Friday, April 20, 2007

19 April - Sebuah hari yang tercipta untukku

Pagi ini cuaca sangat cerah, tak seperti hari-hari kemarin yang selalu diselimuti mendung.
Kubuka jendela menghirup udara segar dan medengarkan kicau burung. Duduk dipinggir jendela sembari menikmati secangkir kopi panas sangat pas untuk membangkitkan semangat menyambut pagi. Pepohonan hijau dan biasan cahaya dari air kolam renang menyejukkan mata. Kutatap mentari serta merta berbisik dalam hati

“jadilah matahariku hari ini dan terangi jiwaku”


Hari ini usiaku bertambah, waktukupun kian berkurang di dunia ini.Hal itu semakin menyadarakanku untuk berusaha mengurangi berbuat dosa.

Kulirik lelakiku yang masih terbenam dalam balutan selimut, urung niatku membuka kelambu, karena tak ingin angin usik tidurnya. Belahan jiwaku yang selalu hadir dengan kesederhanaan, kesabaran dan ketulusan membuatku tetap bergadeng tangan bersama arungi kehidupan.


Tak ada pesta yang meriah dalam hari ulang tahunku kali ini. Lilin tak kunyalakan di atas kue tiramisu kegemaranku, tapi aku nyalakan diatas altar suci. Aku bersimpuh menunduk dalam waktu yang cukup lama berucap syukur aku masih bisa nikmati hidup hingga hari ini.

Matahariku telah terbenam tinggalkan senja merah yang merekah hangat. Kembali kududuk di dekat jendela resapi anugrah terindahNya, rangkaian tulip putih nampak menonjol dan indah di pojok ruangan, menyiratkan kesederhanaan dan ketulusan.

Teruntuk mereka yang mengasihiku; keluarga dan sahabat tercinta, terima kasih telah warnai hidupku menjadi lebih indah.

Tuesday, April 10, 2007

Mawar Putih Mantan Kekasih

Semangatku menyambut pagi setinggi gedung bertingkat di hadapanku, bagaimana tidak, hari ini kontrak kesepakatan kerjasama di tanda tangani, permohanan dana kami dikabulkan membuat penantian dalam proses waktu tiga bulan akhirnya membuahkan hasil. Tirai jendela kamar kubuka membiarkan biasan cahaya menerangi ruangan. Telah satu minggu apartemen ini aku tempati, menurut feng shui kamar ini memiliki energi yang bagus, kamar dengan posisi menghadap timur berarti menyambut matahari sebagai sumber energi sedangkan nomor 8 dipercaya sebagai angka keberuntungan, manisfestasi dari delapan penjuru mata angin. Kesempurnaan feng shui itu sedikit terganggu dengan pemandangan gedung di depan kamr tidurku. Logo salah satu penyedia layanan jaringan telfon seluler terlalu mendominasi pemandangan, harusnya aku mendapatkan royaliti dari perusahaan tersebut karena merek perusahaan itu begitu melekat dalam ingatan.

Lagu yang menyentak kuputar untuk menambah semangat, kugerakkan sedikit tubuh sekedar melemaskan badan. Sejujurnya aku adalah salah seorang penderita sindrom I hate Monday, aku sering tersugesti merasa malas mengawali hari setelah liburan akhir pekan sehingga hari senin akan kulewati dengan perasaan Monday blues. Tapi tidak boleh berlaku untuk hari senin ini. Kutelusuri satu per satu agendaku, diawali dengan sarapan pagi di sebuah excecutive lounge bersama seorang calon donatur dari perusahaan minyak ternama, membicangkan sebuah proyek seni rupa, kemungkinan dana akan turun mengingat sang pemilik sangat menyukai dunia seni. Telah kubuktikan sebelumnya saat aku mendapatkan akses untuk bertandang ke rumah pribadinya yang mirip galeri lukisan. Rapat kulanjutkan dengan makan siang di sebuah rumah seorang duta besar negara tetangga, misiku kali ini adalah mendapatkan dukungannya dalam membawa seorang penulis ternama untuk membuat sebuah lokakarya kepenulisan. Satu kunci lain untuk mendapatkan simpatinya adalah jangan lupa memuji kucing anggora kesayangannya. Dan agenda terkahir adalah makan malam dengan perkumpulan wanita socialite guna membuat proyek sosial yang ditujukan untuk anak-anak putus sekolah. Dari daftar tamu yang dikirimakan kulihat beberapa nama selebritis ibukota, dapat kubayangkan malam itu akan dipenuhi wanita cantik dengan tata rambut bersasak tinggi, gemerlap berlian, wangi farfum ternama dan senyum sumringah di bibir. Pastinya hariku akan bergairah ditambah beberapa jadwal tambahan menyela diantara coffee break. Kubuka lemari pakaian mencari setelan yang pas, kutemukan sebuah terusan hitam selutut, akan tampak formal jika dipadu dengan jas, untuk malam hari cukup mengganti jas dengan selendang sutra bermanik dan sepatu hak terbuka berornamen tali yang akan memperlihatkan betisku yang jenjang. Sapuan hiasan minimalis dengan fokus pada garis mata membuat mataku terlihat tajam dan segar. Sedangkan untuk rambutku yang lepek kuusapkan foam pengeras agar terlihat sedikit terkembang berkesan basah. Sebagai sentuhan akhir tak lupa kusemprotkan parfum keluaran salah satu merek kosmetik ternama. Semua itu menjadi bekal penampilanku hari ini.

Sembari memasukkan semua berkas kantor dan siap beraktivitas kubuka pintu kamar, langkahku terhenti dan tertegun dengan apa yang kulihat, seikat mawar putih berpita merah, kutersenyum dalam hati seperti perpaduan warna sang Saka tingal di kibarkan saja. Sejenak kuberfikir kalau hari ini bukan ulang tahunku, atau hari valentine dan pastinya juga bukan hari jadianku dengan Rio. Kekasihku itu tak mungkin berlaku romatis seperti ini, nyaris setahun ini kami bersama, namun belum setangkai bungapun diberikan untukku. Lelaki yang kurang romantis namun tetap memikat hatiku. Cepat kuraih kartu yang diselipkan diantara duri mawar tersebut “ Cinta kan membawamu kembali” aku terhenyak dengan kata-kata singkat itu membuatku lemas dan sepertinya hariku tak akan sukses jika dilanjutkan. Gontai dan penuh tanya kuawali langkahku menuju parkiran, kukendarai mobil perlahan sambil sesekali melirik ponselku untuk sekedar mengecek apakah ada pesan lanjutan dari si pengirim bunga tersebut, ternyata tak ada. Fikiranku meluncur ke sekian tahun lalu sebelum mengawali perjalanan cintaku dengan Rio. Lagu mantan kekasih dari Sheila on 7 mengalun dari radio yang kunyalakan menarik ingatanaku pada sederetan mantan kekasihku. Cukup banyak lelaki yang singgah di hatiku semenjak aku mulai mengenal apa artinya cinta. Pertulangan yang setidaknya cukup bagus untuk referensiku sebelum memutuskan lelaki yang tepat menjadi pendamping hidupku.

Sore hari seluruh pertemuan sudah kuselesaikan, tinggal bertemu dengan para wanita socialite. Aku meluncur sebelum macet tiba sambil menjemput seorang teman yang tinggal di sebuah apartemen kawasan Casablanca. Aku sedikit ngeri dengan pemandangan dari kamar temanku itu, sederetan kuburan dengan tanda salib berjejer rapi, belum lagi harus melewati sebuah terowongan yang konon sering dikenal dengan cerita horornya namun dia sangat menyukai kawasan apartemen ini padahal ada penawaran bagus dengan lokasi yang lebih strategis di kawasan Mega Kuningan. Makan malam dengan para wanita kaya telah usai, cukup melelahkan mendengarkan cerita mereka. Kegiatan sosial ini otomatis akan mendongkrak popularitas mereka. Tak masalah bagiku apapun tujuan mereka yang penting masyarakat kurang mampu bisa mendapatkan bantuan.

Jakarta terasa indah jika dimalam hari, kupandang kerlip lampu malam seolah –olah mengerling menarikku dan menyesatkan dalam kegairahan malam kota ini. Rio menelfon mengajak keluar menikmati angin malam Jakarta.

Babe, jalan yuk, nongkrong di Kemang”

“Uhhm, sori aku capek sekali, besok ada presentasi kerja”

“Ah, urusan kerjaan besok aja difikirnya, ayolah sayang, work hard, party hard juga dong”

“Maaf sayang, sepertinya tidak malam ini deh”

“Okay kalau begitu aku keluar dengan teman-temanku saja ya?”

“Yepp, party safe ya sayang”

Kembali kupandangi buket bunga mawar putih itu dan mengira-ngira pengirimnya. Aku teringat pada Hendra, lelaki yang kuputuskan sebelum aku menjalin hubungan dengan Rio, mungkinkah dia yang megirimakan mawar itu. Tapi sepertinya tak mungkin, karena menurut informasi dari temanku dia telah memiliki kekasih baru dan segera menikah,dan juga dia bukan tipe lelaki yang bisa memaafkan. Sederetan lelaki singgah dalam hatiku hanya dalam hitungan minggu, tak ada yang bertahan lama. Aku teridur dalam rasa penasaran.

Pagi ini aku terbangun melewati rutinitas seperti biasa dan bersiap untuk bekerja. Kubuka pintu kamar dengan perlahan, seikat bunga mawar putih kembali ada di depan pintu, cepat kuraih kartu yang terselip. “Sandra, cintaku hanya tercipta untukmu” Nyaris satu minggu setiap hari ada bunga mawar yang sama di depan kamar dari seluruh kartu ucapan yang diselipkan menunjukkan betapa dia masih mengharapkanku. Aku menaruh mawar itu dalam jamban besar, malam ini aku berjanji memasakkan calamari salad favorit Rio. Dia datang mendahului 30 menit sambil membawa sebotol anggur putih dan film terbaru. Hubunganku dengn Rio telah memecahkan rekor usia waktu pacaran kami. Rio adalah seorang kekasih yang bisa menjadi sahabat. Awal hubungan kami memang karena pertemanan, kemudian menjadi teman spesial dan akhirnya kami sepakat berpacaran. Sejujurnya waktu itu kami sama-sama sudah memiliki pasangan tapi daya tarik Rio membuatku tergoda sampai akhirnya aku memutuskan Hendra dan menjalin hubungan dengan Rio. Walaupun hubungan kami telah melewati masa satu tahun, sekalipun Rio tak pernah membicarakan komitmen akan pernikahan. Tidak seperti Dimas yang baru kenal beberapa hari telah menyatakan cinta dan ingin meminangku, tanpa fikir panjang langsung saja aku menghilangkan jejak darinya, walaupun kuakui dia lelaki yang sudah mapan, ganteng dan baik hati tapi itu bukan menjadi sebuah alasan bagiku untuk membuat sebuah komitmen. Setelah kuputuskan tak pernah lagi aku mendengar kabar dari Dimas, konon cerita dari teman, dia merasa sakit hati atas sikapku dan meninggalkan Indonesia untuk bekerja di negeri kangguru. Sambil memasak aku melirik Rio, tangannya tak pernah terlepas sedetikpun dari telfon genggamnya, jemarinya sibuk mengirimkan pesan sesekali tersenyum sendiri.

“Sms dengan siapa sayang, hati-hati nanti jempolmu kurus”

“Dengan teman-teman, mereka mengajaku jalan, bolehkah aku pergi dengan mereka? nonton filmnya kapan-kapan saja ya ”

“Uhmm, baiklah, taruh saja filmnya diatas meja kamar”

“Ok, wow.., mawar putih, tumben kamarmu dihiasi bunga?”

“Iya, karena kamu spesial”

Kutekan suaraku agar dia tidak menaruh curiga pada mawar tersebut. Aku mulai cemas dengan hubungan yang kujalin dengan Rio yang tidak pernah menyingung komitmen lebih jauh. Bulan depan adalah ulang tahunku, umurku telah memasuki kepala tiga, aku berharap dia melamarku, sering kubayangkan betapa lengkapnya hidupku mempunyai pendamping Rio dan kami memilki anak yang lucu-lucu.

Sore ini sebuah rapat di batalkan, aku menuju pusat perbelanjaan mencari gaun yang akan kukenakan makan malam bersama Rio saat ulang tahunku nanti. Sedikit tak percaya dengan apa yang kulihat, lelaki yang saat ini kucinta dan kuharapkan melamarku bergandengan tangan dengan seorang wanita lain. Hatiku bergemuruh tak sangka dihianati, seperti sebuah adegan sinetron kudekati dia dan terjadilah pertengkaran diantara kami, sepertinya Rio tak berusaha menjelaskan hubungannya dengan wanita itu.

Rio, aku minta penjelasan darimu atas semua ini”

“ Maafkan aku atas semua ini, Sandra maaf, aku tak berani jujur padamu, aku belum siap berkomitmen lebih jauh denganmu, aku masih ingin berpetualang, kutahu kamu menanti komitmenku untuk hubungan kita, tapi maafkan aku tak bisa”

Jawaban Rio membuat darahku membeku dan tak tak pernah kusangka lelaki yang kucinta menghianatiku. Mungkin benar apa kata orang, sebuah hubungan yang diawali dari perselingkuhan tak dapat menjamin sebuah kesetiaan. Rio memang tak pernah berhenti berpetualang, entah berapa wanita lagi yang akan dia arungi hatinya. Kutermenung dengan kejadian sore tadi, sakit terasa pada hatiku. Saat aku ingin serius berkomitmen, tak kutemukan lelaki yang siap kuajak berkomitmen. Mungkin memang hukuman bagiku telah menyiakan sekian banyak lelaki yang tulus padaku. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Tiga hari lagi ulang tahunku hari terasa sepi, tak ada mawar putih, ataupun permintaan kembali dari Rio. Aku harus bersiap melewati ulang tahunku sendiri. Jam 12 pas, kuucapkan selamat ulang tahun pada diriku, lama aku tak berdoa, kini aku teringat pada Tuhan, mohon ampun pada kesalahan yang pernah kuperbuat, dan berharap Tuhan memberikan kesempatan untuk menemukan lelaki yang tepat. Hari ini sengaja aku aku mengambil cuti libur, walaupun tak ada pacar aku akan tetap merayakan ulang tahunku, pantai adalah salah satu tempat yang akan kukunjungi hari ini. Sembari mempersiapkan segala kebutuhan kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku, kuintip dari lubang kaca kecil tak begitu kukenali tubuh itu, yang pasti adalah seorang lelaki. Kubuka pintu kamar, tak menyangka akan apa yang kulihat.

“Dimas??!!!”

“Ya, ini aku, selamat ulang tahun Sandra”

Kuterima buket mawar merah yang besar darinya dengan segala kecanggungan, aku mempersilahkan dia masuk.

“ Lama tak berjumpa denganmu, kamu makin tampak dewasa dan matang”

“Thanks, kok kamu tahu aku tinggal disini?”

“Ya, tahu aja, oh ya apa kamu memiliki acara di hari spesialmu ini?”

“Uhmm, tidak juga sih”

“Kalau begitu aku ingin mengajakmu keluar berjalan-jalan “

Tak mengerti atas sikapku, aku mengikuti ajakan Dimas dan membatalkan rencanaku menikmati liburan di pantai.

“Kapan kamu kembali ke Indonesia?”

“Sejak dua bulan lalu aku pindah kerja disini”

“Bagaiaman kamu tahu aku tinggal disini?” Pertanyaan ini kuulang, karena aku masih penasaran bagaiaman dia tahu tempat tinggalku yang baru.

“Maaf, tanpa maksud mengintaimu, aku tahu seluruh kegiatanmu hingga orang yang dekat denganmu”

“Wow.. kamu telah mengintai dan memasuki area pribadiku”

“Bukan maksud hati seperti itu, hanya memastikan kamu baik-baik saja”

“Tapi kamu tidak bermaksud menjadi malaikat penyelematku kan?”

“Andai kamu tidak keberatan aku ingin menjadi malaikat hatimu”

“Dimas, kamu sedang tidak menanti penolakan dariku untuk kedua kalinya bukan?”

“Aku akan terus mencoba hingga kau lelah menolaku atau seseorang telah meminangmu. Selama kamu masih belum dimiliki oleh seseorang, tak salahnya aku mencoba bukan? Bagaimana dengan mawar putih yang kukirimkan, apa kau menyukainya? “

Kuterdiam sepanjang perjalanan, tak menyangka akan semua hal yang terjadi, mawar putih, diputuskan oleh Rio, ulang tahun bersama Dimas. Apakah ini jawaban dari doaku semalam?.

Friday, March 23, 2007

.... dalam kerentaan

Apa yang anda fikirkan tentang umur diatas 70 tahun?

Kerentaan, kulit keriput, aktivitas yang minim, badan membungkuk dan sakit-sakitan. Mungkin hanya sedikit orang yang menikmati hari tuanya dengan kesehatan yang cukup fit.

Apa juga yang anda fikirkan jika usia kita sampai di umur sekian, apakah kita masih didampingi oleh orang terkasih, atau mungkin saja tidak. Saya terpaku di depan cermin, mengamati wajah, rambut dan kulit, 40 tahun lagi saya akan menyerupai mereka dan itupun kalau saya masih bisa bertahan hingga usia itu.

Makan malam hari ini memang spesial, dari menu yang dihidangkan hingga tamu yang hadir diatas usia 60 tahun. Semua masakan dibuat lembek dan melalui proses blender layaknya bubur saring, menu pembuka menghadirkan sup labu yang hanya berisi garam dan merica, menu utama hanya kentang rebus ditumbuk lembek dan daging ayam yang sudah lunak dan ditutup dengan pudding coklat yang manis. Saya adalah orang termuda yang duduk diantara mereka, rasanya seperti suster sebuah panti usia lanjut. Mungkin ini merupakan makan malam tercepat saya, semua makanan lewat dengan gampang ditenggorokan seperti minum jus tak perlu mengunyah tinggal menyeruputnya, sehingga meringakan beban usus saya.

Seusai makan malam ditemani Red wine sebagian dari mereka mengisi Sudoku, main Mahjong dan membaca buku. Sebagai lansia dari negara barat, menghabiskan sisa hari tua di pulau Bali merupakan hal yang indah, sebagian dari merekapun berharap dapat meninggal di pulau dewata ini. Saya masih duduk di antara mereka dan memikirkan apa yang para lansia Bali lakukan dalam mengisi aktivitasnya.. Beda tempat beda juga budayanya, Lansia di Bali dalam kesehariannya, pagi hari membeli bubur untuk sarapan, siang hari ditugaskan mengemong cucu, sore hari latihan persantian, mejangeran ataupun senam, petang hari para dadong mejejahitan dan para pekak meminum tuak. Tapi tak semua lansia di bali menikmati hari tuanya dengan bahagia, sebagian dari mereka masih harus tetap bekerja mencari isi perut dalam kerentaan, tak hanya menanggung sakit namun masih harus membanting tulang mempertahankan hidup.

Salahkan mereka yang bernasib kurang baik berharap sebuah kehidupan baru yang nantinya diharapkan mampu menolong mereka mengakhiri penderitaannya. Atau berdoa memohon agar Tuhan cepat-cepat mengambil jiwanya?

Sambil memandangi para lansia dari negara barat itu bermain Sudoku, saya bertanya kepada seorang tuan menir dari belanda.

“ Tuan menir, sebenarnya untuk apa bermain Sudoku?”

“Ya untuk melatih otak agar tetap aktif dan mempertahankan kecerdasan otak”

Saya berfikir, kenapa harus memaksakan diri mempertahankan kecerdasan otak jika memang sudah waktunya beristirahat. Tidakkah mereka siap menerima kondisi kerentaan mereka ? inikah ketakutan mereka saat-saat kerentaan menghampiri

Saturday, March 17, 2007

Selamat Hari Raya Nyepi


Adakalanya saat kata tak perlu diucapkan dan tanpa makna
dan mata tak perlu nanar dengan segala goda kasat mata
atau telinga tak perlu bingar dengan sorak sorai suara
Saatnya aktivitas dihentikan untuk sejenak

Nikmati keheningan dalam diam dan sepi.
Merenungkan yang terjadi kemarin dan berharap akan esok yang lebih baik.
Selamat merayakan hari raya Nyepi.
Semoga keheningan hadirkan damai dalam jiwa.

Tuesday, February 27, 2007

Waktuku Telah Tiba - Cerpen

Balipost, 25 Februari 2007

Hari minggu pagi ini secangkir teh hangat menjadi spesial ketika saya membuka halaman demi halaman Balipost, tak hanya karena saya memang sering tersenyum membaca tulisan seorang teman wartawan dalam Bali Orti yang mengisi kolom Bungklang Bangkling, tapi senyum saya semakin merekah saat cerpen pertama yang saya kirimkan ke redaksi Balipost dimuat.
Cerpen Waktuku Telah Tiba, menjadi sebuah momentum komitmen dan kesiapan bagi saya untuk bertanggung jawab pada dunia tulisan. Cerpen tersebut awalnya berjudul "Bocoran Ilahi " yang telah saya postingkan di blog ini, kemudian pada tanggal 14 Februari saat semua orang sibuk merayakan cinta dan kehidupan, saya bergulat dengan bocoran ilahi dengan pemotongan dan penambahan kalimat disana sini dan akhirnya menelorkan judul baru waktuku telah tiba.
Untuk sahabat-sahabat pengunjung blogger Galangbulan cerpen waktuku telah tiba saya postingkan kembali.

Waktuku Telah Tiba

Oleh : Kadek Sri Purnami

Ruang konsultasi lelaki itu tak pernah sepi di kunjungi oleh mereka yang ingin menanyakan tentang ramalan nasib, peruntungan, jodoh, dan rejeki. Telah empat jam aku menunggu dia selesai meladeni para kliennya. Aku datang bukan untuk diramal namun karena aku telah lama tidak bertemu dengannya. Kupandangi foto lelaki itu diruang tunggu. Hampir tiga tahun aku tidak bertemu dengannya, badannya sedikit kurus, uban putih mengkilat menyela diantara warna hitam. Dia nampak semakin dewasa, tampan dan mapan. Lelaki yang pernah mengisi hatiku selama enam tahun dan akhirnya kulukai hatinya. Tak pernah sedikitpun aku menyangka dia akan menjalani profesi sebagai seorang peramal, waktu telah merubah hidupnya. Aku teringat saat mendampinginya wisuda untuk meraih gelar sarjana hukum.
Seorang asistennya mempersilahkan aku masuk setelah seorang kliennya keluar dari ruangannya. Hatiku sedikit bergetar ketika aku memasuki ruangannya. Udara dari pendingin ruangan menyergap dan langkahku sedikit ragu untuk menemuinya.
“ Hai” sapaku canggung dan membuatnya menengadah dengan tatapan tak percaya dalam rasa keterkejutannya.
“ Maya itu kamu? apa kabar? kenapa tumben, ada yang bisa aku bantu? “
“Kabarku Baik, aku kebetulan lewat dan ingin mengunjungimu”.
“Kamu datang sendiri, suamimu dimana?”
“Banyu sedang keluar kota”
Ada nada yang mebuatku tidak enak hati saat mendengar dia menanyakan Banyu. Tak mungkin aku berani mempertemukan mereka. Banyu tidak pernah tahu tentang masa laluku dengan Angga. Ini adalah pertemuanku yang pertama dengan Angga setelah menyandang status istri dari Banyu, seorang pengusaha kaya dari keluarga terpandang. Suasana terkesan kaku diantara kami. Tak berani aku menatap mata Angga, aku takut terseret kembali kepada perasaan yang tak pernah kulupakan.
“ Maya, sepertinya suasana ruang kerjaku kurang nyaman untuk kita mengobrol, kalau kamu tidak keberatan aku ingin mengajakmu makan malam. Aku sadar berlaku kurang sopan terhadapmu, mengajak istri orang untuk keluar makan malam saat suaminya sedang tugas keluar kota”
“Tidak apa-apa”

Aku menunggu dia merapikan berkas-berkasnya. Aku memilih untuk tidak satu mobil dengannya agar aku dapat menenangkan gundahku, kuikuti mobilnya yang merayap di malam kota ini. Aku masih tidak percaya dengan tindakanku yang tidak terkontrol untuk menemuinya tanpa alasan yang tepat. Hasrat sesaat yang ingin mengetahui kabarnya begitu menggebu. Angga berbelok menuju salah satu restoran yang tidak begitu terkenal yang jauh dari keramaian. Kuyakin dia juga ingin menjaga statusku sebagai nyonya Banyu. Kami duduk saling berhadapan, dia menatapku dengan hangat, sama dengan sekian tahun yang lalu. Kuredam rasa yang kembali bergetar, sepintas kulirik cincin yang melingkar di jemari Angga. Mungkinkah dia telah menikah tanpa aku ketahui.
“ Maya, bagaimana dengan kehidupan cinta dan keluargamu ? Angga mebuyarkan lamunanku.
“ Kehidupanku biasa saja, keluarga baik dan sehat”
“ Maaf, apakah kamu sudah mempunyai anak dari buah perkawinan kalian?”
“ Belum”
“ Kenapa, apa kamu masih mau berkarir terus seperti cita-citamu dulu?”
“Haruskah aku menjawab?” tanyaku pelan
“Maaf, kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman”
“Terus ada angin apa kamu tumben menemuiku setelah sekian lama?”
“Masa kamu sebagai peramal tidak tahu tentang kedatanganku”
“Jangan ungkit-ungkit masalah profesiku disini, walaupun aku sebagai peramal aku tidak mendapatkan pawisik kalau aku akan bertemu denganmu”
Tawanya renyah berusaha mencairkan suasana yang terasa sedikit canggung.
“ Angga, maaf apakah kamu sudah berkeluarga?”
“ Kamu melihat cincin ini? Ya, aku telah menikahi seorang wanita setelah 2 tahun pernikahanmu berlangsung yang tanpa undangan darimu.”
“ Kalau boleh tahu siapa wanita yang telah menggantikan posisiku dulu”
“ Dia wanita yang hebat dan manis. Dia menggantikan posisimu, karena kamu telah meninggalkannya”
Aku mencoba tetap tenang dengan sindirannya yang pedas. Wajar saja Angga terluka atas sikapku yang meninggalkannya begitu saja seolah-olah janji dan kata cinta yang pernah terucap tiada arti dan mempunyai kekuatan.
“Apakah kalian telah mempunyai anak?”
“Aku sama sepertimu, belum memiliki anak. Aku telah bercerai. Karmaku hanya sampai disitu denganya, entahlah kehadirannya tetap terasa hampa karena aku tak pernah bisa mencintainya dengan jujur ”
“ Maafkan aku Angga, sejujurnya perasaan bersalah meninggalakanmu masih membuatku tidak enak. Tapi apa yang dapat kulakukan, jika orang tuaku telah mempersiapkan semuanya dan demi nama keluarga aku harus mengikuti kata orang tuaku dengan menikah bersama Banyu. Tak hanya kamu yang sakit, akupun sakit menjalaninya. Tapi aku yakin kamu jauh lebih kuat dariku. Dan saat ini kuberanikan diri untuk menemuimu dengan segala resiko karena aku tak bisa lagi memendam rasa ini.Untuk menemuimu memang harus dengan perjuangan menunggu selama 4 jam”
“Apakah 4 jam terasa berat dan lama bagimu?”
“Ya, pastinya aku harus sabar mengantri diantara sekian banyak klienmu”
“ Tapi pernahkah kamu membayangkan kalau ada orang yang masih tetap setia menunggumu sekian tahun lamanya mungkin hingga esok dan lusa?”
Aku menyadari arah pembicaraan Angga. Dia masih terluka sampai hari ini atas penghianatan cintaku padanya. Dan kini aku kembali menemuinya membuka luka lama
“Angga, maukah kamu meramalku?”
“ Bukankah kamu tidak begitu percaya akan hal-hal seperti ini. Seingatku kamu berfikir sangat logis, tak percaya ramalan.”
“Ya, kini aku ingin percaya, Ayo Angga ramalah aku dan ceritakan padaku hal yang baik-baik saja”
“Baiklah, dari dulu aku memang tidak pernah bisa menolakmu. Semoga aku melihat hal yan baik-baik saja”
Angga meraih tanganku, dan memperhatikan garis-garis tanganku. Sentuhannya begitu hangat mengingatkanku saat dulu kami sering berpegangan tangan. Kucoba menyembunyikan rasaku padanya. Betapa aku masih mencintai dan merindukannya.
“Apa yang kamu lihat Angga?, tanyaku dengan hati-hati
“ Semuanya baik-baik saja, karirmu makin bagus”
“Baguslah”
Angga masih menggenggam tanganku dan kini dia menatap mataku dalam.
“Maya, ceritakanlah padaku dengan jujur masalah yang sedang kamu simpan, kamu tak bisa menyembunyikannya dariku”

Kutarik nafas dalam dan menunduk, hanya Angga yang kupercaya sejak dulu, dan seberapapun aku menyakitinya dia tidak akan pernah membenciku. Karena kutahu betapa besar cintanya padaku.
“ Angga, Aku tidak bisa memiliki anak, aku merasa telah gagal menjadi seorang wanita dan aku ingin bercerai dengan Banyu”
Angga mendekapku dengan hangat dan dalam sambil berbisik
“Maya, perceraian bukanlah solusi dari masalah kalian, aku melihat ada masalah yang lebih berat yang menyangkut tentang dirimu, ceritalah jika kau ingin”
Aku melepas pelukan Angga, dan berusaha untuk tersenyum dan tegar.
“Aku tidak mempunyai masalah lainnya. Hanya itu saja, sepertinya aku harus pulang dulu sudah agak malam”
“Baiklah jika kamu memang tak ingin berkata jujur padaku. Hubungi saja kapan kamu siap jujur padaku. Dan ingat waktu itu akan tiba”

Pertemuanku dengan Angga, membuka kembali kenangan masa lalu dan cinta diantara kami. Aku berusaha menghindarinya setelah pertemuan itu, karena aku takut Banyu mengetahui pertemuan kami. Hari ini aku libur dari kantor karena kondisiku tidak sehat. Kubuka laptop sekedar mengecek email yang masuk. Satu pesan kudapati dengan judul “ Waktu itu telah tiba”

“ Teruntuk Maya,
Ada satu hal yang belum aku sampaikan padamu tentang sebuah rahasia Tuhan yang disampaikan padaku. Jujur, tak kuasa aku menyampaikan padamu karena aku tak ingin pertemuan itu menjadi yang terakhir. Seperti biasa kamu akan selalu datang dan menghilanng dariku sesuka hati. Aku ingin bertemu kembali denganmu, tapi aku yakin tak mungkin. Kamu tak pernah bisa membohongi dan menyimpan rahasia dariku, kamu lupa kalau aku adalah peramal yang bisa membaca jalan kehidupanmu. Masalahmu tak hanya karena kamu tidak dapat memberikan keturunan dan akan bercerai dengan Banyu. Tapi, kamu sedang sakit, dan niat cerai itu adalah permintaanmu karena ketakutanmu pada penyakit yang kamu derita. Aku tahu kamu ingin meninggal tanpa disaksikan siapaun karena kamu tak ingin menyisakan pedih terhadap suami dan keluargamu. Maya, kamu bisa merahasiakan tentang kanker rahim yang kamu derita kepada keluargamu, tapi kamu tidak bisa merahasiakannya padaku. Dan kutahu waktumu tinggal sesaat. Maya ijinkanlah aku menjadi orang yang menemanimu saat-saat detik terakhir waktu menjemputmu.”

Email dari Angga membuatku termenung, tapi aku telah memutuskan untuk sendiri. Aku tak ingin menyakiti hati Banyu dan keluarganya juga tak ingin membebankan Angga. Hampir sebulan email dari Angga tidak aku balas. Dan kini aku tinggal di sebuah apartemen seorang diri. Aku telah mengajukan surat cerai kepada Banyu, agar dia dapat mencari wanita lain yang bisa memberikannya anak. Beberapa hari ini perutku terasa sakit sekali, kuyakin waktuku telah tiba. Angga selalu terbayang dalam benakku. Aku memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat untukknya.
“Angga, jika kamu ingin menemani sisa waktuku, temuilah aku sekarang”
Tak selang berapa lama angga telah datang dengan membawa seikat mawar merah dan mengenakan jas hitam.
“Angga, apakah waktuku telah tiba?”
Angga hanya terdiam dan menggenggam tanganku.
“ Maya, kenakanlah gaun ini, aku ingin menikah denganmu walaupun untuk sesaat”
Angga menyisir rambutku, mengenakan gaun hitam terindah bersulamkan manik-manik, memoleskan lipstik pada bibirku yang pucat.
“ Maya maukah kau menjadi istriku?”
Aku hanya mengangguk pelan dalam tangis, Angga memasukkan cincin bertahtakan berlian serta merta menciumku dengan lembut.
“Angga, kamu jangan menangis, kamu harus kuat”
“Maya, aku telah menangis sejak kamu menemuiku beberapa bulan yang lalu. Disaat orang-orang masih menikmati kecantikanmu dan kerianganmu, tapi aku telah menangis menghitung waktu. Sejak malam itu aku telah melihatmu seperti mayat yang berjalan dan semakin membaut hatiku terluka. Maya, waktumu memang sudah tiba. Karmamu di dunia ini hanya sampai disini saja.

Tak ada yang lebih menyakitkan dalam hidupku saat meramal kematian seorang kekasih yang teramat kucintai. Sebelum kamu menghembuskan nafas terakhirmu, aku ingin kau tahu satu hal bahwa cintamu tak akan pernah tergantikan. Cintamu selalu mengisi seluruh ruang dalam hatiku hingga kapanpun. Bawalah cintaku pergi bersamamu, jangan bawa penyesalan dan kesedihan. Maya, cintamu akan selalu kusemayamkan dalam hatiku.
Pergilah dalam damai dan cinta.

14 Februari 2007

Tuesday, February 13, 2007

Pengorbanan Si Pohon Untuk Istri Tuanku Raja

Aku dan teman-temanku sudah berumur 15 tahun, aku ditanam oleh orang-orang sewaktu sedang gencar-gencarnya lomba desa. Kini aku tumbuh kokoh dan rindang. Aku selalu memberikan kesejukan kepada orang-orang yang melintas di bawahku. Aku juga rajin menyerap polusi yang dikeluarkan asap kendaraan walaupun kadang paruku rusak sehingga membuat kulitku keriput, daunku mengering, kuning dan layu. Sesekali Pak Wena menyiramku menghilangkan dahaga dan menghanyutkan debu yang menempel atau mencukur dahanku yang menjulang melewati kabel telefon ataupun menjulur ke ruas jalan.

Hari ini aku menyaksikan orang-orang berpakaian hitam keluar masuk halaman Puri, kudengar istri dari tuanku raja meninggal. Aku merasa sedih. Temanku si Bambu telah dipotong dan dikumpulkan hampir menjadi 2 truk, dia berkorban untuk menjadi fondasi Bade yang akan dipakai menggusung Istri tuanku raja ke pemakaman. Orang-orang tidak beraktivitas normal semua disibukkan dan berkorban untuk istri tuanku raja mempersiapkan semua perlengkapan upacara pemakaman. Belum lagi tumbuh-tumbuhan lain yang tegolong si sayur mayur dan si rempah, hampir 1 truk di jadikan lawar. Tak hanya kami dari bangsa tumbuhan, tapi dari bangsa hewanpun juga berkorban, si babi, si bebek dan si ayam entah sudah berapa puluh ekor yang mati untuk melengkapi semua upacara. Sedangkan aku pohon perindang jalan belum berkorban apapun hingga detik-detik terakhir.

Aku kagum dengan apa yang di korbankan oleh si bambu dia berhasil membentuk Bade dengan tinggi nyaris 15 meter dan lebar hampir 7 meter. Belum lagi Naga banda yang terkesan sangat angker, bisik-bisik dari orang, Naga banda ini akan dipakai untuk mengantarkan roh istri tuanku raja ke sorga, tak sembarang yang boleh membuat naga banda, hanya mereka yang dari keturunan raja saja. Kalau begitu apakah sorga diperuntukkan bagi mereka yang berkasta tinggi dan kaya saja? Hari Pengabenan sudah semain dekat. Semua orang melakuan kegiatan dengan tulus sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga puri disamping adat yang memang dianut oleh masyarakat setempat.

Aku mendengar pertengkaran antara anak dari tuanku raja, mereka berselisih pendapat. Dari kabar yang kudapat dari si angin mereka memperdebatkanku.

“ Kita harus menebang pohon disepanjang jalan ini agar tidak menghalangi, karena ukuran bade kita besar sekali, nanti tidak bisa lewat”
“Kenapa harus mengorbankan pohon dan menebangnya? Bayangkan saja pohon seperti ini tumbuhnya lama sekali kalau ditebang sekarang, 15 tahun lagi baru punya yang seukuran ini. Tidakkah ada jalan lain, mungkin dahannya saja yang dipangkas?
“Tidak pokoknya harus ditebang”
“Aku tidak setuju !!”, Kenapa saat kamu merancang Bade tidak megukur kapasitas jalan raya dulu dan disesuaikan agar tidak usah memotong pohon?”
“Aku pokoknya mau membuat bade yang megah, besar dan wah dan tidak kalah oleh puri lainnya”
“Buat apa bade yang besar, toh jasad ibu ratu hanya seukuran kita tak bisakah badenya diperkecil? Apakah jika ukuran bade dibuat lebih kecil akan mengurangi makna?”
“Ah kamu itu tau apa, pokokya aku mau upacara kali ini menjadi yang tebesar karena kita adalah keturunan raja”
“Bisakah semua upacara ini kita buat secara sederhana, kuyakin ibu ratu bisa menerima”
“ Sekarang aku yang berbalik bertanya padamu, Tidakkah kamu malu jika semua dibuat sederhana, martabat keluarga kita akan jatuh? Kamu masih ingat pengabenan ibu suri di puri sebelah yang di hadiri oleh ribuan orang dan memadati sampai desa sebelah dan juga disiarkan di berbagai media? Aku tidak mau kalah dari mereka !!!”
“Terserah kamu saja, yang pasti aku akan lebih suka jika semua upacara berjalan sederhana tanpa mengurangi makna”

Aku tersentak dengan kata terserah, berarti bade itu akan melewati jalan ini dengan ukuran yang besar dan artinya kami harus mati. Kupejamkan mata sambil menangis bersama teman-temanku mendengar denging suara mesin pemotong pohon yang menderu. Itu berarti waktuku telah tiba, satu persatu kusaksikan teman-temanku roboh langit biru tampak jelas. Tak satupun diantara teman-temanku yang selamat berdiri kokoh. Mereka semua tumbang seiring pengorbanannya terhadap istri tuanku raja.

Itulah cerita pengorbanan keluarga kami, pohon yang yang di potong saat upacara pengabenan istri tuanku raja. Aku selamat tidak dipotong karena aku berada diluar jalan tersebut, kini setelah pemerintah kota mendapakan kritikan dari berbagai masyarakat, Pak wena kembali membawa teman-teman untukku dan mereka ditanam kembali disepanjang jalan raya, teman-temanku masih kecil dia berukuran dengan tinggi 50 cm dan masih harus di pagari bambu agar tidak diusik oleh ayam dan anjing yang jahil. Mungkin 15 tahun lagi mereka akan tumbuh seperti aku.
Tapi apa yang terjadi jika anak dari tuanku raja meninggal? Apakah teman kecilku akan berkorban kembali sama seperti teman-temanku yang dulu? Semoga saja saat itu tiba semua upacara bisa dilakukan dengan sederhana tanpa mengurangi makna dari upacara itu sendiri.

Wednesday, February 7, 2007

Sayap itu ...

Terbanglah tinggi dan gunakan aku...

Kepakkanlah aku sekuat tenagamu dan kau kan kubawa..

Nikmati indahnya dunia saat kau melayang ..


Hey.. kau bangunlah !!!

Kenapa hanya meringkuk .. ?

Tak inginkah kau terbang bersamaku..?


Arrgghhh ..!!!

Adakah yang lebih tidak mengenakkan saat ingin tapi tak bisa?


Sayap itu…

Tak mampu membawaku melayang lagi

Dunia tak indah saat ini


Sayap itu ...
.... sedang terluka ....

Friday, February 2, 2007

Benarkah ada suami yang tidak takut Istri ?

Obrolan ringan para suami disebuah warung pojok terdengar menarik. Ditemani minuman arak oplosan dicampur cola-cola membuat pembicaraan mereka semakin hangat dengan terbakarnya tenggorokan. Seorang lelaki dari kelompok tersebut dengan bangga mengatakan dihadapan temannya bahwa dia baru saja berhasil mengajak kencan seorang wanita penjaga kafe remang dan tentu saja hal tersebut membuat jengah yang lainnya. Kelompok lelaki itu sering menghabiskan waktunya dengan menegak minuman sambil tertawa lepas dan mereka akan merasa seperti bujang kembali.
“ Hah..ha.. saat seperti ini harus dinikmati tak perlu ingat istri dan anak”

Tak selang berapa lama seorang lelaki yang juga tetangga mereka datang untuk membeli obat nyamuk bakar yang dipesan istrinya. Otomatis mereka langsung mengajak lelaki itu nimbrung bersama untuk menengak minuman dan meluncur ke kafe remang. Tapi dengan halus lelaki tersebut menolak serta merta membayar obat nyamuk dan pergi. Kontan saja kelompok lelaki tersebut mengejek temannya dan mereka mengecap dia sebagai suami takut istri.
“ Nah, kayak dia itu tuh Suami Takut Istri mau saja disuruh-suruh ama istrinya, jangan –jangan disuruh nyuci juga mau” tawa mereka saling bersahutan.

Kelompok Suami tidak takut istri ini kesehariannya dihiasi dengan nongkrong di jalan hingga dini hari dan pulang dalam keadaan mabuk dan mengamuk. Keesokan pagi bangun siang, langsung minta dibuatkan kopi oleh istrinya, kemudian sarapan sekaligus makan siang. Setelah itu ritual dilanjutkan dengan mandi, keluar rumah bermain billiard atau judi dan pulang hingga subuh. Kelompok itu merasa diri mereka jagoan dan jantan. Sedangkan lelaki suami takut istri yang diejek tersebut, kesehariannya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah membantu istrinya, saat pagi menjelang lelaki itu akan mulai sibuk berbagi tugas. Sang istri mendapat tugas pergi ke pasar, memasak, mencucui dan membuat sesajen, sedangkan sang suami menyapu halaman, membersihkan kebun, mengantar anak sekolah serta mengurus ladang. Malam harinya dia tidak pernah nongkrong diwarung seperti kelompok suami tak takut istri tersebut, dia memilih menonton TV dengan istri dan anaknya atau sesekali jalan-jalan ke pasar sengol. Lelaki yang dijuluki STI ini selalu menjadi bulan-bulanan para lelaki lain di kampung itu.

Apakah memang benar suami takut istri itu begitu rendah dimata lelaki lain? Atau sebaliknya Suami Tidak Takut Istri itu bagai pejantan tanguh yang memiliki keberanian dan nyali yang besar untuk bertindak sesukanya?

Salah seorang dari kelompok suami tidak takut istri ini suatu hari bermain judi hingga subuh, tak disangka dia didatangi oleh istrinya. Tanpa banyak bicara sang istri meninggalkan anaknya bersama lelaki itu dan sang istri langsung pergi. Teman-temannya yang dikelompok tersebut menertawakannya, dan lelaki yang mengaku tak takut istri tersebut langsung pucat. Sembari menggendong anaknya dia langsung mengejar istrinya. Teman-teman mereka cukup kaget melihat reaksi lelaki itu yang bertindak bukan membentak dan memaki istrinya melainkan mengejar sang istri. Hal serupa juga dialami lelaki lainnya, sang istri datang mengamuk melabrak suaminya yang dikenal sering menggoda penjaga billiard, tengah malam sang istri datang mengamuk membawa parang mengancam sang suami dan kemudian sang suamipun ikut pulang dan memelas kepada istrinya untuk diampuni. Atau kejadian lain menimpa saat salah seorang lelaki lain dari kelompok itu juga. Dia begitu dikenal di masyarakat sering mencari selingkuhan, ketika diketahui oleh istrinya sang istri malah menantang dia untuk mengawini selingkuhannya dengan catatan dia harus menceraikan sang istri, tapi lelaki itu tetap kembali kepelukan istrinya.

Apakah memang betul suami itu benar-benar tidak takut istri? atau hanya semata-mata keegoisan dan kesombongan seorang lelaki?

Atau apakah memang perlu seorang suami takut dengan istri?

Sepertinya sebuah hubungan yang timbal balik dengan dilandasi rasa percaya, menghargai satu sama lain, saling memahami dan mengerti akan terasa lebih indah. Tak perlu suami takut dengan istri ataupun sebaliknya tak perlu istri terlalu takut dengan suami. Karena ketika sebuah hubungan sudah dilandasi hanya karena alasan rasa takut maka sebuah hubungan itupun sudah diciptakan untuk tidak saling menghargai.
Ehe..he… zena kok dilawan !

Wednesday, January 31, 2007

Goresan tangan seorang abdi


“ Kita ini orang susah jalani saja hidup ini apa adanya, tidak usah mikir yang macam-macam, kita tak pernah tau esok akan bagaiamana “
“ Ya memang betul, gak usah ambisi kepengen hidup kaya bukankah begitu?”

Itulah sebuah penggalan obrolan bapak-bapak diwarung kopi, saat aku membeli dua buah pisang goreng pesanan bapak.

“ Eh Jana, bapakmu mana, kok tidak pernah ngopi diwarung sini “ tanya salah seorang bapak.
“ Bapak dirumah sedang menanak nasi”
“ Bilangin sama bapakmu tidak usah kerja terlalu ngoyo, toh juga tidak bakalan pernah kaya”

Aku hanya tersenyum meringis, sembari pulang membawa pisang goreng pesanan bapak. Aku tidak memperdulikan omongan orang itu dia hanya sibuk mengurusi orang lain. Kulahap pisang goreng yang enak ini yang selalu membuatku ingin menambah. Jatah pisang goreng untukku memang hanya satu, dan satunya lagi untuk bapak, menjadi impianku yang sangat sederhana untuk bisa makan lebih dari satu, disamping mimpi-mimpiku yang lain. Aku menuang air panas ke gelas yang ujungnya sudah camping, tak perlu lama untuk mengaduk kopi itu karena aku tak pernah mengisi gula untuknya, bukan karena alasan takut terkena diabetes namun kami tidak punya uang lebih untuk hanya sekedar membeli gula. Sedangkan untukku cukup air hangat saja untuk mengindari perut kembung dipagi hari yang buta.

Kami hanya hidup berdua di gubuk itu ditemani seekor babi, sapi serta beberapa ayam ternak yang sering kuintip telurnya untuk kujadikan lauk setiap harinya. Satu telur cukup untuk lauk kami sehari dengan tiga kali makan, bapak mencampur telur itu dengan sayur dan banyak cabai. Walaupun yang kami makan hanya nasi dan telur saja namun kami sampai berkeringat memakannya karena kepedasan. Aku adalah anak tunggal bapak, aku tak punya ibu, kata bapak, ibu meningal karena sakit, menurutku wajar saja, mengingat kondisi kehidupan kami, jangankan untuk mengobati ibu, untuk beli gula saja kami tak mampu. Walaupun begitu di umurku yang menginjak 20 tahun aku tumbuh sebagai lelaki sehat dan kekar, badanku hitam legam dan rambutku kecoklatan karena tiap hari terkena terik matahari. Aku sekolah hanya sampai SD saja, tidak seperti teman-teman lainnya karena keterbatasan ekonomi kami. Kata temanku aku adalah salah seorang yang menggagalkan program pemerintah wajib belajar 9 tahun.
Bapak adalah seorang abdi dia hampir menghabiskan 50 tahun hidupnya mengabdi pada sebuah keluarga terkaya di desa ini. Pekerjaan bapak tiap hari mengepel lantai marmer yang berlantai tiga, juga harus mengepel mobil mereka yang lebih dari lima, setelah itu dia juga di tugaskan memotong rumput halaman yang luas, memberi makan ternak dan banyak lagi pekerjaannya yang harus diambilnya. Jam 6 pagi dia sudah harus setor muka di keluarga itu dan pulang kembali setelah petang. Ibu Harun adalah nyonya besar dirumah itu, dialah yang memegang peranan. Wanita yang sangat galak dan cerewet. Tiap pagi bagun subuh untuk membuat sasak yang tinggi dikepalanya seperti ibu-ibu pejabat. Dulu ketika aku lulus SD anaknya bu Harun berencana menyekolahkanku sampai SMP, namun si Nyonya tua itulah yang tidak mengijinkan menyekolahkanku. Aku masih teringat omongannya waktu itu
“ Heh, untuk apa kamu berbaik hati sama anak seorang pembantu itu, tidak usah kau sekolahkan dia, aku mau memperkerjakannya, terlalu enak baginya sekolah, aku akan suruh dia mengurus ladang kita.”
Sudah tidak ada harapan lagi untukku sekolah, namun aku harus menerima keadaan itu. Ketika teman-teman pergi kesekolah menggendong tas dan besepatu kain sedangkan aku hanya memanggul cangkul dan bersepatu boot. Tapi teman-temanku sangatlah baik, mereka sering sekali datang kerumahku dan mengajariku apa yang mereka dapatkan di sekolah. Kutahu bapak sedih tidak dapat menyekolahkanku, namun aku dapat memakluminya.
Bapak sangat pendiam kami jarang berkomunikasi dan jarang keluar rumah selain bekerja, raut mukanya selalu datar tiada pernah kulihat dia tersenyum ataupun menangis, terkadang kubertanya, apakah dia masih mempunyai rasa. Aku pernah melihat Nyonya Harun menyiram muka bapak dengan kopi, permasalahnya hanya lantaran kopi yang dibuat olehnya kurang manis, mungkin bapak lupa kalau nyonya Harun memiliki berkarung-karung gula tidak seperti dirinya. Bapak hanya diam saja diperlakukan kasar dikeluarga itu. Sepulang kejadian itu aku memberanikan diri bertanya kepadanya
“ Bapak, kenapa tadi diam saja diperlakukan seperti itu, aku sedih melihatnya, seperti kita tidak punya harga diri”
“Ya, kita memang tidak punya harga nak, apalagi dimata mereka kita hanya seorang abdi, namun apa boleh buat, kita masih membutuhkan mereka untuk menyambung hidup, kalau aku melawannya berarti gajiku akan dipotong dan hanya akan membuat kita susah saja. Bapak sudah 50 tahun menjadi abdi, tiada pilihan lain Jana”
“Pak, aku bosan menjadi abdi terus, aku ingin merubah hidupku, aku tidak mau menjadi abdi di keluarga itu lagi, aku ingin jadi orang kaya pak”
Sahutku dengan ketus pada bapak. Hatiku jengah dengan kehidupan ini, aku ingin merubah kehidupanku.
Hari ini matahari begitu terik, aku menyandarkan badan di gubuk setelah mencangkul ladang keluarga bu Harun, kubuka bungkusan nasi yang tadi pagi kubawa bersama bapak, menu tiap hari masih tetap sama ada nasi, garam dan telur dengan banyak cabai, tetap nikmat kurasakan makanan itu. Sebentar lagi musim panen kuberharap mendapatkan bonus lebih dari keluarga bu Harun. Setelah makan siang aku menyenderkan kepala di bawah pohon kelapa, dan aku terkejut ketika dibangunkan oleh seseorang, aku bangun gelagapan, takut yang datang adalah bu Harun dan ternyata tidak yang datang adalah cucunya. Bocah lelaki berumur 9 tahun yang berbadan subur memiliki hobi makan dan tidur. Dia senang sekali bermain denganku, namun selalu sembunyi-sembunyi. Hari ini dia datang membawakanku makanan. Dia sangat bangga menjadi anak tunggal karena dia akan menjadi pewaris tunggal kekayaan ayahnya, berhektar-hektar kebun kopi dan ratusan ternak sedangkan aku sebaliknya anak tunggal dengan warisan gubuk kecil.
“ Hey, ngapain kamu keladang bawa buku sebanyak itu?, pasti kamu mengaku mau belajar ya pada orang rumah, dan kamu kabur main ke ladang” Godaku pada anak itu.
“Heh, kamu mau membuatkanku PR tidak? Nanti kukasi upah “
Dia selalu mengancamku untuk membuatkannya PR, anak ini memang sedikit bodoh, tapi dengan kebodohannya itu aku diberikan keuntungan, ada pemasukan lebih setiap harinya dari upah mebuatkannya PR.
Panen telah selesai, seluruh tabungan kukumpulkan, hal yang pertama kulakukan adalah membeli pisang goreng sepuasnya pagi itu, dan membuat teh panas manis, sedangkan untuk bapak kubuatkan kopi dengan gula. Masih duduk di depan tungku api sembari memasak nasi aku memperhatikan bapak, dia tersenyum padaku. Ini membutaku ingin membuka percakapana dengannya
“ Pak, aku ingin megubah nasibku, aku tidak mau selamanya menjadi abdi di kelaurga bu Harun, aku ingin mencari pekerjaan lainnya saja, aku ingin kaya pak”
Bapak menghentikan tangannya memotong ketela dan memandangku
“ Pekerjaan apa yang ingin kau cari ?”
“ Aku mau ke kota saja pak, palingan juga banyak pekerjaan disana, badanku kuat aku bisa menjadi buruh dagang”
“Ya, sama saja, menjadi buruh pasar juga tidak akan bikin kamu kaya juga kamu tetap menjadi abdi cuman beda tempat saja, asal kamu tau nak, kita itu memang di takdirkan dengan menjadi seorang abdi, jangan kira ketika kamu sudah menjadi seorang tuan majikan kamu bakalan tidak menjadi abdi lagi, kamu pasti tetap menjadi abdi dari tuanmu yang lain, semua itu seperti piramid dan kita tak mungkin menjadi yang paling atas, paling ataspun akan tetap menajdi abdi sang penguasa.”
“ Hah bapak ini, ya walaupun tetap menjadi abdi setidaknya menjadi abdi yang lebih baik dari ini lah pak yang bikin hidup ini gak susah kayak gini, beli pisang goreng aja ga mampu. pokoknya aku mau ke kota saja, pasti ada saja pekerjaan disana”
“ Ya, kalau memang sudah tekadmu mau merubah nasib hidupmu silahkan saja, nanti kamu bilang sama ibu Harun kalau kamu berhenti mengurus ladangnya”
Pagi ini kubertemu ibu Harun dan pamit padanya, dia mencibirku dan dia yakin suatu saat dia pasti akan kembali meminta pekerjaan padanya. Sakit hati juga aku dengan nenek tua tak berperasaan itu. Aku kemudian pamit kepada bapak untuk meninggalkan desa dan mengadu nasibku di kota. Bapak terlihat sedih kutinggalkan, dia memberikanku sebungkus nasi dan kuyakin lauknya adalah telur.
“ Kuharap kamu bisa menggapai mimpimu Jana, dan kelak kau tidak menjadi abdi seperti bapak” Kutatap dia sembari berpamitan.

Aku langsung menuju kota, pasar adalah tempat yang tepat untuk mencari pekerjaan dengan menghandalakan tubuh yang kuat. Kulihat disekiling mungkin ada yang dapat kukerjakan, aku mendekati seorang pemilik toko sekedar menanyakan apakah dia membutuhkan tenaga tambahan angkut barang. Dari sekian pemilik toko yang kutemui tak satupun membutuhkan tenagaku. Hari telah sore, aku tak mungkin kembali kedesa, uang tabunganku hanya cukup untuk makan seminggu, aku harus secepatnya mendapatkan pekerjaan. Kulangkahkan kaki menuju pantai, kota ini memiliki pantai yang cukup indah, dulu dipakai sebagai pelabuhan dagang, namun sekarang menjadi objek wisata. Banyak hotel-hotel dan restoran dibangun disekelilingnya, pernah juga aku bermimpi menjadi pegawai hotel tapi mustahil sekali bagiku yang hanya tamat sekolah SD.
Aku melihat sekumpulan pemuda pedagang cinderamata menawarkan dagangannya kepada turis asing yang sedang berjalan-jalan dipantai. Mereka membawa patung, kalung dan kerang. Seorang turis membeli beberapa buah kalung, kulirik dia membayar cukup mahal untuk barang seperti itu, kuberfikir pasti dia mendapatkan untung yang banyak. Kalau aku berjualan seperti itu aku pasti banyak uang dan kuajak bapak berhenti menjadi abdi mungkin aku tidak akan menjadi abdi lagi. Aku berjalan menyusuri pantai, dan melintas di depan hotel, banyak sekali turis-turis berjemur disana. Aku melirik sekilas para turis yang hanya mengenakan kutang dan celana dalam. Naluri lelakiku terpancing, otot organ vitalku mengeras, birahiku tertantang, kutersadar kalau aku belum pernah menyentuh wanita sekalipun di umurku yang beranjak dewasa, kuberjanji dalam hati aku akan kuberikan perjakaku kepada seorang gadis yang mampu memikat hatiku. Aku memang tidak pernah dekat dengan wanita, mungkin karena fikiranku hanya terfokus untuk mencari uang untuk mencukupi hidup. Kulangkahkan kaki dengan cepat menuju kampung nelayan, senang sekali rasanya sesekali melihat pantai. Para nelayan mengayuh perahu semakin jauh kedalam, kupandang mereka melempar jaring, cukup banyak tangkapan yang di dapat. Satu perahu mendekat menuju pesisir, beberapa pemuda berlari menarik perahu. Aku berfikir untuk mencari kerja disini saja, tubuhku cukup kuat untuk melakukan perkerjaan itu. Kudekati seorang nelayan berharap dia membutuhkan bantuan untuk menarik jaring. Seperti gayung bersambut dia memperbolehkanku bekerja disana, untuk masa percobaan aku akan diupah dengan beberapa ikan tangkapan. Tidak masalah bagiku selama dia meberikanku tempat menginap. Keesokan harinya aku sudah mulai bekerja dan diajak melaut, menjadi pengalaman baru bagiku melaut, kucoba bersahabat dengan angin, ombak, pasir, dan air yang terbentang luas. Mualnya mabuk laut membuatku terhuyung seharian.
Sebulan telah kutaklukan lautan dan hatiku senang ketika majikanku memberikankau upah berupa uang dan beberapa ikan untuk kumasak. Hidupku sedikit mengalami perubahan, kali ini tak makan telur dan cabai lagi tapi aku bisa makan ikan. Sore hari setelah melaut aku duduk dipinggir pantai, kunyalakan sebatang rokok, aku sudah bisa membeli rokok dan juga sering minum arak, kata pemuda kampung disini akan terlihat gagah dan dilirik perempuan jika kita merokok dan minum arak. Sejenak hayalku kembali kedesa, kuteringat bapak rasa rindu menyeruak, ingin ku pulang menjenguknya namun tabunganku belum cukup.
Kali ini hasil tangkapan kami tidaklah banyak, aku dan majikanku cukup kecewa, angin bertiup kencang beberapa hari ini dan ombakpun besar membuat kami susah melaut. Terik matahari menyengat, aku berteduh di gubuk majikanku, sosok seorang perempuan melintas, dia tersenyum padaku membuat hatiku berdesir, kubalas senyumannya, dia sibuk menjemur ikan, kutatap setiap geriknya, ingin hati memiliki perempuan itu. Ini adalah pertama kali aku merasakan hal ini, mungkin aku telah jatuh cinta padanya. Dia sering mencuri pandang padaku, membuat aku semakin ingin mendekatinya. Kuberanikan diri mendekati dan menyapanya sambil membantunya membalikkan ikan-ikan asin itu. Saat kudengar suaranya semakin membuat jantungku berdebar. Dia menggunakan kain selutut memperlihatkan kulitnya yang halus, sungguh aneh dikampung nelayan dengan terik matahari dan udara yang asin ada seorang perempuan yang berkulit putih.
Sari nama perempuan itu yang membuatku tidak bisa tidur malam ini, fikranku terus tertuju padanya. Pintu gubukku diketuk oleh majikan dia mengajakku melaut tengah malam, berharap dapat menutupi tangkapan tadi pagi, hasilnyapun cukup lumayan kami tidak perlu melaut kembali. Aku duduk diluar gubuk menghilangkan penat berharap bertemu dengannya. Harapanku terkabul, kulihat Sari melintas, namun rasa kecewa menyergapku, dia digandeng seorang lelaki, kuberanikan untuk menatapnya, dia hanya menunduk dan mengintip dari sudut matanya, mata kami sempat saling bertatap, membuat hatiku bergemuruh. kuyakin dia tertarik padaku. Kulemparkan senyum saat dia melintas di depanku dan mengalihkan pandanganku ke laut mengusir rasa kecewa, angin masih terasa kencang, langit kelam bertaburan bintang. Kunyalakan api unggun untuk mengusir dingin, beberapa ikan kubakar sebagai santap malam. Kumenuang secangkir arak dan menyalakan sebatang rokok untuk mengusir dingin, cukup sepi malam ini, para pemuda kampung ini tiada yang keluar, kudengar orang-orang sedang pergi ke alun-alun untuk menonton wayang. Aku malas pergi dan memilih untuk duduk. Disela-sela asap rokok kembali kumenangkap sosok Sari, rambut panjangnya tergerai, jantungku semakin berdegup kencang. Kulempar pandangan kesekeliling Sari kembali melintas di depanku tanpa lelaki itu, namun tetap kupastikan tiada lelaki itu di sekitarnya. Kuberanikan menyapa dan bercakap, kuajak dia mampir di depan gubuk sambil menikmati api unggun. Tak kusangka kini aku duduk berdua dengannya, dia anak yang pemalu dan pendiam, tidak pernah mendahului membuka pembicaraan dan menyahutpun dengan singkat.
Malam itu merupakan malam yang sangat indah bagiku, walaupun kami hanya mengobrol dan berjalan-jalan saja, sepertinya dia memberikan respon yang positif terhadapku. Kuberharap malam ini aku bisa bertemu denganya lagi. Aku memang sedang beruntung perempuan pujaanku kembali lagi seorang diri. Kali ini aku lebih berani menyapanya dengan akrab dan mengajaknya berjalan menyusuri pantai menjauhi kampung nelayan. Saat seperti ini naluri lelakiku muncul, kuberanikan diri untuk menggandeng tanganya, Sari begitu menggairahkan, tiada canggung sekalipun dia terhadapku walaupun nampak pemalu. Aku sedikit gugup menghadapinya mengingat ini adalah pertama kali sedekat ini dengan perempuan. Kutenangkan diri, dan berisitahat untuk duduk menghadap lautan. Sungguh diluar sangka, Sari menyenderkan kepalanya di bahuku. Tuhan !! pekikku kuatkanlah imanku perempuan ini sungguh memikat hatiku. Mungkin dia bisa mendengar degup jantungku, kuberanikan diri merangkulnya Tak bisa kubendung hasrat ini yang menggelora, seperti deburan ombak. Mata kami saling bertatap memancarkan rasa cinta dan hasrat. Aku cukup gugup untuk memulainya mengingat ini adalah pertama kali kulakukan. Kupejamkan mata dan mendekatinya, kurasakan hangat nafasnya memasuki rongga mulutku dan otot organ vitalku kembali mengeras sejadi-jadinya membuat gundukan kecil dan membuat sempit celana yang kugunakan, kudengar nafasnya naik turun, dan aku hanyut dalam pengembaraan, bergumul diatas pasir tanpa sehelai benang di saksikan bintang dan gelap malam. Surga dunia kukecap, kutatap matanya dalam tak ada tanda penyesalan, dia hanya tersenyum menatapku.
Pagi ini tak ingin rasanya terjaga, baju yang kukenakan masih tercium harum perempuan itu. Hayalku selalu dipenuhi oleh Sari. Majikanku sudah bersiap-siap melaut, aku beranjak mencuci muka, di laut aku lebih banyak terbengong dan tak bergairah kerja. Malam ini kunantikan lagi berharap Sari menemuiku lagi, aku duduk di pinggir pantai hingga larut dia tak kunjung tiba hingga angin laut menusuk tulangku, akupun beranjak pulang, sekian malam kulewati untuk menunggunya kembali namun tetap saja sari tak kunjung menyapaku. Gundah hati menyelimuti, hasrat ingin bertemu semakin menggebu, apalagi hasrat untuk mengulang malam itu tak dapat kubendung. Aku masih duduk di pingir pantai, kudengar langkah seorang datang ku cepat menoleh dan menghampiri ternyata bukan dia. Seorang pemuda kampung, datang membawa arak, dan mengajakku minum bersama, dalam hamparan dingin kunyalakan rokok, kuisap dalam dan terbawa angin. Aku memberanikan diri bertanya padanya tentang Sari dan sungguh membuatku terkejut bahwa Sari akan menikah dengan seorang anak orang kaya dikampung nelayan ini. Aku tercengang, badanku lemas, harapan dan cintaku telah hilang.
Sejak malam itu aku berusaha untuk melupakannya, dan mengisi hari-hariku dengan melaut. Tangkapanku juga tidak seberapa, cukup membuat penghasilan kami merosot, aku turun dari perahu dan menariknya ke pesisir pantai. Seorang wanita bule paruh baya berambut pirang menunggu perahu kami untuk membeli ikan, dia mengambil semua hasil tangkapan kami. Dan aku dimintanya untuk mengantarkan ikan itu kerumahnya. Aku cukup terbengong ketika mendapati rumahanya yang begitu mewah dengan kolam renang pribadi. Dia memberikanku uang yang dua kali lipat dari harga jual ikan tersebut.
“ Nyonya uang anda lebih”
“oh tidak sisa nya itu memang untuk kamu”
“ sebanyak ini nyonya?”
“Iya, besok kalau ada ikan lagi tolong kamu bawa kesini ya “
“baik nyonya”
Kelebihan uang yang diberikannya itu nyaris sama dengan gaji yang diberikan oleh majikanku. Hari ini tangkapanku banyak dan kuberfikir segera membawa ke nyonya bule yang kaya itu. Dia terlihat senang ketika kubawakan ikan dan memintaku untuk membantu membersihkan ikan tersebut. Setelah pekerjaanku selesai aku pamit pulang padanya.
“ Heh , tunggu sebentar ini uangnya”
“ kenapa lebih lagi nyonya?”
“ Iya itu untuk kamu lagi”
“ Terima kasih banyak nyonya”
“ oh ya nama kamu siapa?”
“Saya Jana Nyonya”
“Ok Jana lagi tiga hari tolong saya di bawakan ikan yang lebih banyak lagi, karena saya mau mengadakan pesta di rumah , juga apa kamu bisa bantu saya untuk memanggangkannya?
“ oh tentu nyonya”

Dengan senang hati aku mulai membantunya memanggang ikan. Ramai sekali tamu yang datang akupun ikut menikmati makanan yang terasa aneh di lidahku kecuali ikan panggang, juga aku diberikan minuman yang memabukkan tapi tidak sekeras arak. Keesokannya dia memintaku membantu membersihkan rumahnya yang penuh sampah seusai pesta. Hari ini semakin kurasakan rumahnya yang begitu luas dan hanya ada seorang pembantu di rumah itu seorang perempuan tua yang lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Nyonya bule itu hidup sendiri tak ada suami juga anak-anaknya. Selesai membersihkan rumahnya, nyonya bule itu kembali memberiku upah yang banyak.
“ heh Jana , apa kamu mau bekerja untukku membersihkan rumahku?”
Aku tak perlu berfikir panjang untuk mengiyakan. Bisa di bayangkan Gaji bekerja sehari saja sudah lebih dari cukup apalagi kalau sebulan dengan pekerjaan yang sangat gampang.
“ baik nyonya, saya mau bekerja disini”

Mulai hari ini aku tinggal di rumah nyonya bule, aku diberikan 1 kamar yang bagus berisi kamar mandi, jauh sekali dengan rumahku di kampung. Nyonya itu baik sekali tidak seperti nyonya Harun, kadang dia membelikanku pakaian dan banyak lagi hadiah yang tak kuduga. Sudah nyaris dua bulan aku bekerja dan inilah pekerjaan yang paling menguntungkan buatku, sesekali aku berkunjung ke kampung nelayan mentraktir para pemuda kampung sembari minum arak dan berharap bertemu dengan Sari perempuan pujaanku. Malam ini aku dibangunkan oleh suara mobil Nyonya bule, aku harus membukankan gerbang untuknya. Dia pulang sangat larut dan dalam keadaan mabuk berat ditemani seorang pemuda. Nyaris setiap minggu dia keluar malam dan pulang dalam keadaan mabuk dan ditemani oleh pemuda yang berbeda-beda. Pemuda itu membopongnya masuk kekamar dan akan keluar kamar keesokan siang. Bibi juru dapur pernah bercerita padaku kalau nyonya bule sudah becerai dengan suaminya dan anaknya tinggal diluar negeri. Kini nyonya bule tidak menikah lagi tapi memiliki pacar yang banyak yang hanya bertahan seminggu. Malam ini nyonya bule keluar lagi untuk berpesta dan pastinya pulang dalam keadaan mabuk serta ditemani lelaki baru lagi. Aku sedang mengingat Sari dan malam yang pernah kami lewati. Lamunanku di buyarkan oleh suara klakson mobil Nyonya bule. Aku membukakan gerbang, kuperhatikan dia turun dari mobil seorang diri tanpa ditemani seorang pemuda. Dia berjalan terhuyung dan aku membopongnya masuk kedalam kamar, kucoba membangunkan bibi juru dapur untuk membantu tapi dia tidak terjaga juga. Nyonya bule berbicara tidak karuan, kadang memakai bahasa yang tidak aku mengerti. Segera aku menutup pintu kamarnya dan kembali melanjutkan tidurku. Tak selang berapa lama aku harus terbangun kembali dengan teriakan nyonya bule, aku mendatangi kamarnya.
“ Heh Jana ambilkan aku minuman lagi “
” Baik Nyonya”
Kubawakan dia minuman akohol sambil membersihkan kamarnya yang penuh dengan muntah. Nyonya bule sudah diluar kontrol dia memanggil nama orang. Sembari aku membersihkan sisa muntahannya dia tertidur terlentang hanya mengenakan kutang dan celana dalam. Sebagai lelaki normal birahikupun tak bisa diajak kompromi. Dalam keadaan mabuk nyonya bule memintaku untuk menemaninya di kamar. Dengan perasaan takut dan canggung aku duduk di sofa tapi diluar dugaanku nyonya bule memintaku menemaninya di ranjang, rasa takut menyergapku, tapi nyonya bule sepertinya memang menginginkanku. Dan malam itu kulewati dengan majikanku namun hayalku terbang bersama Sari.

Pagi ini kuterbangun sangat gugup dan aku takut dipecat atas kejadian semalam cepat-cepat aku keluar kamar nyonya bule. Seharian aku tak berani berpapasan dengannya, rasa takut menghantuiku. Menjelang malam ini aku semakin gundah karena ketakutanku, suara nyonya bule terdengar memanggilku, dan akupun gemetar. Aku akan kehilangan pekerjaanku. Dengan muka pucat pasi aku menghadapnya.
“ Jana, tolong saya dibelikan minuman lagi”
Akupun pergi dengan perasaan sedikit lega namun kecemasan tetap menghantuiku akan kehilangan pekerjaan. Hingga larut dia masih menegak minuman itu. Tengah malam dia kembali memanggilku meminta ditemani minum – minuman berakohol tersebut tak ada sedikitpun dia menyinggung masalah semalam, hingga kamipun berada di bawah pengaruh akohol. Dan kami berdua kembali mabuk dan berakhir di ranjang, kali ini aku mulai bisa menikmati dan tidak begitu takut karena kuyakin kalau majikanku memang menginginkanku. Hal inipun berulang hingga berkali-kali dan aku mulai terbiasa.

Ini adalah awal bulan waktunya aku menerima gaji, sunguh diluar dugaan aku mendapatkan gaji yang sangat banyak. Aku semakin terkejut ditambah lagi ketika aku tak perlu lagi membersihkan rumahnya dan mendapatkan tugas baru hanya menemaninya berjalan-jalan, makan, minum hingga mabuk dan berakhir di ranjang. Kini uang bukan masalah lagi bagiku, aku dibelikan segalanya dan gaya hidupku nyaris seperti orang kaya. Hanya satu syarat yang diberikan oleh nyonya bule, aku tak boleh berhubungan dengan perempuan lain selain dia. Sari harus kulupakan juga. Aku mematuhi permintaanya demi uang dan dan aku rela menemaninya diranjang walaupun aku tidak pernah mencintainya.
Hidupku kini telah berubah, aku menjadi teingat dengan obrolan bapak-bapak di warung kopi kampungku
“ Kita tidak akan pernah tau akan bagaimana esok, ya dijalani saja”
Hari ini aku pulang kekampung menjenguk bapak, kucari dia kerumah Ibu Harun, dia sangat tekejut melihatku datang membawa mobil dan berpakain bagus. Bapak tidak mengenaliku. Ibu Harun hanya mencibir menatapku tak suka.
“ Jana itu kamu?”
“ Iya pak, ini Jana”
Akupun mengajak bapak pulang, banyak orang kampung menatapku seolah tidak percaya dengan diriku.
“Jana kamu nampak lain, sudah punya banyak uang, tak lagi menjadi abdi kasar yang selalu dimaki majikan, kamu menggapai mimpimu nak ?”
“ Ya pak, jana tidak perlu lagi menjadi abdi yang selalu dimaki majikan, Ini Jana ada uang untuk bapak, untuk membenahi rumah, kalau bapak mau tidak usah lagi bekerja pada Ibu harun, akan kubelikan bapak ladang dan sapi “
“Jana dimana kamu dapatkan uang sebanyak ini? Apa pekerjaanmu Jana?”
Pertanyaan bapak tak bisa kujawab dengan jujur, aku harus berbohong.
“ Aku bekerja sebagai mandor buruh pak”
“baiklah, asalkan kamu bekerja yang halal dan jujur saja. Kini kau sudah menjadi tuan majikan, jangan kasar terhadap abdimu”
“ Ya pak”
“Terus apa kamu tidak menginap dirumah dan besok pagi membeli pisang goreng sepuasmu atau makan nasi dengan sambal telur seperti biasanya?”
“Tidak pak, aku banyak pekerjaan, aku harus kembali ke kota sore ini”
Aku pergi meninggalkan bapak, dalam perjalanan aku termenung dengan perkataan bapak.
“ Pak maafkan anakmu ini atas ambisiku yang ingin hidup berkecukupan dan tidak mau lagi menjadi abdi seperti dirimu aku harus menempuh hidup ini demi hidup yang lebih baik, walaupun aku harus melacurkan diri dengan mengabdi sebagai pemuas nafsu seorang nyonya tua” bisiku dalam hati.

Wednesday, January 24, 2007

Move Your Body ...

Melihat iklan layanan masyarakat di Tv mengenai gaya hidup sehat tak hanya membuat saya setuju namun termotivasi dan terinspirasi untuk melakoninya “cukup olahraga, cukup makanan bergizi dan rekreasi”, jika di jalani akan menjadikan kita sehat jasmani dan rohani. Sangat disadari kesehatan merupakan aset yang sangat penting untuk mendukung aktivitas keseharian kita, seperti ungakapan Men sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Tapi kebanyakan dari kita biasanya tersadar betapa pentingnya menjadi sehat jika kita dalam keadaan sakit. Saya teringat saat tak sengaja menguping obrolan seorang dokter dengan pasiennya.
“.... Anda memilih mau sehat atau sakit?”
Waktu itu saya berfikir, pilihan yang sangat gampang yang diberikan oleh dokter tersebut, dan si pasienpun dengan gampang menjawab
“Ya, tentu saja saya pilih sehat, dok”
Saya yakin tak seorangpun mau memilih sakit tapi di balik pilihan yang gampang tersebut ternyata ada beberapa hal yang cukup susah dan membutuhkan komitmen tinggi yang di syaratkan oleh sang dokter.
“Baiklah, kalau anda mau sehat anda harus melakukan hal berikut ini, kurangi makan daging (disarankan vegetarian), cukup istirahat tidak boleh tidur larut apalagi subuh, berhenti minum-minuman yang mengandung akohol dan kafein. Tidak merokok serta rajin berolah raga. Tapi jika mau sakit jalani hidup sesuka hati anda. “
Tak terdengar jawaban dari si pasien ….. (pilihan dikembalikan kepada anda)

Sore yang cerah ini saya lewati dengan bersantai bersama seorang teman wanita yang cantik dan selalu rajin merawat tubuh. Dia mengeluhkan tentang bertambahnya lingkar pinggang, perut, pinggul yang semula saya kira mengalami kesalahan tempat penyuntikan silicon . ( ehhe..he.. sori ya jeng.. peace)
Sembari menyeruput kopi dan memandang bukit campuhan yang hijau menghampar, saya setia mendengarkan keluh kesahnya ( tepatnya melamun karena kadang terdengar kadang tidak( ehe sorri lagi jeng) teman saya merasa resah dengan komplain dari lelaki idamnnya akan tubuhnya yang sudah mulai tidak proposional lagi, saya jadi teringat iklan salah satu produk pelangsing tubuh dimana sang lelaki terobsesi dengan wanita bertubuh seksi. Tapi setelah sekian lama saya terbang, saya tersentak sendiri dan teringat bahwa tak hanya dia yang terkena masalah tersebut tapi sebentar lagi saya bisa dihampiri masalah serupa.

Sudah cukup lama rasa malas menyerang saya untuk menggerakkan tubuh, walaupun hanya sekedar ke warung yang jaraknya tidak lebih dari 50 meter saya lebih memilih mengendarai motor. Belakangan ini saya mengabaikan ritual hidup sehat, terjadi ketidak seimbangan antara rohani dan jasmani. Nyaris sebulan ini saya absent dari kegiatan yoga, berenang ataupun sekedar jogging santai. Waktu lebih sering saya habiskan untuk membolak balikkan majalah, membaca halaman demi halaman novel yang tebal, nonton film, bergelut dengan cat minyak, kanvas dan imajinasi atau duduk berjam-jam di depan computer mengerjakan tugas kantor, chatting bersama teman, menuliskan cerita pendek serta menuliskan hasil kotemplasi diri dan tidur di waktu subuh. Semua kegiatan itu tidak menggerakkan sedikitpun tubuh saya, dan membuat pantat terasa panas harus duduk berjam-jam. Hal tersebut diperparah dengan sekotak camilan, coklat, dan kopi. Alhasil badan saya mulai berontak dan tidak sehat.

Tiba- tiba saya nyeletuk mengeluarkan ide yang cukup mengangetkan teman saya. Bagaimana kalau kita mulai menggerakkan badan, kita awali dengan menyusuri bebukitan campuhan di sore hari dan tiap pagi pergi kekantor dengan berjalan kaki mengingat antara rumah dan kantor saya tidak lebih dari 1,5 kilo. Awalnya teman saya meragukan ide tersebut, karena potensi saya yang cukup besar untuk mengingkari ide saya sendiri. Tapi, saya meyakinkannya bahwa saya bersungguh-sungguh.

Dengan terpaksa teman saya mengambil sepatu kets dan menemani saya menembus ilalang menjadikannya sore yang penuh gerutu. Saya berlari diantara hijaunya alang-alang yang setinggi lutut, berteriak dan mendengar gema suara sendiri dan pada akhirnya terlentang menengadah menatap langit yang kian memerah. Gerutu teman saya tak berhenti diiringi kulitnya yang terasa gatal tertusuk ilalang, mengingat ini bukanlah ide baik untuknya atau cara dia mengembalikan bentuk tubuhya yang proposional. Biasanya dia akan mengunjungi Gym mengikuti kelas Body language atau aerobic dan salsa bukan bukit ilalang dan sawah ( maaf teman, melakukan sesutau yang beda asik juga kan ?)

Dan pagi ini saya menepati janji saya untuk berjalan kaki ke kantor. Saya memantapkan diri untuk memulai menggerakkan badan. Banyak hal biasa menjadi tidak biasa. Hampir sudah setahun saya melintasi jalanan tersebut dengan mengendarai sepeda motor namun, baru ini saya memperhatikan banyak hal lebih detail yang sering terlewati. Hanya dengan modal berangkat lebih awal saya memulainya. Tiap langkah saya nyaris terhenti karena harus menyapa dan mengobrol dengan tetangga atau tersenyum saat berpapasan dengan para ibu-ibu yang pulang dari pasar. Saya pun kadang dituntut untuk lincah dan gesit menjinjit, meloncat saat trotoar jalan jebol ( pak bupati yang sekarang mo dipilih kembali ga? ayo dong trotoarnya di alokasikan dana) atau menghindari “puff” anjing yang sembarangan di sepanjang jalan, banyak sekali anjing liar tanpa empu yang tak terurus ( bagaimana dengan wacana pemeliharaan anjing wajib pajak? dan mengurangi kecelakaan yang disebabkan menabrak anjing). Tak hanya itu ternyata saya juga harus sigap menyela diantara mobil dan motor yang diparkir sembarangan sepanjang jalan raya Ubud. Maklum banyak orang bisa beli mobil namun jarang punya lahan untuk bikin garasi lebih baik dikontrakkan nambah penghasilan ( nah kalo fenomena yang ini solusinya gemana? bikin tempat parkir umum aja yuu). Atau saya harus menutup idung saat melintas di depan beberapa restoran bukan karena bau masakan yang membuat perut saya berbunyi tapi karena sampah yang belum diangkat. Perjalananpun saya sengaja buat menarik dengan berjalan masuk melintasi pasar merasakan riuhnya keadaan pasar pagi. Menyaksikan para buruh tua yang masih berjuang untuk hidup di usianya yang dua kali lipat usia saya dimana seharusnya sudah beristirahat menikmati masa tua namun tetap semangat mencari nafkah hidup. Mereka harus menjungjung barang yang berkilo-kilo yang mungkin tak pernah bisa saya angkat. Saya juga menatap para pedagang yang bengong menunggu pembeli dan celingukan mencari uang guna membayar pajak. Mereka semua bangun subuh untuk mencari nafkah dan berjuang mempertahankan hidup mereka. Saya jadi berfikir, kenapa saya yang masih produktif dan energik kalah semangat hanya untuk sekedar menggerakkan badan. Saya pun dengan senyum, langkah pasti dan semangat melewati hari ini dan mulai menggerakkan badan menyeimbangkan rohani dan jasmani. Men sana in corpore sano gitu deyh..

Ayo teman-teman semua gerakkan tubuhmu..

Wednesday, January 17, 2007

Siwaratri

Siwaratri atau malam siwa merupakan sebuah momen saat Siwa memberikan anugrah pengampunan dosa kepada Lubdhaka. Hari ini momen itu dirayakan kembali, akankah kita menjadi Lubdhaka –Lubdhaka yang lain? Sebuah pertanyaan muncul apakah benar dosa itu dapat di hapuskan begitu saja dengan kemurahan hati Siwa? Benar atau tidak dosa dihapuskan biarkanlah tetap menjadi rahasia antara Lubdhaka dengan Siwa. Sebuah pilihan lain muncul ketika pertanyaan dapat atau tidak dosa dihapuskan belum mendapat jawaban pasti. Bagiamana dengan memulai malam Siwaratri ini dengan kesadaran? Kesadaran yang dapat diartikan untuk meningkatkan kesadaran rohani dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh gejolak, minimal menyadarkan diri untuk tidak menambah dosa lagi atau dengan segala kekuatan untuk menahan diri tidak melakukan sesuatu yang dianggap dosa. Sepertinya merupakan sebuah pilihan yang cukup bijak.

Menyadarkan diri sendiri memang tidak dapat dilakukan dalam tempo hanya semalam suntuk ketika momen siwaratri datang, seperti halnya ritual melek/ tidak tidur dalam waktu 36 jam saat merayakan siwaratri, kemungkinan juga itu peluang membuat dosa lagi. Banyak yang mengunjungi pantai malam itu bertujuan untuk bersembahyang, tapi setelah sembahyang banyak juga dari mereka mengambil formasi dua-dua yaitu satu lelaki dan satu perempuan apakah mereka cukup kuat iman untuk tidak menambah dosa lagi?

Bagiamanapun itu kita sebagai umat yang dibekali rohani dan iman, melalui momen ini berusaha mengingatkan dan menyadarkan diri secara terus menerus setiap saat untuk tidak menambah dosa lagi. Alangkah baiknya kalau setiap malam kita anggap Siwaratri sehingga memiliki kesempatan lebih untuk memohon ampunan dosa dan meningkatkan kesadaran diri untuk tidak menambah dosa. Masalah diampuni atau tidak urusan nanti saja, yang penting sadar aja dulu.

Umat sedharma, selamat melakukan pengampunan dosa, jagalah hati, fikiran dan perbuatan.

Tuesday, January 16, 2007

Bocoran ilahi - sebuah cerpen

Ruang konsultasi lelaki itu tak pernah sepi di kunjungi oleh orang yang ingin menanyakan ramalan nasib, peruntungan, jodoh, dan rejeki. Telah 4 jam aku menunggu dia selesai meladeni para tamunya. Aku bukan datang untuk diramal namun karena aku telah lama tidak bertemu dengannya. Kupandangi foto lelaki yang berpose bersama sederetan orang yang tak asing lagi di layar TV. Dia telah menjadi sahabat para artis yang sering diminta petunjuk masalah karir keartisannya. Hampir lima tahun aku tidak bertemu dengannya, badannya sedikit kurus, uban putih mengkilat menyela diantara warna hitam. Dia nampak semakin dewasa, tampan dan mapan. Lelaki yang pernah singgah di hatiku sekian puluh tahun dan akhirnya kulukai hatinya. Tak pernah sedikitpun aku menyangka dia akan menjalani profesi sebagai seorang peramal, waktu telah merubah hidupnya. Sangat lucu ketika aku teringat foto wisudanya saat mendapatkan gelar sarjana hukum.

Seorang wanita yang lebih mirip asistennya mempersilahkan aku masuk setelah seorang bintang film keluar dari ruangannya. Hatiku sedikit bergetar ketika aku memasuki ruangannya. Udara dari pendingin menyergap dan langkahku sedikit ragu untuk menemuinya.
“Silahkan” sapanya setelah mendengar pintunya terbuka, dan tetap menunduk menuliskan sesuatu dalam bukunya.
“ ngg.. hai” sapaku canggung dan membuatnya menengadah dengan tatapan tak percaya, bergegas dia mendekat dengan rasa keterkejutannya.
“ Apa kabar? .. dengan siapa “
“Kabar Baik, Sendiri” jawabku masih cangung
“hhhmmm maaf, suamimu?”
“Dia sedang tugas keluar kota”
“Ada yang bisa aku bantu Maya, kamu dengan tiba-tiba muncul kembali?”
“uhmm..sebenarnya aku hanya mampir dan ingin bertemu denganmu”
Jawabku sekenanya dan penuh dengan rasa canggung.
“ Sepertinya, suasana ruang kerjaku kurang nyaman untuk kita mengobrol, berhubung kamu klien terakhirku, bagaiaman kalau kita mencari tempat ngobrol yang lebih relaks saja, sekalian makan malam. Kamu tidak ada acara kan? “
“Boleh “ jawabku singkat untuk meredam rasa gelisahku.

Aku menunggu dia merapikan berkas-berkasnya. Aku memilih untuk tidak satu mobil dengannya agar aku dapat menenangkan gundahku, kuikuti mobilnya yang merayap di malam kota ini. Aku masih tidak percaya dengan tindakanku dan ide gilaku yang tidak terkontrol untuk menemuinya tanpa alasan yang tepat. Hasrat sesaat yang ingin mengetahui kabarnya begitu menggebu. Dia berbelok menuju salah satu restoran, sebuah pilihan yang bagus dan nyaman. Kami duduk saling berhadapan, dia menatapku dengan hangat, sama dengan sekian tahun yang lalu. Aku melirik sejenak ke jemarinya, ada cincin melingkar di jari manisnya. Mungkinkah dia telah menikah tanpa aku ketahui. Ya mungkin saja karena aku tidak pernah memberikan kontakku padanya atau aku mencari tahu tentangnya.

“Apa kabar Maya?” dengan nada yang masih belum percaya akan pertemuan ini dan menanyakan hal sama untuk kesekian kalinya.
“ Ya, seperti yang kamu lihat”
“ Bagaimana dengan kehidupan cintamu, keluarga dan anak-anakmu?
“ Kehidupanku baik-baik saja, keluarga juga menyenangkan, tapi aku belum mempunyai anak”
“ Oohhh, belum ada, kenapa? apa masih mau berkarir terus seperti cita-citamu dulu?”
“Haruskah aku menjawab?” tanyaku pelan
“Maaf, kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman”
“Terus ada angin apa kamu tumben menemuiku setelah sekian lama?”
“Masa kamu sebagai peramal tidak tahu tentang kedatanganku”
“Jangan ungkit-ungkit masalah profesiku disini, walaupun aku sebagai peramal aku tidak mendapatkan pawisik kalau aku akan bertemu denganmu”
Tawanya renyah berusaha mencairkan suasana yang terasa sedikit canggung.
“ Angga, maaf apakah kamu sudah berkeluarga?”
“ Ooohh, kamu melihat cincin ini ya? Sudah..aku telah menikahi seorang wanita setelah 2 tahun pernikahanmu berlangsung dan tanpa kabar darimu.” Senyumnya sedikit sinis.
“ Kalau boleh tahu siapa wanita itu ?”
“ Dia wanita yang hebat, manis dan lembut”
“ Kapan-kapan perkenalkanlah denganku, orang yang dapat menggantikan posisiku itu”
“Dia menggantikan, karena kamu telah meninggalkan posisimu”
“Dimanakah dia sekarang?”
“Apakah dia begitu penting bagimu?”
“Uhhmm setidaknya aku ingin tahu, terus apakah kamu sudah mempunyai anak?”
“Aku sama sepertimu, aku belum memiliki anak, dan juga aku telah bercerai.
“Maaf, kok secepat itu?”
“Karmaku hanya sampai disitu denganya, entahlah kehadirannya tetap terasa hampa karena aku tak pernah bisa mencintainya dengan jujur. Lupakan saja sudah berlalu. Terus aku ingin bertanya padamu , angin apa yang menerbangkanmu menemuiku?”
“ Akupun tidak tahu, entah apa yang mendorongku untuk menemuimu dan menungumu selama 4 jam”
“Apakah 4 jam terasa berat dan lama bagimu?”
“Ya, pastinya aku harus mengantri diantara sekian banyak klienmu” tawaku untuk menghilangkan kesan kaku.
“ Tapi pernahkah kamu membayangkan kalau ada orang yang masih tetap setia menunggu seseorang sekian tahun lamanya mungkin hingga esok dan lusa?”
Aku menyadari arah pembicaraan Angga, dia telah menyindirku yang begitu saja meninggalkannya.

Dreet..drett..drettt.. Hpnya bergetar dan dia beranjak menjauhiku, sayup-sayup kudengar dari mejaku pembicaraannya dengan nada bicara yang lembut dan kasih sayang. Mungkin dari pacarnya yang baru. Dengan namanya yang kini dikenal oleh publik pastinya dia akan selalu dikelilingi oleh perempuan berparas ayu.

Dia kembali ke meja kami dan meraih tanganku. Tatapan matanya masih tetap sama dengan tatapan sekian tahun yang lalu saat aku melukainya.
“ Maya, sebagai seorang peramal, sejujurnya aku tidak begitu gampang menebak arah fikiranmu, karena kamu begitu spesial di hatiku. Jadi ada yang bisa aku bantu ?
“ Sebenarnya tidak ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu, aku hanya ingin menemuimu saja. Mungkin karma kita yang mempertemukan kita kembali. Terus malahan aku yang ingin bertanya padamu, kok kamu bisa menjadi cenayang seperti ini?” Tawaku seraya menirukan kosa katanya.
“He..he..he.., entahlah, mungkin sudah menjadi jalan hidupku. Setelah kita berpisah, aku sering merasa resah dan tidak bisa tidur, daripada aku frustasi yang tidak karuan aku mencoba untuk meditasi, dalam perjalanan pengembaraan rohku, seringkali aku diberikan penghilatan akan sesuatu, seperi hal gaib. Dan aku menjadi tertarik dengan hal-hal mistis dan gaib. Meramal menjadi sebuah ketertarikan bagiku, bermodalkan dengan kartu tarot yang kubeli dari toko buku aku mulai belajar memahami sebuah dunia diluar logika. Romi teman kuliah kita dulu menjadi sasaran pertamaku. Dan diluar dugaan apa yang kuramalkan menjadi kenyataan. Kejadian itu sempat membuatku takut. Menjadi peramal bukanlah hal yang menyenangkan, terkadang kita di hadapakan pada sebuah fenomena yang sering tidak ingin aku percayai, apalagi ketika aku melihat akan ada bencana alam atau orang-orang terdekat kita mengalami musibah. Dan repotnya lagi, setiap awal tahun selalu membuatku sibuk, klienku selalu ramai menanyakan peruntungannya, nasib, jodoh, karir, konsultasi bisnis, dan banyak hal yang terkait dengan hal tersebut membuat fikiranku lelah. Semua orang berusaha untuk mencuri start mengetahui tentang jalan hidupnya. Mereka selalu ingin tahu dengan hal yang seharunya menjadi rahasia Ilahi. Tapi Tuhan berkata lain aku ditakdirkan sebagai orang yang “ember” selalu membocorkan rahasia Ilahi. Terkadang aku sering merasa takut dan tidak berani jujur saat meramal, ketakutanku dengan berbagai hal buruk yang akan menimpa, ketakutanku ketika mengetahui beberapa teman yang sering aku ajak jalan akan meninggal dalam waktu dekat, atau mereka akan bercerai. Haruskah aku jujur dan membocorkan semua rahasia ilahi tersebut?. Aku sering merasa ketakutan sendiri dengan semua hal yang kulihat. Ketika aku sedang bermeditasi ingin rasanya aku tak kembali lagi ke dunia ini, aku menemukan tempat yang jauh lebih nyaman, namun tugasku belum selesai, karmaku masih panjang di dunia ini, aku diberikan tugas sebagai orang yang bermulut ember yang selalu membocorkan rahasia ilahi.
“uhhmm, kalau begitu maukah kamu meramal ku Angga ? tapi katakan yang baik-baik saja ya?”
“Baiklah akan kukatakan yag baik-baik saja”
“Apa yang kamu lihat Angga?, tanyaku dengan hati-hati”
“ Semuanya baik-baik saja, karirmu makin bagus, keluarga juga”
“Baguslah”
“Maya, boleh aku minta sesuatu padamu ? “
“Ya, asal tidak memberatkan” Candaku padanya.
“ Sisakan sedikit ruang dihatimu untukku, menyimpan dua cinta tidaklah dosa, seandainya dosa biar aku yang akan memikulnya. Cintaku padamu tidak pernah berubah dari dulu hingga esok. Bawalah terus cintaku dihatimu, hanya itu yang kupinta”

Permintaan Angga menyeret kenanganku tergulir pada saat-saat kami bersama. Tindakan dan ide gilaku untuk menemuinya membuahkan hasil diluar kontrol. Dan kami mendapatkan satu fakta bahwa kami memang masih saling mencintai dan malam itu membuat kami benar-benar lepas dari kontrol logika.

Setelah pertemuan itu aku tidak pernah menghubungi Angga kembali, aku takut hal diluar kontrol akan terulang kembali. Telah seminggu aku terbaring dirumah sakit, aku merasakan sakit yang amat sangat di bagian perutku, menurut diagnosa dokter aku telah menderita kanker rahim yang tak pernah ingin aku percayai. Kondisiku semakin menurun, mungkin aku hanya bisa menghirup udara hanya tinggal beberapa saat. Kala seperti ini aku merindukan sosok seorang Angga yang selalu bisa memotivasiku. Kupejamkan mataku, memohon kepada Tuhan agar Angga diberikan pawisik dan mencariku untuk menemuiku.

“Tuhan ijinkanlah aku bertemu denganya, sebelum ajal menjemputku”

Hari ini suamiku tidak bisa menungguiku di rumah sakit, dia harus menjalankan tugas yang tak bisa ditolaknya. Pintu terbuka, bukan dokter yang berpakain putih yang masuk namun Angga datang dengan memakai pakaian hitam dan seikat bunga mawar merah berpita hitam.
“Tuhan, terima kasih kau kabulkan permintaanku”
“Angga, apakah hari ku telah tiba?”
Angga hanya terdiam dan menggenggam tanganku.
“ Angga, kamu jangan sedih, bukankah kamu telah mengetahui ramalan hidupku sejak malam pertemuan kita dan kamu menyembunyikannya padaku, kamu hanya mengatakan yang baik-baik saja padaku, walaupun itu memang permintaanku”
“ Maya, sejak malam itupun aku telah menangis, disaat orang-orang masih menikmati kecantikanmu dan kerianganmu, tapi aku telah menangis dan bersedih menghitung waktu. Melihatmu seperti mayat yang berjalan semakin membaut hatiku terluka. Maya, waktumu memang sudah tiba. Karmamu hanya sampai disini saja. Aku datang ingin meyakinkanmu bahwa cintamu akan selalu mengisi seluruh ruang dalam hatiku hingga kapanpun. Bawalah cintaku pergi, jangan bawa penyesalan dan kesedihan. Tak ada yang lebih menyakitkan dalam hidupku sebagai seorang peramal saat mendapatkan bocoran dari ilahi tentang kematian seorang terkasih yang teramat kucintai. Pergilah Maya dalam damai dan cinta”



Friday, January 5, 2007

CCTV - Polisi - Pencuri

Ada pemandangan baru sejak pertengahan Desember lalu di sepanjang jalan raya Ubud yang menarik perhatian orang yang melintas. Pemasangan kamera CCTV itu lebih banyak di kira pemasangan kabel telpon atau pemasangan lampu jalan oleh warga sekitar. Kamera yang ditujukan untuk merekam aktivitas orang yang berlalu lalang di seputaran Ubud ini nantinya diharapkan akan membantu kinerja kepolisian.

Desaku belakangan ini sering tidak aman, banyak tindakan kriminal terjadi yang sangat meresahkan. Bagaimana tidak, sebagai desa yang selalu padat di kunjungi wisatawan mancanegara ternyata tidak mampu memberikan jaminan keamanan. Akan menjadi sangat mubasir ketika para pelaku pariwisata sibuk melakukan promosi wisata dan bebagai program recovery Bali. Pencurian tidak hanya menyasar wisatawan asing namun juga warga lokal. Sebenarnya kepolisian dan pecalang / keamanan desa telah dikerahkan untuk pengamanan ekstra menyambut Nataru ( Natal dan tahun Baru). Sebuah pos polisi telah didirikan lengkap dengan fasilitas TV di pusat keramaian pasar Ubud. Sekian kali saya melewati pos tersebut, saya lebih sering melihat mereka terpaku pada layar TV atau mengobrol dengan para pedagang acung wanita. Keprihatinan saya semakin menjadi-jadi ketika penjambretan seorang wisatawan asing terjadi di dekat pos polisi dan ironisnya Si penjambret tidak tertangkap. Terus bagaimana dengan cctv yang dipasang yang harusnya merekam kejadian penjambretan tersebut. Saya pun mendapat jawaban dengan tidak sengaja ketika saya harus menemani bibi saya ke kantor polisi melaporkan rumahnya yang juga di gondol maling. Disanalah saya melihat beberapa orang programer sedang sibuk menyiapkan dan mentraining para polisi untuk menjalankan program cctv tersebut. Jadi saudaraku sekalian ....ternyata ....... CCTV di jalan raya ubud tersebut belum aktif. Dari hasil obrolan ringan saya dengan pak polisi, ternyata banyak kasus pencurian yang terjadi di beberapa toko, rumah dan hotel. Salah satu yang di ekspos oleh media adalah kasus perampokan sepasang tamu korea yang sedang berbulan madu di sebuah villa yang baru beroperasi. Hal tersebut semakin mencoreng nama desaku sebagai tujuan wisata yang minim keamanan. Walaupun villa tersebut telah di lengkapi dengan cctv namun kontruksi pagar pembatas yang rendah tak mengurangi niat si pencuri untuk masuk. Menjadi sebuah dilema bagi hotel di Ubud ketika harus memilih diantara keamanan dan keindahan. Jika dipasang tembok pembatas tinggi akan kehilangan pemandangan sawah yang bisa menaikkan harga kamar. Alhasil para polisi sangat disibukkan dengan agenda pengejaran perampok yang diberikan limit waktu sebulan oleh Kapolda bali. ( selamat berjuang pak polisi !!!!!)

.....dan.... dengan berbagai kejadian tersebut apakah kita harus membenci pencuri? Saya sendiripun masih bingung,.... apalagi setelah keluarga saya mendapat musibah saat Toko perak kami dibobol maling dan polisi tak menemukan hasil apapun. Mungkin inilah fenomena yang disebut sudah jatuh tertimpa tangga, dimana kami harus disusahkan lagi dengan istilah “uang terima kasih” untuk polisi selama kasus pengsutan berlangsung.

Bagaimanapun pencuri juga manusia, punya hati tapi tak berasa. Sebuah profesi yang kini banyak digeluti oleh orang “kepepet”. Pencuri juga butuh makan dan punya keluarga yang harus di berikan nafkah. Jika tidak ada pencuri maka polisi akan kehilangan pekerjaannya, anggap saja sebagai sebuah rantai kehidupan.

Seorang keluarga maling juga tetap memiliki kasih sayang, tengoklah pesan seorang ibu maling terhadap anaknya ketika sang anak berangkat bekerja
“ Nak, hati-hati kalau nyopet”
Dan sebagai seroang ibu dari keluarga non maling, wajiblah memberikan pesan kepada anaknya “Nak, hati-hati, agar tidak di copet”
Atau sebuah slogan yang selalu ditanamkan oleh bapak maling terhadap anaknya
“Seorang pencuri itu harus jeli melihat kesempatan yang ada, memiliki keberanian yang tinggi dan kemauan serta niat yang kuat. Alhasil akan berhasil”

Ya apapun itu, sepertinya semua umat manusia di dunia ini bertujuan untuk bertahan dan meneruskan hidup, jadi biarkan saja semua berjalan di jalurnya masing-masing.
Cuman, mohon untuk selalu mengingat sebuah pesan dari bung NAPI, bagi anda yang memilih profesi kehidupan sebagai non maling.
“ Kejahatan ada dimana-mana WASPADALAH !!!!! “
Sedangkan bagi anda yang berprofesi sebagai maling ingatlah pesan
" Kesempatan ada dimana-mana Cermatlah!!!!!!"

Wednesday, January 3, 2007

Tahun Baru

Semua berdebar menghitung detik-detik terakhir pergantian tahun yang sangat di nantikan untuk dirayakan.
5.. 4… 3… 2… 1… TOeeettttt.. toeett…. Toeett…prreeettt…..Prreettt !!!!!!!! Bunyi terompet bising ditiupkan disambut sorak sorai menggema dengan lonjakan penuh kegembiraan. Volume musik dengan beat cepat dinaikkan dan mengeluarkan dentuman keras, menghentakkan gairah dan semangat pesta yang tinggi. Minuman ditegak hingga membakar tenggorokan membuat semua seakan melayang dalam harapan dan kegembiraan yang penuh sukacita menyambut datangnya tahun baru.

Sebuah pemandangan yang hampir sama tiap tahunnya. Terompet dan topi seakan telah menjadi sebuah ikon menghiasi semarak perayaan. Tentunya hal ini memberikan berkah tersendiri bagi para penjual terompet yang mendapatkan rezeki musiman akhir tahun. Berbagai acara di gelar dengan suguhan menarik oleh hotel, restaurant, kafe, dan klub malam untuk mengais rejeki dari sebagain besar orang yang loyal di malam yang spesial ini. Tak urung bagi mereka yang bergerak di dunia hiburan akan kebanjiran Job. Penyanyi , Band yang sedang naik daun, dan MC di datangkan dari ibu kota. Tak hanya mereka, para penghibur lokalpun kecipratan rejeki. Group penari tradisional datang dengan seperangkat gamelan dan penarinya berbondong-bondong menggunakan truk. Kemeriahan pesta akan semakin terasa dengan menyaksikan kembang api di kegelapan langit malam. Dana jutaan rupiahpun dirogoh untuk melengkapi suasana yang beberapa menit tersebut.
Sepertinya perayaan ini telah merasuk di sukma setiap umat manusia. Malam yang spesial ini juga dimanfaatkan oleh kaum muda untuk mendapatkan ijin menegak minuman berakohol dari para orang tuanya, dengan alasan sekali setahun. Alhasil minuman keras dengan label ijin dari departemen kesehatan laris manis malam tersebut. Setidaknya lebih baik daripada meminum arak oplosan yang sering tidak diketahui kadar akoholnya. Dan sebagian anak muda telah memulai ritual mabuk dari sore hari dan mencapai puncaknya tengah malam.
Malam ini tak hanya dihiasi gegap gempita, ketika akohol mulai merasuki saraf, kontrolpun semakin melemah, dan sering berakibat fatal, kawanpun menjadi lawan. Seorang ibu harus dibangunkan tengah malam oleh deringan telfon sang anak yang sedang terbaring di rumah sakit. Begitulah keramaian perayaan tahun baru semua orang bergembira dan bersuka cita melawan kantuk hingga tengah malam bahkan subuh.
Malam pergantian tahun ini juga merupakan sebuah waktu yang tepat untuk membuat sebuah permintaan yang diyakini akan terkabul “ Close your eyes, make a wish, and your dream came true” dan pernahkah kita membayangkan permintaan sekian juta orang di malam tersebut? Semoga aja Tuhan tidak krodit mendengarnya seperti jaringan telfon seluler yang ngadat malam tersebut, jutaan sms selamat tahun baru harus pending dan mengantri untuk sampai ke tujuan. Namun bagaimana dengan seseorang yang melewatkan detik-detik pergantian tahun hanya dengan tidur, apakah dia tidak memiliki permintaan atau harapan di tahun 2007?