Showing posts with label sebuah Cerpen. Show all posts
Showing posts with label sebuah Cerpen. Show all posts

Tuesday, April 10, 2007

Mawar Putih Mantan Kekasih

Semangatku menyambut pagi setinggi gedung bertingkat di hadapanku, bagaimana tidak, hari ini kontrak kesepakatan kerjasama di tanda tangani, permohanan dana kami dikabulkan membuat penantian dalam proses waktu tiga bulan akhirnya membuahkan hasil. Tirai jendela kamar kubuka membiarkan biasan cahaya menerangi ruangan. Telah satu minggu apartemen ini aku tempati, menurut feng shui kamar ini memiliki energi yang bagus, kamar dengan posisi menghadap timur berarti menyambut matahari sebagai sumber energi sedangkan nomor 8 dipercaya sebagai angka keberuntungan, manisfestasi dari delapan penjuru mata angin. Kesempurnaan feng shui itu sedikit terganggu dengan pemandangan gedung di depan kamr tidurku. Logo salah satu penyedia layanan jaringan telfon seluler terlalu mendominasi pemandangan, harusnya aku mendapatkan royaliti dari perusahaan tersebut karena merek perusahaan itu begitu melekat dalam ingatan.

Lagu yang menyentak kuputar untuk menambah semangat, kugerakkan sedikit tubuh sekedar melemaskan badan. Sejujurnya aku adalah salah seorang penderita sindrom I hate Monday, aku sering tersugesti merasa malas mengawali hari setelah liburan akhir pekan sehingga hari senin akan kulewati dengan perasaan Monday blues. Tapi tidak boleh berlaku untuk hari senin ini. Kutelusuri satu per satu agendaku, diawali dengan sarapan pagi di sebuah excecutive lounge bersama seorang calon donatur dari perusahaan minyak ternama, membicangkan sebuah proyek seni rupa, kemungkinan dana akan turun mengingat sang pemilik sangat menyukai dunia seni. Telah kubuktikan sebelumnya saat aku mendapatkan akses untuk bertandang ke rumah pribadinya yang mirip galeri lukisan. Rapat kulanjutkan dengan makan siang di sebuah rumah seorang duta besar negara tetangga, misiku kali ini adalah mendapatkan dukungannya dalam membawa seorang penulis ternama untuk membuat sebuah lokakarya kepenulisan. Satu kunci lain untuk mendapatkan simpatinya adalah jangan lupa memuji kucing anggora kesayangannya. Dan agenda terkahir adalah makan malam dengan perkumpulan wanita socialite guna membuat proyek sosial yang ditujukan untuk anak-anak putus sekolah. Dari daftar tamu yang dikirimakan kulihat beberapa nama selebritis ibukota, dapat kubayangkan malam itu akan dipenuhi wanita cantik dengan tata rambut bersasak tinggi, gemerlap berlian, wangi farfum ternama dan senyum sumringah di bibir. Pastinya hariku akan bergairah ditambah beberapa jadwal tambahan menyela diantara coffee break. Kubuka lemari pakaian mencari setelan yang pas, kutemukan sebuah terusan hitam selutut, akan tampak formal jika dipadu dengan jas, untuk malam hari cukup mengganti jas dengan selendang sutra bermanik dan sepatu hak terbuka berornamen tali yang akan memperlihatkan betisku yang jenjang. Sapuan hiasan minimalis dengan fokus pada garis mata membuat mataku terlihat tajam dan segar. Sedangkan untuk rambutku yang lepek kuusapkan foam pengeras agar terlihat sedikit terkembang berkesan basah. Sebagai sentuhan akhir tak lupa kusemprotkan parfum keluaran salah satu merek kosmetik ternama. Semua itu menjadi bekal penampilanku hari ini.

Sembari memasukkan semua berkas kantor dan siap beraktivitas kubuka pintu kamar, langkahku terhenti dan tertegun dengan apa yang kulihat, seikat mawar putih berpita merah, kutersenyum dalam hati seperti perpaduan warna sang Saka tingal di kibarkan saja. Sejenak kuberfikir kalau hari ini bukan ulang tahunku, atau hari valentine dan pastinya juga bukan hari jadianku dengan Rio. Kekasihku itu tak mungkin berlaku romatis seperti ini, nyaris setahun ini kami bersama, namun belum setangkai bungapun diberikan untukku. Lelaki yang kurang romantis namun tetap memikat hatiku. Cepat kuraih kartu yang diselipkan diantara duri mawar tersebut “ Cinta kan membawamu kembali” aku terhenyak dengan kata-kata singkat itu membuatku lemas dan sepertinya hariku tak akan sukses jika dilanjutkan. Gontai dan penuh tanya kuawali langkahku menuju parkiran, kukendarai mobil perlahan sambil sesekali melirik ponselku untuk sekedar mengecek apakah ada pesan lanjutan dari si pengirim bunga tersebut, ternyata tak ada. Fikiranku meluncur ke sekian tahun lalu sebelum mengawali perjalanan cintaku dengan Rio. Lagu mantan kekasih dari Sheila on 7 mengalun dari radio yang kunyalakan menarik ingatanaku pada sederetan mantan kekasihku. Cukup banyak lelaki yang singgah di hatiku semenjak aku mulai mengenal apa artinya cinta. Pertulangan yang setidaknya cukup bagus untuk referensiku sebelum memutuskan lelaki yang tepat menjadi pendamping hidupku.

Sore hari seluruh pertemuan sudah kuselesaikan, tinggal bertemu dengan para wanita socialite. Aku meluncur sebelum macet tiba sambil menjemput seorang teman yang tinggal di sebuah apartemen kawasan Casablanca. Aku sedikit ngeri dengan pemandangan dari kamar temanku itu, sederetan kuburan dengan tanda salib berjejer rapi, belum lagi harus melewati sebuah terowongan yang konon sering dikenal dengan cerita horornya namun dia sangat menyukai kawasan apartemen ini padahal ada penawaran bagus dengan lokasi yang lebih strategis di kawasan Mega Kuningan. Makan malam dengan para wanita kaya telah usai, cukup melelahkan mendengarkan cerita mereka. Kegiatan sosial ini otomatis akan mendongkrak popularitas mereka. Tak masalah bagiku apapun tujuan mereka yang penting masyarakat kurang mampu bisa mendapatkan bantuan.

Jakarta terasa indah jika dimalam hari, kupandang kerlip lampu malam seolah –olah mengerling menarikku dan menyesatkan dalam kegairahan malam kota ini. Rio menelfon mengajak keluar menikmati angin malam Jakarta.

Babe, jalan yuk, nongkrong di Kemang”

“Uhhm, sori aku capek sekali, besok ada presentasi kerja”

“Ah, urusan kerjaan besok aja difikirnya, ayolah sayang, work hard, party hard juga dong”

“Maaf sayang, sepertinya tidak malam ini deh”

“Okay kalau begitu aku keluar dengan teman-temanku saja ya?”

“Yepp, party safe ya sayang”

Kembali kupandangi buket bunga mawar putih itu dan mengira-ngira pengirimnya. Aku teringat pada Hendra, lelaki yang kuputuskan sebelum aku menjalin hubungan dengan Rio, mungkinkah dia yang megirimakan mawar itu. Tapi sepertinya tak mungkin, karena menurut informasi dari temanku dia telah memiliki kekasih baru dan segera menikah,dan juga dia bukan tipe lelaki yang bisa memaafkan. Sederetan lelaki singgah dalam hatiku hanya dalam hitungan minggu, tak ada yang bertahan lama. Aku teridur dalam rasa penasaran.

Pagi ini aku terbangun melewati rutinitas seperti biasa dan bersiap untuk bekerja. Kubuka pintu kamar dengan perlahan, seikat bunga mawar putih kembali ada di depan pintu, cepat kuraih kartu yang terselip. “Sandra, cintaku hanya tercipta untukmu” Nyaris satu minggu setiap hari ada bunga mawar yang sama di depan kamar dari seluruh kartu ucapan yang diselipkan menunjukkan betapa dia masih mengharapkanku. Aku menaruh mawar itu dalam jamban besar, malam ini aku berjanji memasakkan calamari salad favorit Rio. Dia datang mendahului 30 menit sambil membawa sebotol anggur putih dan film terbaru. Hubunganku dengn Rio telah memecahkan rekor usia waktu pacaran kami. Rio adalah seorang kekasih yang bisa menjadi sahabat. Awal hubungan kami memang karena pertemanan, kemudian menjadi teman spesial dan akhirnya kami sepakat berpacaran. Sejujurnya waktu itu kami sama-sama sudah memiliki pasangan tapi daya tarik Rio membuatku tergoda sampai akhirnya aku memutuskan Hendra dan menjalin hubungan dengan Rio. Walaupun hubungan kami telah melewati masa satu tahun, sekalipun Rio tak pernah membicarakan komitmen akan pernikahan. Tidak seperti Dimas yang baru kenal beberapa hari telah menyatakan cinta dan ingin meminangku, tanpa fikir panjang langsung saja aku menghilangkan jejak darinya, walaupun kuakui dia lelaki yang sudah mapan, ganteng dan baik hati tapi itu bukan menjadi sebuah alasan bagiku untuk membuat sebuah komitmen. Setelah kuputuskan tak pernah lagi aku mendengar kabar dari Dimas, konon cerita dari teman, dia merasa sakit hati atas sikapku dan meninggalkan Indonesia untuk bekerja di negeri kangguru. Sambil memasak aku melirik Rio, tangannya tak pernah terlepas sedetikpun dari telfon genggamnya, jemarinya sibuk mengirimkan pesan sesekali tersenyum sendiri.

“Sms dengan siapa sayang, hati-hati nanti jempolmu kurus”

“Dengan teman-teman, mereka mengajaku jalan, bolehkah aku pergi dengan mereka? nonton filmnya kapan-kapan saja ya ”

“Uhmm, baiklah, taruh saja filmnya diatas meja kamar”

“Ok, wow.., mawar putih, tumben kamarmu dihiasi bunga?”

“Iya, karena kamu spesial”

Kutekan suaraku agar dia tidak menaruh curiga pada mawar tersebut. Aku mulai cemas dengan hubungan yang kujalin dengan Rio yang tidak pernah menyingung komitmen lebih jauh. Bulan depan adalah ulang tahunku, umurku telah memasuki kepala tiga, aku berharap dia melamarku, sering kubayangkan betapa lengkapnya hidupku mempunyai pendamping Rio dan kami memilki anak yang lucu-lucu.

Sore ini sebuah rapat di batalkan, aku menuju pusat perbelanjaan mencari gaun yang akan kukenakan makan malam bersama Rio saat ulang tahunku nanti. Sedikit tak percaya dengan apa yang kulihat, lelaki yang saat ini kucinta dan kuharapkan melamarku bergandengan tangan dengan seorang wanita lain. Hatiku bergemuruh tak sangka dihianati, seperti sebuah adegan sinetron kudekati dia dan terjadilah pertengkaran diantara kami, sepertinya Rio tak berusaha menjelaskan hubungannya dengan wanita itu.

Rio, aku minta penjelasan darimu atas semua ini”

“ Maafkan aku atas semua ini, Sandra maaf, aku tak berani jujur padamu, aku belum siap berkomitmen lebih jauh denganmu, aku masih ingin berpetualang, kutahu kamu menanti komitmenku untuk hubungan kita, tapi maafkan aku tak bisa”

Jawaban Rio membuat darahku membeku dan tak tak pernah kusangka lelaki yang kucinta menghianatiku. Mungkin benar apa kata orang, sebuah hubungan yang diawali dari perselingkuhan tak dapat menjamin sebuah kesetiaan. Rio memang tak pernah berhenti berpetualang, entah berapa wanita lagi yang akan dia arungi hatinya. Kutermenung dengan kejadian sore tadi, sakit terasa pada hatiku. Saat aku ingin serius berkomitmen, tak kutemukan lelaki yang siap kuajak berkomitmen. Mungkin memang hukuman bagiku telah menyiakan sekian banyak lelaki yang tulus padaku. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Tiga hari lagi ulang tahunku hari terasa sepi, tak ada mawar putih, ataupun permintaan kembali dari Rio. Aku harus bersiap melewati ulang tahunku sendiri. Jam 12 pas, kuucapkan selamat ulang tahun pada diriku, lama aku tak berdoa, kini aku teringat pada Tuhan, mohon ampun pada kesalahan yang pernah kuperbuat, dan berharap Tuhan memberikan kesempatan untuk menemukan lelaki yang tepat. Hari ini sengaja aku aku mengambil cuti libur, walaupun tak ada pacar aku akan tetap merayakan ulang tahunku, pantai adalah salah satu tempat yang akan kukunjungi hari ini. Sembari mempersiapkan segala kebutuhan kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku, kuintip dari lubang kaca kecil tak begitu kukenali tubuh itu, yang pasti adalah seorang lelaki. Kubuka pintu kamar, tak menyangka akan apa yang kulihat.

“Dimas??!!!”

“Ya, ini aku, selamat ulang tahun Sandra”

Kuterima buket mawar merah yang besar darinya dengan segala kecanggungan, aku mempersilahkan dia masuk.

“ Lama tak berjumpa denganmu, kamu makin tampak dewasa dan matang”

“Thanks, kok kamu tahu aku tinggal disini?”

“Ya, tahu aja, oh ya apa kamu memiliki acara di hari spesialmu ini?”

“Uhmm, tidak juga sih”

“Kalau begitu aku ingin mengajakmu keluar berjalan-jalan “

Tak mengerti atas sikapku, aku mengikuti ajakan Dimas dan membatalkan rencanaku menikmati liburan di pantai.

“Kapan kamu kembali ke Indonesia?”

“Sejak dua bulan lalu aku pindah kerja disini”

“Bagaiaman kamu tahu aku tinggal disini?” Pertanyaan ini kuulang, karena aku masih penasaran bagaiaman dia tahu tempat tinggalku yang baru.

“Maaf, tanpa maksud mengintaimu, aku tahu seluruh kegiatanmu hingga orang yang dekat denganmu”

“Wow.. kamu telah mengintai dan memasuki area pribadiku”

“Bukan maksud hati seperti itu, hanya memastikan kamu baik-baik saja”

“Tapi kamu tidak bermaksud menjadi malaikat penyelematku kan?”

“Andai kamu tidak keberatan aku ingin menjadi malaikat hatimu”

“Dimas, kamu sedang tidak menanti penolakan dariku untuk kedua kalinya bukan?”

“Aku akan terus mencoba hingga kau lelah menolaku atau seseorang telah meminangmu. Selama kamu masih belum dimiliki oleh seseorang, tak salahnya aku mencoba bukan? Bagaimana dengan mawar putih yang kukirimkan, apa kau menyukainya? “

Kuterdiam sepanjang perjalanan, tak menyangka akan semua hal yang terjadi, mawar putih, diputuskan oleh Rio, ulang tahun bersama Dimas. Apakah ini jawaban dari doaku semalam?.

Wednesday, January 31, 2007

Goresan tangan seorang abdi


“ Kita ini orang susah jalani saja hidup ini apa adanya, tidak usah mikir yang macam-macam, kita tak pernah tau esok akan bagaiamana “
“ Ya memang betul, gak usah ambisi kepengen hidup kaya bukankah begitu?”

Itulah sebuah penggalan obrolan bapak-bapak diwarung kopi, saat aku membeli dua buah pisang goreng pesanan bapak.

“ Eh Jana, bapakmu mana, kok tidak pernah ngopi diwarung sini “ tanya salah seorang bapak.
“ Bapak dirumah sedang menanak nasi”
“ Bilangin sama bapakmu tidak usah kerja terlalu ngoyo, toh juga tidak bakalan pernah kaya”

Aku hanya tersenyum meringis, sembari pulang membawa pisang goreng pesanan bapak. Aku tidak memperdulikan omongan orang itu dia hanya sibuk mengurusi orang lain. Kulahap pisang goreng yang enak ini yang selalu membuatku ingin menambah. Jatah pisang goreng untukku memang hanya satu, dan satunya lagi untuk bapak, menjadi impianku yang sangat sederhana untuk bisa makan lebih dari satu, disamping mimpi-mimpiku yang lain. Aku menuang air panas ke gelas yang ujungnya sudah camping, tak perlu lama untuk mengaduk kopi itu karena aku tak pernah mengisi gula untuknya, bukan karena alasan takut terkena diabetes namun kami tidak punya uang lebih untuk hanya sekedar membeli gula. Sedangkan untukku cukup air hangat saja untuk mengindari perut kembung dipagi hari yang buta.

Kami hanya hidup berdua di gubuk itu ditemani seekor babi, sapi serta beberapa ayam ternak yang sering kuintip telurnya untuk kujadikan lauk setiap harinya. Satu telur cukup untuk lauk kami sehari dengan tiga kali makan, bapak mencampur telur itu dengan sayur dan banyak cabai. Walaupun yang kami makan hanya nasi dan telur saja namun kami sampai berkeringat memakannya karena kepedasan. Aku adalah anak tunggal bapak, aku tak punya ibu, kata bapak, ibu meningal karena sakit, menurutku wajar saja, mengingat kondisi kehidupan kami, jangankan untuk mengobati ibu, untuk beli gula saja kami tak mampu. Walaupun begitu di umurku yang menginjak 20 tahun aku tumbuh sebagai lelaki sehat dan kekar, badanku hitam legam dan rambutku kecoklatan karena tiap hari terkena terik matahari. Aku sekolah hanya sampai SD saja, tidak seperti teman-teman lainnya karena keterbatasan ekonomi kami. Kata temanku aku adalah salah seorang yang menggagalkan program pemerintah wajib belajar 9 tahun.
Bapak adalah seorang abdi dia hampir menghabiskan 50 tahun hidupnya mengabdi pada sebuah keluarga terkaya di desa ini. Pekerjaan bapak tiap hari mengepel lantai marmer yang berlantai tiga, juga harus mengepel mobil mereka yang lebih dari lima, setelah itu dia juga di tugaskan memotong rumput halaman yang luas, memberi makan ternak dan banyak lagi pekerjaannya yang harus diambilnya. Jam 6 pagi dia sudah harus setor muka di keluarga itu dan pulang kembali setelah petang. Ibu Harun adalah nyonya besar dirumah itu, dialah yang memegang peranan. Wanita yang sangat galak dan cerewet. Tiap pagi bagun subuh untuk membuat sasak yang tinggi dikepalanya seperti ibu-ibu pejabat. Dulu ketika aku lulus SD anaknya bu Harun berencana menyekolahkanku sampai SMP, namun si Nyonya tua itulah yang tidak mengijinkan menyekolahkanku. Aku masih teringat omongannya waktu itu
“ Heh, untuk apa kamu berbaik hati sama anak seorang pembantu itu, tidak usah kau sekolahkan dia, aku mau memperkerjakannya, terlalu enak baginya sekolah, aku akan suruh dia mengurus ladang kita.”
Sudah tidak ada harapan lagi untukku sekolah, namun aku harus menerima keadaan itu. Ketika teman-teman pergi kesekolah menggendong tas dan besepatu kain sedangkan aku hanya memanggul cangkul dan bersepatu boot. Tapi teman-temanku sangatlah baik, mereka sering sekali datang kerumahku dan mengajariku apa yang mereka dapatkan di sekolah. Kutahu bapak sedih tidak dapat menyekolahkanku, namun aku dapat memakluminya.
Bapak sangat pendiam kami jarang berkomunikasi dan jarang keluar rumah selain bekerja, raut mukanya selalu datar tiada pernah kulihat dia tersenyum ataupun menangis, terkadang kubertanya, apakah dia masih mempunyai rasa. Aku pernah melihat Nyonya Harun menyiram muka bapak dengan kopi, permasalahnya hanya lantaran kopi yang dibuat olehnya kurang manis, mungkin bapak lupa kalau nyonya Harun memiliki berkarung-karung gula tidak seperti dirinya. Bapak hanya diam saja diperlakukan kasar dikeluarga itu. Sepulang kejadian itu aku memberanikan diri bertanya kepadanya
“ Bapak, kenapa tadi diam saja diperlakukan seperti itu, aku sedih melihatnya, seperti kita tidak punya harga diri”
“Ya, kita memang tidak punya harga nak, apalagi dimata mereka kita hanya seorang abdi, namun apa boleh buat, kita masih membutuhkan mereka untuk menyambung hidup, kalau aku melawannya berarti gajiku akan dipotong dan hanya akan membuat kita susah saja. Bapak sudah 50 tahun menjadi abdi, tiada pilihan lain Jana”
“Pak, aku bosan menjadi abdi terus, aku ingin merubah hidupku, aku tidak mau menjadi abdi di keluarga itu lagi, aku ingin jadi orang kaya pak”
Sahutku dengan ketus pada bapak. Hatiku jengah dengan kehidupan ini, aku ingin merubah kehidupanku.
Hari ini matahari begitu terik, aku menyandarkan badan di gubuk setelah mencangkul ladang keluarga bu Harun, kubuka bungkusan nasi yang tadi pagi kubawa bersama bapak, menu tiap hari masih tetap sama ada nasi, garam dan telur dengan banyak cabai, tetap nikmat kurasakan makanan itu. Sebentar lagi musim panen kuberharap mendapatkan bonus lebih dari keluarga bu Harun. Setelah makan siang aku menyenderkan kepala di bawah pohon kelapa, dan aku terkejut ketika dibangunkan oleh seseorang, aku bangun gelagapan, takut yang datang adalah bu Harun dan ternyata tidak yang datang adalah cucunya. Bocah lelaki berumur 9 tahun yang berbadan subur memiliki hobi makan dan tidur. Dia senang sekali bermain denganku, namun selalu sembunyi-sembunyi. Hari ini dia datang membawakanku makanan. Dia sangat bangga menjadi anak tunggal karena dia akan menjadi pewaris tunggal kekayaan ayahnya, berhektar-hektar kebun kopi dan ratusan ternak sedangkan aku sebaliknya anak tunggal dengan warisan gubuk kecil.
“ Hey, ngapain kamu keladang bawa buku sebanyak itu?, pasti kamu mengaku mau belajar ya pada orang rumah, dan kamu kabur main ke ladang” Godaku pada anak itu.
“Heh, kamu mau membuatkanku PR tidak? Nanti kukasi upah “
Dia selalu mengancamku untuk membuatkannya PR, anak ini memang sedikit bodoh, tapi dengan kebodohannya itu aku diberikan keuntungan, ada pemasukan lebih setiap harinya dari upah mebuatkannya PR.
Panen telah selesai, seluruh tabungan kukumpulkan, hal yang pertama kulakukan adalah membeli pisang goreng sepuasnya pagi itu, dan membuat teh panas manis, sedangkan untuk bapak kubuatkan kopi dengan gula. Masih duduk di depan tungku api sembari memasak nasi aku memperhatikan bapak, dia tersenyum padaku. Ini membutaku ingin membuka percakapana dengannya
“ Pak, aku ingin megubah nasibku, aku tidak mau selamanya menjadi abdi di kelaurga bu Harun, aku ingin mencari pekerjaan lainnya saja, aku ingin kaya pak”
Bapak menghentikan tangannya memotong ketela dan memandangku
“ Pekerjaan apa yang ingin kau cari ?”
“ Aku mau ke kota saja pak, palingan juga banyak pekerjaan disana, badanku kuat aku bisa menjadi buruh dagang”
“Ya, sama saja, menjadi buruh pasar juga tidak akan bikin kamu kaya juga kamu tetap menjadi abdi cuman beda tempat saja, asal kamu tau nak, kita itu memang di takdirkan dengan menjadi seorang abdi, jangan kira ketika kamu sudah menjadi seorang tuan majikan kamu bakalan tidak menjadi abdi lagi, kamu pasti tetap menjadi abdi dari tuanmu yang lain, semua itu seperti piramid dan kita tak mungkin menjadi yang paling atas, paling ataspun akan tetap menajdi abdi sang penguasa.”
“ Hah bapak ini, ya walaupun tetap menjadi abdi setidaknya menjadi abdi yang lebih baik dari ini lah pak yang bikin hidup ini gak susah kayak gini, beli pisang goreng aja ga mampu. pokoknya aku mau ke kota saja, pasti ada saja pekerjaan disana”
“ Ya, kalau memang sudah tekadmu mau merubah nasib hidupmu silahkan saja, nanti kamu bilang sama ibu Harun kalau kamu berhenti mengurus ladangnya”
Pagi ini kubertemu ibu Harun dan pamit padanya, dia mencibirku dan dia yakin suatu saat dia pasti akan kembali meminta pekerjaan padanya. Sakit hati juga aku dengan nenek tua tak berperasaan itu. Aku kemudian pamit kepada bapak untuk meninggalkan desa dan mengadu nasibku di kota. Bapak terlihat sedih kutinggalkan, dia memberikanku sebungkus nasi dan kuyakin lauknya adalah telur.
“ Kuharap kamu bisa menggapai mimpimu Jana, dan kelak kau tidak menjadi abdi seperti bapak” Kutatap dia sembari berpamitan.

Aku langsung menuju kota, pasar adalah tempat yang tepat untuk mencari pekerjaan dengan menghandalakan tubuh yang kuat. Kulihat disekiling mungkin ada yang dapat kukerjakan, aku mendekati seorang pemilik toko sekedar menanyakan apakah dia membutuhkan tenaga tambahan angkut barang. Dari sekian pemilik toko yang kutemui tak satupun membutuhkan tenagaku. Hari telah sore, aku tak mungkin kembali kedesa, uang tabunganku hanya cukup untuk makan seminggu, aku harus secepatnya mendapatkan pekerjaan. Kulangkahkan kaki menuju pantai, kota ini memiliki pantai yang cukup indah, dulu dipakai sebagai pelabuhan dagang, namun sekarang menjadi objek wisata. Banyak hotel-hotel dan restoran dibangun disekelilingnya, pernah juga aku bermimpi menjadi pegawai hotel tapi mustahil sekali bagiku yang hanya tamat sekolah SD.
Aku melihat sekumpulan pemuda pedagang cinderamata menawarkan dagangannya kepada turis asing yang sedang berjalan-jalan dipantai. Mereka membawa patung, kalung dan kerang. Seorang turis membeli beberapa buah kalung, kulirik dia membayar cukup mahal untuk barang seperti itu, kuberfikir pasti dia mendapatkan untung yang banyak. Kalau aku berjualan seperti itu aku pasti banyak uang dan kuajak bapak berhenti menjadi abdi mungkin aku tidak akan menjadi abdi lagi. Aku berjalan menyusuri pantai, dan melintas di depan hotel, banyak sekali turis-turis berjemur disana. Aku melirik sekilas para turis yang hanya mengenakan kutang dan celana dalam. Naluri lelakiku terpancing, otot organ vitalku mengeras, birahiku tertantang, kutersadar kalau aku belum pernah menyentuh wanita sekalipun di umurku yang beranjak dewasa, kuberjanji dalam hati aku akan kuberikan perjakaku kepada seorang gadis yang mampu memikat hatiku. Aku memang tidak pernah dekat dengan wanita, mungkin karena fikiranku hanya terfokus untuk mencari uang untuk mencukupi hidup. Kulangkahkan kaki dengan cepat menuju kampung nelayan, senang sekali rasanya sesekali melihat pantai. Para nelayan mengayuh perahu semakin jauh kedalam, kupandang mereka melempar jaring, cukup banyak tangkapan yang di dapat. Satu perahu mendekat menuju pesisir, beberapa pemuda berlari menarik perahu. Aku berfikir untuk mencari kerja disini saja, tubuhku cukup kuat untuk melakukan perkerjaan itu. Kudekati seorang nelayan berharap dia membutuhkan bantuan untuk menarik jaring. Seperti gayung bersambut dia memperbolehkanku bekerja disana, untuk masa percobaan aku akan diupah dengan beberapa ikan tangkapan. Tidak masalah bagiku selama dia meberikanku tempat menginap. Keesokan harinya aku sudah mulai bekerja dan diajak melaut, menjadi pengalaman baru bagiku melaut, kucoba bersahabat dengan angin, ombak, pasir, dan air yang terbentang luas. Mualnya mabuk laut membuatku terhuyung seharian.
Sebulan telah kutaklukan lautan dan hatiku senang ketika majikanku memberikankau upah berupa uang dan beberapa ikan untuk kumasak. Hidupku sedikit mengalami perubahan, kali ini tak makan telur dan cabai lagi tapi aku bisa makan ikan. Sore hari setelah melaut aku duduk dipinggir pantai, kunyalakan sebatang rokok, aku sudah bisa membeli rokok dan juga sering minum arak, kata pemuda kampung disini akan terlihat gagah dan dilirik perempuan jika kita merokok dan minum arak. Sejenak hayalku kembali kedesa, kuteringat bapak rasa rindu menyeruak, ingin ku pulang menjenguknya namun tabunganku belum cukup.
Kali ini hasil tangkapan kami tidaklah banyak, aku dan majikanku cukup kecewa, angin bertiup kencang beberapa hari ini dan ombakpun besar membuat kami susah melaut. Terik matahari menyengat, aku berteduh di gubuk majikanku, sosok seorang perempuan melintas, dia tersenyum padaku membuat hatiku berdesir, kubalas senyumannya, dia sibuk menjemur ikan, kutatap setiap geriknya, ingin hati memiliki perempuan itu. Ini adalah pertama kali aku merasakan hal ini, mungkin aku telah jatuh cinta padanya. Dia sering mencuri pandang padaku, membuat aku semakin ingin mendekatinya. Kuberanikan diri mendekati dan menyapanya sambil membantunya membalikkan ikan-ikan asin itu. Saat kudengar suaranya semakin membuat jantungku berdebar. Dia menggunakan kain selutut memperlihatkan kulitnya yang halus, sungguh aneh dikampung nelayan dengan terik matahari dan udara yang asin ada seorang perempuan yang berkulit putih.
Sari nama perempuan itu yang membuatku tidak bisa tidur malam ini, fikranku terus tertuju padanya. Pintu gubukku diketuk oleh majikan dia mengajakku melaut tengah malam, berharap dapat menutupi tangkapan tadi pagi, hasilnyapun cukup lumayan kami tidak perlu melaut kembali. Aku duduk diluar gubuk menghilangkan penat berharap bertemu dengannya. Harapanku terkabul, kulihat Sari melintas, namun rasa kecewa menyergapku, dia digandeng seorang lelaki, kuberanikan untuk menatapnya, dia hanya menunduk dan mengintip dari sudut matanya, mata kami sempat saling bertatap, membuat hatiku bergemuruh. kuyakin dia tertarik padaku. Kulemparkan senyum saat dia melintas di depanku dan mengalihkan pandanganku ke laut mengusir rasa kecewa, angin masih terasa kencang, langit kelam bertaburan bintang. Kunyalakan api unggun untuk mengusir dingin, beberapa ikan kubakar sebagai santap malam. Kumenuang secangkir arak dan menyalakan sebatang rokok untuk mengusir dingin, cukup sepi malam ini, para pemuda kampung ini tiada yang keluar, kudengar orang-orang sedang pergi ke alun-alun untuk menonton wayang. Aku malas pergi dan memilih untuk duduk. Disela-sela asap rokok kembali kumenangkap sosok Sari, rambut panjangnya tergerai, jantungku semakin berdegup kencang. Kulempar pandangan kesekeliling Sari kembali melintas di depanku tanpa lelaki itu, namun tetap kupastikan tiada lelaki itu di sekitarnya. Kuberanikan menyapa dan bercakap, kuajak dia mampir di depan gubuk sambil menikmati api unggun. Tak kusangka kini aku duduk berdua dengannya, dia anak yang pemalu dan pendiam, tidak pernah mendahului membuka pembicaraan dan menyahutpun dengan singkat.
Malam itu merupakan malam yang sangat indah bagiku, walaupun kami hanya mengobrol dan berjalan-jalan saja, sepertinya dia memberikan respon yang positif terhadapku. Kuberharap malam ini aku bisa bertemu denganya lagi. Aku memang sedang beruntung perempuan pujaanku kembali lagi seorang diri. Kali ini aku lebih berani menyapanya dengan akrab dan mengajaknya berjalan menyusuri pantai menjauhi kampung nelayan. Saat seperti ini naluri lelakiku muncul, kuberanikan diri untuk menggandeng tanganya, Sari begitu menggairahkan, tiada canggung sekalipun dia terhadapku walaupun nampak pemalu. Aku sedikit gugup menghadapinya mengingat ini adalah pertama kali sedekat ini dengan perempuan. Kutenangkan diri, dan berisitahat untuk duduk menghadap lautan. Sungguh diluar sangka, Sari menyenderkan kepalanya di bahuku. Tuhan !! pekikku kuatkanlah imanku perempuan ini sungguh memikat hatiku. Mungkin dia bisa mendengar degup jantungku, kuberanikan diri merangkulnya Tak bisa kubendung hasrat ini yang menggelora, seperti deburan ombak. Mata kami saling bertatap memancarkan rasa cinta dan hasrat. Aku cukup gugup untuk memulainya mengingat ini adalah pertama kali kulakukan. Kupejamkan mata dan mendekatinya, kurasakan hangat nafasnya memasuki rongga mulutku dan otot organ vitalku kembali mengeras sejadi-jadinya membuat gundukan kecil dan membuat sempit celana yang kugunakan, kudengar nafasnya naik turun, dan aku hanyut dalam pengembaraan, bergumul diatas pasir tanpa sehelai benang di saksikan bintang dan gelap malam. Surga dunia kukecap, kutatap matanya dalam tak ada tanda penyesalan, dia hanya tersenyum menatapku.
Pagi ini tak ingin rasanya terjaga, baju yang kukenakan masih tercium harum perempuan itu. Hayalku selalu dipenuhi oleh Sari. Majikanku sudah bersiap-siap melaut, aku beranjak mencuci muka, di laut aku lebih banyak terbengong dan tak bergairah kerja. Malam ini kunantikan lagi berharap Sari menemuiku lagi, aku duduk di pinggir pantai hingga larut dia tak kunjung tiba hingga angin laut menusuk tulangku, akupun beranjak pulang, sekian malam kulewati untuk menunggunya kembali namun tetap saja sari tak kunjung menyapaku. Gundah hati menyelimuti, hasrat ingin bertemu semakin menggebu, apalagi hasrat untuk mengulang malam itu tak dapat kubendung. Aku masih duduk di pingir pantai, kudengar langkah seorang datang ku cepat menoleh dan menghampiri ternyata bukan dia. Seorang pemuda kampung, datang membawa arak, dan mengajakku minum bersama, dalam hamparan dingin kunyalakan rokok, kuisap dalam dan terbawa angin. Aku memberanikan diri bertanya padanya tentang Sari dan sungguh membuatku terkejut bahwa Sari akan menikah dengan seorang anak orang kaya dikampung nelayan ini. Aku tercengang, badanku lemas, harapan dan cintaku telah hilang.
Sejak malam itu aku berusaha untuk melupakannya, dan mengisi hari-hariku dengan melaut. Tangkapanku juga tidak seberapa, cukup membuat penghasilan kami merosot, aku turun dari perahu dan menariknya ke pesisir pantai. Seorang wanita bule paruh baya berambut pirang menunggu perahu kami untuk membeli ikan, dia mengambil semua hasil tangkapan kami. Dan aku dimintanya untuk mengantarkan ikan itu kerumahnya. Aku cukup terbengong ketika mendapati rumahanya yang begitu mewah dengan kolam renang pribadi. Dia memberikanku uang yang dua kali lipat dari harga jual ikan tersebut.
“ Nyonya uang anda lebih”
“oh tidak sisa nya itu memang untuk kamu”
“ sebanyak ini nyonya?”
“Iya, besok kalau ada ikan lagi tolong kamu bawa kesini ya “
“baik nyonya”
Kelebihan uang yang diberikannya itu nyaris sama dengan gaji yang diberikan oleh majikanku. Hari ini tangkapanku banyak dan kuberfikir segera membawa ke nyonya bule yang kaya itu. Dia terlihat senang ketika kubawakan ikan dan memintaku untuk membantu membersihkan ikan tersebut. Setelah pekerjaanku selesai aku pamit pulang padanya.
“ Heh , tunggu sebentar ini uangnya”
“ kenapa lebih lagi nyonya?”
“ Iya itu untuk kamu lagi”
“ Terima kasih banyak nyonya”
“ oh ya nama kamu siapa?”
“Saya Jana Nyonya”
“Ok Jana lagi tiga hari tolong saya di bawakan ikan yang lebih banyak lagi, karena saya mau mengadakan pesta di rumah , juga apa kamu bisa bantu saya untuk memanggangkannya?
“ oh tentu nyonya”

Dengan senang hati aku mulai membantunya memanggang ikan. Ramai sekali tamu yang datang akupun ikut menikmati makanan yang terasa aneh di lidahku kecuali ikan panggang, juga aku diberikan minuman yang memabukkan tapi tidak sekeras arak. Keesokannya dia memintaku membantu membersihkan rumahnya yang penuh sampah seusai pesta. Hari ini semakin kurasakan rumahnya yang begitu luas dan hanya ada seorang pembantu di rumah itu seorang perempuan tua yang lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Nyonya bule itu hidup sendiri tak ada suami juga anak-anaknya. Selesai membersihkan rumahnya, nyonya bule itu kembali memberiku upah yang banyak.
“ heh Jana , apa kamu mau bekerja untukku membersihkan rumahku?”
Aku tak perlu berfikir panjang untuk mengiyakan. Bisa di bayangkan Gaji bekerja sehari saja sudah lebih dari cukup apalagi kalau sebulan dengan pekerjaan yang sangat gampang.
“ baik nyonya, saya mau bekerja disini”

Mulai hari ini aku tinggal di rumah nyonya bule, aku diberikan 1 kamar yang bagus berisi kamar mandi, jauh sekali dengan rumahku di kampung. Nyonya itu baik sekali tidak seperti nyonya Harun, kadang dia membelikanku pakaian dan banyak lagi hadiah yang tak kuduga. Sudah nyaris dua bulan aku bekerja dan inilah pekerjaan yang paling menguntungkan buatku, sesekali aku berkunjung ke kampung nelayan mentraktir para pemuda kampung sembari minum arak dan berharap bertemu dengan Sari perempuan pujaanku. Malam ini aku dibangunkan oleh suara mobil Nyonya bule, aku harus membukankan gerbang untuknya. Dia pulang sangat larut dan dalam keadaan mabuk berat ditemani seorang pemuda. Nyaris setiap minggu dia keluar malam dan pulang dalam keadaan mabuk dan ditemani oleh pemuda yang berbeda-beda. Pemuda itu membopongnya masuk kekamar dan akan keluar kamar keesokan siang. Bibi juru dapur pernah bercerita padaku kalau nyonya bule sudah becerai dengan suaminya dan anaknya tinggal diluar negeri. Kini nyonya bule tidak menikah lagi tapi memiliki pacar yang banyak yang hanya bertahan seminggu. Malam ini nyonya bule keluar lagi untuk berpesta dan pastinya pulang dalam keadaan mabuk serta ditemani lelaki baru lagi. Aku sedang mengingat Sari dan malam yang pernah kami lewati. Lamunanku di buyarkan oleh suara klakson mobil Nyonya bule. Aku membukakan gerbang, kuperhatikan dia turun dari mobil seorang diri tanpa ditemani seorang pemuda. Dia berjalan terhuyung dan aku membopongnya masuk kedalam kamar, kucoba membangunkan bibi juru dapur untuk membantu tapi dia tidak terjaga juga. Nyonya bule berbicara tidak karuan, kadang memakai bahasa yang tidak aku mengerti. Segera aku menutup pintu kamarnya dan kembali melanjutkan tidurku. Tak selang berapa lama aku harus terbangun kembali dengan teriakan nyonya bule, aku mendatangi kamarnya.
“ Heh Jana ambilkan aku minuman lagi “
” Baik Nyonya”
Kubawakan dia minuman akohol sambil membersihkan kamarnya yang penuh dengan muntah. Nyonya bule sudah diluar kontrol dia memanggil nama orang. Sembari aku membersihkan sisa muntahannya dia tertidur terlentang hanya mengenakan kutang dan celana dalam. Sebagai lelaki normal birahikupun tak bisa diajak kompromi. Dalam keadaan mabuk nyonya bule memintaku untuk menemaninya di kamar. Dengan perasaan takut dan canggung aku duduk di sofa tapi diluar dugaanku nyonya bule memintaku menemaninya di ranjang, rasa takut menyergapku, tapi nyonya bule sepertinya memang menginginkanku. Dan malam itu kulewati dengan majikanku namun hayalku terbang bersama Sari.

Pagi ini kuterbangun sangat gugup dan aku takut dipecat atas kejadian semalam cepat-cepat aku keluar kamar nyonya bule. Seharian aku tak berani berpapasan dengannya, rasa takut menghantuiku. Menjelang malam ini aku semakin gundah karena ketakutanku, suara nyonya bule terdengar memanggilku, dan akupun gemetar. Aku akan kehilangan pekerjaanku. Dengan muka pucat pasi aku menghadapnya.
“ Jana, tolong saya dibelikan minuman lagi”
Akupun pergi dengan perasaan sedikit lega namun kecemasan tetap menghantuiku akan kehilangan pekerjaan. Hingga larut dia masih menegak minuman itu. Tengah malam dia kembali memanggilku meminta ditemani minum – minuman berakohol tersebut tak ada sedikitpun dia menyinggung masalah semalam, hingga kamipun berada di bawah pengaruh akohol. Dan kami berdua kembali mabuk dan berakhir di ranjang, kali ini aku mulai bisa menikmati dan tidak begitu takut karena kuyakin kalau majikanku memang menginginkanku. Hal inipun berulang hingga berkali-kali dan aku mulai terbiasa.

Ini adalah awal bulan waktunya aku menerima gaji, sunguh diluar dugaan aku mendapatkan gaji yang sangat banyak. Aku semakin terkejut ditambah lagi ketika aku tak perlu lagi membersihkan rumahnya dan mendapatkan tugas baru hanya menemaninya berjalan-jalan, makan, minum hingga mabuk dan berakhir di ranjang. Kini uang bukan masalah lagi bagiku, aku dibelikan segalanya dan gaya hidupku nyaris seperti orang kaya. Hanya satu syarat yang diberikan oleh nyonya bule, aku tak boleh berhubungan dengan perempuan lain selain dia. Sari harus kulupakan juga. Aku mematuhi permintaanya demi uang dan dan aku rela menemaninya diranjang walaupun aku tidak pernah mencintainya.
Hidupku kini telah berubah, aku menjadi teingat dengan obrolan bapak-bapak di warung kopi kampungku
“ Kita tidak akan pernah tau akan bagaimana esok, ya dijalani saja”
Hari ini aku pulang kekampung menjenguk bapak, kucari dia kerumah Ibu Harun, dia sangat tekejut melihatku datang membawa mobil dan berpakain bagus. Bapak tidak mengenaliku. Ibu Harun hanya mencibir menatapku tak suka.
“ Jana itu kamu?”
“ Iya pak, ini Jana”
Akupun mengajak bapak pulang, banyak orang kampung menatapku seolah tidak percaya dengan diriku.
“Jana kamu nampak lain, sudah punya banyak uang, tak lagi menjadi abdi kasar yang selalu dimaki majikan, kamu menggapai mimpimu nak ?”
“ Ya pak, jana tidak perlu lagi menjadi abdi yang selalu dimaki majikan, Ini Jana ada uang untuk bapak, untuk membenahi rumah, kalau bapak mau tidak usah lagi bekerja pada Ibu harun, akan kubelikan bapak ladang dan sapi “
“Jana dimana kamu dapatkan uang sebanyak ini? Apa pekerjaanmu Jana?”
Pertanyaan bapak tak bisa kujawab dengan jujur, aku harus berbohong.
“ Aku bekerja sebagai mandor buruh pak”
“baiklah, asalkan kamu bekerja yang halal dan jujur saja. Kini kau sudah menjadi tuan majikan, jangan kasar terhadap abdimu”
“ Ya pak”
“Terus apa kamu tidak menginap dirumah dan besok pagi membeli pisang goreng sepuasmu atau makan nasi dengan sambal telur seperti biasanya?”
“Tidak pak, aku banyak pekerjaan, aku harus kembali ke kota sore ini”
Aku pergi meninggalkan bapak, dalam perjalanan aku termenung dengan perkataan bapak.
“ Pak maafkan anakmu ini atas ambisiku yang ingin hidup berkecukupan dan tidak mau lagi menjadi abdi seperti dirimu aku harus menempuh hidup ini demi hidup yang lebih baik, walaupun aku harus melacurkan diri dengan mengabdi sebagai pemuas nafsu seorang nyonya tua” bisiku dalam hati.