Sunday, May 6, 2007
.. tak salah ucap
menghunus tajam menyayat hati
lelehkan air mata yang tak seharunya jatuh
melemaskan seluruh saraf
berharap aslah dengar
atau salah ucap
sekedar guyonan di siang hari
tuk usir penat
mata beradu
saling yakinkan diri
hanya lelucuon intelektual
mencoba terbahak
tetapi tak ada yang lucu
yang tersisa kelu
ketika yang didengar tak salah kata
coba tenangkan diri
berkata dalam hati
dia hanya manusia biasa
sekedar ramalan didukung data dan fakta
bicara berdasar diagnosa
dia bukan penentu
***d.purnami, mei 2007
Friday, May 4, 2007
I’ll be alright
titik bukan koma
bukan sampai jumpa
tapi cukup sampai disini
hembuskan nafas terdalam
tak usah ucap kata
diam pilihan yang tepat
kenangan tak usah disimpan
akan rusak saraf halus
tutup ! jangan sisakan ruang
hapus ! ambil lagi kertas kosong
goreskan indah warna dan lukis kembali
untuk sesuatu yang baru
semua akan baik-baik saja
mentari tetap bersinar
bumi tetap berputar
waktu tertap berjalan
lahir sendiri matipun sendiri
mereka hadir hanya mendukung
tuk semarakkan sandiwara hidup
semua akan berjalan sesuai cerita
dan baik baik saja
*** d.purnami, Mei 2007
kata seorang sahabat
Apa yang mungkin terjadi dalam waktu 24 jam?
Apapun bisa terjadi.
Keberuntungan, kesuksesan, kebahagiaan, rejeki nomplok atau mungkin malah sebaliknya semua yang terjadi terasa buntung, gagal, atau kehilangan dan ditinggalkan orang terkasih. bisa juga satu hari itu dilewati dengan damai dan aman-aman saja.
“ seorang perempuan kalau sedang merasa senang dia tidak akan berteriak girang namun hanya tersenyum penuh arti, begitupun saat kesedihan menghampiri dia tak akan tenggelam dan hanyut, namun segera bangkit mencari pemecahan”
Thursday, May 3, 2007
arti hadirnya
masuk menelisik menuju yang terdalam
bersemayam dan mengendap dalam lubuk.
datang dan pergi bagai sebuah musim
sisakan rindu di hati tuk dinanti
terbang tertiup angin
kembali terbawa masa
tak selamanya dapat kugenggam
hanya sisakan harapan yang selalu kurindu
resah saat penantian tak kunjung tiba
indah ketika dia kembali menyapa
merindu
mendambakannya
entah esok akan terasa sama
atau hanya hampa
angin tuntunlah tuk ikuti hembusanmu
menemui harapan memupuk rindu
agar bisa rasakan hal yang sama
... yang terbaik '
tak akan ingkari
atau bersembunyi
dan takut
aku berani
mengetuk pintumu
menengadah
menyapamu
tanyakan jalanku
aku siap atas jawabanmu
tulus, iklas dan berserah
menerima segala hendak
kuyakin kau tak akan siakan aku
*** d.purnami
Ubud, Mei 2007
Bangku panjang stasiun
malam kian pekat
aku masih terduduk di bangku panjang stasiun
menanti kereta terakhir yang lewat
berharap kau ada disana
entah sudah berapa puisi yang tercipa
terangkai dalam indah dan perihnya kata
mengenang cerita lalu tentang kita
dalam bangku panjang stasiun
tak ada kereta lagi yang datang
dingin telah menusuk tulang
syal merah kukalungkan
beri dekapan hangat
mentari telah merekah
kau tak ada di kereta terakhir itu
Tapi bukan olehmu
Ubud, April 2007
Sudut kecil
kau isi satu sudut saja
dirasakan olehnya sudah penuh
dan kau dihamba penuh sahaja
Padahal bagimu dia tak cukup sempurna
Tak cukup indah untuk kau bawa
Tapi tetap kau tempati sudut kecil itu
aku datang tuk isi sisa sudut yang lain
tak diberikan ruang sedikitpun
ruang itu akan tetap kosong
hanya disisakan untukmu
aku melihat dia sempurna
dan aku ingin isi dengan penuh
pergilah kau dari sudut kecil itu
agar aku bisa isi dengan utuh
Monday, April 30, 2007
semua ada waktunya
tatapan mata seolah meninggalkan pesan
amanatkan suatu saat nanti kau kan datang
hampiri lagi dalam sebuah ukuran masa
tak ada sisa pelukan atau ciuman
tuk sekedar diingat atau dikenang
untuk sebuah cerita penuh makna
yang bisa disemayamkan dalam jiwa
esok kau datang lagi untuk beri salam
atau pergi lagi karena sudah waktunya
kau hanya sisakan setangkai bunga
yang terus kusirami dengan cinta
bunga tumbuh dan berkembang
menarik kumbang yang terbang
melayang-layang dalam bimbang
hingga semua terasa hilang
semua ada waktunya
kata bijak penuh harapan yang tertinggal
menggantungkan rasa tuk kecap asa
membuat penantian tak terasa
Friday, April 20, 2007
19 April - Sebuah hari yang tercipta untukku
Pagi ini cuaca sangat cerah, tak seperti hari-hari kemarin yang selalu diselimuti mendung.
Kubuka jendela menghirup udara segar dan medengarkan kicau burung. Duduk dipinggir jendela sembari menikmati secangkir kopi panas sangat pas untuk membangkitkan semangat menyambut pagi. Pepohonan hijau dan biasan cahaya dari air kolam renang menyejukkan mata. Kutatap mentari serta merta berbisik dalam hati
“jadilah matahariku hari ini dan terangi jiwaku”
Kulirik lelakiku yang masih terbenam dalam balutan selimut, urung niatku membuka kelambu, karena tak ingin angin usik tidurnya. Belahan jiwaku yang selalu hadir dengan kesederhanaan, kesabaran dan ketulusan membuatku tetap bergadeng tangan bersama arungi kehidupan.
Tak ada pesta yang meriah dalam hari ulang tahunku kali ini. Lilin tak kunyalakan di atas kue tiramisu kegemaranku, tapi aku nyalakan diatas altar suci. Aku bersimpuh menunduk dalam waktu yang cukup lama berucap syukur aku masih bisa nikmati hidup hingga hari ini.
Matahariku telah terbenam tinggalkan senja merah yang merekah hangat. Kembali kududuk di dekat jendela resapi anugrah terindahNya, rangkaian tulip putih nampak menonjol dan indah di pojok ruangan, menyiratkan kesederhanaan dan ketulusan.
Teruntuk mereka yang mengasihiku; keluarga dan sahabat tercinta, terima kasih telah warnai hidupku menjadi lebih indah.
Tuesday, April 10, 2007
Mawar Putih Mantan Kekasih
Semangatku menyambut pagi setinggi gedung bertingkat di hadapanku, bagaimana tidak, hari ini kontrak kesepakatan kerjasama di tanda tangani, permohanan dana kami dikabulkan membuat penantian dalam proses waktu tiga bulan akhirnya membuahkan hasil. Tirai jendela kamar kubuka membiarkan biasan cahaya menerangi ruangan. Telah satu minggu apartemen ini aku tempati, menurut feng shui kamar ini memiliki energi yang bagus, kamar dengan posisi menghadap timur berarti menyambut matahari sebagai sumber energi sedangkan nomor 8 dipercaya sebagai angka keberuntungan, manisfestasi dari delapan penjuru mata angin. Kesempurnaan feng shui itu sedikit terganggu dengan pemandangan gedung di depan kamr tidurku. Logo salah satu penyedia layanan jaringan telfon seluler terlalu mendominasi pemandangan, harusnya aku mendapatkan royaliti dari perusahaan tersebut karena merek perusahaan itu begitu melekat dalam ingatan.
Lagu yang menyentak kuputar untuk menambah semangat, kugerakkan sedikit tubuh sekedar melemaskan badan. Sejujurnya aku adalah salah seorang penderita sindrom I hate Monday, aku sering tersugesti merasa malas mengawali hari setelah liburan akhir pekan sehingga hari senin akan kulewati dengan perasaan Monday blues. Tapi tidak boleh berlaku untuk hari senin ini. Kutelusuri satu per satu agendaku, diawali dengan sarapan pagi di sebuah excecutive lounge bersama seorang calon donatur dari perusahaan minyak ternama, membicangkan sebuah proyek seni rupa, kemungkinan dana akan turun mengingat sang pemilik sangat menyukai dunia seni. Telah kubuktikan sebelumnya saat aku mendapatkan akses untuk bertandang ke rumah pribadinya yang mirip galeri lukisan. Rapat kulanjutkan dengan makan siang di sebuah rumah seorang duta besar negara tetangga, misiku kali ini adalah mendapatkan dukungannya dalam membawa seorang penulis ternama untuk membuat sebuah lokakarya kepenulisan. Satu kunci lain untuk mendapatkan simpatinya adalah jangan lupa memuji kucing anggora kesayangannya. Dan agenda terkahir adalah makan malam dengan perkumpulan wanita socialite guna membuat proyek sosial yang ditujukan untuk anak-anak putus sekolah. Dari daftar tamu yang dikirimakan kulihat beberapa nama selebritis ibukota, dapat kubayangkan malam itu akan dipenuhi wanita cantik dengan tata rambut bersasak tinggi, gemerlap berlian, wangi farfum ternama dan senyum sumringah di bibir. Pastinya hariku akan bergairah ditambah beberapa jadwal tambahan menyela diantara coffee break. Kubuka lemari pakaian mencari setelan yang pas, kutemukan sebuah terusan hitam selutut, akan tampak formal jika dipadu dengan jas, untuk malam hari cukup mengganti jas dengan selendang sutra bermanik dan sepatu hak terbuka berornamen tali yang akan memperlihatkan betisku yang jenjang. Sapuan hiasan minimalis dengan fokus pada garis mata membuat mataku terlihat tajam dan segar. Sedangkan untuk rambutku yang lepek kuusapkan foam pengeras agar terlihat sedikit terkembang berkesan basah. Sebagai sentuhan akhir tak lupa kusemprotkan parfum keluaran salah satu merek kosmetik ternama. Semua itu menjadi bekal penampilanku hari ini.
Sembari memasukkan semua berkas kantor dan siap beraktivitas kubuka pintu kamar, langkahku terhenti dan tertegun dengan apa yang kulihat, seikat mawar putih berpita merah, kutersenyum dalam hati seperti perpaduan warna sang Saka tingal di kibarkan saja. Sejenak kuberfikir kalau hari ini bukan ulang tahunku, atau hari valentine dan pastinya juga bukan hari jadianku dengan
Sore hari seluruh pertemuan sudah kuselesaikan, tinggal bertemu dengan para wanita socialite. Aku meluncur sebelum macet tiba sambil menjemput seorang teman yang tinggal di sebuah apartemen kawasan
“Babe, jalan yuk, nongkrong di Kemang”
“Uhhm, sori aku capek sekali, besok ada presentasi kerja”
“Ah, urusan kerjaan besok aja difikirnya, ayolah sayang, work hard, party hard juga dong”
“Maaf sayang, sepertinya tidak malam ini deh”
“Okay kalau begitu aku keluar dengan teman-temanku saja ya?”
“Yepp, party safe ya sayang”
Kembali kupandangi buket bunga mawar putih itu dan mengira-ngira pengirimnya. Aku teringat pada Hendra, lelaki yang kuputuskan sebelum aku menjalin hubungan dengan
Pagi ini aku terbangun melewati rutinitas seperti biasa dan bersiap untuk bekerja. Kubuka pintu kamar dengan perlahan, seikat bunga mawar putih kembali ada di depan pintu, cepat kuraih kartu yang terselip. “Sandra, cintaku hanya tercipta untukmu” Nyaris satu minggu setiap hari ada bunga mawar yang sama di depan kamar dari seluruh kartu ucapan yang diselipkan menunjukkan betapa dia masih mengharapkanku. Aku menaruh mawar itu dalam jamban besar, malam ini aku berjanji memasakkan calamari salad favorit
“Sms dengan siapa sayang, hati-hati nanti jempolmu kurus”
“Dengan teman-teman, mereka mengajaku jalan, bolehkah aku pergi dengan mereka? nonton filmnya kapan-kapan saja ya ”
“Uhmm, baiklah, taruh saja filmnya diatas meja kamar”
“Ok, wow.., mawar putih, tumben kamarmu dihiasi bunga?”
“Iya, karena kamu spesial”
Kutekan suaraku agar dia tidak menaruh curiga pada mawar tersebut. Aku mulai cemas dengan hubungan yang kujalin dengan
Sore ini sebuah rapat di batalkan, aku menuju pusat perbelanjaan mencari gaun yang akan kukenakan makan malam bersama
“
“ Maafkan aku atas semua ini, Sandra maaf, aku tak berani jujur padamu, aku belum siap berkomitmen lebih jauh denganmu, aku masih ingin berpetualang, kutahu kamu menanti komitmenku untuk hubungan kita, tapi maafkan aku tak bisa”
Jawaban Rio membuat darahku membeku dan tak tak pernah kusangka lelaki yang kucinta menghianatiku. Mungkin benar apa kata orang, sebuah hubungan yang diawali dari perselingkuhan tak dapat menjamin sebuah kesetiaan.
“Dimas??!!!”
“Ya, ini aku, selamat ulang tahun Sandra”
Kuterima buket mawar merah yang besar darinya dengan segala kecanggungan, aku mempersilahkan dia masuk.
“ Lama tak berjumpa denganmu, kamu makin tampak dewasa dan matang”
“Thanks, kok kamu tahu aku tinggal disini?”
“Ya, tahu aja, oh ya apa kamu memiliki acara di hari spesialmu ini?”
“Uhmm, tidak juga sih”
“Kalau begitu aku ingin mengajakmu keluar berjalan-jalan “
Tak mengerti atas sikapku, aku mengikuti ajakan Dimas dan membatalkan rencanaku menikmati liburan di pantai.
“Kapan kamu kembali ke
“Sejak dua bulan lalu aku pindah kerja disini”
“Bagaiaman kamu tahu aku tinggal disini?” Pertanyaan ini kuulang, karena aku masih penasaran bagaiaman dia tahu tempat tinggalku yang baru.
“Maaf, tanpa maksud mengintaimu, aku tahu seluruh kegiatanmu hingga orang yang dekat denganmu”
“Wow.. kamu telah mengintai dan memasuki area pribadiku”
“Bukan maksud hati seperti itu, hanya memastikan kamu baik-baik saja”
“Tapi kamu tidak bermaksud menjadi malaikat penyelematku
“Andai kamu tidak keberatan aku ingin menjadi malaikat hatimu”
“Dimas, kamu sedang tidak menanti penolakan dariku untuk kedua kalinya bukan?”
“Aku akan terus mencoba hingga kau lelah menolaku atau seseorang telah meminangmu. Selama kamu masih belum dimiliki oleh seseorang, tak salahnya aku mencoba bukan? Bagaimana dengan mawar putih yang kukirimkan, apa kau menyukainya? “
Kuterdiam sepanjang perjalanan, tak menyangka akan semua hal yang terjadi, mawar putih, diputuskan oleh
Friday, March 23, 2007
.... dalam kerentaan
Kerentaan, kulit keriput, aktivitas yang minim, badan membungkuk dan sakit-sakitan. Mungkin hanya sedikit orang yang menikmati hari tuanya dengan kesehatan yang cukup fit.
Apa juga yang anda fikirkan jika usia kita sampai di umur sekian, apakah kita masih didampingi oleh orang terkasih, atau mungkin saja tidak. Saya terpaku di depan cermin, mengamati wajah, rambut dan kulit, 40 tahun lagi saya akan menyerupai mereka dan itupun kalau saya masih bisa bertahan hingga usia itu.
Makan malam hari ini memang spesial, dari menu yang dihidangkan hingga tamu yang hadir diatas usia 60 tahun. Semua masakan dibuat lembek dan melalui proses blender layaknya bubur saring, menu pembuka menghadirkan sup labu yang hanya berisi garam dan merica, menu utama hanya kentang rebus ditumbuk lembek dan daging ayam yang sudah lunak dan ditutup dengan pudding coklat yang manis. Saya adalah orang termuda yang duduk diantara mereka, rasanya seperti suster sebuah panti usia lanjut. Mungkin ini merupakan makan malam tercepat saya, semua makanan lewat dengan gampang ditenggorokan seperti minum jus tak perlu mengunyah tinggal menyeruputnya, sehingga meringakan beban usus saya.
Seusai makan malam ditemani Red wine sebagian dari mereka mengisi Sudoku, main Mahjong dan membaca buku. Sebagai lansia dari negara barat, menghabiskan sisa hari tua di pulau
Salahkan mereka yang bernasib kurang baik berharap sebuah kehidupan baru yang nantinya diharapkan mampu menolong mereka mengakhiri penderitaannya. Atau berdoa memohon agar Tuhan cepat-cepat mengambil jiwanya?
Sambil memandangi para lansia dari negara barat itu bermain Sudoku, saya bertanya kepada seorang tuan menir dari belanda.
“ Tuan menir, sebenarnya untuk apa bermain Sudoku?”
“Ya untuk melatih otak agar tetap aktif dan mempertahankan kecerdasan otak”
Saturday, March 17, 2007
Selamat Hari Raya Nyepi
dan mata tak perlu nanar dengan segala goda kasat mata
atau telinga tak perlu bingar dengan sorak sorai suara
Saatnya aktivitas dihentikan untuk sejenak
Nikmati keheningan dalam diam dan sepi.
Merenungkan yang terjadi kemarin dan berharap akan esok yang lebih baik.
Selamat merayakan hari raya Nyepi.
Semoga keheningan hadirkan damai dalam jiwa.
Tuesday, February 27, 2007
Waktuku Telah Tiba - Cerpen
Hari minggu pagi ini secangkir teh hangat menjadi spesial ketika saya membuka halaman demi halaman Balipost, tak hanya karena saya memang sering tersenyum membaca tulisan seorang teman wartawan dalam Bali Orti yang mengisi kolom Bungklang Bangkling, tapi senyum saya semakin merekah saat cerpen pertama yang saya kirimkan ke redaksi Balipost dimuat.
Cerpen Waktuku Telah Tiba, menjadi sebuah momentum komitmen dan kesiapan bagi saya untuk bertanggung jawab pada dunia tulisan. Cerpen tersebut awalnya berjudul "Bocoran Ilahi " yang telah saya postingkan di blog ini, kemudian pada tanggal 14 Februari saat semua orang sibuk merayakan cinta dan kehidupan, saya bergulat dengan bocoran ilahi dengan pemotongan dan penambahan kalimat disana sini dan akhirnya menelorkan judul baru waktuku telah tiba.
Untuk sahabat-sahabat pengunjung blogger Galangbulan cerpen waktuku telah tiba saya postingkan kembali.
Waktuku Telah Tiba
Oleh : Kadek Sri Purnami
Ruang konsultasi lelaki itu tak pernah sepi di kunjungi oleh mereka yang ingin menanyakan tentang ramalan nasib, peruntungan, jodoh, dan rejeki. Telah empat jam aku menunggu dia selesai meladeni para kliennya. Aku datang bukan untuk diramal namun karena aku telah lama tidak bertemu dengannya. Kupandangi foto lelaki itu diruang tunggu. Hampir tiga tahun aku tidak bertemu dengannya, badannya sedikit kurus, uban putih mengkilat menyela diantara warna hitam. Dia nampak semakin dewasa, tampan dan mapan. Lelaki yang pernah mengisi hatiku selama enam tahun dan akhirnya kulukai hatinya. Tak pernah sedikitpun aku menyangka dia akan menjalani profesi sebagai seorang peramal, waktu telah merubah hidupnya. Aku teringat saat mendampinginya wisuda untuk meraih gelar sarjana hukum.
Seorang asistennya mempersilahkan aku masuk setelah seorang kliennya keluar dari ruangannya. Hatiku sedikit bergetar ketika aku memasuki ruangannya. Udara dari pendingin ruangan menyergap dan langkahku sedikit ragu untuk menemuinya.
“ Hai” sapaku canggung dan membuatnya menengadah dengan tatapan tak percaya dalam rasa keterkejutannya.
“ Maya itu kamu? apa kabar? kenapa tumben, ada yang bisa aku bantu? “
“Kabarku Baik, aku kebetulan lewat dan ingin mengunjungimu”.
“Kamu datang sendiri, suamimu dimana?”
“Banyu sedang keluar kota”
Ada nada yang mebuatku tidak enak hati saat mendengar dia menanyakan Banyu. Tak mungkin aku berani mempertemukan mereka. Banyu tidak pernah tahu tentang masa laluku dengan Angga. Ini adalah pertemuanku yang pertama dengan Angga setelah menyandang status istri dari Banyu, seorang pengusaha kaya dari keluarga terpandang. Suasana terkesan kaku diantara kami. Tak berani aku menatap mata Angga, aku takut terseret kembali kepada perasaan yang tak pernah kulupakan.
“ Maya, sepertinya suasana ruang kerjaku kurang nyaman untuk kita mengobrol, kalau kamu tidak keberatan aku ingin mengajakmu makan malam. Aku sadar berlaku kurang sopan terhadapmu, mengajak istri orang untuk keluar makan malam saat suaminya sedang tugas keluar kota”
“Tidak apa-apa”
Aku menunggu dia merapikan berkas-berkasnya. Aku memilih untuk tidak satu mobil dengannya agar aku dapat menenangkan gundahku, kuikuti mobilnya yang merayap di malam kota ini. Aku masih tidak percaya dengan tindakanku yang tidak terkontrol untuk menemuinya tanpa alasan yang tepat. Hasrat sesaat yang ingin mengetahui kabarnya begitu menggebu. Angga berbelok menuju salah satu restoran yang tidak begitu terkenal yang jauh dari keramaian. Kuyakin dia juga ingin menjaga statusku sebagai nyonya Banyu. Kami duduk saling berhadapan, dia menatapku dengan hangat, sama dengan sekian tahun yang lalu. Kuredam rasa yang kembali bergetar, sepintas kulirik cincin yang melingkar di jemari Angga. Mungkinkah dia telah menikah tanpa aku ketahui.
“ Maya, bagaimana dengan kehidupan cinta dan keluargamu ? Angga mebuyarkan lamunanku.
“ Kehidupanku biasa saja, keluarga baik dan sehat”
“ Maaf, apakah kamu sudah mempunyai anak dari buah perkawinan kalian?”
“ Belum”
“ Kenapa, apa kamu masih mau berkarir terus seperti cita-citamu dulu?”
“Haruskah aku menjawab?” tanyaku pelan
“Maaf, kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman”
“Terus ada angin apa kamu tumben menemuiku setelah sekian lama?”
“Masa kamu sebagai peramal tidak tahu tentang kedatanganku”
“Jangan ungkit-ungkit masalah profesiku disini, walaupun aku sebagai peramal aku tidak mendapatkan pawisik kalau aku akan bertemu denganmu”
Tawanya renyah berusaha mencairkan suasana yang terasa sedikit canggung.
“ Angga, maaf apakah kamu sudah berkeluarga?”
“ Kamu melihat cincin ini? Ya, aku telah menikahi seorang wanita setelah 2 tahun pernikahanmu berlangsung yang tanpa undangan darimu.”
“ Kalau boleh tahu siapa wanita yang telah menggantikan posisiku dulu”
“ Dia wanita yang hebat dan manis. Dia menggantikan posisimu, karena kamu telah meninggalkannya”
Aku mencoba tetap tenang dengan sindirannya yang pedas. Wajar saja Angga terluka atas sikapku yang meninggalkannya begitu saja seolah-olah janji dan kata cinta yang pernah terucap tiada arti dan mempunyai kekuatan.
“Apakah kalian telah mempunyai anak?”
“Aku sama sepertimu, belum memiliki anak. Aku telah bercerai. Karmaku hanya sampai disitu denganya, entahlah kehadirannya tetap terasa hampa karena aku tak pernah bisa mencintainya dengan jujur ”
“ Maafkan aku Angga, sejujurnya perasaan bersalah meninggalakanmu masih membuatku tidak enak. Tapi apa yang dapat kulakukan, jika orang tuaku telah mempersiapkan semuanya dan demi nama keluarga aku harus mengikuti kata orang tuaku dengan menikah bersama Banyu. Tak hanya kamu yang sakit, akupun sakit menjalaninya. Tapi aku yakin kamu jauh lebih kuat dariku. Dan saat ini kuberanikan diri untuk menemuimu dengan segala resiko karena aku tak bisa lagi memendam rasa ini.Untuk menemuimu memang harus dengan perjuangan menunggu selama 4 jam”
“Apakah 4 jam terasa berat dan lama bagimu?”
“Ya, pastinya aku harus sabar mengantri diantara sekian banyak klienmu”
“ Tapi pernahkah kamu membayangkan kalau ada orang yang masih tetap setia menunggumu sekian tahun lamanya mungkin hingga esok dan lusa?”
Aku menyadari arah pembicaraan Angga. Dia masih terluka sampai hari ini atas penghianatan cintaku padanya. Dan kini aku kembali menemuinya membuka luka lama
“Angga, maukah kamu meramalku?”
“ Bukankah kamu tidak begitu percaya akan hal-hal seperti ini. Seingatku kamu berfikir sangat logis, tak percaya ramalan.”
“Ya, kini aku ingin percaya, Ayo Angga ramalah aku dan ceritakan padaku hal yang baik-baik saja”
“Baiklah, dari dulu aku memang tidak pernah bisa menolakmu. Semoga aku melihat hal yan baik-baik saja”
Angga meraih tanganku, dan memperhatikan garis-garis tanganku. Sentuhannya begitu hangat mengingatkanku saat dulu kami sering berpegangan tangan. Kucoba menyembunyikan rasaku padanya. Betapa aku masih mencintai dan merindukannya.
“Apa yang kamu lihat Angga?, tanyaku dengan hati-hati
“ Semuanya baik-baik saja, karirmu makin bagus”
“Baguslah”
Angga masih menggenggam tanganku dan kini dia menatap mataku dalam.
“Maya, ceritakanlah padaku dengan jujur masalah yang sedang kamu simpan, kamu tak bisa menyembunyikannya dariku”
Kutarik nafas dalam dan menunduk, hanya Angga yang kupercaya sejak dulu, dan seberapapun aku menyakitinya dia tidak akan pernah membenciku. Karena kutahu betapa besar cintanya padaku.
“ Angga, Aku tidak bisa memiliki anak, aku merasa telah gagal menjadi seorang wanita dan aku ingin bercerai dengan Banyu”
Angga mendekapku dengan hangat dan dalam sambil berbisik
“Maya, perceraian bukanlah solusi dari masalah kalian, aku melihat ada masalah yang lebih berat yang menyangkut tentang dirimu, ceritalah jika kau ingin”
Aku melepas pelukan Angga, dan berusaha untuk tersenyum dan tegar.
“Aku tidak mempunyai masalah lainnya. Hanya itu saja, sepertinya aku harus pulang dulu sudah agak malam”
“Baiklah jika kamu memang tak ingin berkata jujur padaku. Hubungi saja kapan kamu siap jujur padaku. Dan ingat waktu itu akan tiba”
Pertemuanku dengan Angga, membuka kembali kenangan masa lalu dan cinta diantara kami. Aku berusaha menghindarinya setelah pertemuan itu, karena aku takut Banyu mengetahui pertemuan kami. Hari ini aku libur dari kantor karena kondisiku tidak sehat. Kubuka laptop sekedar mengecek email yang masuk. Satu pesan kudapati dengan judul “ Waktu itu telah tiba”
“ Teruntuk Maya,
Ada satu hal yang belum aku sampaikan padamu tentang sebuah rahasia Tuhan yang disampaikan padaku. Jujur, tak kuasa aku menyampaikan padamu karena aku tak ingin pertemuan itu menjadi yang terakhir. Seperti biasa kamu akan selalu datang dan menghilanng dariku sesuka hati. Aku ingin bertemu kembali denganmu, tapi aku yakin tak mungkin. Kamu tak pernah bisa membohongi dan menyimpan rahasia dariku, kamu lupa kalau aku adalah peramal yang bisa membaca jalan kehidupanmu. Masalahmu tak hanya karena kamu tidak dapat memberikan keturunan dan akan bercerai dengan Banyu. Tapi, kamu sedang sakit, dan niat cerai itu adalah permintaanmu karena ketakutanmu pada penyakit yang kamu derita. Aku tahu kamu ingin meninggal tanpa disaksikan siapaun karena kamu tak ingin menyisakan pedih terhadap suami dan keluargamu. Maya, kamu bisa merahasiakan tentang kanker rahim yang kamu derita kepada keluargamu, tapi kamu tidak bisa merahasiakannya padaku. Dan kutahu waktumu tinggal sesaat. Maya ijinkanlah aku menjadi orang yang menemanimu saat-saat detik terakhir waktu menjemputmu.”
Email dari Angga membuatku termenung, tapi aku telah memutuskan untuk sendiri. Aku tak ingin menyakiti hati Banyu dan keluarganya juga tak ingin membebankan Angga. Hampir sebulan email dari Angga tidak aku balas. Dan kini aku tinggal di sebuah apartemen seorang diri. Aku telah mengajukan surat cerai kepada Banyu, agar dia dapat mencari wanita lain yang bisa memberikannya anak. Beberapa hari ini perutku terasa sakit sekali, kuyakin waktuku telah tiba. Angga selalu terbayang dalam benakku. Aku memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat untukknya.
“Angga, jika kamu ingin menemani sisa waktuku, temuilah aku sekarang”
Tak selang berapa lama angga telah datang dengan membawa seikat mawar merah dan mengenakan jas hitam.
“Angga, apakah waktuku telah tiba?”
Angga hanya terdiam dan menggenggam tanganku.
“ Maya, kenakanlah gaun ini, aku ingin menikah denganmu walaupun untuk sesaat”
Angga menyisir rambutku, mengenakan gaun hitam terindah bersulamkan manik-manik, memoleskan lipstik pada bibirku yang pucat.
“ Maya maukah kau menjadi istriku?”
Aku hanya mengangguk pelan dalam tangis, Angga memasukkan cincin bertahtakan berlian serta merta menciumku dengan lembut.
“Angga, kamu jangan menangis, kamu harus kuat”
“Maya, aku telah menangis sejak kamu menemuiku beberapa bulan yang lalu. Disaat orang-orang masih menikmati kecantikanmu dan kerianganmu, tapi aku telah menangis menghitung waktu. Sejak malam itu aku telah melihatmu seperti mayat yang berjalan dan semakin membaut hatiku terluka. Maya, waktumu memang sudah tiba. Karmamu di dunia ini hanya sampai disini saja.
Tak ada yang lebih menyakitkan dalam hidupku saat meramal kematian seorang kekasih yang teramat kucintai. Sebelum kamu menghembuskan nafas terakhirmu, aku ingin kau tahu satu hal bahwa cintamu tak akan pernah tergantikan. Cintamu selalu mengisi seluruh ruang dalam hatiku hingga kapanpun. Bawalah cintaku pergi bersamamu, jangan bawa penyesalan dan kesedihan. Maya, cintamu akan selalu kusemayamkan dalam hatiku.
Pergilah dalam damai dan cinta.
14 Februari 2007
Tuesday, February 13, 2007
Pengorbanan Si Pohon Untuk Istri Tuanku Raja
Hari ini aku menyaksikan orang-orang berpakaian hitam keluar masuk halaman Puri, kudengar istri dari tuanku raja meninggal. Aku merasa sedih. Temanku si Bambu telah dipotong dan dikumpulkan hampir menjadi 2 truk, dia berkorban untuk menjadi fondasi Bade yang akan dipakai menggusung Istri tuanku raja ke pemakaman. Orang-orang tidak beraktivitas normal semua disibukkan dan berkorban untuk istri tuanku raja mempersiapkan semua perlengkapan upacara pemakaman. Belum lagi tumbuh-tumbuhan lain yang tegolong si sayur mayur dan si rempah, hampir 1 truk di jadikan lawar. Tak hanya kami dari bangsa tumbuhan, tapi dari bangsa hewanpun juga berkorban, si babi, si bebek dan si ayam entah sudah berapa puluh ekor yang mati untuk melengkapi semua upacara. Sedangkan aku pohon perindang jalan belum berkorban apapun hingga detik-detik terakhir.
Aku kagum dengan apa yang di korbankan oleh si bambu dia berhasil membentuk Bade dengan tinggi nyaris 15 meter dan lebar hampir 7 meter. Belum lagi Naga banda yang terkesan sangat angker, bisik-bisik dari orang, Naga banda ini akan dipakai untuk mengantarkan roh istri tuanku raja ke sorga, tak sembarang yang boleh membuat naga banda, hanya mereka yang dari keturunan raja saja. Kalau begitu apakah sorga diperuntukkan bagi mereka yang berkasta tinggi dan kaya saja? Hari Pengabenan sudah semain dekat. Semua orang melakuan kegiatan dengan tulus sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga puri disamping adat yang memang dianut oleh masyarakat setempat.
Aku mendengar pertengkaran antara anak dari tuanku raja, mereka berselisih pendapat. Dari kabar yang kudapat dari si angin mereka memperdebatkanku.
“ Kita harus menebang pohon disepanjang jalan ini agar tidak menghalangi, karena ukuran bade kita besar sekali, nanti tidak bisa lewat”
“Kenapa harus mengorbankan pohon dan menebangnya? Bayangkan saja pohon seperti ini tumbuhnya lama sekali kalau ditebang sekarang, 15 tahun lagi baru punya yang seukuran ini. Tidakkah ada jalan lain, mungkin dahannya saja yang dipangkas?
“Tidak pokoknya harus ditebang”
“Aku tidak setuju !!”, Kenapa saat kamu merancang Bade tidak megukur kapasitas jalan raya dulu dan disesuaikan agar tidak usah memotong pohon?”
“Aku pokoknya mau membuat bade yang megah, besar dan wah dan tidak kalah oleh puri lainnya”
“Buat apa bade yang besar, toh jasad ibu ratu hanya seukuran kita tak bisakah badenya diperkecil? Apakah jika ukuran bade dibuat lebih kecil akan mengurangi makna?”
“Ah kamu itu tau apa, pokokya aku mau upacara kali ini menjadi yang tebesar karena kita adalah keturunan raja”
“Bisakah semua upacara ini kita buat secara sederhana, kuyakin ibu ratu bisa menerima”
“ Sekarang aku yang berbalik bertanya padamu, Tidakkah kamu malu jika semua dibuat sederhana, martabat keluarga kita akan jatuh? Kamu masih ingat pengabenan ibu suri di puri sebelah yang di hadiri oleh ribuan orang dan memadati sampai desa sebelah dan juga disiarkan di berbagai media? Aku tidak mau kalah dari mereka !!!”
“Terserah kamu saja, yang pasti aku akan lebih suka jika semua upacara berjalan sederhana tanpa mengurangi makna”
Aku tersentak dengan kata terserah, berarti bade itu akan melewati jalan ini dengan ukuran yang besar dan artinya kami harus mati. Kupejamkan mata sambil menangis bersama teman-temanku mendengar denging suara mesin pemotong pohon yang menderu. Itu berarti waktuku telah tiba, satu persatu kusaksikan teman-temanku roboh langit biru tampak jelas. Tak satupun diantara teman-temanku yang selamat berdiri kokoh. Mereka semua tumbang seiring pengorbanannya terhadap istri tuanku raja.
Itulah cerita pengorbanan keluarga kami, pohon yang yang di potong saat upacara pengabenan istri tuanku raja. Aku selamat tidak dipotong karena aku berada diluar jalan tersebut, kini setelah pemerintah kota mendapakan kritikan dari berbagai masyarakat, Pak wena kembali membawa teman-teman untukku dan mereka ditanam kembali disepanjang jalan raya, teman-temanku masih kecil dia berukuran dengan tinggi 50 cm dan masih harus di pagari bambu agar tidak diusik oleh ayam dan anjing yang jahil. Mungkin 15 tahun lagi mereka akan tumbuh seperti aku.
Tapi apa yang terjadi jika anak dari tuanku raja meninggal? Apakah teman kecilku akan berkorban kembali sama seperti teman-temanku yang dulu? Semoga saja saat itu tiba semua upacara bisa dilakukan dengan sederhana tanpa mengurangi makna dari upacara itu sendiri.
Wednesday, February 7, 2007
Sayap itu ...
Kepakkanlah aku sekuat tenagamu dan kau kan kubawa..
Nikmati indahnya dunia saat kau melayang ..
Hey.. kau bangunlah !!!
Kenapa hanya meringkuk .. ?
Tak inginkah kau terbang bersamaku..?
Arrgghhh ..!!!
Adakah yang lebih tidak mengenakkan saat ingin tapi tak bisa?
Sayap itu…
Tak mampu membawaku melayang lagi
Dunia tak indah saat ini
Sayap itu ...
.... sedang terluka ....
Friday, February 2, 2007
Benarkah ada suami yang tidak takut Istri ?
“ Hah..ha.. saat seperti ini harus dinikmati tak perlu ingat istri dan anak”
Tak selang berapa lama seorang lelaki yang juga tetangga mereka datang untuk membeli obat nyamuk bakar yang dipesan istrinya. Otomatis mereka langsung mengajak lelaki itu nimbrung bersama untuk menengak minuman dan meluncur ke kafe remang. Tapi dengan halus lelaki tersebut menolak serta merta membayar obat nyamuk dan pergi. Kontan saja kelompok lelaki tersebut mengejek temannya dan mereka mengecap dia sebagai suami takut istri.
“ Nah, kayak dia itu tuh Suami Takut Istri mau saja disuruh-suruh ama istrinya, jangan –jangan disuruh nyuci juga mau” tawa mereka saling bersahutan.
Kelompok Suami tidak takut istri ini kesehariannya dihiasi dengan nongkrong di jalan hingga dini hari dan pulang dalam keadaan mabuk dan mengamuk. Keesokan pagi bangun siang, langsung minta dibuatkan kopi oleh istrinya, kemudian sarapan sekaligus makan siang. Setelah itu ritual dilanjutkan dengan mandi, keluar rumah bermain billiard atau judi dan pulang hingga subuh. Kelompok itu merasa diri mereka jagoan dan jantan. Sedangkan lelaki suami takut istri yang diejek tersebut, kesehariannya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah membantu istrinya, saat pagi menjelang lelaki itu akan mulai sibuk berbagi tugas. Sang istri mendapat tugas pergi ke pasar, memasak, mencucui dan membuat sesajen, sedangkan sang suami menyapu halaman, membersihkan kebun, mengantar anak sekolah serta mengurus ladang. Malam harinya dia tidak pernah nongkrong diwarung seperti kelompok suami tak takut istri tersebut, dia memilih menonton TV dengan istri dan anaknya atau sesekali jalan-jalan ke pasar sengol. Lelaki yang dijuluki STI ini selalu menjadi bulan-bulanan para lelaki lain di kampung itu.
Apakah memang benar suami takut istri itu begitu rendah dimata lelaki lain? Atau sebaliknya Suami Tidak Takut Istri itu bagai pejantan tanguh yang memiliki keberanian dan nyali yang besar untuk bertindak sesukanya?
Salah seorang dari kelompok suami tidak takut istri ini suatu hari bermain judi hingga subuh, tak disangka dia didatangi oleh istrinya. Tanpa banyak bicara sang istri meninggalkan anaknya bersama lelaki itu dan sang istri langsung pergi. Teman-temannya yang dikelompok tersebut menertawakannya, dan lelaki yang mengaku tak takut istri tersebut langsung pucat. Sembari menggendong anaknya dia langsung mengejar istrinya. Teman-teman mereka cukup kaget melihat reaksi lelaki itu yang bertindak bukan membentak dan memaki istrinya melainkan mengejar sang istri. Hal serupa juga dialami lelaki lainnya, sang istri datang mengamuk melabrak suaminya yang dikenal sering menggoda penjaga billiard, tengah malam sang istri datang mengamuk membawa parang mengancam sang suami dan kemudian sang suamipun ikut pulang dan memelas kepada istrinya untuk diampuni. Atau kejadian lain menimpa saat salah seorang lelaki lain dari kelompok itu juga. Dia begitu dikenal di masyarakat sering mencari selingkuhan, ketika diketahui oleh istrinya sang istri malah menantang dia untuk mengawini selingkuhannya dengan catatan dia harus menceraikan sang istri, tapi lelaki itu tetap kembali kepelukan istrinya.
Apakah memang betul suami itu benar-benar tidak takut istri? atau hanya semata-mata keegoisan dan kesombongan seorang lelaki?
Atau apakah memang perlu seorang suami takut dengan istri?
Sepertinya sebuah hubungan yang timbal balik dengan dilandasi rasa percaya, menghargai satu sama lain, saling memahami dan mengerti akan terasa lebih indah. Tak perlu suami takut dengan istri ataupun sebaliknya tak perlu istri terlalu takut dengan suami. Karena ketika sebuah hubungan sudah dilandasi hanya karena alasan rasa takut maka sebuah hubungan itupun sudah diciptakan untuk tidak saling menghargai.
Wednesday, January 31, 2007
Goresan tangan seorang abdi
“ Kita ini orang susah jalani saja hidup ini apa adanya, tidak usah mikir yang macam-macam, kita tak pernah tau esok akan bagaiamana “
“ Ya memang betul, gak usah ambisi kepengen hidup kaya bukankah begitu?”
Itulah sebuah penggalan obrolan bapak-bapak diwarung kopi, saat aku membeli dua buah pisang goreng pesanan bapak.
“ Eh Jana, bapakmu mana, kok tidak pernah ngopi diwarung sini “ tanya salah seorang bapak.
“ Bapak dirumah sedang menanak nasi”
“ Bilangin sama bapakmu tidak usah kerja terlalu ngoyo, toh juga tidak bakalan pernah kaya”
Aku hanya tersenyum meringis, sembari pulang membawa pisang goreng pesanan bapak. Aku tidak memperdulikan omongan orang itu dia hanya sibuk mengurusi orang lain. Kulahap pisang goreng yang enak ini yang selalu membuatku ingin menambah. Jatah pisang goreng untukku memang hanya satu, dan satunya lagi untuk bapak, menjadi impianku yang sangat sederhana untuk bisa makan lebih dari satu, disamping mimpi-mimpiku yang lain. Aku menuang air panas ke gelas yang ujungnya sudah camping, tak perlu lama untuk mengaduk kopi itu karena aku tak pernah mengisi gula untuknya, bukan karena alasan takut terkena diabetes namun kami tidak punya uang lebih untuk hanya sekedar membeli gula. Sedangkan untukku cukup air hangat saja untuk mengindari perut kembung dipagi hari yang buta.
Kami hanya hidup berdua di gubuk itu ditemani seekor babi, sapi serta beberapa ayam ternak yang sering kuintip telurnya untuk kujadikan lauk setiap harinya. Satu telur cukup untuk lauk kami sehari dengan tiga kali makan, bapak mencampur telur itu dengan sayur dan banyak cabai. Walaupun yang kami makan hanya nasi dan telur saja namun kami sampai berkeringat memakannya karena kepedasan. Aku adalah anak tunggal bapak, aku tak punya ibu, kata bapak, ibu meningal karena sakit, menurutku wajar saja, mengingat kondisi kehidupan kami, jangankan untuk mengobati ibu, untuk beli gula saja kami tak mampu. Walaupun begitu di umurku yang menginjak 20 tahun aku tumbuh sebagai lelaki sehat dan kekar, badanku hitam legam dan rambutku kecoklatan karena tiap hari terkena terik matahari. Aku sekolah hanya sampai SD saja, tidak seperti teman-teman lainnya karena keterbatasan ekonomi kami. Kata temanku aku adalah salah seorang yang menggagalkan program pemerintah wajib belajar 9 tahun.
“ Heh, untuk apa kamu berbaik hati sama anak seorang pembantu itu, tidak usah kau sekolahkan dia, aku mau memperkerjakannya, terlalu enak baginya sekolah, aku akan suruh dia mengurus ladang kita.”
Bapak sangat pendiam kami jarang berkomunikasi dan jarang keluar rumah selain bekerja, raut mukanya selalu datar tiada pernah kulihat dia tersenyum ataupun menangis, terkadang kubertanya, apakah dia masih mempunyai rasa. Aku pernah melihat Nyonya Harun menyiram muka bapak dengan kopi, permasalahnya hanya lantaran kopi yang dibuat olehnya kurang manis, mungkin bapak lupa kalau nyonya Harun memiliki berkarung-karung gula tidak seperti dirinya. Bapak hanya diam saja diperlakukan kasar dikeluarga itu. Sepulang kejadian itu aku memberanikan diri bertanya kepadanya
“ Bapak, kenapa tadi diam saja diperlakukan seperti itu, aku sedih melihatnya, seperti kita tidak punya harga diri”
“Ya, kita memang tidak punya harga nak, apalagi dimata mereka kita hanya seorang abdi, namun apa boleh buat, kita masih membutuhkan mereka untuk menyambung hidup, kalau aku melawannya berarti gajiku akan dipotong dan hanya akan membuat kita susah saja. Bapak sudah 50 tahun menjadi abdi, tiada pilihan lain Jana”
“Pak, aku bosan menjadi abdi terus, aku ingin merubah hidupku, aku tidak mau menjadi abdi di keluarga itu lagi, aku ingin jadi orang kaya pak”
Sahutku dengan ketus pada bapak. Hatiku jengah dengan kehidupan ini, aku ingin merubah kehidupanku.
“ Hey, ngapain kamu keladang bawa buku sebanyak itu?, pasti kamu mengaku mau belajar ya pada orang rumah, dan kamu kabur main ke ladang” Godaku pada anak itu.
“Heh, kamu mau membuatkanku PR tidak? Nanti kukasi upah “
Dia selalu mengancamku untuk membuatkannya PR, anak ini memang sedikit bodoh, tapi dengan kebodohannya itu aku diberikan keuntungan, ada pemasukan lebih setiap harinya dari upah mebuatkannya PR.
“ Pak, aku ingin megubah nasibku, aku tidak mau selamanya menjadi abdi di kelaurga bu Harun, aku ingin mencari pekerjaan lainnya saja, aku ingin kaya pak”
Bapak menghentikan tangannya memotong ketela dan memandangku
“ Pekerjaan apa yang ingin kau cari ?”
“ Aku mau ke kota saja pak, palingan juga banyak pekerjaan disana, badanku kuat aku bisa menjadi buruh dagang”
“Ya, sama saja, menjadi buruh pasar juga tidak akan bikin kamu kaya juga kamu tetap menjadi abdi cuman beda tempat saja, asal kamu tau nak, kita itu memang di takdirkan dengan menjadi seorang abdi, jangan kira ketika kamu sudah menjadi seorang tuan majikan kamu bakalan tidak menjadi abdi lagi, kamu pasti tetap menjadi abdi dari tuanmu yang lain, semua itu seperti piramid dan kita tak mungkin menjadi yang paling atas, paling ataspun akan tetap menajdi abdi sang penguasa.”
“ Hah bapak ini, ya walaupun tetap menjadi abdi setidaknya menjadi abdi yang lebih baik dari ini lah pak yang bikin hidup ini gak susah kayak gini, beli pisang goreng aja ga mampu. pokoknya aku mau ke kota saja, pasti ada saja pekerjaan disana”
“ Ya, kalau memang sudah tekadmu mau merubah nasib hidupmu silahkan saja, nanti kamu bilang sama ibu Harun kalau kamu berhenti mengurus ladangnya”
“ Kuharap kamu bisa menggapai mimpimu Jana, dan kelak kau tidak menjadi abdi seperti bapak” Kutatap dia sembari berpamitan.
Aku langsung menuju kota, pasar adalah tempat yang tepat untuk mencari pekerjaan dengan menghandalakan tubuh yang kuat. Kulihat disekiling mungkin ada yang dapat kukerjakan, aku mendekati seorang pemilik toko sekedar menanyakan apakah dia membutuhkan tenaga tambahan angkut barang. Dari sekian pemilik toko yang kutemui tak satupun membutuhkan tenagaku. Hari telah sore, aku tak mungkin kembali kedesa, uang tabunganku hanya cukup untuk makan seminggu, aku harus secepatnya mendapatkan pekerjaan. Kulangkahkan kaki menuju pantai, kota ini memiliki pantai yang cukup indah, dulu dipakai sebagai pelabuhan dagang, namun sekarang menjadi objek wisata. Banyak hotel-hotel dan restoran dibangun disekelilingnya, pernah juga aku bermimpi menjadi pegawai hotel tapi mustahil sekali bagiku yang hanya tamat sekolah SD.
“ Nyonya uang anda lebih”
“oh tidak sisa nya itu memang untuk kamu”
“ sebanyak ini nyonya?”
“Iya, besok kalau ada ikan lagi tolong kamu bawa kesini ya “
“baik nyonya”
Kelebihan uang yang diberikannya itu nyaris sama dengan gaji yang diberikan oleh majikanku. Hari ini tangkapanku banyak dan kuberfikir segera membawa ke nyonya bule yang kaya itu. Dia terlihat senang ketika kubawakan ikan dan memintaku untuk membantu membersihkan ikan tersebut. Setelah pekerjaanku selesai aku pamit pulang padanya.
“ Heh , tunggu sebentar ini uangnya”
“ kenapa lebih lagi nyonya?”
“ Iya itu untuk kamu lagi”
“ Terima kasih banyak nyonya”
“ oh ya nama kamu siapa?”
“Saya Jana Nyonya”
“Ok Jana lagi tiga hari tolong saya di bawakan ikan yang lebih banyak lagi, karena saya mau mengadakan pesta di rumah , juga apa kamu bisa bantu saya untuk memanggangkannya?
“ oh tentu nyonya”
Dengan senang hati aku mulai membantunya memanggang ikan. Ramai sekali tamu yang datang akupun ikut menikmati makanan yang terasa aneh di lidahku kecuali ikan panggang, juga aku diberikan minuman yang memabukkan tapi tidak sekeras arak. Keesokannya dia memintaku membantu membersihkan rumahnya yang penuh sampah seusai pesta. Hari ini semakin kurasakan rumahnya yang begitu luas dan hanya ada seorang pembantu di rumah itu seorang perempuan tua yang lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Nyonya bule itu hidup sendiri tak ada suami juga anak-anaknya. Selesai membersihkan rumahnya, nyonya bule itu kembali memberiku upah yang banyak.
“ heh Jana , apa kamu mau bekerja untukku membersihkan rumahku?”
Aku tak perlu berfikir panjang untuk mengiyakan. Bisa di bayangkan Gaji bekerja sehari saja sudah lebih dari cukup apalagi kalau sebulan dengan pekerjaan yang sangat gampang.
“ baik nyonya, saya mau bekerja disini”
Mulai hari ini aku tinggal di rumah nyonya bule, aku diberikan 1 kamar yang bagus berisi kamar mandi, jauh sekali dengan rumahku di kampung. Nyonya itu baik sekali tidak seperti nyonya Harun, kadang dia membelikanku pakaian dan banyak lagi hadiah yang tak kuduga. Sudah nyaris dua bulan aku bekerja dan inilah pekerjaan yang paling menguntungkan buatku, sesekali aku berkunjung ke kampung nelayan mentraktir para pemuda kampung sembari minum arak dan berharap bertemu dengan Sari perempuan pujaanku. Malam ini aku dibangunkan oleh suara mobil Nyonya bule, aku harus membukankan gerbang untuknya. Dia pulang sangat larut dan dalam keadaan mabuk berat ditemani seorang pemuda. Nyaris setiap minggu dia keluar malam dan pulang dalam keadaan mabuk dan ditemani oleh pemuda yang berbeda-beda. Pemuda itu membopongnya masuk kekamar dan akan keluar kamar keesokan siang. Bibi juru dapur pernah bercerita padaku kalau nyonya bule sudah becerai dengan suaminya dan anaknya tinggal diluar negeri. Kini nyonya bule tidak menikah lagi tapi memiliki pacar yang banyak yang hanya bertahan seminggu. Malam ini nyonya bule keluar lagi untuk berpesta dan pastinya pulang dalam keadaan mabuk serta ditemani lelaki baru lagi. Aku sedang mengingat Sari dan malam yang pernah kami lewati. Lamunanku di buyarkan oleh suara klakson mobil Nyonya bule. Aku membukakan gerbang, kuperhatikan dia turun dari mobil seorang diri tanpa ditemani seorang pemuda. Dia berjalan terhuyung dan aku membopongnya masuk kedalam kamar, kucoba membangunkan bibi juru dapur untuk membantu tapi dia tidak terjaga juga. Nyonya bule berbicara tidak karuan, kadang memakai bahasa yang tidak aku mengerti. Segera aku menutup pintu kamarnya dan kembali melanjutkan tidurku. Tak selang berapa lama aku harus terbangun kembali dengan teriakan nyonya bule, aku mendatangi kamarnya.
“ Heh Jana ambilkan aku minuman lagi “
” Baik Nyonya”
Kubawakan dia minuman akohol sambil membersihkan kamarnya yang penuh dengan muntah. Nyonya bule sudah diluar kontrol dia memanggil nama orang. Sembari aku membersihkan sisa muntahannya dia tertidur terlentang hanya mengenakan kutang dan celana dalam. Sebagai lelaki normal birahikupun tak bisa diajak kompromi. Dalam keadaan mabuk nyonya bule memintaku untuk menemaninya di kamar. Dengan perasaan takut dan canggung aku duduk di sofa tapi diluar dugaanku nyonya bule memintaku menemaninya di ranjang, rasa takut menyergapku, tapi nyonya bule sepertinya memang menginginkanku. Dan malam itu kulewati dengan majikanku namun hayalku terbang bersama Sari.
Pagi ini kuterbangun sangat gugup dan aku takut dipecat atas kejadian semalam cepat-cepat aku keluar kamar nyonya bule. Seharian aku tak berani berpapasan dengannya, rasa takut menghantuiku. Menjelang malam ini aku semakin gundah karena ketakutanku, suara nyonya bule terdengar memanggilku, dan akupun gemetar. Aku akan kehilangan pekerjaanku. Dengan muka pucat pasi aku menghadapnya.
“ Jana, tolong saya dibelikan minuman lagi”
Akupun pergi dengan perasaan sedikit lega namun kecemasan tetap menghantuiku akan kehilangan pekerjaan. Hingga larut dia masih menegak minuman itu. Tengah malam dia kembali memanggilku meminta ditemani minum – minuman berakohol tersebut tak ada sedikitpun dia menyinggung masalah semalam, hingga kamipun berada di bawah pengaruh akohol. Dan kami berdua kembali mabuk dan berakhir di ranjang, kali ini aku mulai bisa menikmati dan tidak begitu takut karena kuyakin kalau majikanku memang menginginkanku. Hal inipun berulang hingga berkali-kali dan aku mulai terbiasa.
Ini adalah awal bulan waktunya aku menerima gaji, sunguh diluar dugaan aku mendapatkan gaji yang sangat banyak. Aku semakin terkejut ditambah lagi ketika aku tak perlu lagi membersihkan rumahnya dan mendapatkan tugas baru hanya menemaninya berjalan-jalan, makan, minum hingga mabuk dan berakhir di ranjang. Kini uang bukan masalah lagi bagiku, aku dibelikan segalanya dan gaya hidupku nyaris seperti orang kaya. Hanya satu syarat yang diberikan oleh nyonya bule, aku tak boleh berhubungan dengan perempuan lain selain dia. Sari harus kulupakan juga. Aku mematuhi permintaanya demi uang dan dan aku rela menemaninya diranjang walaupun aku tidak pernah mencintainya.
“ Kita tidak akan pernah tau akan bagaimana esok, ya dijalani saja”
Hari ini aku pulang kekampung menjenguk bapak, kucari dia kerumah Ibu Harun, dia sangat tekejut melihatku datang membawa mobil dan berpakain bagus. Bapak tidak mengenaliku. Ibu Harun hanya mencibir menatapku tak suka.
“ Jana itu kamu?”
“ Iya pak, ini Jana”
Akupun mengajak bapak pulang, banyak orang kampung menatapku seolah tidak percaya dengan diriku.
“Jana kamu nampak lain, sudah punya banyak uang, tak lagi menjadi abdi kasar yang selalu dimaki majikan, kamu menggapai mimpimu nak ?”
“ Ya pak, jana tidak perlu lagi menjadi abdi yang selalu dimaki majikan, Ini Jana ada uang untuk bapak, untuk membenahi rumah, kalau bapak mau tidak usah lagi bekerja pada Ibu harun, akan kubelikan bapak ladang dan sapi “
“Jana dimana kamu dapatkan uang sebanyak ini? Apa pekerjaanmu Jana?”
Pertanyaan bapak tak bisa kujawab dengan jujur, aku harus berbohong.
“ Aku bekerja sebagai mandor buruh pak”
“baiklah, asalkan kamu bekerja yang halal dan jujur saja. Kini kau sudah menjadi tuan majikan, jangan kasar terhadap abdimu”
“ Ya pak”
“Terus apa kamu tidak menginap dirumah dan besok pagi membeli pisang goreng sepuasmu atau makan nasi dengan sambal telur seperti biasanya?”
“Tidak pak, aku banyak pekerjaan, aku harus kembali ke kota sore ini”
Aku pergi meninggalkan bapak, dalam perjalanan aku termenung dengan perkataan bapak.
“ Pak maafkan anakmu ini atas ambisiku yang ingin hidup berkecukupan dan tidak mau lagi menjadi abdi seperti dirimu aku harus menempuh hidup ini demi hidup yang lebih baik, walaupun aku harus melacurkan diri dengan mengabdi sebagai pemuas nafsu seorang nyonya tua” bisiku dalam hati.
Wednesday, January 24, 2007
Move Your Body ...
“.... Anda memilih mau sehat atau sakit?”
Waktu itu saya berfikir, pilihan yang sangat gampang yang diberikan oleh dokter tersebut, dan si pasienpun dengan gampang menjawab
“Ya, tentu saja saya pilih sehat, dok”
Saya yakin tak seorangpun mau memilih sakit tapi di balik pilihan yang gampang tersebut ternyata ada beberapa hal yang cukup susah dan membutuhkan komitmen tinggi yang di syaratkan oleh sang dokter.
“Baiklah, kalau anda mau sehat anda harus melakukan hal berikut ini, kurangi makan daging (disarankan vegetarian), cukup istirahat tidak boleh tidur larut apalagi subuh, berhenti minum-minuman yang mengandung akohol dan kafein. Tidak merokok serta rajin berolah raga. Tapi jika mau sakit jalani hidup sesuka hati anda. “
Tak terdengar jawaban dari si pasien ….. (pilihan dikembalikan kepada anda)
Sore yang cerah ini saya lewati dengan bersantai bersama seorang teman wanita yang cantik dan selalu rajin merawat tubuh. Dia mengeluhkan tentang bertambahnya lingkar pinggang, perut, pinggul yang semula saya kira mengalami kesalahan tempat penyuntikan silicon . ( ehhe..he.. sori ya jeng.. peace)
Sembari menyeruput kopi dan memandang bukit campuhan yang hijau menghampar, saya setia mendengarkan keluh kesahnya ( tepatnya melamun karena kadang terdengar kadang tidak( ehe sorri lagi jeng) teman saya merasa resah dengan komplain dari lelaki idamnnya akan tubuhnya yang sudah mulai tidak proposional lagi, saya jadi teringat iklan salah satu produk pelangsing tubuh dimana sang lelaki terobsesi dengan wanita bertubuh seksi. Tapi setelah sekian lama saya terbang, saya tersentak sendiri dan teringat bahwa tak hanya dia yang terkena masalah tersebut tapi sebentar lagi saya bisa dihampiri masalah serupa.
Sudah cukup lama rasa malas menyerang saya untuk menggerakkan tubuh, walaupun hanya sekedar ke warung yang jaraknya tidak lebih dari 50 meter saya lebih memilih mengendarai motor. Belakangan ini saya mengabaikan ritual hidup sehat, terjadi ketidak seimbangan antara rohani dan jasmani. Nyaris sebulan ini saya absent dari kegiatan yoga, berenang ataupun sekedar jogging santai. Waktu lebih sering saya habiskan untuk membolak balikkan majalah, membaca halaman demi halaman novel yang tebal, nonton film, bergelut dengan cat minyak, kanvas dan imajinasi atau duduk berjam-jam di depan computer mengerjakan tugas kantor, chatting bersama teman, menuliskan cerita pendek serta menuliskan hasil kotemplasi diri dan tidur di waktu subuh. Semua kegiatan itu tidak menggerakkan sedikitpun tubuh saya, dan membuat pantat terasa panas harus duduk berjam-jam. Hal tersebut diperparah dengan sekotak camilan, coklat, dan kopi. Alhasil badan saya mulai berontak dan tidak sehat.
Tiba- tiba saya nyeletuk mengeluarkan ide yang cukup mengangetkan teman saya. Bagaimana kalau kita mulai menggerakkan badan, kita awali dengan menyusuri bebukitan campuhan di sore hari dan tiap pagi pergi kekantor dengan berjalan kaki mengingat antara rumah dan kantor saya tidak lebih dari 1,5 kilo. Awalnya teman saya meragukan ide tersebut, karena potensi saya yang cukup besar untuk mengingkari ide saya sendiri. Tapi, saya meyakinkannya bahwa saya bersungguh-sungguh.
Dengan terpaksa teman saya mengambil sepatu kets dan menemani saya menembus ilalang menjadikannya sore yang penuh gerutu. Saya berlari diantara hijaunya alang-alang yang setinggi lutut, berteriak dan mendengar gema suara sendiri dan pada akhirnya terlentang menengadah menatap langit yang kian memerah. Gerutu teman saya tak berhenti diiringi kulitnya yang terasa gatal tertusuk ilalang, mengingat ini bukanlah ide baik untuknya atau cara dia mengembalikan bentuk tubuhya yang proposional. Biasanya dia akan mengunjungi Gym mengikuti kelas Body language atau aerobic dan salsa bukan bukit ilalang dan sawah ( maaf teman, melakukan sesutau yang beda asik juga kan ?)
Dan pagi ini saya menepati janji saya untuk berjalan kaki ke kantor. Saya memantapkan diri untuk memulai menggerakkan badan. Banyak hal biasa menjadi tidak biasa. Hampir sudah setahun saya melintasi jalanan tersebut dengan mengendarai sepeda motor namun, baru ini saya memperhatikan banyak hal lebih detail yang sering terlewati. Hanya dengan modal berangkat lebih awal saya memulainya. Tiap langkah saya nyaris terhenti karena harus menyapa dan mengobrol dengan tetangga atau tersenyum saat berpapasan dengan para ibu-ibu yang pulang dari pasar. Saya pun kadang dituntut untuk lincah dan gesit menjinjit, meloncat saat trotoar jalan jebol ( pak bupati yang sekarang mo dipilih kembali ga? ayo dong trotoarnya di alokasikan dana) atau menghindari “puff” anjing yang sembarangan di sepanjang jalan, banyak sekali anjing liar tanpa empu yang tak terurus ( bagaimana dengan wacana pemeliharaan anjing wajib pajak? dan mengurangi kecelakaan yang disebabkan menabrak anjing). Tak hanya itu ternyata saya juga harus sigap menyela diantara mobil dan motor yang diparkir sembarangan sepanjang jalan raya Ubud. Maklum banyak orang bisa beli mobil namun jarang punya lahan untuk bikin garasi lebih baik dikontrakkan nambah penghasilan ( nah kalo fenomena yang ini solusinya gemana? bikin tempat parkir umum aja yuu). Atau saya harus menutup idung saat melintas di depan beberapa restoran bukan karena bau masakan yang membuat perut saya berbunyi tapi karena sampah yang belum diangkat. Perjalananpun saya sengaja buat menarik dengan berjalan masuk melintasi pasar merasakan riuhnya keadaan pasar pagi. Menyaksikan para buruh tua yang masih berjuang untuk hidup di usianya yang dua kali lipat usia saya dimana seharusnya sudah beristirahat menikmati masa tua namun tetap semangat mencari nafkah hidup. Mereka harus menjungjung barang yang berkilo-kilo yang mungkin tak pernah bisa saya angkat. Saya juga menatap para pedagang yang bengong menunggu pembeli dan celingukan mencari uang guna membayar pajak. Mereka semua bangun subuh untuk mencari nafkah dan berjuang mempertahankan hidup mereka. Saya jadi berfikir, kenapa saya yang masih produktif dan energik kalah semangat hanya untuk sekedar menggerakkan badan. Saya pun dengan senyum, langkah pasti dan semangat melewati hari ini dan mulai menggerakkan badan menyeimbangkan rohani dan jasmani. Men sana in corpore sano gitu deyh..
Ayo teman-teman semua gerakkan tubuhmu..
Wednesday, January 17, 2007
Siwaratri
Menyadarkan diri sendiri memang tidak dapat dilakukan dalam tempo hanya semalam suntuk ketika momen siwaratri datang, seperti halnya ritual melek/ tidak tidur dalam waktu 36 jam saat merayakan siwaratri, kemungkinan juga itu peluang membuat dosa lagi. Banyak yang mengunjungi pantai malam itu bertujuan untuk bersembahyang, tapi setelah sembahyang banyak juga dari mereka mengambil formasi dua-dua yaitu satu lelaki dan satu perempuan apakah mereka cukup kuat iman untuk tidak menambah dosa lagi?
Bagiamanapun itu kita sebagai umat yang dibekali rohani dan iman, melalui momen ini berusaha mengingatkan dan menyadarkan diri secara terus menerus setiap saat untuk tidak menambah dosa lagi. Alangkah baiknya kalau setiap malam kita anggap Siwaratri sehingga memiliki kesempatan lebih untuk memohon ampunan dosa dan meningkatkan kesadaran diri untuk tidak menambah dosa. Masalah diampuni atau tidak urusan nanti saja, yang penting sadar aja dulu.
Umat sedharma, selamat melakukan pengampunan dosa, jagalah hati, fikiran dan perbuatan.