Thursday, September 10, 2009

Aku yang hidup, yang bertutur.

Aku yang hidup,

Yang wajib mengingat dan mengenangkan.

Yang akan menjadi penutur tua,
Berkisah kepada anak cucumu,
Tentang lelaki tua yang bersahaja.

Bercerita atas reinkarnasimu.
Bahwa pernah terlahir sosok sepertimu yang penuh cinta.

Yang selalu meninggalkan jejak kedalaman makna pada hati yang lapang.

Sejarah yang kau cipta, atas diriku dan atas saudara sedarah dagingku.

Aku yang akan menjadi penutur tua,
Tentang kisah kau kembali bereinkarnasi dengan sosok yang beda.

Untuk pengingat bahwa kita satu garis keturunan

Akulah penutur tua itu,

Namun,
Aku tak ingin kehilangan sosok yang kukenal oleh reinkarnasimu.

Walau ku tahu,
kau adalah sebuah jiwa yang tak nampak,
yang tak bisa berwujud tanpa raga.

Yang terlalu cepat ingin mendekat kembali, mencari raga pada setiap kelahiran yang ada.

Kini kutahu Kau adalah jiwa yang juga merindu.

Yang juga menangis pada kasat mata,
Yang juga memohon untuk kembali
Yang juga bersuka cita.


Pada gadis kecil kau meminjam raga yang baru,
aku tak mengenalmu,
Jiwamu tak sama,
Hatimu bukan hati yang kukenal.

Kau tak pernah bereinkarnasi dalam ingatanku.

Kau tetap sosok yang akan kuingat sama.

Pada karma,
Pada tautan waktu itu
Pada jalinan status yang kau tinggalkan dulu.

Aku yang hidup, akan tetap mengenangmu sama.


10 september 2009
Ubud,
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Wednesday, September 9, 2009

Aku dan jejak-jejak

Aku dan jejak-jejak.

Kau tinggalkan begitu banyak jejak dalam hidupku.

Dan aku adalah manusia yang hidup dengan ingatan.

Malam ini aku tak ingin tidur apalagi memimpikanmu. Aku ingin menghabiskan malam ini dengan mengenang jejak-jejak kita bersama sisa-sisa keberanianku.

-----

Pada sebuah batu lempeng besar ditengah sungai,
dulu kau pernah mengajaku duduk sembari merendam kaki.

Kau memulai kisah tentang para dewa yang tak mendapat stana yang bertahta emas.

Kau bilang pada batu lempeng besar inilah para dewa itu berstana. Kau memintaku menaruh sepasang canangsari untuk pijakan para dewa setelah merendam kakinya.

Kini aku kembali menyusuri sungai itu, duduk di batu lempeng besar dan menaruh canangsari berisikan sekar kamboja, agar saat kau sesekali menyusuri sungai ini kembali dan ingin merendam kakimu, telah kusiapkan pijakan untukmu, agar wangi kamboja balur kakimu saat kau kembali ke stanamu yang bertahta emas.

-----

Pada sebuah danau,
kau juga tinggalkan kisah.

Pernah kau ajak aku duduk juga sambil merendam kakimu, sesekali ikan mujair melintasi kakimu. Kita bercakap sambil mereka-reka dalamnya danau ini dan jauhnya tepian danau.
Kau berkata padaku sambil menyulut rokokmu.
' Nak, tahukah kau kenapa ikan mujair itu selalu melintasi kaki kita?'
Akupun menggeleng.
' Ikan itu bilang 'halo' padamu, lihatlah mulutnya selalu membentuk huruf O'

Leluconmu itu sebenarnya tak lucu, tapi kau selalu membuatku tertawa.

Setelah puas kau merendam kaki, kau menunjuk sebuah bale diatas berbukitan.
'Nak, jarak bale itu dari sini sekitar tiga kilo, dan kita akan kesana'

Kau bangkit dan mulai berjalan menyusuri jalan setapak, tak hentinya kau bercakap tentang pohon tua.

Kepalakupun terantuk batang pohon, kau berhenti sesaat dan melihat sekeliling. Kau tersadar bahwa kita tersesat. Tak sedikitpun kau nampak panik. Kau duduk dan memintaku diam.

' Nak dengarkan, jika ada suara burung berteriak lantang, perhatikan kemana arah suara itu'

Tak selang berapa lama suara burung itu terdengar, entah darimana datangnya, berteriak lantang menuju utara, maka kaupun melanjutkan kangkahmu.

Surya mulai tenggelam, petang datang menggantikannya. Kau tak menghentikan langkahmu terus berjalan.

'Jangan takut oleh gelap, lihatlah keatas, bulan akan memberi sinar pada jalanmu'

Akupun menurut, memang tak terasa gelap, hanya rasa nyaman yang ada.

Kami sampai pada sebuah bale, akupun duduk melepas lelah.

' Nak, Kita akan bermalam disini'
Jika kau mengantuk tidurlah, jika kau tak bisa tidur, hitunglah bintang yang ada dilangit. Pasti nanti kau terlelap.

Seperti itulah kau meninggalkan jejak-jejak malam padaku.

Hari ini, dari tepi jendela kamarku, kumenatap bintang, mengenang kita pernah menatap bahkan menghitung bintang sama.

--------

Pada sebuah meru bertumpang sembilan. Kau berkata padaku
' Disanalah para leluhur kita tinggal'
Kau merapalkan nama para leluhur yang tak kukenal, sangat asing ditelingaku, namun kau begitu fasih menyebutnya. Lambaikan tanganmu pada meru itu, agar para leluhur itu melihat kita. Akupun melambai, tapi kulihat kau tak melambai malah menyulut sebatang rokok.

Setelah nyaris 2 tahun kau pergi, aku kembali memandang meru itu.
Adakah kau di dalam sana bersama para leluhurmu?
Apakah kau melihatku dari atas sana jika aku melambai?

Aku tak mampu merapalkan nama para leluhurmu dengan baik seperti kehebatanmu.

Kini aku tak yakin apa yang kau rapalkan saat itu, mungkin saja bahasa latin yang tak kukenal. Kuyakin saat itu kau hanya ingin nampak jauh lebih pintar dariku.

Tapi hari ini, aku bisa merapalakan mantra cintaku padamu dengan fasih melebihi kefasihanmu merapalkan nama leluhurmu.

-------
Dengan sisa cintamu aku menyusuri jejak-jejak yang pernah kita lalui bersama.

Karena aku dan jejak-jejakmu akan selalu bersama.


Ubud
090909
D.purnami
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hanya kerinduan sepihak

Ini hanya kerinduan sepihak.

Kau tak kan pernah tahu bagaimana aku mengurai setiap rasa dalam hatiku ini.

Butuh berapa kali tarikan nafas yang dalam agar aku bisa merasa tenang.

Melapangkan hati untuk sadar bahwa kau sejatinya tak pernah tau bahwa aku merindumu.

Kemana aku harus menemuimu?
Kepada siapa aku menyampaikan?

Kau tak pernah ingin tahu.

Ini hanya rindu sepihak.

Aku mencoba mencari baumu, diantara bau baru yg menghampiri hidungku.

Aku mencoba mencari sapaanmu yang khas diantara sekian banyak orang yg menyapaku.

Aku pun terus mencari kehangatan yg pernah kita bagi dulu diantara pelukan yg berusaha menyamankanku.

Kau tak ada disana, dan tak pernah sama dengan semua yang baru.

Andai kau tau bahwa aku sedang merindumu begitu dalam.

Tapi ini memang rindu sepihak.

Rinduku bukan rindu kumbang pada sang bunga,

Bukan pula rindu malam pada sang bulan.

rinduku memang rindu sepihak. Dan kau tak kan pernah meraskan lagi rindu seperti ini yang akan membuatmu menderita.

rasaku dan rasamu sudah terpisahkan oleh waktu.

ingatan tentang cinta yang kian terkikis.

Tak ada lagi kita berjejak pada waktu yang sama.

Dan tak akan pernah terulang lagi.

Berandai adalah sebuah sesal.

Yang tersisa hanya rindu sepihak.

Bau yang kau tinggalkan terakhir adalah bau cendana.

Pada abu kau lenyap bersama semua cintaku.

Kini semua terasa tak adil, karena hanya aku yang mengenangmu.

Rindu yang hanya sepihak.


Ubud,9 09 09
D.purnami
Untuk sebuah keberanian merindukanmu kembali.





Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Terpujilah.

Aku hanya seekor ikan teri yang sedang hamil.

Dikehidupan laut, pilihan yang ada adalah menjadi pemangsa atau dimangsa. Dan kau sudah tau nasib seekor ikan teri akan berada dimana. Di meja makan. Mereka tak peduli aku sedang hamil.


Aku adalah pohon pinus yang tumbuh di dekat gunung. Dikehidupanku yg ada adalah tumbuh terus atau ditebang.
Nasib pilihanku adalah menjadi rumah para burung dan tupai atau menjadi kayu utk rumah manusia atau kayu bakar.


Aku adalah seekor anjing jalanan, Kehidupanku hanya dijalanan mengais makanan, sesekali diserempet motor, ditendang dan diusir. Kematian kerapkali dekat denganku. Pilihan nasibku antara hidup dan mati.


Aku adalah seorang gadis remaja, punya orang tua, punya rumah, punya kehidupan seperti orang biasa. Tapi itu dulu..

Kini aku adalah seorang gadis remaja yg tak punya siapa-siapa dan apapun. Hidup sendiri tanpa rumah dan tanpa sanak saudara. Bencana mengambil semua hartaku.


Aku makan ikan teri, tinggal dihutan memungut bunga pinus dan terkadang berebut makanan bersama seekor anjing.


Hari ini aku mendekati sebuah rumah penduduk, aku duduk agak jauh, (mengamati tepatnya) mencari kelengahan seorang ibu tua.

Dia sedang memasak dan aku menunggu dia selesai memasak dan mandi.

Cuman satu hal yg aku fikirkan waktu yg tepat untuk mencuri makanannya. Biarlah anjing, kucing dan tikus yg akan menjadi sasaran kemarahannya.

Ibu itu menyetel radio,begitu kencang tp aku tak mendengarkan lagu dan musik, seperti orang yg sedang berbicara terus.

Berbunyi seperti ini
" Terpujilah kau yang menyembahnya, tuhan akan memberkati kehidupan rumah tanggamu, memudahkan jalan rejekimu, memberkati keuanganmu"


Aku berfikir: jika aku menyembahnya apakah aku akan punya rumah dan punya uang?


Dimanakah dia sekarang? Aku ingin bertemu dan minta rumah dan uang.

Apakah tuhan benar-benar berfikir akan memberiku? Apakah tuhan juga mendengar permohonan si ikan teri yg sedang hamil agar tak masuk jaring dan jadi santapanku? Apakah juga mendengar keinginan si pohon pinus utk tak ditebang? Apakah juga melihat si anjing yg kelaparan?


Apa tuhan sempat memperhatikan hal-hal kecil seperti ini? Diantara sekian juta permohonan yg diajukan setiap hari?

Kurasa tuhan tak sempat memperhatikan urusan remeh temeh seperti ini.

Akupun mengendap masuk untuk mencuri makanan si ibu tua.
Dan tuhan tak melindungi makanan si ibu tua dari pencuri kecil sepertiku.

Terpujilah ibu tua yg lengah itu.

Ubud, 8 september 2009
O9.00
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ego dan telur

Sebesar apa egomu?

Apakah sebesar telur angsa?
Atau seperti telur penyu?
Besar tapi lembek?

Atau mungkin sebesar telur ayam?,telur puyuh? Bahkan telur cicak?

Sebesar apapun egomu tetap namanya egois.

Psssttt....memangnya ego sama dengan telur?

Tentu tidak!

Tapi boleh saja kan aku menyebutnya ego sama dengan telur?.

Kalau sepakat, mari kita lanjutkan baca, jika tidak sepakat, bisakah diukur kembali egomu sudah sebesar telur apa?

Jangan-jangan sudah sebesar telur burung unta?

Tapi aku yakin telurmu tak sebesar telur burung unta, ( mustahil ah!)

Andai kau telah sepakat denganku bahwa ego sama dengan telur, tetap ada syaratnya.
Gampang kok.
Cuman satu pula.

"Maukah kau memecahkan ego yang kau punya?"

Ego apapun itu, dan sebesar apapun.

Maukah kau memecahkan?

Bukankah membawa ego kemana-mana susah?
Sama susahnya seperti membawa telur. Sangat rentan.

telur dan ego sama, jika dibiarkan terus akan membusuk.

Kita sudah ada di garis kesepakatan yang sama bukan?

Aku akan mulai berhitung,mari kita bersama-sama memecahkan ego.

1

2

3

Teplokkkkk ( omelet apa mata sapi?)

Ahh aku lega, ego tak lagi membelenguku dan membuatku merasa paling hebat. Aku hanya manusia biasa yg punya salah.


Nah bagaimana dengan egomu?
mau dipecahkan atau tidak?

semua adalah pilihanmu.

Sepakat dalam memandang hal yang sama bukan berarti harus melakukan hal yang sama kan?

Telur ditanganmu tergantung pada pilihanmu.

Memecahkan telur memang membutuhkan kerendahan hati.


D.purnami
3 september 2009
Muter-muter tersesat.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Wednesday, August 26, 2009

Kursus menari

Ribut-ribut dan ribut terus.

Serumpun dan bertetangga.
Bahasa keluarganya seperti bersaudara.

Bagaiamana tidak bersitegang, seperti memperebutkan warisan.
Wajar terjadi disebuah keluarga.

Bagaimana tidak mirip jika bersaudara serumpun, tumbuh berkembang dari akar budaya yang sama.

Seperti dua orang saudara yg tumbuh, disaat dewasa mencari hidup sendiri menggunakan keahlian yg dipupuk dari masa lalu.

Dulu belajar buat sate bareng,
Bu mariam menganggap sate hal biasa, mak cik menganggap hal luar biasa jadilah dia mempatenkan.

Tari reog, pak mamat sibuk menarikannya, pak cik sibuk mempatenkan krn dianggap luar biasa.

Tari pendet,
Sedikit lucu, sebenarnya seberapa banyak sih saudara serumpun kita itu bisa menarikannya?

Beberapa minggu ke depan mungkin saudara-saudara serumpun kita itu akan berbondong-bondong ke bali kursus menari pendet.
Jadi seniman tari kita di bali akan kebanjiran siswa dari negeri jiran.

Atau jangan-jangan sudah ada beberapa seniman kita yang residensi di rumah tetangga kita untuk mengajarkan menari pendet.

Hmmmm
Bukankah begitu banyak seniman kita yg residensi di negara lain juga untuk mengajarkan menari dan menabuh. Bagaiamana jika satu persatu negara itu berfikir mengklaimnya?

Perluasan budaya yg luar biasa.
Pencapaian yg tinggi.

kalau bukan dengan saudara saling caci dengan siapa lagi?

Selamat membuka kursus menari.

Ubud, 25 agustus 2009
D.purnami

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, August 24, 2009

Rindu ku berbincang tentang malam

Rindu ku berbincang tentang malam.

Tentang kelam malam,
Bintang,
Bulan
Derai daun
Angin dingin
Bahkan
Kabut tipis.


Tapi bagaimana hendak berbincang,
jika senja selalu datang memisahkan kita.
Bintang yg kita tatap bukan bintang yang sama.
Atau bulan yg nampak olehku sabit, nampak sempurna olehmu.


Kita tak pernah bisa sepakat tentang malam.
Walau rindu berbincang akan malan kian tak terperi

Pada malamku,
kau menatap langit yang benderang, dan matahari yang bersahaja.

Pada malamku yg berkabut tipis, kau memiliki hangat udara.
Malam kita terbelah oleh waktu yg tak sama.

Bagaimana aku hendak berbincang tentang malam.

Jika, malamku adalah rinduku pada sebuah waktu yg pernah aku lewati bersamamu sekali pada waktu yg sama.


24 agustus 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, August 22, 2009

Bermimpi tentang ruh tua

Malam tadi,


Aku bermimpi,
bukan mimpi seperti biasanya tentang orang yg disayangi atau hal yg aku inginkan.


Bukan,
bukan tentang hal yang sesederhana itu.


Aku bermimpi,
Tentang ruh ruh tua yg sebagian aku kenali, sebagian lagi tidak.

Hanya ruh tua yg masih dalam dua tingkat keturunan yg kuhafal.


Seperti menonton rekaman film lama yg usang,
Gambar hitam putih, kabur dan menekan perasaan akan masa lalu yg hilang.


Aku bermimpi,
Ruh ruh tua yg mengajaku memasuki dunia mereka,
seolah aku sepatutnya bagaian dari mereka.

Memaksaku memasuki masa lalu mereka yg sejatinya tak ingin ku ketahui.


Mereka bersuka cita menyambutku,
merangkulku,
melibatkanku,
dan memperlakukanku sebagai ruh tua.


Aku terhenyak dengan semua damai namun sangat terasa asing.

Wahai para ruh tua,
Aku tak ingin bersama kalian,
Di sebuah dunia tempat kalian bersemayam.

Aku ingin kembali ke duniaku, melakukan hal yg sepatutnya kulakukan sebagai manusia.


Engkau para ruh tua,
Terima kasih untuk rasa damai dan tenang yg menghanyutkanku.

Terima kasih telah menjemputku, tapi aku tak ingin pergi bersama kalian.


Aku tak yakin kalian masih punya rasa cinta dan keterikatan.

Yang kuyakin kalian telah memotong tali ikatan yg membelitmu dulu seperti benalu.


Aku bukan ruh tua,
aku masih memelihara benalu itu dan membiarkannya tumbuh berkembang ditubuhku.

Belum waktunya aku lepas dari ikatan ini.


Ruh ruh tua mengantarku hingga gerbang besi berkarat.

Aku memandang dalam mata seorang ruh tua.
Aku merasakan getaran cinta yg dalam dari sorot matanya, apakah ruh itu belum terlalu tua sehingga masih memiliki bekas ikatan benalu di jiwanya.


Ah,
ruh tua terakhir di gerbang besi tua.
Jemputlah aku di lain waktu,
aku akan ikut bersamamu, menjalin ikatan yang lain.


Aku terbangun pada sebuah subuh yg dingin bersama cinta seorang ruh tua.


Ubud,19 agustus 2009 subuh.
D.purnami

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, August 19, 2009

Tante : versi lain dulu lain sekarang

Hari ini tante kaget sekali, bukan ulang tahunnya, tapi ada seikat bunga dan sekotak coklat di kamar.


Pasti Om yg mengirimnya.
Hati tante berbunga.


Hari ini juga bukan malam minggu, tapi ada sms romantis yg berakhir pada sebuah ajakan dinner.


Tante makin sumringah.


Kerapkali ada kejutan kecil di saat bukan hari spesial


Hati tante sering dibuat melayang .

Dia lelaki memang baik hati.


Walau bukan supir pribadi, dia tetap mengantar dan menjemputnya pulang kerja.

Begitulah cara Om mengejar tante untuk memikat hatinya dengan selalu berusaha ada di didekatnya.
__________

Tapi itu dulu, cerita lalu, sewaktu tante masih gadis.


Tapi kini lain cerita,


Om sering lupa ulang tahun tante, juga lupa kalau malam minggu adalah jatahnya.

Kerjapun kini tak diantar jemput, melainkan diberi 1 mobil dan menyetir sendiri.

Semua berubah karena tante sudah dinikahinya walaupun siri.

Tak lagi Om ingin selalu di dekatnya, melainkan selalu mencari waktu untuk menghindar.


Ah, hati tante nelangsa.
Lain dulu lain sekarang.


Ubud, 19 agustus 2009
07.30
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, August 4, 2009

Guru

Wanita paruh baya itu duduk di bawah pohon rindang, di bangku-bangku kantin sambil menunggu makan siangnya.

Wajahnya nampak lelah, kerut- kerut telah menghiasi sudut mata, bibir serta dahinya.

Murid-muridnya bermain berteriak hiruk pikuk membuat panas suasana.

Dia memakai setelan coklat, yg mirip warna kulitnya. Rambut nya memutih.

32 tahun dia telah menjabat menjadi guru. Menjalankan tugas untuk mendidik muridnya.

"Mengajar murid kelas 1 kadang lucu, mereka kadang masih harus ditemani orang tuanya. Seringkali menangis dikelas, pipis dicelana bahkan berak

Tahun 1977 saya diangkat jadi guru, gaji saya waktu itu cuman RP 1.080 (seribu delapan puluh rupiah) dan itupun di bayar rapel 3 tahun. Sekarang gaji saya 2 juta rupiah.

Dapat tunjangan beras 10 kilo, itupun beras yg sudah busuk, rasanya ayampun malas untuk memakan.

Tapi saya bangga, anak-anak saya semua sarjana, tumbuh sehat walau makan beras yg tak enak. Mereka sudah menjadi manajer, gajinya 10 kali lipat gaji saya.

Tapi saya masih senang melakoni pekerjaan saya menjadi guru, mengajarkan murid mengenal huruf dan angka. Mungkin ada dulu salah seorang murid saya yg saya ceboki, kini telah menjadi pejabat.

Ya saya hanya seorang guru."

Bel kelaspun berdering, dia bergegas mengajak murid-murid
Masuk kelas.

Dedicated untuk ibu saya.
Thanks bu untuk semuanya.

Rumah kecilku, 4 agustus 12.30
D.purnami


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Terima kasih ; kau besuk aku.

Terima kasih,

Kau telah datang membesukku malam ini.
Walau kurasa waktunya terlalu malam bagiku, dini hari tepatnya.


Tak ada penjaga yg melarangmu masuk, tak ada aturan jam besuk yg harus Kau ikuti.

Semua adalah waktumu.

Kau tak membawa buah, bunga atau kue kering untukku.

Yang kau bawa adalah senyum. Obat yg kurindu selama ini.
Obat yang seketika menyembuhkanku dibandingkan semua obat penahan sakit, antibiotik yg telah diberikan dokter.


Malam ini kita berbincang. Mungkin tepatnya kau akan mendengarkan saja, karena curhatku akan sangat panjang.

Ah, sepanjang apapun itu waktu kita begitu banyak.
Bisa saja aku yang akan tertidur dalam curhatku.
Bahkan saat aku terlelap pun kuyakin kau kan tetap menjagaku.
Tetap dengan senyum dan kehangatanmu.


Ah, dari mana kumulai,
semua berlomba muncul dikepalaku untuk berebut diperbincangkan.

Walau kutahu waktumu tersedia banyak untukku sebanyak yang kumau.

Untuk kau yg begitu sayang padaku,

Aku sadar, aku telah berlari begitu jauh darimu, menampikanmu, bahkan menyangkalmu.

Aku juga telah merusak semua yang kau beri.

Aku buatmu kesal,
agar kau menamparku,
agar kau membeciku.

Tapi tidak,
kau tetap merangkulku,
merangkai kembali semua yg telah kurusak.

Kau tetap tersenyum untukku.


Saat aku terbaring tak berdaya seperti ini,
Kau tetap datang membesukku walau larut sekali.
Antara aku sadar dan tidak.

Kau maafkan aku seperti tak terjadi apapun,
kau ajak aku berbincang begitu lama sehingga tak sadar akan waktu yg sudah pagi.

Bulir- bulir air mataku jatuh membasahi jiwaku yg telah lama kering.
Kau masih mendengarkanku dengan senyum yg bersahaja dan hangat.


Tak ada sedikitpun nampak raut kemarahan, kekecewaan, dan kekesalan.

Mungkin karena kau tak punya semua rasa itu.

Yang kau punya hanya rasa sayang dan maaf.


Malam ini,
Pada kakimu aku memohon maaf
Atas semua keangkuhanku.
Atas semua perkosa terhadap tubuh ini.
Atas semua lalai yg kubuat.


Aku telah lama tak berani pejamkan mata karena ketakutanku untuk tak bisa terbangun esok hari.

Malam ini kau temaniku,
akupun berani terlelap, karena kuyakin esok aku akan terbangun dan menyapa mataharimu.

Jikapun aku tak bangun, setidaknya aku berani memejamkan mata dengan tenang dan ditemani olehmu.


Terima kasih,

Kau luangkan waktu tuk besuk aku yg tiada arti ini.
Untuk jadikanku orang yang spesial.
Untuk tunjukkan kau begitu sayang dan cinta padaku.

Terima kasih untuk semua yang telah kau beri untuku.


Ubud, 4 agustus 02.30 am
D.purnami


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, July 31, 2009

Cinta sebatas obrolan

Mas, seperti apa nanti design rumah kita?
Kamu mau yg bagaimana sayang?
aku ingin rumah yg minimalis saja. Hanya ada 1 bangunan saja dengan halaman yg luas”
akan kuciptakan istana itu untukmu sayang


Mas, cincin kawinnya kita mau yang berbahan emas putih apa emas kuning?
kamu sukanya emas apa?
Aku suka emas putih dengan dua butir berlian, perlambang dua insan yg terikat mas.
Baiklah kita akan pesan sesuai design yang kamu inginkan.


Hmmm, nanti pas acara penikahan kita, mau pakai baju warna apa?
Putih saja sayang.
Ya aku juga suka putih, biar bisa kupesan kebayanya.
juga menandakan sucinya cinta kita.


Aku ingin nanti bulan madu ke bunaken.
Ke Bali saja sayang.
Pokoknya Bunaken!
Bali !


Mas, nanti untuk nikahnya kita pakai adat jawa kan? Aku kan keturuan jawa.
Tidak kita pakai adat Minang saja. Acaranya juga akan dirumah.
Mas, orang tuaku akan kecewa kalau tidak pakai adat jawa.
Orang tuaku juga akan kecewa kalau aku tak pakai adat minang.


Mas, nanti setelah nikah kita akan langsung pindah rumah kan? Tidak tinggal bersama orang tua kan?
Kita tinggal dirumah sayang, aku anak tunggal, ibuku sudah tua. Siapa lagi yang menjaga mereka selain aku.
Aku tidak mau tinggal dengan mertua mas.
Tidak! kita akan tetap tinggal dirumah orangtuaku.


Mas, sepertinya aku tak sanggup menjadi istrimu.
Aku juga tak mampu penuhi segala inginmu.



Ubud, 31 Juli 2009 at 3.30 pm
D.purnami

Thursday, July 30, 2009

Cupli's tuna sandwich dan Dompo's bami goreng

Cuplis dan Dompo adalah teman. Kecilku dulu. Pertumbuhan mental mereka lebih lambat dari kami.


Cuplis dan Dompo sering menjadi bahan ejekan dan olok-olok teman mainku.


Entah kenapa teman-temanku juga memiliki kecenderungan memusuhiku.


Aku memang tak pandai main congklak, atau aku selalu kalah main bola bekel, apalagi lompat tali merdeka.


Karena itu mereka tak suka mengajaku. Sama seperti mereka tak suka mengajak Cuplis dan Dompo. Jadi kami sering menghabiskan waktu bersama.


Dompo pintar sekali membuat sajen dan mengemong bayi. Sayang padaku, jika aku sedikit nakal diapun tak enggan mencubitku.


Sedangkan Cuplis suka main gamelan musik, ramah dan suka mengobrol memakai bahasa isyarat denganku, walau yg kupahami hanya sebatas mau makan, mau minum, dan membuat ikatan gelang karet.


Tempo hari, aku berkunjung ke sebuah organisasi nirlaba yg fokus terhadap anak-anak yg cacat mental. Aku menemukan foto Cuplis di gantung di warung makan NGO itu dengan senyum yg sumringah sambil memegang mixer kue. Posenya layaknya koki hebat pada sebuah restaurant.


Aku terharu sekali melihatnya, dia kini mendapat tempat yang pantas, dihargai sebagai selayaknya manusia normal seutuhnya. Diapun menjadi biasa seperti kita.

Mataku semakin berbinar haru saat melihat menu makanan yg menampilkan;

"Cupli's tuna sandwich
Dompo's bami goreng"


Ah sahabat kecilku menyenangkan rasanya!

Sjaki-Tari-Us, 3 pm
29 Juli 2009

D.purnami




Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, July 29, 2009

22:11 Angka kembar

22:11

Adalah angka yg terakhir kuingat.


Paru-paruku seperti tak bisa kuajak bekerja sama.


Pompa saja jantungku!
Buatkan aku kejutan.
Biar aku terbangun dan terhenyak kembali.
Menatap jalang dunia ini.



Angka 22:11

seperti tak berganti,
Tak menambah detikpun
Diam, tak ada suara tik tik tik
waktu menjadi vakum.


Tak usah seret tabung oksigen itu!
Tampar saja aku, siapa tahu aku terbangun dan menggeliat.


Kalau tak berani menamparku atau memompa jantungku,
Menyingkirlah kalian dari tubuhku, karena hanya buat aku makin sesak saja.
Semua oksigen yg harus kuhirup habis oleh kalian yg semua berlubang hidung besar.


Arghhh!!!!!
jangan jejalkan selang itu ke hidungku, hanya udara kecil yg keluar, seperti udara yg ditiup dari pipet kecil. Tak membantu!


Aku butuh banyak oksigen!
Mungkin seperti angin yg keluar dari kompresor untuk mengisi ban mobil.


Ayo tampar aku biar aku bangun, jangan malah menangis.


Ah kalian memang bodoh!
Air mata tak akan menolongku.
Lihat kakiku sudah dingin,
Lututku bergetar.

Waduh,
Kenapa kalian malah panik.

Hey hey hey....
Cepat genggam tanganku yg mulai beku.
Beri aku hangat.


Tolol !
Semua tolol.


Nafasku sudah tersendat bodoh!
Tenggorokanku sudah tercekat.


Ah sudahlah,
Kalian tak bisa kuharapkan.


Lidahku sudah kelu tak bisa lagi aku bicara pada kalian.


Aduhhh kalian malah menambah dingin badanku dengan jatuhan air mata.


Hey..
Mataku sudah berkunang dan semua berputar, mulai tampak gelap.


Aduhhhh !!!!!!
Sakit sekali ada yang mau keluar dan menembus dadaku.


Aghhhhh tolong pegang tanganku.


Dia keluar!


Tit.. Tit.. Tit.. Tiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttt


22:11

Angka itu kembar.


Ubud,22:11 malam
29 Juli 2009
Di tempat tidurku

D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Pohon di seberang jendela

Siang ini aku duduk di jendela kantorku memandang bukit yg terhampar luas.


Kami mengenali pohon demi pohon yg ada.


Pohon cinta.

Pohon yg telah memberi teduh terhadap sekian banyak pasangan yg sedang di mabuk asmara.
Entah sudah berapa kata cinta dan sayang yg terekam di bawah pohon itu.
Pohon yang tumbuh rindang oleh pupuk yg bernama cinta.


Seperti cinta, kadang manis kadang pahit, pohon itupun mengikuti musim, berwarna hijau dan berganti merah saat semi kemudian gugur.


Tak hanya pohon, ilalangpun tumbuh rimbun dan tinggi, menari gemulai di tiup angin.
-----


Ilalang gairah.

Di dalam semak diantara ilalang yg bergoyang, sekian banyak pasangan telah menumpahkan gairahnya.


Bibir yg saling memagut, pelukan yg bukan lagi hangat tapi panas, bra yg terjatuh lunglai, dan kancing celana yg tak lagi berfungsi.


Diantara Ilalang mereka menumpahkan gairah.
---------


Pohon pre wedding.


Pohon ini kerapkali di jadikan sandaran oleh para calon pengantin.


Sekian harapan tentang masa depan bahagia calon pengantin terekam di pohon ini, tak hanya dari balik lensa kamera.


Sekian banyak photo pre wedding yg sudah berlatar pohon ini ug dipenuhi senyum penuh harapan.

---------


Pohon berpenghuni.


Pohon yg jarang disentuh oleh manusia karena dengan radius sekian meter telah memberi aura magis.


Pohon berpenghuni tak perlu memasang tulisan jangan mendekat, tanpa itupun manusia tak berani mendekat.


Hanya makhluk halus yg tak nampak oleh kasat mata menjadikannya istana.

--------

Begitulah aku memandang sekian banyal pohon dari jendela kantorku.


3 pm dengan secangkir kopi.
Ubud,29 Juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, July 28, 2009

Bintang jatuh

Bintang yang jatuh,

Dulu,
aku pernah melihatmu jatuh, sewaktu aku masih berkepang dua.


Malam itu,
Aku bersama teman-teman melihatmu jatuh.

Berteriaklah kami.


"Iihaattttt bintang jatuh !!!!!'


Seketika kami berhenti berjalan, walau anjing menatap kami curiga.


'Psssttt kita meminta kepada bintang jatuh. 3 permintaan!'


Aku orang yg terakhir meminta padamu diantara 2 temanku.


Aku ingat waktu itu aku tak tahu apa yg harus kuminta.


Bukan pacar ganteng seperti yg diminta temanku, ataupun sepeda motor.


Aku diam cukup lama, bukan memikirkan hal serius yg berharga dan sepatunya harus dikabulkan.


Aku mengingatnya,
saat itu aku meminta hal yg konyol.


Dengan cemas aku meminta


' Beri aku keberanian'


Dan itupun kuulang 3 kali. Aku merasa sangat tidak kreatif, bukan meminta 3 hal yg berbeda.


Keberanian yg kuminta,
dan kuminta 3 kali. Bukan karena aku ingin menjadi si pemberani pembela kebenaran.
Tidak itu yg kumaksud.
Sangat sederhana,


Aku ingin berani pulang sendiri di gelap malam waktu itu.
karena aku takut harus berjalan kaki pulang sendiri, dan waktu saat itu sudah cukup malam bagi orang seusiaku. Sementara 2 temanku sudah mendekati rumahnya yg tinggal beberapa meter lagi.

Sejak malam itu aku merasa memang menjadi pemberani.

_________


Bintang jatuh,


Akupun pernah melihatmu jatuh lagi untuk ke dua kalinya.


Waktu itu aku sudah menginjak remaja. Akupun menyaksikanmu jatuh bersama kekasih hatiku.


Lagi dan lagi aku berseru girang


' Heyyyy ada Bintang jatuhhhhhhhh !!!!'


Seruku kepada kekasih hatiku.


' Ayo cepat kita make a wish,
Katanya akan dikabulkan'


Kembali aku terdiam dan tak tahu apa yg harus kuminta.


Aku pun berujar kepada kekasih hatiku.


' Hmmm aku tak ada permintaan apapun kali ini, aku sudah cukup senang menyaksikan dia jatuh saat sedang bersamamu, aku berikan 3 hak permintaanku ini untukmu, silahkan gunakan, dan kamu saja yg membuat permintaan'


Akupun memandang kekasih hati ,memejamkan mata sembari menggenggam tangannya tanpa meminta apapun.


Aku tak tau apa yg kekasih hatiku pinta, tp aku yakin apa yg kami jalani saat ini adalah salah satu permintaannya kepada bintang jatuh saat itu.


Kami hidup bersama.

__________


Bintang jatuh,

Ini kali ketiga aku melihatmu jatuh dari sisi jendelaku. Petang yg hangat.


Kau melintasi purnama, jatuh membentuk segaris cahaya yg begitu cepat.


Aku tertegun.


Aku memejamkan mata, aku memiliki lebih dari 3 permintaan saat ini.
Terlalu banyak hal yg kuinginkan.


Tapi aku tak tahu mana yg seharusnya kuminta.


Kembali aku terdiam.


Aku menghela nafas,


Dan hanya meminta satu hal saja padamu saat itu.


Bintang jatuh,


Aku meminta

' Kabulkanlah setiap permintaan orang yg melihatmu jatuh malam ini'

_________


Bintang jatuh,


Kapan kau jatuh lagi?
Kini aku menunggumu,
Aku mempunyai 3 permintaan lagi.


Ubud, 26 Juli 2009
Ditepi jendela.
D.purnami

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tante; versi pilih mana ya?

Badan tante pegal seluruhnya, lelah sepulang kerja, tapi hari ini sabtu.
Hari yg dianggap spesial olehnya.


Biasanya tante mendapat jatah tidur bersama suaminya tiap sabtu malam.
Maklum tante adalah istri ke dua.


Tante bimbang,
Apakah dia mau pakai minyak urut untuk menghilangkan pegal-pegal badannya atau pakai minyak wangi untuk menyenangkan suami.


Tante tambah bingung memilih pakaian,
Apakah keluar pakai celana jeans atau atau rok mini seksi yg memperlihatkan tungkainya.


Tante pun sibuk menyiapkan pakain tidur spesial,
Hmmmm lingerie yg seksi berwarna hitam atau merah dengan renda.


Jam sudah menunjukkan pukul 8, perut tante sudah lapar.
Demi suami, tante tak jadi memakai minyak urut yg pasti menghangatkan badannya, malah luluran yg membuat porinya terbuka.
Alhasil tante masuk angin.


Tante duduk di sofa dengan rok mini seksi dan wangi tubuh yg semerbak
Menunggu suami datang menjemputnya untuk keluar makan malam.


Bel rumah berbunyi,
Tante berlari dengan sumringah karena tahu pasti siapa yg datang, lelaki yg akan membuainya malam ini.


Tante terkejut melihat lelaki muda berbaju merah menyerahkan sekotak makanan.

'Malam bu, Ini pesanan makanannya, sudah dibayarkan'.


Tante menerima dengan ragu, sembari membuka inbox smsnya.

" Maaf sayang, aku tak bisa tidur dirumahmu malam ini, aku harus membawa kakak madumu ke dokter, nampaknya dia hamil lagi. Selamat makan sayang'


Ubud, 25 juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, July 27, 2009

Status; janda dengan 2 anak

' Sudahlah mas, aku sudah tak kuat lagi menghadapimu'

( Lelaki itu diam dan tetap membenahi tali pancingnya)

' Anak kita sudah 15 tahun, selama itu kamu tidak pernah memberi nafkah sama keluarga, aku sudah lelah mas'

(Lelaki itu kini menyulut rokoknya)

' Rumah ini mau kujual mas, kamu harus menanda tangani surat-surat ini. Aku berhak atas rumah ini, karena dulu aku yg membelinya, dengan jerih payahku.'

( Lelaki itu membuka dompetnya yg lusuh, sangat gampang menemukan KTP nya krn tak ada lembaran uang yg menghalangi)

' Anak-anak akan aku bawa tinggal dirumah ibu, aku akan pindahkan barang besok. Pembeli rumah ini akan datang lusa untuk pembayarannya'

(Lelaki itu memasukkan pancingnya ke ransel beserta beberapa lembar pakaian)

'Mas, terima kasih telah menanda tangani surat cerainya'

( Lelaki itu sudah menghilang di balik gerbang berjalan kaki menuju gang)

Klandis - ubud
D purnami.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sunday, July 26, 2009

Koma (---- , ----)

Tomi baru saja lulus smp, saat ini sedang mencari sekolah menengah umum.
Dia tak lulus di sekolah yg di idamkan.
Bapaknya pun sangat marah terhadapnya.


Tomi sedang makan mie sendiri, sejak tak lulus disekolah idamannya dia agak pendiam.


Masih makan mie,Bapaknya datang menghampiri, sembari memarahi Tomi.


Mie Tomi sudah habis dipiring, bapaknya masih tetap marah.


Tomi beranjak dari meja makan dan tak selang berapa menit, dia pingsan.


Tomi tak sadarkan diri, hingga di larikan ke rumah sakit, dokter bilang pembuluh darah otaknya pecah.


Tomi koma sudah 2 minggu lebih.


Bapak menangis terus.


----------- ,

Jika Tomi sadar aku ingin menemuinya dan bertanya

' Dik, bagaimana caranya agar bisa koma?'


Ubud, 26 Juli 2009
D.purnami
Powered by Telkomsel BlackBerry®