Wednesday, January 24, 2007

Move Your Body ...

Melihat iklan layanan masyarakat di Tv mengenai gaya hidup sehat tak hanya membuat saya setuju namun termotivasi dan terinspirasi untuk melakoninya “cukup olahraga, cukup makanan bergizi dan rekreasi”, jika di jalani akan menjadikan kita sehat jasmani dan rohani. Sangat disadari kesehatan merupakan aset yang sangat penting untuk mendukung aktivitas keseharian kita, seperti ungakapan Men sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Tapi kebanyakan dari kita biasanya tersadar betapa pentingnya menjadi sehat jika kita dalam keadaan sakit. Saya teringat saat tak sengaja menguping obrolan seorang dokter dengan pasiennya.
“.... Anda memilih mau sehat atau sakit?”
Waktu itu saya berfikir, pilihan yang sangat gampang yang diberikan oleh dokter tersebut, dan si pasienpun dengan gampang menjawab
“Ya, tentu saja saya pilih sehat, dok”
Saya yakin tak seorangpun mau memilih sakit tapi di balik pilihan yang gampang tersebut ternyata ada beberapa hal yang cukup susah dan membutuhkan komitmen tinggi yang di syaratkan oleh sang dokter.
“Baiklah, kalau anda mau sehat anda harus melakukan hal berikut ini, kurangi makan daging (disarankan vegetarian), cukup istirahat tidak boleh tidur larut apalagi subuh, berhenti minum-minuman yang mengandung akohol dan kafein. Tidak merokok serta rajin berolah raga. Tapi jika mau sakit jalani hidup sesuka hati anda. “
Tak terdengar jawaban dari si pasien ….. (pilihan dikembalikan kepada anda)

Sore yang cerah ini saya lewati dengan bersantai bersama seorang teman wanita yang cantik dan selalu rajin merawat tubuh. Dia mengeluhkan tentang bertambahnya lingkar pinggang, perut, pinggul yang semula saya kira mengalami kesalahan tempat penyuntikan silicon . ( ehhe..he.. sori ya jeng.. peace)
Sembari menyeruput kopi dan memandang bukit campuhan yang hijau menghampar, saya setia mendengarkan keluh kesahnya ( tepatnya melamun karena kadang terdengar kadang tidak( ehe sorri lagi jeng) teman saya merasa resah dengan komplain dari lelaki idamnnya akan tubuhnya yang sudah mulai tidak proposional lagi, saya jadi teringat iklan salah satu produk pelangsing tubuh dimana sang lelaki terobsesi dengan wanita bertubuh seksi. Tapi setelah sekian lama saya terbang, saya tersentak sendiri dan teringat bahwa tak hanya dia yang terkena masalah tersebut tapi sebentar lagi saya bisa dihampiri masalah serupa.

Sudah cukup lama rasa malas menyerang saya untuk menggerakkan tubuh, walaupun hanya sekedar ke warung yang jaraknya tidak lebih dari 50 meter saya lebih memilih mengendarai motor. Belakangan ini saya mengabaikan ritual hidup sehat, terjadi ketidak seimbangan antara rohani dan jasmani. Nyaris sebulan ini saya absent dari kegiatan yoga, berenang ataupun sekedar jogging santai. Waktu lebih sering saya habiskan untuk membolak balikkan majalah, membaca halaman demi halaman novel yang tebal, nonton film, bergelut dengan cat minyak, kanvas dan imajinasi atau duduk berjam-jam di depan computer mengerjakan tugas kantor, chatting bersama teman, menuliskan cerita pendek serta menuliskan hasil kotemplasi diri dan tidur di waktu subuh. Semua kegiatan itu tidak menggerakkan sedikitpun tubuh saya, dan membuat pantat terasa panas harus duduk berjam-jam. Hal tersebut diperparah dengan sekotak camilan, coklat, dan kopi. Alhasil badan saya mulai berontak dan tidak sehat.

Tiba- tiba saya nyeletuk mengeluarkan ide yang cukup mengangetkan teman saya. Bagaimana kalau kita mulai menggerakkan badan, kita awali dengan menyusuri bebukitan campuhan di sore hari dan tiap pagi pergi kekantor dengan berjalan kaki mengingat antara rumah dan kantor saya tidak lebih dari 1,5 kilo. Awalnya teman saya meragukan ide tersebut, karena potensi saya yang cukup besar untuk mengingkari ide saya sendiri. Tapi, saya meyakinkannya bahwa saya bersungguh-sungguh.

Dengan terpaksa teman saya mengambil sepatu kets dan menemani saya menembus ilalang menjadikannya sore yang penuh gerutu. Saya berlari diantara hijaunya alang-alang yang setinggi lutut, berteriak dan mendengar gema suara sendiri dan pada akhirnya terlentang menengadah menatap langit yang kian memerah. Gerutu teman saya tak berhenti diiringi kulitnya yang terasa gatal tertusuk ilalang, mengingat ini bukanlah ide baik untuknya atau cara dia mengembalikan bentuk tubuhya yang proposional. Biasanya dia akan mengunjungi Gym mengikuti kelas Body language atau aerobic dan salsa bukan bukit ilalang dan sawah ( maaf teman, melakukan sesutau yang beda asik juga kan ?)

Dan pagi ini saya menepati janji saya untuk berjalan kaki ke kantor. Saya memantapkan diri untuk memulai menggerakkan badan. Banyak hal biasa menjadi tidak biasa. Hampir sudah setahun saya melintasi jalanan tersebut dengan mengendarai sepeda motor namun, baru ini saya memperhatikan banyak hal lebih detail yang sering terlewati. Hanya dengan modal berangkat lebih awal saya memulainya. Tiap langkah saya nyaris terhenti karena harus menyapa dan mengobrol dengan tetangga atau tersenyum saat berpapasan dengan para ibu-ibu yang pulang dari pasar. Saya pun kadang dituntut untuk lincah dan gesit menjinjit, meloncat saat trotoar jalan jebol ( pak bupati yang sekarang mo dipilih kembali ga? ayo dong trotoarnya di alokasikan dana) atau menghindari “puff” anjing yang sembarangan di sepanjang jalan, banyak sekali anjing liar tanpa empu yang tak terurus ( bagaimana dengan wacana pemeliharaan anjing wajib pajak? dan mengurangi kecelakaan yang disebabkan menabrak anjing). Tak hanya itu ternyata saya juga harus sigap menyela diantara mobil dan motor yang diparkir sembarangan sepanjang jalan raya Ubud. Maklum banyak orang bisa beli mobil namun jarang punya lahan untuk bikin garasi lebih baik dikontrakkan nambah penghasilan ( nah kalo fenomena yang ini solusinya gemana? bikin tempat parkir umum aja yuu). Atau saya harus menutup idung saat melintas di depan beberapa restoran bukan karena bau masakan yang membuat perut saya berbunyi tapi karena sampah yang belum diangkat. Perjalananpun saya sengaja buat menarik dengan berjalan masuk melintasi pasar merasakan riuhnya keadaan pasar pagi. Menyaksikan para buruh tua yang masih berjuang untuk hidup di usianya yang dua kali lipat usia saya dimana seharusnya sudah beristirahat menikmati masa tua namun tetap semangat mencari nafkah hidup. Mereka harus menjungjung barang yang berkilo-kilo yang mungkin tak pernah bisa saya angkat. Saya juga menatap para pedagang yang bengong menunggu pembeli dan celingukan mencari uang guna membayar pajak. Mereka semua bangun subuh untuk mencari nafkah dan berjuang mempertahankan hidup mereka. Saya jadi berfikir, kenapa saya yang masih produktif dan energik kalah semangat hanya untuk sekedar menggerakkan badan. Saya pun dengan senyum, langkah pasti dan semangat melewati hari ini dan mulai menggerakkan badan menyeimbangkan rohani dan jasmani. Men sana in corpore sano gitu deyh..

Ayo teman-teman semua gerakkan tubuhmu..

Wednesday, January 17, 2007

Siwaratri

Siwaratri atau malam siwa merupakan sebuah momen saat Siwa memberikan anugrah pengampunan dosa kepada Lubdhaka. Hari ini momen itu dirayakan kembali, akankah kita menjadi Lubdhaka –Lubdhaka yang lain? Sebuah pertanyaan muncul apakah benar dosa itu dapat di hapuskan begitu saja dengan kemurahan hati Siwa? Benar atau tidak dosa dihapuskan biarkanlah tetap menjadi rahasia antara Lubdhaka dengan Siwa. Sebuah pilihan lain muncul ketika pertanyaan dapat atau tidak dosa dihapuskan belum mendapat jawaban pasti. Bagiamana dengan memulai malam Siwaratri ini dengan kesadaran? Kesadaran yang dapat diartikan untuk meningkatkan kesadaran rohani dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh gejolak, minimal menyadarkan diri untuk tidak menambah dosa lagi atau dengan segala kekuatan untuk menahan diri tidak melakukan sesuatu yang dianggap dosa. Sepertinya merupakan sebuah pilihan yang cukup bijak.

Menyadarkan diri sendiri memang tidak dapat dilakukan dalam tempo hanya semalam suntuk ketika momen siwaratri datang, seperti halnya ritual melek/ tidak tidur dalam waktu 36 jam saat merayakan siwaratri, kemungkinan juga itu peluang membuat dosa lagi. Banyak yang mengunjungi pantai malam itu bertujuan untuk bersembahyang, tapi setelah sembahyang banyak juga dari mereka mengambil formasi dua-dua yaitu satu lelaki dan satu perempuan apakah mereka cukup kuat iman untuk tidak menambah dosa lagi?

Bagiamanapun itu kita sebagai umat yang dibekali rohani dan iman, melalui momen ini berusaha mengingatkan dan menyadarkan diri secara terus menerus setiap saat untuk tidak menambah dosa lagi. Alangkah baiknya kalau setiap malam kita anggap Siwaratri sehingga memiliki kesempatan lebih untuk memohon ampunan dosa dan meningkatkan kesadaran diri untuk tidak menambah dosa. Masalah diampuni atau tidak urusan nanti saja, yang penting sadar aja dulu.

Umat sedharma, selamat melakukan pengampunan dosa, jagalah hati, fikiran dan perbuatan.

Tuesday, January 16, 2007

Bocoran ilahi - sebuah cerpen

Ruang konsultasi lelaki itu tak pernah sepi di kunjungi oleh orang yang ingin menanyakan ramalan nasib, peruntungan, jodoh, dan rejeki. Telah 4 jam aku menunggu dia selesai meladeni para tamunya. Aku bukan datang untuk diramal namun karena aku telah lama tidak bertemu dengannya. Kupandangi foto lelaki yang berpose bersama sederetan orang yang tak asing lagi di layar TV. Dia telah menjadi sahabat para artis yang sering diminta petunjuk masalah karir keartisannya. Hampir lima tahun aku tidak bertemu dengannya, badannya sedikit kurus, uban putih mengkilat menyela diantara warna hitam. Dia nampak semakin dewasa, tampan dan mapan. Lelaki yang pernah singgah di hatiku sekian puluh tahun dan akhirnya kulukai hatinya. Tak pernah sedikitpun aku menyangka dia akan menjalani profesi sebagai seorang peramal, waktu telah merubah hidupnya. Sangat lucu ketika aku teringat foto wisudanya saat mendapatkan gelar sarjana hukum.

Seorang wanita yang lebih mirip asistennya mempersilahkan aku masuk setelah seorang bintang film keluar dari ruangannya. Hatiku sedikit bergetar ketika aku memasuki ruangannya. Udara dari pendingin menyergap dan langkahku sedikit ragu untuk menemuinya.
“Silahkan” sapanya setelah mendengar pintunya terbuka, dan tetap menunduk menuliskan sesuatu dalam bukunya.
“ ngg.. hai” sapaku canggung dan membuatnya menengadah dengan tatapan tak percaya, bergegas dia mendekat dengan rasa keterkejutannya.
“ Apa kabar? .. dengan siapa “
“Kabar Baik, Sendiri” jawabku masih cangung
“hhhmmm maaf, suamimu?”
“Dia sedang tugas keluar kota”
“Ada yang bisa aku bantu Maya, kamu dengan tiba-tiba muncul kembali?”
“uhmm..sebenarnya aku hanya mampir dan ingin bertemu denganmu”
Jawabku sekenanya dan penuh dengan rasa canggung.
“ Sepertinya, suasana ruang kerjaku kurang nyaman untuk kita mengobrol, berhubung kamu klien terakhirku, bagaiaman kalau kita mencari tempat ngobrol yang lebih relaks saja, sekalian makan malam. Kamu tidak ada acara kan? “
“Boleh “ jawabku singkat untuk meredam rasa gelisahku.

Aku menunggu dia merapikan berkas-berkasnya. Aku memilih untuk tidak satu mobil dengannya agar aku dapat menenangkan gundahku, kuikuti mobilnya yang merayap di malam kota ini. Aku masih tidak percaya dengan tindakanku dan ide gilaku yang tidak terkontrol untuk menemuinya tanpa alasan yang tepat. Hasrat sesaat yang ingin mengetahui kabarnya begitu menggebu. Dia berbelok menuju salah satu restoran, sebuah pilihan yang bagus dan nyaman. Kami duduk saling berhadapan, dia menatapku dengan hangat, sama dengan sekian tahun yang lalu. Aku melirik sejenak ke jemarinya, ada cincin melingkar di jari manisnya. Mungkinkah dia telah menikah tanpa aku ketahui. Ya mungkin saja karena aku tidak pernah memberikan kontakku padanya atau aku mencari tahu tentangnya.

“Apa kabar Maya?” dengan nada yang masih belum percaya akan pertemuan ini dan menanyakan hal sama untuk kesekian kalinya.
“ Ya, seperti yang kamu lihat”
“ Bagaimana dengan kehidupan cintamu, keluarga dan anak-anakmu?
“ Kehidupanku baik-baik saja, keluarga juga menyenangkan, tapi aku belum mempunyai anak”
“ Oohhh, belum ada, kenapa? apa masih mau berkarir terus seperti cita-citamu dulu?”
“Haruskah aku menjawab?” tanyaku pelan
“Maaf, kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman”
“Terus ada angin apa kamu tumben menemuiku setelah sekian lama?”
“Masa kamu sebagai peramal tidak tahu tentang kedatanganku”
“Jangan ungkit-ungkit masalah profesiku disini, walaupun aku sebagai peramal aku tidak mendapatkan pawisik kalau aku akan bertemu denganmu”
Tawanya renyah berusaha mencairkan suasana yang terasa sedikit canggung.
“ Angga, maaf apakah kamu sudah berkeluarga?”
“ Ooohh, kamu melihat cincin ini ya? Sudah..aku telah menikahi seorang wanita setelah 2 tahun pernikahanmu berlangsung dan tanpa kabar darimu.” Senyumnya sedikit sinis.
“ Kalau boleh tahu siapa wanita itu ?”
“ Dia wanita yang hebat, manis dan lembut”
“ Kapan-kapan perkenalkanlah denganku, orang yang dapat menggantikan posisiku itu”
“Dia menggantikan, karena kamu telah meninggalkan posisimu”
“Dimanakah dia sekarang?”
“Apakah dia begitu penting bagimu?”
“Uhhmm setidaknya aku ingin tahu, terus apakah kamu sudah mempunyai anak?”
“Aku sama sepertimu, aku belum memiliki anak, dan juga aku telah bercerai.
“Maaf, kok secepat itu?”
“Karmaku hanya sampai disitu denganya, entahlah kehadirannya tetap terasa hampa karena aku tak pernah bisa mencintainya dengan jujur. Lupakan saja sudah berlalu. Terus aku ingin bertanya padamu , angin apa yang menerbangkanmu menemuiku?”
“ Akupun tidak tahu, entah apa yang mendorongku untuk menemuimu dan menungumu selama 4 jam”
“Apakah 4 jam terasa berat dan lama bagimu?”
“Ya, pastinya aku harus mengantri diantara sekian banyak klienmu” tawaku untuk menghilangkan kesan kaku.
“ Tapi pernahkah kamu membayangkan kalau ada orang yang masih tetap setia menunggu seseorang sekian tahun lamanya mungkin hingga esok dan lusa?”
Aku menyadari arah pembicaraan Angga, dia telah menyindirku yang begitu saja meninggalkannya.

Dreet..drett..drettt.. Hpnya bergetar dan dia beranjak menjauhiku, sayup-sayup kudengar dari mejaku pembicaraannya dengan nada bicara yang lembut dan kasih sayang. Mungkin dari pacarnya yang baru. Dengan namanya yang kini dikenal oleh publik pastinya dia akan selalu dikelilingi oleh perempuan berparas ayu.

Dia kembali ke meja kami dan meraih tanganku. Tatapan matanya masih tetap sama dengan tatapan sekian tahun yang lalu saat aku melukainya.
“ Maya, sebagai seorang peramal, sejujurnya aku tidak begitu gampang menebak arah fikiranmu, karena kamu begitu spesial di hatiku. Jadi ada yang bisa aku bantu ?
“ Sebenarnya tidak ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu, aku hanya ingin menemuimu saja. Mungkin karma kita yang mempertemukan kita kembali. Terus malahan aku yang ingin bertanya padamu, kok kamu bisa menjadi cenayang seperti ini?” Tawaku seraya menirukan kosa katanya.
“He..he..he.., entahlah, mungkin sudah menjadi jalan hidupku. Setelah kita berpisah, aku sering merasa resah dan tidak bisa tidur, daripada aku frustasi yang tidak karuan aku mencoba untuk meditasi, dalam perjalanan pengembaraan rohku, seringkali aku diberikan penghilatan akan sesuatu, seperi hal gaib. Dan aku menjadi tertarik dengan hal-hal mistis dan gaib. Meramal menjadi sebuah ketertarikan bagiku, bermodalkan dengan kartu tarot yang kubeli dari toko buku aku mulai belajar memahami sebuah dunia diluar logika. Romi teman kuliah kita dulu menjadi sasaran pertamaku. Dan diluar dugaan apa yang kuramalkan menjadi kenyataan. Kejadian itu sempat membuatku takut. Menjadi peramal bukanlah hal yang menyenangkan, terkadang kita di hadapakan pada sebuah fenomena yang sering tidak ingin aku percayai, apalagi ketika aku melihat akan ada bencana alam atau orang-orang terdekat kita mengalami musibah. Dan repotnya lagi, setiap awal tahun selalu membuatku sibuk, klienku selalu ramai menanyakan peruntungannya, nasib, jodoh, karir, konsultasi bisnis, dan banyak hal yang terkait dengan hal tersebut membuat fikiranku lelah. Semua orang berusaha untuk mencuri start mengetahui tentang jalan hidupnya. Mereka selalu ingin tahu dengan hal yang seharunya menjadi rahasia Ilahi. Tapi Tuhan berkata lain aku ditakdirkan sebagai orang yang “ember” selalu membocorkan rahasia Ilahi. Terkadang aku sering merasa takut dan tidak berani jujur saat meramal, ketakutanku dengan berbagai hal buruk yang akan menimpa, ketakutanku ketika mengetahui beberapa teman yang sering aku ajak jalan akan meninggal dalam waktu dekat, atau mereka akan bercerai. Haruskah aku jujur dan membocorkan semua rahasia ilahi tersebut?. Aku sering merasa ketakutan sendiri dengan semua hal yang kulihat. Ketika aku sedang bermeditasi ingin rasanya aku tak kembali lagi ke dunia ini, aku menemukan tempat yang jauh lebih nyaman, namun tugasku belum selesai, karmaku masih panjang di dunia ini, aku diberikan tugas sebagai orang yang bermulut ember yang selalu membocorkan rahasia ilahi.
“uhhmm, kalau begitu maukah kamu meramal ku Angga ? tapi katakan yang baik-baik saja ya?”
“Baiklah akan kukatakan yag baik-baik saja”
“Apa yang kamu lihat Angga?, tanyaku dengan hati-hati”
“ Semuanya baik-baik saja, karirmu makin bagus, keluarga juga”
“Baguslah”
“Maya, boleh aku minta sesuatu padamu ? “
“Ya, asal tidak memberatkan” Candaku padanya.
“ Sisakan sedikit ruang dihatimu untukku, menyimpan dua cinta tidaklah dosa, seandainya dosa biar aku yang akan memikulnya. Cintaku padamu tidak pernah berubah dari dulu hingga esok. Bawalah terus cintaku dihatimu, hanya itu yang kupinta”

Permintaan Angga menyeret kenanganku tergulir pada saat-saat kami bersama. Tindakan dan ide gilaku untuk menemuinya membuahkan hasil diluar kontrol. Dan kami mendapatkan satu fakta bahwa kami memang masih saling mencintai dan malam itu membuat kami benar-benar lepas dari kontrol logika.

Setelah pertemuan itu aku tidak pernah menghubungi Angga kembali, aku takut hal diluar kontrol akan terulang kembali. Telah seminggu aku terbaring dirumah sakit, aku merasakan sakit yang amat sangat di bagian perutku, menurut diagnosa dokter aku telah menderita kanker rahim yang tak pernah ingin aku percayai. Kondisiku semakin menurun, mungkin aku hanya bisa menghirup udara hanya tinggal beberapa saat. Kala seperti ini aku merindukan sosok seorang Angga yang selalu bisa memotivasiku. Kupejamkan mataku, memohon kepada Tuhan agar Angga diberikan pawisik dan mencariku untuk menemuiku.

“Tuhan ijinkanlah aku bertemu denganya, sebelum ajal menjemputku”

Hari ini suamiku tidak bisa menungguiku di rumah sakit, dia harus menjalankan tugas yang tak bisa ditolaknya. Pintu terbuka, bukan dokter yang berpakain putih yang masuk namun Angga datang dengan memakai pakaian hitam dan seikat bunga mawar merah berpita hitam.
“Tuhan, terima kasih kau kabulkan permintaanku”
“Angga, apakah hari ku telah tiba?”
Angga hanya terdiam dan menggenggam tanganku.
“ Angga, kamu jangan sedih, bukankah kamu telah mengetahui ramalan hidupku sejak malam pertemuan kita dan kamu menyembunyikannya padaku, kamu hanya mengatakan yang baik-baik saja padaku, walaupun itu memang permintaanku”
“ Maya, sejak malam itupun aku telah menangis, disaat orang-orang masih menikmati kecantikanmu dan kerianganmu, tapi aku telah menangis dan bersedih menghitung waktu. Melihatmu seperti mayat yang berjalan semakin membaut hatiku terluka. Maya, waktumu memang sudah tiba. Karmamu hanya sampai disini saja. Aku datang ingin meyakinkanmu bahwa cintamu akan selalu mengisi seluruh ruang dalam hatiku hingga kapanpun. Bawalah cintaku pergi, jangan bawa penyesalan dan kesedihan. Tak ada yang lebih menyakitkan dalam hidupku sebagai seorang peramal saat mendapatkan bocoran dari ilahi tentang kematian seorang terkasih yang teramat kucintai. Pergilah Maya dalam damai dan cinta”



Friday, January 5, 2007

CCTV - Polisi - Pencuri

Ada pemandangan baru sejak pertengahan Desember lalu di sepanjang jalan raya Ubud yang menarik perhatian orang yang melintas. Pemasangan kamera CCTV itu lebih banyak di kira pemasangan kabel telpon atau pemasangan lampu jalan oleh warga sekitar. Kamera yang ditujukan untuk merekam aktivitas orang yang berlalu lalang di seputaran Ubud ini nantinya diharapkan akan membantu kinerja kepolisian.

Desaku belakangan ini sering tidak aman, banyak tindakan kriminal terjadi yang sangat meresahkan. Bagaimana tidak, sebagai desa yang selalu padat di kunjungi wisatawan mancanegara ternyata tidak mampu memberikan jaminan keamanan. Akan menjadi sangat mubasir ketika para pelaku pariwisata sibuk melakukan promosi wisata dan bebagai program recovery Bali. Pencurian tidak hanya menyasar wisatawan asing namun juga warga lokal. Sebenarnya kepolisian dan pecalang / keamanan desa telah dikerahkan untuk pengamanan ekstra menyambut Nataru ( Natal dan tahun Baru). Sebuah pos polisi telah didirikan lengkap dengan fasilitas TV di pusat keramaian pasar Ubud. Sekian kali saya melewati pos tersebut, saya lebih sering melihat mereka terpaku pada layar TV atau mengobrol dengan para pedagang acung wanita. Keprihatinan saya semakin menjadi-jadi ketika penjambretan seorang wisatawan asing terjadi di dekat pos polisi dan ironisnya Si penjambret tidak tertangkap. Terus bagaimana dengan cctv yang dipasang yang harusnya merekam kejadian penjambretan tersebut. Saya pun mendapat jawaban dengan tidak sengaja ketika saya harus menemani bibi saya ke kantor polisi melaporkan rumahnya yang juga di gondol maling. Disanalah saya melihat beberapa orang programer sedang sibuk menyiapkan dan mentraining para polisi untuk menjalankan program cctv tersebut. Jadi saudaraku sekalian ....ternyata ....... CCTV di jalan raya ubud tersebut belum aktif. Dari hasil obrolan ringan saya dengan pak polisi, ternyata banyak kasus pencurian yang terjadi di beberapa toko, rumah dan hotel. Salah satu yang di ekspos oleh media adalah kasus perampokan sepasang tamu korea yang sedang berbulan madu di sebuah villa yang baru beroperasi. Hal tersebut semakin mencoreng nama desaku sebagai tujuan wisata yang minim keamanan. Walaupun villa tersebut telah di lengkapi dengan cctv namun kontruksi pagar pembatas yang rendah tak mengurangi niat si pencuri untuk masuk. Menjadi sebuah dilema bagi hotel di Ubud ketika harus memilih diantara keamanan dan keindahan. Jika dipasang tembok pembatas tinggi akan kehilangan pemandangan sawah yang bisa menaikkan harga kamar. Alhasil para polisi sangat disibukkan dengan agenda pengejaran perampok yang diberikan limit waktu sebulan oleh Kapolda bali. ( selamat berjuang pak polisi !!!!!)

.....dan.... dengan berbagai kejadian tersebut apakah kita harus membenci pencuri? Saya sendiripun masih bingung,.... apalagi setelah keluarga saya mendapat musibah saat Toko perak kami dibobol maling dan polisi tak menemukan hasil apapun. Mungkin inilah fenomena yang disebut sudah jatuh tertimpa tangga, dimana kami harus disusahkan lagi dengan istilah “uang terima kasih” untuk polisi selama kasus pengsutan berlangsung.

Bagaimanapun pencuri juga manusia, punya hati tapi tak berasa. Sebuah profesi yang kini banyak digeluti oleh orang “kepepet”. Pencuri juga butuh makan dan punya keluarga yang harus di berikan nafkah. Jika tidak ada pencuri maka polisi akan kehilangan pekerjaannya, anggap saja sebagai sebuah rantai kehidupan.

Seorang keluarga maling juga tetap memiliki kasih sayang, tengoklah pesan seorang ibu maling terhadap anaknya ketika sang anak berangkat bekerja
“ Nak, hati-hati kalau nyopet”
Dan sebagai seroang ibu dari keluarga non maling, wajiblah memberikan pesan kepada anaknya “Nak, hati-hati, agar tidak di copet”
Atau sebuah slogan yang selalu ditanamkan oleh bapak maling terhadap anaknya
“Seorang pencuri itu harus jeli melihat kesempatan yang ada, memiliki keberanian yang tinggi dan kemauan serta niat yang kuat. Alhasil akan berhasil”

Ya apapun itu, sepertinya semua umat manusia di dunia ini bertujuan untuk bertahan dan meneruskan hidup, jadi biarkan saja semua berjalan di jalurnya masing-masing.
Cuman, mohon untuk selalu mengingat sebuah pesan dari bung NAPI, bagi anda yang memilih profesi kehidupan sebagai non maling.
“ Kejahatan ada dimana-mana WASPADALAH !!!!! “
Sedangkan bagi anda yang berprofesi sebagai maling ingatlah pesan
" Kesempatan ada dimana-mana Cermatlah!!!!!!"

Wednesday, January 3, 2007

Tahun Baru

Semua berdebar menghitung detik-detik terakhir pergantian tahun yang sangat di nantikan untuk dirayakan.
5.. 4… 3… 2… 1… TOeeettttt.. toeett…. Toeett…prreeettt…..Prreettt !!!!!!!! Bunyi terompet bising ditiupkan disambut sorak sorai menggema dengan lonjakan penuh kegembiraan. Volume musik dengan beat cepat dinaikkan dan mengeluarkan dentuman keras, menghentakkan gairah dan semangat pesta yang tinggi. Minuman ditegak hingga membakar tenggorokan membuat semua seakan melayang dalam harapan dan kegembiraan yang penuh sukacita menyambut datangnya tahun baru.

Sebuah pemandangan yang hampir sama tiap tahunnya. Terompet dan topi seakan telah menjadi sebuah ikon menghiasi semarak perayaan. Tentunya hal ini memberikan berkah tersendiri bagi para penjual terompet yang mendapatkan rezeki musiman akhir tahun. Berbagai acara di gelar dengan suguhan menarik oleh hotel, restaurant, kafe, dan klub malam untuk mengais rejeki dari sebagain besar orang yang loyal di malam yang spesial ini. Tak urung bagi mereka yang bergerak di dunia hiburan akan kebanjiran Job. Penyanyi , Band yang sedang naik daun, dan MC di datangkan dari ibu kota. Tak hanya mereka, para penghibur lokalpun kecipratan rejeki. Group penari tradisional datang dengan seperangkat gamelan dan penarinya berbondong-bondong menggunakan truk. Kemeriahan pesta akan semakin terasa dengan menyaksikan kembang api di kegelapan langit malam. Dana jutaan rupiahpun dirogoh untuk melengkapi suasana yang beberapa menit tersebut.
Sepertinya perayaan ini telah merasuk di sukma setiap umat manusia. Malam yang spesial ini juga dimanfaatkan oleh kaum muda untuk mendapatkan ijin menegak minuman berakohol dari para orang tuanya, dengan alasan sekali setahun. Alhasil minuman keras dengan label ijin dari departemen kesehatan laris manis malam tersebut. Setidaknya lebih baik daripada meminum arak oplosan yang sering tidak diketahui kadar akoholnya. Dan sebagian anak muda telah memulai ritual mabuk dari sore hari dan mencapai puncaknya tengah malam.
Malam ini tak hanya dihiasi gegap gempita, ketika akohol mulai merasuki saraf, kontrolpun semakin melemah, dan sering berakibat fatal, kawanpun menjadi lawan. Seorang ibu harus dibangunkan tengah malam oleh deringan telfon sang anak yang sedang terbaring di rumah sakit. Begitulah keramaian perayaan tahun baru semua orang bergembira dan bersuka cita melawan kantuk hingga tengah malam bahkan subuh.
Malam pergantian tahun ini juga merupakan sebuah waktu yang tepat untuk membuat sebuah permintaan yang diyakini akan terkabul “ Close your eyes, make a wish, and your dream came true” dan pernahkah kita membayangkan permintaan sekian juta orang di malam tersebut? Semoga aja Tuhan tidak krodit mendengarnya seperti jaringan telfon seluler yang ngadat malam tersebut, jutaan sms selamat tahun baru harus pending dan mengantri untuk sampai ke tujuan. Namun bagaimana dengan seseorang yang melewatkan detik-detik pergantian tahun hanya dengan tidur, apakah dia tidak memiliki permintaan atau harapan di tahun 2007?

Monday, January 1, 2007

Happy New Year


2006 telah berlalu dengan meninggalkan kenangan.
Kini dengan semangat baru menyambut datangnya 2007.
Happy New Year
Wishing you a year of
Love,
Happiness,
Peace, and..
Prosperity for 2007.

Friday, December 22, 2006

Merry Christmas


Selamat Merayakan Damainya Natal
.... Perri, e-nonk, Nita palandi, Andrew, Bernad, temen2 Atmajaya, aku kangen kalian ....

Hari Ibu

Wanita ..
Sosok yang sangat menarik dan tak pernah habis di bahas. Banyak keistimewaan yang membuatnya menjadi spesial. Untuk kaum yang diistimewakan ini, sebuah peringatan di rayakan secara nasional sebagai hari Ibu. Peringatan ini terlaksana bukan hanya sekedar berkat kesitimewaan alami yang di dapat namun merupakan sebuah hasil perjuangan kaum feminis kita pada kongres wanita 22 Desember 1928 silam. Mereka berusaha mencarikan tempat bagi kaum hawa agar dapat di hargai dan di hormati keberadaannya baik secara intelektualitas maupun jenis kelamin.
Ibu merupakan sosok yang diagungkan, tak helak sorgapun dikatakan berada di bawah telapak kaki ibu. Kecintaan terhadap seorang ibu juga disampaikan melalui ciptaan sebuah lagu tentang kasih seorang ibu. Berbanggalah menjadi sorang ibu yang dimuliakan akan kasih dan sayangnya.
Bukan maksud untuk memperdebatkan gender atau tak menghormati kaum adam, namun biarkanlah kami hari ini merasakan nikmatnya menjadi seorang perempuan.

Thursday, December 21, 2006

Idola

Kalau kau pernah takut mati,
Sama !
Kalau kau pernah sakit hati,
Aku juga iya!

Kalau kau kejar mimpimu
Salut !
Kalau kau ingin berhenti,
Ingatlah tuk mulai lagi !

Tetap Semangat dan teguhkan hati
Setiap hari, sampai nanti sampai mati.
…. …. …

Penggalan lagu dari Band asal Jogja “ Letto “ memberikan inspirasi dan motivasi tersendiri untuk penggemarnya, dalam lirik lagu Sampai Nanti, Sampai Mati mencoba menyampaikan pesan agar tetap semangat menjalani hidup dan terus maju menggapai mimpi.

Belakangan ini banyak sekali muncul Band baru yang memiliki banyak fans fanatik, tak hanya Letto, sederetan nama band lainnya marak menghiasi blantika musik Indonesia. Berbagai aliran musik mulai merambah. Namun tetap saja aliran musik Pop paling cepat di adaptasi oleh masyarakat. Grup band dengan aliran musik Pop, disertai lirik lagu yang menyentuh hati dan didukung dengan personel yang cakep dapat dipastikan akan merangkul penggemar yang seabrek. Tak helak, para remaja wanita dan ibu rumah tangga akan setia mengikuti perkembangan band favoritnya. “Sang Idola” itulah julukan yang di dapat oleh mereka yang mampu menghipnotis para penggemar. Dengan tema lagu cinta yang menyentuh kehidupan nyata, tak urung menjadian lirik lagu mereka sebagai inspirasi atau ungkapan rasa dalam relasi kehidupan penggemarnya.

Banyak sekali ungkapan ekspresi yang dilakukan penggemarnya ketika mereka sedang menyaksikan idolanya.

“Wuiihhhhh keren, suaranya bagus, gila cakep banget bikin gemes”

Dan juga disertai berbagai macam tingkah polah seperti halnya tersenyum sendiri, ikut bernyanyi atau malahan mencubit dan memeluk orang disampingnya. Itulah respon mereka terhadap sang idola. Melihat kecenderungan tersebut, stasiun TV berlomba-lomba membuat reality show yang mempertemukan sang idola dan penggemarnya salah satunya adalah mimpi kali ye. Atau bisnis yang lagi marak di lakukan para provider seluler yang menyediakan fasilitas mengirimkan SMS langsung dengan idolanya. Walaupun tarif sms yang dikenakan cukup mahal, nampaknya sang penggemar tak pernah hirau dengan hal tersebut. Apalagi ditambah jargon yang dikeluarkan sang idola

“ SMS yang kamu terima langsung dari hanphone gue, bukan dari manajer atau operator”

Selain itu para penggemar biasanya akan mengkoleksi berbagai informasi atau merchandise idolanya dari kamar tidur yang dipenuhi poster, foto di buku diary, screen saver computer, handphone terbaru yang berisikan video klip sang idola, hingga mengikuti gaya sang idola baik gaya rambut dan pakaian. Tanpa disadari seringkali seolah-olah mereka merubah jati dirinya dan memperkosa dirinya sendiri untuk menjadi sang idola. Seorang teman mengeluhkan hal serupa dengan perubahan sikap keponakannya setelah menonton sang idolanya dalam talkshow di TV. Dalam perbincangan tersebut sang idola diberikan pertanyaan oleh pembawa acara tentang bagaimana kriteria cewek idamannya
Sang idola menjawab

“Saya menyukai gadis yang feminine, berambut panjang, tubuhnya langsing, tinggi dan seksi”

Kontan saja keponakan teman saya langsung merubah penampilannya seiring dengan kriteria cewek idaman sang Idola. Tak hanya keponakan teman saya yang menjadi korban mungkin saja sekian banyak remaja putri yang kini meresahkan para orang tua seiring dengan kecenderungan munculnya trend baru dikalangan remaja yang berlomba-lomba memiliki tubuh super langsing yang memunculkan penyakit baru yang membuat merka tak mau makan demi menjadi langsing dan seksi sesuai dengan kriteria cewek idaman idolanya. Begitulah pengaruh besar sang idola terhadap penggemarnya

Demi fanatismenya, para penggemar akan rela berkorban demi untuk menyaksikan sang idolanya baik mengejar dan menyaksikan konser di berbagai kota, mengikuti beritanya hingga berbagai hal yang menyangkut sang idola.

Namun, beberapa hari yang lalu sebuah konser yang berlangsung meriah dengan penggemar yang yang begitu banyak berakhir dengan tragedi duka di pekalongan. Konser grup band Ungu yang dikenal dengan sederetan lirik lagu cintanya menelan korban seusai acara. 10 orang meninggal dan beberapa orang luka-luka. Sepasang korban suami istri yang baru menikah sebulan yang lalu yang dikatakan adalah penggemar berat band Ungu ini telah rela mengorbankan jiwanya demi menyaksikan pementasan sang idola.

Begitulah kekuatan sang Idola dapat merubah apapun.

Sebenarnya enak ga ya menjadi Idola ?
Kalau saya memilih jadi orang biasa-biasa saja deh, takut makan korban nanti he..he.he..he...

Wednesday, December 20, 2006

Ular Loreng Lari Lurus

Malam semakin larut dan angin dingin mulai merasuk kedalam tulang. Kutekuk lutut dengan rapat menyentuh dagu dan memperkuat pelukan. Kopi tinggal setengah cangkir, namun mataku tak kunjung terbelalak, malahan sebaliknya kepala semakin telungkup masuk kedalam sela lutut.

Hati dan fikiran saling bertanya tanpa sebuah jawaban seperti dialog kebisuan. Kuraih ponsel mencoba melihat deretan nama panjang yang memenuhi kapasitas phonebook, Kembali aku semakin meringkukkan badan terbalut dalam kegelapan. Ironis sekali disaat aku dalam keadaan hancur seperti ini tiada satupun mereka ada bersama dan memelukku. Sebuah kepedihan menyadarkanku bahwa aku tidak punya siapa-siapa.

Panggilan seorang wanita setengah baya berbaju putih menyadarkanku. Dia menyodorkan beberapa lembar kertas. Dengan langkah berat dan gamang kumelewati lorong- lorong sepi. Kukancingkan jaketku sekedar menghangatkan tubuh, dengkuran para penjaga malam mengiringi langkahku. Kutuliskan nama lengkap wanita yang terkulai lemas itu serta namaku sebagai penanggung jawabnya, dengan teliti kuisi formulir itu untuk meminimalkan masalah, maklumlah rumah sakit pemerintah, prosedur harus diikuti dengan jelas agar hak bisa di dapatkan dengan optimal.

Kukembali kepada suster penjaga, walaupun malam semakin pekat tidak mengurangi keramaian di ruang gawat darurat ini. Kulirik lelaki pelindungku yang hanya terdiam, matanya menunjukkan kelelahan, lama aku tidak memperhatikan dia. Ubannya mulai memutih menghiasi helai rambutnya, kulitnya terlihat agak kusam, kerutan ditanganyya tergurat jelas. Aku tak kuasa menatapnya ada kerinduan yang dalam pada masa-masa aku kecil bergelayut manja di tangan mereka kini keadaan menunjukkan sebuah timbangan keseimbangan, tak lagi hanya mereka sebagai pemberi namun kami harus saling mendukung. Aku kembali menatap wanita yang terbaring lemas, entah dia masih sadarkan diri atau sedang terbang menggapai awan bermain dengan sang peri. Adakah keindahan yang dia rasakan ataukah lingkaran jalanan gelap yang tak tentu arah, enatahlah dia hanya terdiam dalam gamangnya suasana. Suster penjaga kembali hadir diikuti oleh tiga orang dokter dan berusaha menyadarkan wanita yang lunglai tersebut. Tak lama mereka beralih kepada kami dengan berbagai pertanyaan menghujam. Selaku saksi kejadian kami berkewajiban memberikan keterangan kronologis kejadian untuk sebuah diagnosa. Para dokter itu kemudian pergi seolah membuat rapat kecil untuk menyimpulkan diagnosa awal. Wanita yang terbaring itu mengerejap tersadar, setelah kembali dari perjalanan panjang yang melelahkan, dia menarik nafas panjang dengan tatapan yang kosong. Dokter itu kembali hadir dan melakukan sebuah test awal untuknya. Pertanyaan sederhana dilayangkan untuknya, namun dia tidak menjawab dengan fasih dan benar. Hatiku terpukul melihat semua itu. Kulirik kembali lelaki pelindungku yang sedari tadi terbisu nampak semakin kelu. Dokter melakukan beberapa test fisik untuk mengetes reflek motoriknya, hasilnya terlihat kurang memuaskan, kemudian dia kembali melakukan test lain.

Ibu, tolong ikuti apa yang saya katakan kata sang dokterkepada wanita itu

“ ular loreng lari lurus”

Wanita itu hanya terdiam kelu, sekian kali sang dokter mengulang perintahnya, dan dia hanya bisa mengikutinya dengan terbata-bata. Test demi test dilalui tak menunjukkan hasil yang memuaskan. Aku semakin tak bisa mempercayai semua hal yang terjadi dalam sekejap ini.

Tak terasa sang mentaripun telah muncul mengintip dari celah jendela menyebarkan energi baru bagi sang anak manusia dan aku masih sendiri mengahadapinya.

Inikah hadiah ulang tahunku kali ini tanyaku pada lelaki pelindungku.

Dan dengan kasih sayang dia mengelus rambutku sembari berkata

“ Setidaknya kamu masih memiliki hadiah spesial, dia tidak mengambilnya saat ini, dan kau masih diberikan kesempatan untuk bersamanya. Demi cintamu padanya, berjuanglah untuk tegar. Tahukah kamu bahwa kebahagian dan kesedihan bukan sebuah pilihan, suatu saat kamu akan bisa berlaku yang sama disaat sedih dan senang menghampiri”

Aku menyandarkan kepalaku di bahu lelaki pelindungku yang kian renta, untuk kalian aku akan tegar melewati ini semua.

Kini wanita itu telah kembali pulih setelah melalui proses yang cukup panjang, dan hari ini kami bisa melihatnya tersenyum dan merayakan ulang tahunnya.

Semoga kebahagian menyertai di sisa umurnya.

Tuesday, December 19, 2006

Nangluk Merana


Pagi ini kaum perempuan bali cukup disibukkan dengan beberapa aktivitas keagamaan. Tilem sasih ke enam ( bulan mati yang jatuh pada bulan ke enam perhitungan tanggalan Bali). Ada kegiatan ekstra yang dilakukan selain ritual rutin upacara tilem. Pagi ini kami menghaturkan sesaji ke pantai yang dikenal dengan upacara Nangluk Merana, mohon keselamatan dan pembersihan jagat – dunia ini.

Dengan harapan semua mahluk ciptaanya, manusia, hewan dan tumbuhan selamat, dijauhkan dari mara bahaya dan segala penyakit masal. Namun, sepertinya kali ini kita harus berdoa lebih khusyuk, mengingat situasi dan kondisi dunia sedang sedikit berguncang. Bencana terjadi dimana-mana, gempa, angin topan, tsunami, tanah longsor, banjir air dan banjir lumpur panas. Disamping juga mulai nampak dis-harmonisasi antara manusia dan hewan. Spesies burung sedang menyebarkan penyakit yang mematikan dan menjadi ancaman serius bagi manusia. Juga bangsa nyamuk yang tak hentinya menyebarkan berbagai penyakit yang membuat bangsal dan lorong rumah sakit menjadi penuh. Dishamonisasi juga terjadi dengan tumbuhan, gagal panen banyak terjadi, dan kita mulai mengalami krisis beras.

Semoga melalui upacara Nangluk Merana segala macam penyakit, gagal panen dan hama bisa dijauhkan. Melalui bhakti dan doa beribu-ribu umat Hindu saat ini alam dan manusia bisa kembali harmonis.


Berkatilah umatmu Kedamaian, Kesejahteraan dan Keselamatan

Monday, December 18, 2006

Photo Diri

Mengabadikan moment dan perkembangan diri melalui jepretan kamera merupakan hal yang sering dilakukan sebagian besar orang. Menyenangkan sekali ketika suatu hari kita membuka kembali album foto yang bercerita tentang diri dari waktu ke waktu serta berbagai moment yang membawa kita tercebur ke dalam kenangan masa silam dalam putaran kurun waktu yang terlewati. Mengenang wajah diri dari masa kecil yang polos, masa remaja yang penuh gaya dan ekspresif hingga sebuah masa yang tak terhindari saat munculnya kerutan di sudut mata, bibir dan dahi.
Tapi pernahkah kita menyangka bahwa masih ada orang yang tidak mempunyai selembar foto sekalipun di jaman seperti ini? Percayalah teman, masih ada orang yang belum bisa mengabadikan momen berharga dalam hidupnya, sekalipun itu hanya pas photo hitam putih berukuran 3 x 4 cm prasyarat administrasi di sekolah dasar. Ternyata aku masih menemukan orang yang kurang beruntung tersebut.

Sore ini aku mencoba kamera baru seorang teman seri Nikon D 200, aku arahkan jepretan kearah seorang bocah yang sedang menyapu halaman rumahku. Dia adalah bocah titipan yang tak mempunyai ayah, ibunya menitipkannya dirumah kami mengingat kondisinya yang tak bisa lagi bisa menanggung hidupnya. Bocah yang sederhana tak banyak bicara namun suka sekali bernyanyi di kamar mandi dan seketika gagap jika ada orang yang mengajaknya berbicara. Bocah itu tersenyum malu serta merta mencuri pandang dari sudut matanya ketika dia tahu aku mengambil gambarnya , satu jepretan close up yang cukup bagus aku dapatkan. Aku memanggilnya dan memperlihatkan gambar dirinya, dia hanya tersenyum malu tanpa komentar sedkitpun.
“ Nanti aku cetak foto ini untukmu dan akan kubingkai dalam frame kaca”
Kataku padanya.
Sekali lagi dia hanya tersenyum dan matanya berbinar menandakan hatinya yang senang. Setelah selesai sedikit editing dan membelikannya frame, kuberikan foto itu padanya.

“ Ini hadiah untukmu, bawalah nanti saat kau pulang kampung dan perlihatkan pada ibumu”

“T..t..t..terima kasih kak”

Sahutnya gagap, dan dia tak hentinya memandang foto tersebut.

“ Kak, ii..i..ini aa.. aa..adalah pertama kali aku melihat diriku dalam foto, aa..a. aku belum pernah mempunyai foto sejak dulu, i..i..ibu pasti senang”

“ Ya, bawalah kalau kau pulang kampung dan minta ibumu memasangnya di dinding rumahmu “

“uuhhmmm ..aaa..aa.pakah hharus di dinding kak?? a..a..aku ttt..tt..tidak mempunyai dinding dirumah, kk..k..kami hanya mempunyai satu buah gubuk saja termasuk dapur. i..i..ibu biasanya tidur di da..da..dapur”

Hatiku langusng terenyuh, seburuk itukah keadaan keluarganya. Tuhan berikanlah kami kekuatan untuk terus menjaganya dan meringankan beban ibunya. Aku berjanji akan menjaga bocah ini.

my back

70 x 90 cm
Hasil goresan kedua menggunakan media oil on canvas yang mengangkat objek seorang wanita.

Sang Budha

60 x 30 cm
Sang Budha merupakan hasil goresan pertamaku.
Melalui medium Canting dan lilin kucoba mengaplikasikan teknik batik.
mencoba menyatukan hati dan tangan dalam kesunyian budha.

Peagnue de Penyu

Dedicated to Isabelle

“ Bonjour Mademoiselle “

Sapa lelaki tua itu setiap hari sembari menikmati sarapan pagi ditemani istrinya tersayang. Kopi pekat tanpa gula dan telur yang direbus selama 3 menit tidak boleh lebih atau kurang sudah di hapal dengan baik oleh juru dapurku. Mereka hampir menghabiskan seluruh waktunya di rumah kami sejak tiga tahun belakangan ini. Terkadang mereka pergi sesekali ke Perancis mengunjungi menara Eiffel dan sanak saudranya atau ke Singapura hanya untuk memperpanjang visa turisnya. Monsieur Jendral Patrice adalah panggilan kebanggaannya, lelaki kurus jangkung berambut putih yang renta, dia diemani seorang perempuan tambun paruh baya berhati mulia yang selalu mencintai dan setia melayaninya. Lelaki jangkung tersebut menikahi Madame Evelyn sepuluh tahun yang lalu, saat lelaki itu di vonis akan meninggal dalam jangka waktu lima bulan karena penyakit kanker yang di deritanya sejak 12 tahun yang lalu. Empat orang dari lima pasien kanker yang ditangani oleh dokter tersebut telah berpulang sesuai dengan vonis diberikan oleh dokter. Namun lelaki jangkung tua ini masih bisa berjalan, melucu dan beraktivitas dalam kerentaan hingga hari ini dan berharap esok pula.

“ Aku ingin meninggal di tempat yang aku senangi dan disaksikan oleh kawanku”
Itulah penggalan surat yang dituliskan kepada keluarganya dan dengan keteguhan hati dia ingin menghabiskan sisa hidupnya di desa Ubud.

Mendengarkannya berbicara tak hanya memerlukan kepekaan telinga namun juga harus memerlukan kepekaan mata untuk membaca bahasa tubuhnya. Bukan lantaran masalah bahasa yang berbeda, namun karena suaranya nyaris hilang seiring dengan berbagai therapy yang dilakukannya selama masa pengobatan. Badannya semakin kurus dan tak pernah bisa makan makanan padat, semua makanan yang masuk ke perutnya harus melalui proses di blender. Satu butir nasi menyangkut di tenggorokannya akan membuat kami semua pucat pasi karena dia tidak akan pernah bisa bernafas lagi. Kondisi kesehataannya semakin parah ketika dia mendengar kematian adik perempuannya tersayang “ Isabelle” yang meninggal karena serangan jantung. Sungguh tersiksa sekali melihat keadaannya. Dia tak pernah mau ke dokter sejak vonis kematian dokter meleset.

“Aku hanya ingin menikmati sisa hidupku saja, aku ingin bebas “

Katanya dengan penuh keegoan dan keangkuhan. Kini hari – harinya hanya diisi dengan membaca buku, menonton televisi ditemani berbotol-botol beer dan tembakau linting.

Hari ini dia merasa bahagia luar biasa. Restoran barunya telah selesai di bangun dan siap beoperasi, malam ini kami mencoba beberapa menu favorite, sembari menghabiskan sisa wine dia mengambil tanganku serta merta mencium dan mengajakku berdansa dalam sebuah lagu berbahasa perancis. Dalam aluanan musik dia berbisik padaku.

“ Aku sekarang merasa bahagia sekali, jika Tuhan meninginkanku saat ini, aku telah siap. Restoran ini kubuat sebagai persembahanku kepada Isabelle yang lebih dahulu meninggalkanku dan juga untuk istriku tercinta Evelyn. Dia berkorban banyak untukku dan keegoanku, dia rela menutup restorannya di perancis guna menemaniku melewati perjuanganku melawan kanker. Untuk mereka semua ini aku wujudkan.”

Binar matanya memancarkan kebahagiaan dan kepasrahan.
Aku hanya tersenyum dan berbisik kecil

“Patrice, kami masih senang bersamamu. Jangan buru-buru menghadapNya”

Merde, Peagnue de Penyu !!!
Sante…!!! A La Votre !!!! Cheerss !!!

Friday, December 15, 2006

tiga belas desember

Malam ini pantai jimbaran terlihat tenang, deburan ombak putih menghempas ringan dengan desiran angin yang hangat. Lampu –lampu terlihat indah menata bukit Pecatu. Beberapa pesawat terbang landai mengerlipkan lampunya. Cukup ramai para turis menikmati makanan seafood di pinggir pantai dengan iringan musik latino. Kami terdampar disini untuk sebuah perayaan. Senda gurau, tawa riang yang sedikit gaduh menghiasi malam, berbagai topik cerita sambung menyambung satu sama lain. Disela tawa aku teringat akan kejadian beberapa tahun silam, ketika Bom meledak disini, betapa sedih dan pedihnya keluarga mereka yang diinggal. Turis dan Teroris, sama-sama berawalan T - dan berakhiran – iS, tapi dua hal tersebut membawa dampak yang berbeda, Turis sering mendatangkan rejeki bagi kebanyakan orang yang bergelut di bidang pariwisata, sedangkan teroris kini menjadi musuh bebuyutannya.
Mengerikan dan menyedihkan meninggal dalam keadaan seperti itu.


Uhhmm … kematian rahasia Tuhan, tak akan lari kemana jika sudah waktunya tiba, kapan, dimanapun dan dalam situasi apapun jadi. Tapi kalau boleh memilih aku tak ingin mati sia-sia, jika suatu hari memang harus dihadapkan pada kematian aku ingin mati di tempat tidur di saksikan orang-orang terkasih

Gglleekkk..!!! kenapa kematian yang harus kufikirkan pada malam yang indah ini, bukankah kita harus bersuka cita dengan perayaan ini..

Shaallooommm!!!! Kami mengangkat gelas dan menyantap berbagai hidangan laut panggang. Malam makin larut dan kami memutuskan segera hengkang dari tempat ini sebelum masuk angin.

Pramuniga datang menghampiri dengan tagihan bill makanan, kami terkejut dengan potongan harga yang diberikan cukup banyak. Dan aku menatap tanya padanya, Sang pramuniaga mengatakan karena kami adalah “ Semeton Bali” (saudara sesama orang bali) jadi sepantasnya mendapatkan diskon.


He..he.. he..he.., bagaimana kalau keluar kota apakah mendapatkan potongan harga juga dengan alasan kita adalah “ Saudara Setanah Air” atau “ Sesama ciptaan Tuhan” harus saling mengasihi
Damainya dunia ini..

Selamat buat kalian yang berbahagia, happy birthday dan anniversary !!!
Love u.

Galang Bulan

Saat matahari mulai tenggelam dan langit kelam mulai menghitam, ketika itulah keindahanmu nampak dengan agung, dihiasi taburan bintang yang berkerlip menawan hati. Walaupun kau tak bisa bersinar sendiri, matahari akan dengan setia meminjamkan cahayanya untukmu. Terima kasih matahari atas kerendahan hatimu Bulan tetap dapat bersinar dengan indah dan dikagumi.

Bakarlah dupa, hiruplah wangi aromanya hingga merasuk sukma, terbanglah bersama asapnya, warna-warni bunga akan mengantarmu dalam mantram Gayatri. Persiapkanlah senyuman terindahmu karena kau akan bertemu denganNya.
Galang bulan dua puluh lima tahun silam, tepat pada saat bulan purnama memancarkan cahayanya yang indah, terlahir seorang bayi perempuan mungil yang diberikan nama Bulan Nadi.
Selamat datang awal kehidupan