata was only 58-years-old when he left his earthly existence.
He hadn't displayed any sign of serious health problems prior to his brief hospitalization in Gianyar. Naturally, his family struggled hard to cope with the difficult reality.
His wife Ni Ketut Rini, his oldest child Gede Suryagiri and his daughter-in-law Koming were purposefully drowning their sorrow in the hectic preparations of the cremation ritual while Subrata's only grandchild Gede Galang was still believing "Grandpa flies to heaven and will be back soon".
The death of Subrata was more than just a personal loss for one family. Having served as the vice bendesa (chief) of Desa Pekraman (traditional village) Padangtegal, a village of four banjar and 2,600 residents, Subrata was an influential figure in his community.
"Until his death he was still serving as the head of the village council," Purnami said.
"In fact, before he got sick he held a meeting of village elders here in this house. They discussed the plan to conduct a mass ngaben (cremation) next July. Little did we know that our father would be part of the ngaben, instead of being the organizer," she added.
As one of the village's leaders, Subrata played a pivotal role in shaping the social dynamics of Padangtegal, particularly in its relationship with the tourism industry. The village lies in Ubud, one of the island's most beautiful tourist gems.
"Subrata was the co-founder of Bina Wisata, a foundation that works to ensure that any tourism development in this area is beneficial to the village, local people and local cultural heritage," another co-founder of Bina Wisata, Nyoman Suradnya, said.
The foundation later transformed Padangtegal's
"The revenue from the
"In the upcoming ngaben, each participating family will receive Rp 5 million in cash assistance from the village to finance the ritual. The money comes from the
The people of Padangtegal obviously didn't forget Subrata and the contributions he made to the village.
As the news of his demise spread, streams of villagers flocked to Subrata's house to offer their condolences.
Representatives from four banjar paid a formal visit to the mourning family. Representatives from the neighboring
Such a large number of visitors was unique because when Subrata passed away none of the banjar in Padangtegal sounded their kulkul (hollow wooden drum) as a sign of mourning due to an ongoing religious festival at the village's temple.
"Usually, if a banjar member dies, the kulkul will be sounded as a sign to the other fellow members to visit the deceased house and give assistance to the mourning family.
"If there is a major festival in the village temple, the kulkul will not be sounded and the banjar's members will have no obligation to visit the deceased's home," Suradnya said.
"But they came nonetheless, and came in such large numbers. That showed Subrata was not an ordinary man," he added.
Art critic Kun Adnyana shared a similar opinion, albeit for a different reason.
"He was a good teacher, an inspiring one. He never forced us to abide by certain aesthetic parameters or a certain school of thought. Instead he always motivated us to find and establish our own, personal set of aesthetic values and goals," he said.
Kun was one of Subrata's pupils during his teaching years at the then Denpasar College of Fine Arts (SMSR).
"A good teacher who is also an accomplished artist is a rare thing to find, and Pak Subrata was an ideal example of that rarity," he said.
Kun said Subrata was a master impressionist who dedicated his aesthetic life to capturing the physical and metaphysical beauty of Balinese women.
"His works are poems of colors and personal interpretations. The women in his canvases are more than just a representation of an actual, living model, but a representation of his romanticized ideas about the beauty of life," he said.
"His death is a personal loss to me, and, I believe, to the fine arts community in
It was almost 9 p.m. when the procession carrying Subrata's body reached the village cemetery. The weather had been quite calm. When they began to torch the body, though, the weather suddenly grew wilder. Rain hammered down as heavy wind swept the area.
A similar thing happened again three hours later when in the darkest of night they cast Subrata's ashes into the ocean at
Senin Ketiga
kukenakan baju yang sama
kumulai aktivitas pada waktu yang sama
dadaku berdegup
seperti senin waktu itu
ingin kuhalau
namun kubiarkan saja
Sengaja aku betandang kerumahnya
disambut sanggah urip di depan gerbang
memastikan sebuah kenyataan pahit
tiada sapaannya, tiada tawaran secangkir kopi
kamarnya kosong dan dingin
menatap anggrek yang kian layu
rumah ini hampa.
Sudah belasan hari terlewati
nyaris setiap malam
dihadirkan mimpi tentangnya
nyaris dalam belasan hari
bertemu dengan muka yang suram
entah ibu, bibi, kakak atau siapa
semua nampak sendu
11.30
Kegelisahan mencurah
kututup mata dan telinga
namun,
tayangan itu kembali hadir
berulang-ulang
nyaris seperti senin waktu itu
hiruk pikuk pun terngiang ditelinga
sama seperti keriuhan senin lalu.
semua nampak jelas dipelupuk mata
cerita yang menjadi kompleks
Harusnya,
hari ini kami bersuka cita
berkumpul bersama
dalam sebuah perayaan
untuk si sulung
menjejak 31 tahun
yang kehilangan seorang pahlawan.
Senin ketiga
terasa begitu dingin
sebuah hari kematian
orang terkasih kami.
d.purnami
Senin, 25 februari 2008
Untuk Gede- sedarah daging



